Jatuh Cinta?

1122 Words
Rey terlihat geli. Cengirannya semakin lebar meski Laura sama sekali tidak merasa ada yang lucu di situasi ini. “Pertanyaanmu menyiratkan seolah aku akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Baiklah, kalau kau tidak mengizinkanku masuk kurasa kita tidak punya pilihan lain bukan?” “Kau mau pulang?” Laura bahkan tidak mau repot-repot menyembunyikan kegembiraannya, tapi Rey menggeleng, memupus harapan Laura dalam sekejap. “Kita bisa makan di teras. Kebetulan sekali malam ini ada bulan dan bintang-bintang. Kurasa alam bahkan mendukung ideku, bagaimana? Kau mau makan di sini atau mungkin kau mau bermurah hati mengizinkanku masuk?” Rey mengoyang-goyang plastik makanannya, menunggu jawaban Laura. “Sebenarnya apa yang kau inginkan, Rey? Kau tahu kan kalau aku ini dosenmu?” “Lantas kenapa?” “Ada yang namanya norma dan kesopanan Rey, dan sepertinya kau tidak memedulikan itu, tapi aku peduli. Aku tidak ingin terlibat gosip apalagi skandal yang akan mengancam ketenangan hidupku.” “Ya ampun, Laura, aku hanya ingin makan malam denganmu karena menurutku kau wanita yang menarik dan menurutku kita bisa berteman.” “Pria dan wanita tidak bisa berteman,” balas Laura tegas. “Dan aku juga tidak mau berteman denganmu. Kurasa kau salah paham tentang keramahanku, Rey, hanya karena aku mau makan malam denganmu bukan berarti aku akan bersikap ramah padamu. Seharusnya kita bertemu sabtu depan, tapi kau malah datang malam ini. Apa memang kebiasaanmu melakukan apa pun sesukamu?” Terjadi keheningan panjang. Laura tahu sikapnya keterlaluan dan berlebihan, tapi kedatangan Rey yang mendadak benar-benar mengejutkannya. Laura tidak pernah membiarkan laki-laki datang ke rumahnya, setidaknya sampai Rey masuk dalam hidupnya. “Maaf, sikapku berlebihan. Aku hanya…” Bukannya marah seperti yang diduga Laura, Rey justru tersenyum lebar. “Sepertinya kedatanganku benar-benar mengejutkanmu ya?” Laura mengangguk kaku. Pria ini, dia bisa membaca dirinya dengan mudah dan itu merisaukan. “Baiklah kalau begitu aku akan memberikan makanan ini padamu saja.” Rey menyerahkan kantong makanan yang dia bawa pada Laura. “Selamat malam, Laura.” Laura tidak tahu apa yang merasukinya, tapi mulutnya sudah terbuka sebelum ia bahkan menyadarinya. “Rey, tunggu!” Rey berhenti kemudian berbalik. “Ya?” Laura menelan ludah. Hanya makan malam, seharusnya tidak akan masalah. Laura mengangkat kantong makanan pemberian Rey. “Aku tidak bisa menghabiskannya sendirian. Sebaiknya kau masuk dan kita bisa makan bersama.” Efek dari kalimat itu sekali lagi mengejutkan Laura. Rey tersenyum sangat lebar, menunjukkan barisan gigi putihnya yang rapi, matanya berkilauan seperti berlian hingga sesaat Laura terpaku karenanya. Laura berhasil pulih dengan cepat. Ia membuka pintu lebih lebar agar Rey bisa masuk. “Tapi setelah makan kau harus pergi,” tambahnya cepat-cepat. “Kau tinggal sendiri?” tanya Rey saat dia mengedarkan pandangan dengan penuh penilaian. Laura mengikuti sikap Rey. Rumahnya memang tidak besar, hanya memiliki satu kamar dengan ruang tamu juga dapur yang merangkap sebagai ruang makan. Meski begitu, Laura merasa nyaman. Tinggal sendiri jauh lebih nyaman dibanding jia ia harus tinggal dengan keluarganya. “Ya, aku tidak terlalu bisa berbaur dengan orang lain. Bagaimana denganmu? Apa kau tinggal sendirian juga?” “Jadi sekarang kita masuk ke ranah pribadi?” tanyanya dengan nada menggoda. “Kau yang memulainya. Aku suka keseimbangan. Kau bertanya adil jika aku melakukan hal yang sama. Ambil gelasnya dan bawa ke sani, kita makan di sini.” “Siap, Mam.” Laura memutar bola matanya, tapi tidak mengeluarkan komentar. Ia sibuk mengeluarkan menyusun makanan di atas meja. “Apa ini?” tanya Rey penasaran saat menatap buku yang berserakan di atas meja juga laptop Laura yang masih menyala. Dia mendongak, menatap Laura kagum. “Sedang membuat jurnal?” tebak Rey. Laura merampas buku The Global Economic Crisis karya Larry Allen dari tangan Rey. “Jaga prilakumu atau aku akan mengusirmu,” ancamnya. “Kau tuan rumah yang ramah sekali, kau tahu itu?” Laura mengedikkan bahunya. Saat ia hampir duduk di kursi makannya, tangan Rey menahan lengannya. Ia menatap pria itu dengan wajah penuh tanya. “Kita akan merusak kerja kerasmu jika makan di sana. Sebaiknya kita makan di sini.” Tanpa merasa canggung sedikitpun Rey duduk di lantai dan mulai mengunyah makanannya. Laura mengerjap. “Kau tahu ini rumahku kan?” Rey tertawa. “Kau lucu.” Laura mengabaikannya. Ada sesuatu tentang Rey yang membuatnya berbeda dari pria lain yang pernah ia kenal (yang pada dasarnya memang tidak banyak). Laura menatap wajah Rey lebih lama dari waktu yang dibutuhkan. Bulu matanya yang lebat, rahangnya yang kokoh juga garis wajahnya yang keras. Tampan mungkin bukan kata yang tepat, pikirnya setelah beberapa saat mengamati struktur wajah Rey. Memesona lebih tepat. Meski lebih muda darinya, nyatanya Rey bisa bersikap dewasa jika memang dibutuhkan. Laura ingat bagaimana pria itu membentak juga menyudutkannya saat ia mabuk dan bersikap bodoh. Yah, situasi yang tidak akan pernah ia ulangi. “Aku tahu aku tampan, tapi apa perlu kau menatapku seperti itu? Hati-hati, kau mungkin jatuh cinta padaku.” Laura mendengus. Ia ikut mengambil tempat duduk di lantai dan mulai mengunyah makanannya sendiri. “Ngomong-ngomong, apa kau punya pacar?” Laura tersedak makanannya. Ia menerima gelas yang diangsurkan Rey kemudian meneguk isinya. “Merasa lebih baik?” Laura melotot. “Pertanyaan macam apa itu?” geramnya. “Pertanyaan normal yang harus diajukan pria jika ingin mendekati seorang wanita?” Laura berdiri. Satu tangannya memijit pelipisnya. “’Dengar, Rey,” tukasnya jengkel. “Kita baru bertemu dua kali dan—“ “Tiga kali dengan yang sekarang.” Laura melotot. “Kita baru bertemu beberapa kali. Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku secepat itu. Lagipula aku ini dosenmu, apa yang akan di—“ Laura tiba-tiba menghentikan ocehannya. Ia menatap Rey curiga. “Apa kau sengaja mendekatiku untuk suatu tujuan?” Rey melipat tangan di depan d**a. Pertanyaan Laura sama sekali tidak membuatnya tersinggung, tapi Laura bisa melihat ketenangan yang selama ini terlihat di mata Rey mulai mengikis. Dan mata badai itu perlahan mengambil alih. “Memangnya tujuan apa yang bisa kudapatkan saat mencoba mendekatimu?” “Aku dosenmu. Kau bisa saja mendekatiku demi nilai-nilai dan—“ “Mau taruhan?” balas Rey tenang, sekarang ikut berdiri dan meniru sikap kaku Laura. “Kau bisa mengajukan pertanyaan apa pun, apa pun bahkan yang belum pernah kau ajarkan pada mahasiswamu sekalipun dan jika aku bisa menjawabnya, kau harus menyingkirkan ide konyol itu dari kepalamu.” Laura menelan ludah. Kenapa oh kenapa situasi seolah berbalik menyerangnya sekarang? Atau mungkin ia salah menilai Rey? “Aku tidak ingin menyombongkan diri Laura, tapi mendekati seseorang untuk memanfaatkannya sama sekali tidak ada dalam prinsip hidupku. Aku cerdas, aku tidak butuh menunggangi orang lain untuk menaiki tangga kesuksesan. Jadi, bagaimana? Kau mau membuktikannya?” “Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku.” Rey mengedikkan bahunya. “Memangnya, kapan aku pernah bilang kalau aku jatuh cinta padamu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD