Rencana Berubah

1206 Words
“Laura, kau baik-baik saja?” Laura terkesiap merasakan sentuhan dilengannya. Ia menoleh, memaksa senyumnya terbit. “Aku baik-baik saja. Apa yang mereka lakukan di sini?” Laura menunjuk sepasang suami istri yang tengah bergandengan tangan perlahan berjalan ke arahnya, tepatnya ke ruangan di mana dirinya berada. “Oh, kau tidak tahu, keluarga Hartono menjadi salah satu penyandang dana utama di kampus ini. Terkadang mereka datang untuk melakukan kunjungan atau jika ada undangan yang harus mereka hadiri.” Laura merasakan perutnya mual. Di saat ia berusaha keras menghindari mereka kenapa alam seolah berkonspirasi melakukan yang sebaliknya? Laura merapikan meja kerjanya, bersiap memasuki kelas sebelum sepasang suami istri itu melihatnya. Mereka tidak mungkin tahu ia mengajar di sini kan? Laura baru saja bekerja di sini, mustahil ia pindah dan mencari tempat lain. Lagipula…. “Bahkan beasiswa yang kau dapatkan tidak luput dari andil mereka. Seperti yang kau tahu mereka keluarga yang berkuasa, jadi kurasa itu salah satu cara untuk mempertahankan reputasi di mata masyarakat.” Sempurna. Laura memperbaiki kacamatanya, memilih pergi sebelum berpapasan dengan tamu tak terduga tersebut. “Sebaiknya aku masuk ke kelas. Sampai jumpa Denish.” Laura melambaikan tangan singkat kemudian berjalan keluar. Ia menatap jam tangannya, masih terlalu dini untuk masuk ke kelas. Mungkin lebih baik jika ia pergi ke perpustakaan untuk menghindari mereka. Laura merasa debar jantungnya semakin mengencang saat jaraknya dengan sepasang suami istri itu semakin menipis. Di saat terakhir Laura berbelok, mengambil jalan yang berbeda. “Kenapa wajahmu pucat, kau baik-baik saja?” Laura berhenti. Ia mengerjap. “Apa kau menguntitku?” “Apa?” Rey tampak terlihat geli. Dia bersandar di dinding dengan tangan di lipat dan kaki disilangkan. “Sepertinya cara berpikirmu memang sedikit berbeda dari kebanyakan orang, kau tahu itu?” Laura mengabaikannya. “Jangan pedulikan aku Rey. Lakukan apa pun yang kau inginkan, tapi jangan dekat-dekat denganku.” Rey mengikuti Laura dari belakang saat wanita itu kembali melanjutkan langkah dan bersikap seolah tidak mengenal Rey. “Kenapa aku tidak boleh dekat dengan wanita cantik sepertimu?” Ya ampun! Ini sudah keterlaluan. Laura berbalik, melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada mahasiswa ataupun dosen yang melihat mereka dengan tatapan curiga. Mulutnya membentuk garis keras saat menjawab, “Dengar, Rey, aku tidak tahu kenapa kau memilihku sebagai bahan untuk main-mainmu, tapi ini tidak benar. Di sini kau ma.ha.sis.wa, tujuanmu jelas untuk belajar. Apa kau masih punya waktu untuk bermain-main di tengah jadwal belajarmu yang pasti padat dan kesibukan kerjamu itu?” Rey menunjukkan senyum memikat seribu watt miliknya. “Aku tidak tahu kalau kau begitu mencemaskanku.” “Aku sama sekali tidak mencemaskanmu.” “Lalu kenapa kau mencemaskan jadwalku?” “Karena aku tidak suka dengan gangguanmu yang menyebalkan. Lagipula…” Laura menatap jamnya, tersenyum saat menatap Rey. “Berkatmu aku tidak perlu ke perpustakaan yang jauhnya bisa membuat kaki remuk. Sekarang, permisi, ada kelas yang harus kuisi.” Laura melangkah dengan anggun tanpa menoleh ke belakang. “Laura….” Laura mengutuk dirinya sendiri karena lagi-lagi berhenti saat Rey memanggilnya. “Apa?” Dan jawaban pria itu berhasil membuatnya terpana. “Aku senang malam itu kau memutuskan datang ke klubku.” Klubku? Itu menunjukkan kepemilikan kan? Apa mungkin Rey yang memiliki tempat hiburan itu? Laura menatap punggung Rey yang semakin mengecil dan menyadari dengan kesadaran yang aneh bahwa ia tidak tahu apa pun tentang Rey. Laura tergelitik ingin mencaritahu. Dia sendiri mengaku sebagai pria cerdas dan anehnya Laura sama sekali tidak meragukan kebenaran ucapan itu. Ia tahu Rey cerdas, tapi memiliki klub itu lain hal. Bukan hanya kecerdasan dibutuhkan kecakapan dan keberanian untuk mengambil langkah sebesar itu. Mungkin Rey mewarisi dari orang tuanya dan dia hanya mengembangkannya? Laura memiringkan kepalanya, menyadari pemikirannya yang konyol. Itu sama sekali bukan urusannya. Laura menghela napas, siap masuk ke kelas untuk memberikan materi. Ia baru saja melanjutkan langkah saat ponselnya berdering. Melihat nama yang tertera di layar Laura tidak bisa menghentikan erangan keluar dari bibir tipisnya. Dengan enggan Laura mengangkatnya. “Aku butuh uang.” Adalah kalimat pertama yang ia dengar sebelum ponselnya bahkan benar-benar menempel di telinga. “Aku tidak punya uang, Satrio, Ibu baru saja minta uang padaku.” “Aku tidak percaya. Kau pasti berbohong. Katakan saja kau tidak mau memberi uangmu padaku.” Laura memejamkan mata sebentar. “Dengar, Satrio, sebentar lagi aku harus memasuki kelas. Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak punya uang.” “Kau tahu kan kalau keluarga kita bekerja keras untuk menguliahkanmu? Apa ini balasanmu untuk semua usaha kami? Kau benar-benar tidak tahu terima kasih.” Laura memejamkan mata. Ini sudah keterlaluan. “Aku kuliah berkat kerja kerasku Satrio dan kau pasti tahu itu karena sejak kecil kau menyaksikan bagaimana mereka mengabaikanku dan memutuskan untuk menganggapmu sebagai anak mereka satu-satunya.” Laura mematikan ponselnya sebelum kemarahannya semakin membesar dan kendali dirinya terancam hancur. Laura mengerjap beberapa kali saat merasakan bagian belakang matanya terasa panas. Bukan saat yang tepat untuk menangis dan terlihat menyedihkan. Suara kecil yang ada dalam benaknya mengingatkannya dengan kejam. Laura menarik napas dalam-dalam sebelum kembali melangkah dan melanjutkan harinya yang melelahkan. *** “Apa terjadi sesuatu?” Rey mengangkat kepalanya. “Apa maksudmu?” tanyanya. “Wajahmu terlihat bersinar dan kau tidak pernah berhenti tersenyum sejak tadi. Jadi, apa yang terjadi? Apa kau berhasil mendapatkan pinjaman dari bank seperti yang kau rencanakan?” Rahang Rey mengeras saat mengingat kejadian ketika ia datang ke bank untuk mengajukan pinjaman yang rencananya akan ia gunakan untuk memperluas klubnya. “Tidak, aku tidak berhasil mendapatkannya.” Wajah Jo terlihat kecewa. “Kenapa? Klubmu ini memiliki prospek yang menjanjikan selain itu kondisi keuanganmu stabil. Apa yang salah?” Rey menyiapkan minuman saat dia menjawab dengan nada datar. “Aku membatalkannya.” “Maksudmu kau tidak jadi mengajukan pinjaman?” Rey mengedikkan bahunya. “Aku berubah pikiran. Daripada memperbesar jumlah modal aku lebih suka mencari pemodal yang mau menanamkan modalnya di sini.” Rey mengedarkan pandangan, menatap klubnya dengan penuh kebanggaan. Bukti kerja kerasnya. Kerongkongannya tercekat saat memori tentang masa-masa pahitnya berkelebat dalam benaknya. Ketika ingatan tentang masa kecilnya yang pahit menghantui hari-harinya. Tepukan pelan di pundaknya menyeret Rey kembali ke realita. “Kau akan sukses Rey. Kau cerdas, pekerja keras dan ulet. Kau memiliki semua yang harus dimiliki orang-orang yang ingin meraih kesuksesan. Jangan biarkan memori buruk itu menghambat keberhasilanmu” Jo mengetahui sedikit tentang masa lalunya karena Rey pernah menceritakannya ketika ia benar-benar jatuh terpuruk dalam jurang kegelapan yang membuatnya nyaris menyerah. Rey membalasnya dengan senyuman. “Aku baik-baik saja.” Ponselnya bergetar, Rey mengangkatnya tanpa benar-benar melihat siapa yang menelepon. “Rey.” Rey mematung. Laura? Pikirnya terkejut. Rey mengenali suara lembut wanita itu di mana pun berada. “Laura.” “Ap-apa kau keberatan kalau makan malamnya dipercepat.” Rey tidak langsung menjawab bukan karena ia tidak mau, tapi karena ada sesuatu dalam nada suara wanita itu yang membuatnya cemas. “Kau baik-baik saja?” “Aku baik-baik saja. Bagaimana? Kau keberatan kalau kita bertemu malam ini?” Rey bahkan tidak perlu berpikir untuk menjawabnya. Lewat ekor matanya Rey melihat Jo menatapnya dengan alis terangkat, tapi Rey mengabaikannya. Ada yang lebih penting daripada sekadar menjawab rasa penasaran pria tua itu. “Aku akan datang, katakan di mana aku harus menemuimu?” “Sebenarnya aku sudah ada di sini. Aku di depan klubmu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD