Orang Asing

1205 Words
Ini kunjungan yang sama sekali diluar dugaan. Rey mengambil jaketnya dan bergegas keluar untuk menemui wanita itu. Kenapa dia tidak masuk saja? Begitu Rey membuka pintu ia melihatnya. Laura berdiri di pinggir jalan, tampak rapuh dan juga sedih. Rey berjalan mendekatinya. “Laura.” Wanita itu berbalik. Mata onyx miliknya tampak membesar. “Rey.” “Kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak masuk saja?” tanyanya, menarik lengan wanita itu menjauhi jalan. “Aku lapar, kau keberatan kalau kita makan?” Rey menimbang ucapan itu sejenak, tapi akhirnya ia menggeleng. “Tidak, kebetulan aku belum makan. Ayo, kita pergi dari sini.” Rey berjalan di depan dengan Laura mengekor di belakang. Sesuatu telah terjadi, itu pasti. Sayangnya Rey tidak tahu dan tidak ingin mendesak wanita itu untuk bercerita. Itu bukan caranya. Rey mengeluarkan kunci motor dari saku celananya. “Kita akan naik itu?” suara Laura terdengar ngeri saat melihat moge hitam milik Rey. “Ya, kenapa?” Laura menelan ludah, wajahnya terlihat panik. “Aku… belum pernah naik motor seperti itu.” Anehnya pernyataan itu tidak mengejutkannya, sebaliknya justru membuatnya terhibur. Menilik dari penampilan dan juga gaya hidup Laura yang cenderung monoton dan juga kaku ia yakin Laura jarang melakukan hal-hal yang cenderung dihindari manusia dengan disiplin tinggi. “Motor ini baik-baik saja dan kau akan aman.” Rey memasang helmya begitu naik motor. “Ayo, Laura, kau ingin makan dan aku juga. Kita bisa makan di disekitar sini, aku tidak bisa membawamu jauh-jauh karena kau tidak mengenakan helm.” “Tapi…” “Kau aman. Ini motor, bukan tanki minyak yang bisa meledak,” tukasnya geli. Laura mengerjap beberapa kali seperti sedang menimbang sesuatu dan setelah waktu yang rasanya sangat lama wanita itu akhirnya naik dengan berpegangan pada bahu Rey. “Beruntung sekali malam ini aku mengenakan jeans,” cetus Laura begitu berhasil duduk di belakang Rey. “Kau jarang mengenakan jeans?” “Nyaris bisa dihitung jari. Aku punya banyak rok. Rok panjang.” Rey tersenyum lebar. Tentu saja. Rok pendek dan di atas lutut pasti bukan favoritnya, pikir Rey geli. “Kalau begitu kau memang merencanakan pertemuan ini. Aku senang mengetahuinya.” Tepukan di bahunya membuat Rey mengaduh. “Hei, hati-hati, aku supirmu saat ini.” “Kalau begitu sebaiknya kau menjaga sikapmu. Ayo, jalan.” “Baik, Mam.” Rey menyalakan mesin motornya. “Berpegangan pada pingganggku akan sangat disarankan. Dan mungkin kau tidak tahu, tapi motor seperti ini memang dimodofikasi untuk demikian. Agar kita menempel erat.” “Dalam mimpimu.” Rey terkekeh. Ia mulai menjalankan motornya melintasi jalanan padat yang dilalui banyak kendaraan. Udara dingin berembus menusuk kulit. Untungnya Rey memakai jaket kulitnya, tapi Laura tidak. Wanita itu hanya mengenakan kemeja lengan panjang. “Kau tidak tidur kan?” tanya Rey, membuka pembicaraan. “Tidak.” “Kalau begitu kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?” “Memangnya apa yang harus kukatakan?” Pertanyaan polos itu menyentuh hatinya dengan cara yang tidak pernah Rey kira. Rey sudah banyak mengenal dan berteman dengan wanita dan biasanya mereka selalu memanfaatkan situasi seperti ini untuk mengorek informasi tentang dirinya atau membuat pembicaraan yang bertujuan untuk membuatnya tertarik, tapi rupanya hal itu tidak berlaku untuk Laura. Mungkin saatnya melakukan sesuatu yang berbeda. “Apa kau suka belajar?” teriaknya agar Laura bisa mendengarnya. “Ya, rasanya menyenangkan mempelajari sesuatu untuk memahami apa yang terjadi.” Bahkan saat berteriakpun suaranya tetap lembut, pikir Rey. “Apalagi yang kau suka?” Tidak ada jawaban membuat Rey menggerakkan bahunya untuk menarik perhatian Laura. “Laura?” “Kenapa kau ingin tahu apa yang kusuka?” Ya ampun, wanita ini dan segala sikap sinismenya begitu menggelikan. “Apa salahnya mengetahui apa yang kau suka? Kutebak kau menyukai buku?” “Ya, itu juga. Bagaimana denganmu? Apa yang kau suka Rey?” “Aku suka musik.” “Dan?” “Tidak adil jika aku memberitahu lebih banyak dari yang bisa kau berikan,” balasnya enteng. “Selain itu, tempat yang kita tuju sudah dekat.” Rey memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Ia melepas helm begitu turun dari motor. “Ini tempat sederhana, mungkin tidak sesuai dengan seleramu.” “Kau tidak tahu apa pun tentangku Rey, jadi jangan membuat kesimpulan semudah itu.” Benar juga. Tempat makan yang mereka sambangi jauh dari kata mewah. Semuanya terbuat dari kayu dan berada di pinggir jalan. Meski begitu, tempatnya bersih dan nyaman dan ada banyak orang yang sedang makan begitu mereka masuk ke dalam. “Waw, apa makanan di sini benar-benar enak?’” tanya Laura takjub begitu melihat semua kursi nyaris penuh. “Mungkin enak dan murah paduan dua hal yang akan mengundang banyak orang. Ayo, kita bisa duduk di sana.” Mereka mendapat tempat duduk paling sudut yang sedikit menjorok ke belakang yang bedekatan dengan dapur. Hawa panas seketika menyambut mereka meski pemilik gerai memasang beberapa kipas angin. Sesekali Laura mengipas dirinya sendiri dengan tangannya. Dia juga menggulung rambutnya menjadi ikatan yang lebih tinggi. “Apa kau mau kita ke tempat lain?” Laura menggeleng. “Aku baik-baik saja. Apa kau sering kemari?” Rey melepas jaket kulitnya dan menyampirkannya di lengan kursi. “Beberapa kali, hanya ketika aku malas memasak.” “Kau bisa memasak?” “Jangan terkejut begitu. Memasak bukan keahlian yang harus membuatmu menatapku seakan aku pria paling sempurna di muka bumi ini.” “Sekarang kau terdengar seperti ingin dipukul.” Rey tertawa rendah. “Tunggu sebentar aku akan memesan makanan kita. Kau punya alergi tertentu? Atau mungkin makanan yang tidak disukai?” Bukannya menjawab Laura justru menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan seolah Rey mengatakan kalimat asing yang sulit dipahami. “Laura?” Laura mengerjap. “Tidak, aku tidak punya alergi maupun makanan yang tidak disukai.” Rey mengangkat telunjuknya sebagai bentuk penghargaan. “Kalau begitu kita aman.” Laura bertopang dagu dengan meletakkan tangan di wajah, sementara menunggu Rey datang. Laura tidak tahu apa yang merasukinya sampai mendatangi Rey kembali, mungkin situasinya yang rumitlah yang menyebabkan keputusan mengejutkan itu. Laura butuh seseorang, seseorang yang tidak akan menghakiminya atau bahkan melakukan hal buruk padanya meski ia lepas kendali dan orang pertama yang muncul di benaknya saat memikirkan hal itu adalah Rey. Laura tahu bersama Rey ia akan aman karena…. “Jadi, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Rey begitu selesai memesan makanan untuk mereka. “Apa yang membuatmu yakin terjadi sesuatu?” tanya Laura balik. Rey mengambil tempat duduk di samping Laura. Tatapan matanya melembut. “Karena seseorang sepertimu biasanya butuh alasan untuk menemui orang yang baru kau kenal?” Pernyataan itu membuat wajah Laura memanas dan itu diperparah dengan hawa ruangan yang juga sama panasnya. Laura memberanikan diri membalas tatapan Rey dan jika ia mengira akan melihat sorot mengejek di sana, Laura tidak menemukannya. “Aku…” “Rey!” Teriakan itu membuat mereka berdua menoleh. Laura melihat seorang pria bertubuh besar dengan setelan rapi berjalan ke meja mereka. Pencahayaan yang sedikit gelap membuat Laura tidak bisa melihat wajahnya. Saat Laura berpaling untuk menanyakan siapa pria tersebut, Laura justru dikejutkan dengan wajah Rey yang mengeras. Pria itu jelas marah. Pertanyaannya adalah kenapa? Saat pria itu akhirnya berhenti di depan mereka, giliran Laura yang dibuat terkejut. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan kalau penglihatannya tidak bermasalah. Bagaimana Rey bisa mengenal pria ini, pikirnya syok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD