Laura tidak bisa menahan diri, begitu melihat pria yang menyapa Rey pergi, Laura pun mengajukan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya.
“Bagaimana kau bisa mengenalnya?”
Rey mengerutkan alis. “Mengenal siapa?”
“Halim, bagaimana kau mengenalnya?” tukas Laura gemas.
Rey mengangkat bahunya, sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan Laura.
“Rey!”
“Kami pernah bertemu, beberapa kali, itu saja.”
Satu alis Laura terangkat. Bertemu beberapa kali? Entah Rey yang tidak jujur atau memang ada yang tidak diceritakan pria itu padanya.
“Untuk orang yang baru bertemu beberapa kali, kelihatannya dia sangat antusias dan senang bertemu denganmu,” ungkap Laura terus terang.
“Apa yang bisa kukatakan? Aku memang menarik bagi semua orang.”
Laura memutar bola matanya. “Kepercayaan dirimu itu benar-benar mengkhawatirkan.”
Rey terkekeh. “Apa kau mengenalnya?”
Mata Laura membulat sempurna. “Tentu saja! Maksudku tidak secara personal,” ralatnya buru-buru.
“Baguslah, karena jika iya, terpaksa aku harus melakukan sesuatu untuk membuatnya menjauhimu.”
Laura mencebik. “Kau pikir orang akan lari terbirit-b***t jika kau membentaknya, begitu?”
“Aku bisa sangat meyakinkan. Bagaimana kau mengenalnya?”
“Rey, siapa yang tidak mengenalnya? Dia Halim, salah satu bankir jenius di kerajaan perbankan keluarga Pradipta. Dia yang mencetuskan ide inovatif tentang pengembangan aplikasi Bank dengan AI. Wajahnya beberapakali menghiasi majalah ekonomi terkemuka bersama pemilik bank tempatnya bekerja. Bagaimama mungkin aku tidak tahu tentangnya?”
Rey geli mendengar penjelasan Laura yang menggebu-gebu. Belum pernah ia melihat Laura seantusias seperti sekarang. “Seharusnya aku tahu kalau aku tidak perlu bertanya.”
“Memang, tapi yang membuatku heran adalah bagaimana kalian bisa saling mengenal? Jangan memasang wajah seperti itu. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, tapi karena aku bukan orang yang tertarik mencampuri urusan orang lain, kau tidak perlu menceritakannya padaku,” celoteh Laura panjang lebar, sama sekali tidak menyadari kalau Rey tidak pernah melepaskan pandangan darinya sepanjang wanita itu bicara.
Laura bahkan tidak sadar kalau ia bicara lebih banyak daripada yang pernah ia lakukan dengan orang lain.
“Kenapa?” tanya Laura begitu menyadari tatapan Rey.
Rey menggeleng. “Tidak ada. Habiskan makananmu setelah itu kita pulang, kecuali kau mau menceritakan alasanmu ingin menemuiku?”
Laura mengangkat bahunya. “Aku lupa,” balasnya pendek.
Rey tidak mendesaknya. Seperti Laura, ia juga lebih suka menunggu orang bercerita padanya, daripada ia harus mendesak orang itu untuk berbicara.
Berikan dia waktu.
Rey menatap piring kosong Laura. “Kita pergi sekarang?”
Laura mengangguk. “Aku akan membayar makanan ini karena kau sudah berbaik hati mau menemuiku.”
“Jangan konyol. Aku yang mengajakmu makan, kalau ingin balas budi kau bisa mengajakkku makan kapanpun kau luang.”
“Maumu.”
“Memang.”
Laura menatap kepergian Rey saat pria itu berjalan menuju kasir. Rey punya klub. Dia memiliki kenalan seorang bankir yang ternyata bukan hanya bankir biasa, tapi bankir cerdas yang namanya sudah tidak asing lagi di dunia perbankan. Bagaimana Rey bisa memiliki itu semua?
“Ayo.”
Laura mengangguk. Mereka berjalan keluar dengan Rey memimpin di depan. Laura mengedarkan pandangan, menyadari dengan rasa asing yang aneh bahwa ia nyaman dengan semua keramaian ini padahal biasanya tidak.
“Aku bisa pulang sendiri, tapi kau boleh mencarikan taksi untukku,” tukas Laura begitu mereka berada di luar. Angin malam dan suara kalkson juga bunyi kendaraan yang melaju menjadi pemandangan yang menyambut mereka.
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu. Aku bisa naik taksi dan—“
“Kita memang akan naik taksi. Seperti yang kau tahu, motorku hanya punya satu helm dan meski aku lebih suka mengantarmu dengan kendaraan roda dua itu, kau jelas tidak aman tanpa helm dan aku tidak akan menempatkanmu dalam risiko yang akan membahayakan keselamatanmu.”
Karena tidak kunjung mendapat tanggapan Rey akhirnya menoleh dan mendapati Laura tengah menatapnya dengan ekspresi ganjil.
“Apa?” tanya Rey.
Laura buru-buru menggeleng, beberapa kali ia terlihat berkedip seperti orang yang sedang kelilipan.
“Bukan apa-apa, tapi apa kau tidak sibuk? Aku tidak ingin mengganggu waktumu, Rey.”
Rey tersenyum simpul. “Kau bebas mengganggu waktuku kapanpun kau mau.”
“Jangan menggodaku, itu tidak sopan.”
Rey tergelak, melihat wajah Laura merona keinginan untuk menggoda wanita itu begitu tak tertahankan. Siapa sangka wanita kaku yang baru ia temui beberapa kali itu ternyata sangat pemalu dan mudah tersipu?
Padahal Rey nyaris tidak berkedip saat melihat Laura berdiri di antara puluhan mahasiswa sambil memberikan materi dengan begitu percaya diri.
“Aku mengatakan yang sebenarnya. Ngomong-ngomong, apa kau punya kepribadian ganda?”
Ekspresi wajah Laura mengatakan kalau pertanyaan Rey benar-benar tidak masuk akal.
“Kurasa kau minum terlalu banyak. Cepat, carikan taksi sebelum malam semakin larut.”
“Baik, Ma’am.”
Laura menahan senyumnya. Ia menatap punggung Rey saat pria itu berusaha menghentikan taksi. Keputusannya untuk menemui Rey malam ini benar-benar tepat dan Laura sama sekali tidak menyesalinya.
***
“Selamat pagi, tidurmu nyenyak?”
Laur tersenyum membaca pesan tersebut, tapi ia tidak membalasnya. Laura meletakkan ponselnya begitu saja sebelum mulai berkutat dengan laptop dan juga buku yang berserakan di sekelilingnya. Ponselnya kembali bergetar.
“Aku tahu kau membaca pesanku.”
“Aku sibuk, Rey. Kau mengirimiku pesan hanya untuk menanyakan itu?”
“Memangnya kau mau aku bertanya apa? Kau mau aku menanyakan apa kau memimpikanku semalam?”
“Jangan menggodaku, aku dosenmu. Nilaimu bergantung padaku!”
“Jangan ketus begitu, aku tahu kau wanita lembut dan sekedar mengingatkan, saat ini, kita sedang tidak di kelas, jelas kau bukan dosenku.”
Dia punya jawaban untuk segalanya.
“Aku sibuk, kalau tidak ada hal penting, jangan menggangguku dan…”
Laura menghentikan kegiatannya saat mendengar pintu rumahnya diketuk. Pikiran pertama mengatakan kalau yang datang pasti Rey atau mungkin Dina. Hanya dua orang tersebut yang suka datang seenaknya ke rumahnya. Laura berjalan membuka pintu. Jika itu, Rey, mereka benar-benar harus bicara serius sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Laura menarik kenop pintu—dan mematung.
“Laura.”
“Ibu?” bisik Laura terkejut.
Wanita paruh baya berambut sebahu itu memasang wajah masam.
“Jangan memasang wajah seperti itu, aku ibumu bukan kriminal.”
Laura yang sudah sangat mengenal sifat ibunya tahu kalau kedatangan wanita itu ke rumahnya bukannya tanpa tujuan.
“Ada apa Ibu datang ke mari?” tanyanya langsung, ingin segera mengakhiri pembicaraan.
“Kau tidak menyuruh ibumu masuk?”
Jawaban itu sudah ada di ujung lidahnya, tapi Laura berhasil menahan diri di detik terakhit. Ia membuka pintu rumahnya lebih lebar agar ibunya bisa masuk. Laura mengikuti pandangan ibunya yang sedang mengamati rumahnya.
Laura tidak ingin membuka suara. Ia sama sekali tidak berminat membuka pembicaraan karena tahu ke mana ujungnya.
“Rumahmu luas. Kenapa tida bilang kalau kau punya rumah sebagus ini?”
Laura mengabaikannya. Hari ini ia harus ke kampus dan sebentar lagi ia harus bersiap-siap.
“Ada apa Ibu ke mari? Ibu belum pernah datang ke sini sebelumnya,” ujarnya sebagai tanggapan.
“Jaga nada bicaramu!” balas wanita paruh baya itu sengit. “Apa kau juga bersikap kurang ajar pada semua orang?”
Hanya pada orang-orang tertentu.
“Bu, sebentar lagi Laura harus sekolah, kalau tidak ada yang—“
“Ada lamaran untukmu dan aku mau kau menerima pria itu. Dia juragan tanah. Kaya dan sukses. Kau pasti senang menjadi istrinya.”
Laura bahkan belum selesai mencerna ucapan ibunya, saat wanita itu menyodorkan selembar foto ke tangannya. Saat Laura melihatnya, perasaan mual menguasainya dengan begitu hebat.
Seolah memahami ekspresi Laura, wanita tua itu mengernyit jengkel. “Ya, dia memang tua, tapi dia kaya itulah yang penting. Kalau kau menikah dengannya—“
“Aku tidak akan menikah dengannya,” potong Laura berani dan tegas. Ia bahkan menatap mata ibunya langsung.
“Kau apa?” Kemarahan terkandung dalam suara wanita itu, tapi Laura sama sekali tidak terpengaruh.
“Seperti yang Ibu dengar Laura tidak akan—“
PLAKK
Tamparan itu keras hingga membuat Laura meringis karena kesakitan.
Wanita itu maju sampai jarak keduanya hanya tinggal beberapa langkah. Matanya yang hitam legam terlihat mengerikan saat memandang Laura.
“Kau tidak akan menikah dengannya?”
Laura membalas tatapan ibunya. “Tidak.”
“Kau…”
“Sebaiknya Ibu pergi sekarang, Laura masih harus bekerja.”
Laura berbalik meninggalkan ibunya, tapi ucapan wanita itu berhasil menghentikan langkahnya.
“Kau benar-benar anak kurang ajar. Aku menyesal merawat dan—“
“Yah, Ibu pasti menyesal merawatku setelah uang yang diberikan pria itu habis.”
Hening
Laura menunggu ibunya bicara, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia akhirnya berbalik, menatap ibunya yang terlihat terkejut.
“Aku sudah tahu kalau aku bukan anak kandung kalian.”