Tamu Malam Hari

1155 Words
Laura tidak tahu persisnya apa yang terjadi malam itu. Ia benar-benar tidak ingat. Rupanya ia begitu mabuk dan tahu-tahu ia bangun dalam keadaan telanjang di rumah lelaki itu. Apakah mereka melakukan one night stand? Laura yakin tidak. Itu pasti. Karena jika iya tubuhnya pasti tahu. Meski begitu, Laura tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa telah terjadi sesuatu malam itu, persisnya apa… Laura sama sekali tidak punya petunjuk. “Aku tidak penasaran, sama sekali,” ucapnya berbohong. Rey menyeringai. Jenis seringai yang tahu ketika seseorang berdusta. “Benar? Karena aku yakin sekali wanita secerdas dirimu mudah penasaran dan tidak suka dibuat penasaran. Kau yakin tidak ingin tahu apa yang terjadi malam itu?” Laura menggertakkan giginya. Ia menghela napas sebelum memutuskan untuk berbalik. “Dengar Reyhan, aku—“ “Rey, aku lebih suka dipanggil Rey, nama itu lebih pas untukku.” Laura memejamkan mata. Telunjuknya teracung di depan wajah Rey. “Aku tidak tahu dan aku tidak peduli tentang apa yang terjadi malam itu. Kalau kau pikir bisa memerasku pada sesuatu yang tidak kuingat maka harus kukatakan kalau kau salah. Lakukan apa pun yang kau inginkan, aku tidak peduli.” Laura menatap Rey tajam sebelum berbalik pergi “Satu makan malam.” Laura mengutuk dirinya sendiri karena lagi-lagi berhenti. Ini hanya membuktikan kalau lelaki itu berhasil mempengaruhinya. Laura menarik napas panjang, memutuskan untuk melanjutkan langkah, tapi rupanya Rey bermaksud lain. “Makan malamlah denganku. Hanya satu kali dan aku akan menjawab semua rasa penasaranmu. Kau mungkin ingin tahu siapa yang melepas gaun indah itu dari—“ “Cukup.” Rey menutup mulutnya rapat-rapat. Sekali lagi Laura memejamkan matanya sejenak. “’Baik, aku akan makan malam denganmu, tapi hanya satu kali,” tekannya. Meski tidak ingin mengakuinya, Laura membenarkan kata-kata lelaki itu. Ia memang mudah penasaran dan terkadang itu benar-benar mengganggu. “Deal. Royal Place, sabtu malam jam 8 malam. Aku tidak akan menjemputmu karena yakin kau tidak akan menyukainya.” Bagaimana dia bisa mengenaliku semudah itu, pikir Laura cemas. Ini baru pertemuan kedua mereka, tapi Rey sudah mengatakan lebih banyak hal tentang dirinya daripada yang bisa dikatakan orang-orang yang sudah mengenalnya. Laura memperbaiki kacamatanya, kebiasaan yang ia lakukan saat gugup. “Kenapa sabtu malam?” “Kenapa tidak? Kau punya kencan?” nada sura Rey berubah, mengejutkan Laura dan meski Laura ingin sekali mengatakan iya untuk pertanyaan terakhir Laura tidak bisa melakukannya. Ia tidak terbiasa berbohong. Tapi bukankah hidupmu selama ini diselimuti kebohongan? Dewi batinnya yang merana dan terlihat letih menatapnya dengan mata melotot. “Tidak.” “Bagus, kalau begitu sampai jumpa sabtu malam dan Laura...” Rey menyeringai. “Aku lebih suka kalau kau mengenakan gaun seperti yang—“ “Satu kata lagi dari mulutmu aku akan membatalkan apa yang kukatakan.” “Baik, aku tidak akan melakukannya. Terserah kau mau mengenakan apa karena pakaian apa pun tidak akan bisa menutupi kecantikanmu.” Laura meringis. Begitu khas anak muda, batinnya geli. Rayuan konyol seperti itu tidak akan berhasil untuknya terutama karena Laura tahu itu tidak benar. Laura menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum meninggalkan Rey yang tersenyum lebar. Apa yang sudah ia lakukan sampai harus berurusan dengan mahasiswa konyol itu? Laura merinding membayangkan seandainya ia terlibat di hidup pria itu, ia tidak akan tahan melewatinya. Sykurlah mereka hanya bertemu di kampus karena ia tidak akan pernah ke club itu lagi untuk alasan apa pun. *** “Laura, jangan kurang ajar pada orang tua. Rupanya kesuksesan telah membuatmu melupakan orang tuamu.” Laura tergelitik ingin mematikan telepon, tapi ia berusaha menahan diri. “Bu, Laura baru mengirim uang untuk Ibu satu minggu yang lalu. Apa uangnya sudah habis? Secepat itu?” “Bodoh! Kalau uang itu masih ada aku tidak akan memintanya lagi.” “Tapi Bu… Laura belum gajian. Ibu kan tahu Laura sedang kuliah untuk melanjutkan pendidikan. Biaya untuk membuat jurnal ilmiah tidak sedi—“ “Siapa suruh kamu kuliah lagi ha! Kamu itu sudah kuliah sampai S-2, sudah jadi dosen, pendidikan yang kamu tempuh lebih dari cukup, untuk apa lagi kuliah? Mau jadi apa kamu kalau terus memikirkan pendidikan? Ingat ya, Laura, tidak ada pria yang mau menikah dengan wanita mandiri sepertimu. Egomu terlalu tinggi untuk pria manapun!” Laura memejamkan mata mendengar umpatan ibunya. “Bu…” “Pokoknya Ibu tidak mau tahu, Ibu membutuhkan uang itu sekarang. Dasar anak durhaka, sudah dibesarkan bukannya berterima kasih malah jadi anak pembangkang.” Anak durhaka? Laura mengepalkan tangannya erat-erat sampai membuat buku-buku tangannya memutih. Takut ia kelepasan bicara, Laura memutuskan mematikan sambungan. Ia menjatuhkan diri di sofa ruang duduknya. Laura mengusap wajahnya, merasa letih dengan semua permasalahn bertubi-tubi yang terus menghujaninya. Suara ketukan di pintu rumahnya menyentak kesadaran Laura. Ia berjalan gontai menuju pintu. “Ya?” tanyanya, pada tamu pria bersetelan hitam, berwajah kaku yang tidak dikenalinya. “Saya datang sebagai utusan keluarga Hartono, Nona. Mereka mengundang Anda untuk makan malam.” Pria bersetelan rapi itu mengulurkan undangan yang tampak mengkilap pada Laura. Laura menerimanya dengan bimbang. Undangan makan malam? “Katakan pada mereka aku tidak akan datang,” putus Laura setelah jeda sesaat. “Tapi Nona…” Satu tangan Laura terangkat. “Aku tidak bisa datang. Sampaikan saja salam permintaan maafku pada mereka.” Laura menutup pintu sebelum utusan itu mengeluarkan lebih banyak argumen untuk mendorongnya datang. Laura menatap kartu undangan yang barusaja ia terima. Hartono. Salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Seharusnya Laura senang, tapi ternyata tidak. Atau mungkin ia hanya butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi. Laura melemparkan kartu undangannya begitu saja. Sekarang ia hanya ingin mandi dan tidur. Laura berjalan ke kamarnya tepat ketika pintu rumahnya kembali diketuk. Laura mengerang. Kenapa kedamaian begitu sulit didapatkan akhir-akhir ini? Laura membuka pintu dan siap menyemprot tamu tak di undanganya. “Tolong, aku tidak—Rey?” pekiknya terkejut. Rey tersenyum lebar saat menunjukkan kantong makanan yang dia bawa. “Aku membawa makanan. Kuharap kau belum makan malam?” Laura mengabaikannya. Ada pertanyaan yang lebih mendesak. “Apa yang kau lakukan di sini? dan bagaimana kau tahu rumahku?” “Aku ingin makan malam denganmu dan untuk jawaban pertanyaan kedua, aku membaca profilmu di web kampus. Ada lagi yang ingin kau tanyakan sebelum kita makan?” “Aku tidak mengajakmu makan di sini.” “Memang, aku mengajak diriku sendiri. Sekarang, kalau kau tidak keberatan tolong menyingkir agar aku bisa masuk.” Tentu saja Laura tidak melakukannya. “Aku tidak akan mengizinkanmu masuk.” Kening Rey mengerut. “Kenapa tidak?” Pertanyaan macam apa itu? Apa dia benar-benar tidak tahu jawaban atas pertanyaan sederhana itu? “Karena aku tidak mau ada gosip.” Rey mendengus. “Kita orang dewasa, kau tahu itu.” “Ya, tapi aku dosenmu dan kau mahasiswaku. Dalam pandangan siapapun, tidak ada kesan baik yang bisa ditunjukkan saat kau mengunjungi dosenmu malam-malam.” “Kau bicara seperti wanita abad pertengahan. Dan ini bukan malam-malam, ini malam hari, masih jam 7 malam Laura.” Laura melipat tangannya. “Katakan yang sejujurnya, apa tujuanmu datang ke sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD