RB - ENAM

1935 Words
"He??" pekik Rembulan setelah sampai di rumahnya. "Apa maksudnya He?" Rembulan melempar tubuhnya pada sofa di ruang tamu. Dengan Biru yang duduk di bawahnya.  "Kenapa dia mengatakan kau ini 'he'? Kau bukan he, kan?" Rembulan menatap Biru tajam. "Kau ini 'she', kan?" "She wolf. Seperti lagu," kata Rembulan lagi. Memejamkan kedua maniknya sejenak.  Saat tiba-tiba dia mendengar suara mobil ayahnya.  Rembulan dan Biru kompak terduduk.  "Ya baiklah, aku sudah pulang. Ya aku tunggu kabar selanjutnya," samar terdengar suara Cendana.  "Ayah?" kata Rembulan lirih, saat Cendana membuka pintu.  Cendana tercekat sejenak, kemudian kembali memasukkan ponselnya pada saku.  "Kau sudah pulang?" "Iya ayah. Kenapa ayah pulang lebih awal?" "Ya, ada barang ayah yang tertinggal," ucap Cendana disertai senyum. Kemudian mengusap sayang puncak kepala Rembulan.  "Ayah, ada yang ingin aku bicarakan." *** *** *** "What? No, sweetie, kita sudah membicarakan ini berkali-kali. Seri--" "Biru, Ibu. Serigala ini namanya Biru," potong Rembulan. Menatap Ibunya.  "Biru, maaf. Biru tidak akan tinggal di rumah kita." "Tapi Bu, di hutan sangat berbahaya untuknya," Rembulan belum menyerah. Dalam hal membujuk Ibunya.  Ah, sungguh.. "Rembulan, sayang. Look," kata Maretha lembut. Mengusap pipi putrinya. "If it is a cat, or dog, or chicken, or a rabbit, Mom will let it live with us. I will let you to have it. But it's a wolf, sweetheart." "Then what? It is a good wolf," lirih Rembulan.  Maretha menghela napas. Ah dia sungguh benci menyakiti hati putri kecilnya.  Dia sungguh benci menolak keinginan mulia dari putri satu-satunya.  "Ibu, hutan itu sekarang berbahaya. Tadi... Tadi aku di hutan. Lalu aku melihat ada orang datang. Aku bersembunyi dan mendengar suara orang yang saling pukul. Aku mendengar suara tembakan, Ibu," tutur Rembulan menjelaskan. "Tunggu, kau ada di sana?" sahut Cendana yang baru saja bergabung dalam obrolan. Dia baru saja menerima panggilan dari kepolisian.  Rembulan mengangguk. Menatap ayahnya, memohon.  "Jadi kau mendengar penembakan itu?" tanya Cendana, berharap putrinya akan menggeleng. Tapi... Rembulan mengangguk.  "Aku ada di sana ayah. Dan aku melihat wajah pria yang dihajar tadi penuh dengan darah," kata Rembulan. Maretha langsung merengkuh putrinya. "Tadi, aku pulang cepat karena ada pemberitahuan di ponselku dari salah satu kamera cctv. Memang benar ada penembakan dan ada seseorang yang dihajar," jelas Cendana jujur.  Maretha langsung menutup mulutnya dengan satu tangan.  "Oh my God. Is he okay?" "No he's not, Mom. Dia penuh darah Ibu. Seluruh wajahnya berdarah," sahut Rembulan.  "And I hope I can find him. Tapi, segera setelah aku menerima bip, aku ke hutan dan hutan sudah sepi. Aku berharap bisa mengenali wajahnya atau wajah pelakunya tapi semuanya mengenakan hoodie dan masker," lanjut Cendana. "Mungkin memang kita sebaiknya memelihara Biru di rumah. Sampai aku menemukan pelakunya, atau solusi," putus Cendana. Mengusap pipi Maretha dan Rembulan bergantian.  "Okay, Ibu pikir ibu akan memeriksa Birumu, is that okay?" tanya Maretha. Disambut anggukan dari Rembulan.  "Thanks, Mom," kata Rembulan tulus. "I love you so much, Mom." *** *** *** Rembulan kembali tersenyum melihat luar jendela kamarnya.  Ya, karena ada Biru yang menatapnya dari halaman samping rumahnya. Yang menhadap langsung pada tempat dirinya duduk.  Mengerjakan soal-soal. Ah sesungguhnya pelajarannya sudah berakhir, ini hanya latihan soal untuk masuk SMA pilihannya kelak.  Tanpa Rembulan sadari, satu tangannya terangkat dan melambai pasa Biru.  Kemudian dia kembali berfokus pada materi di dalam buku.  Karena Ibunya yang datang menghampiri Biru, untuk memberikan Serigala besar itu makan malam.  Tiba-tiba dirinya teringat pada percakapannya dengan Regulus tadi siang di sekolah.  Tentang kelanjutan cerita ayah dan Ibu Regulus.  *** *** "Ya Tuhan, kenapa jahat sekali?" kata Rembulan sedih.  "Kenapa kau sedih? Itu orang tuaku, bukan orang tuamu, Rembulan," sinis Regulus. Meski dirinya tampak tersenyum.  "Tentu saja aku sedih, kau kan temanku." "Tapi aku pernah dengar, ada versi lain dari kematian kedua orang tuaku," kata Regulus lagi.  "Apa? versi lain?  Apakah ada versi lain, yang lebih manusiawi dari, sepasang suami istri yang baru dikaruniai bayi. Kemudian dibunuh dengan s***s karena dituduh menyembunyikan keberadaan makhluk buas?" "Ada. Versi lain mengatakan, kedua orang tuaku, adalah makhluk buas itu," kata Biru lirih.  "Apa maksudmu?" "Nara datang," Regulus berbisik. Menunjuk pada gadis cantik dengan rambut sebahu.  "Kau tidak mau cerita pada Nara?" "Aku akan cerita, jika dia percaya hal mistis. Tapi dia tidak percaya, kan?" *** *** Apa pria yang dihajar dulu adalah makhluk buas?  Lalu apa maksudnya serigala?  Apa maksudnya, "he save with this girl?" Kemudian pandangn Rembulan kembali jatuh pada Biru di luar sana. Sedang melahap daging sembari menatap dirinya. Entah kenapa tiba-tiba Rembulan merasa salah tingkah.  Oh ayolah, itu hanyalah serigala.  "Ya.. Kau hanya serigala. Dan kau akan aman bersamaku, Biru. Kau akan selalu aman saat ada bersamaku. Begitu juga aku, Biru. Harus aku akui, aku selalu merasa jauh lebih aman saat bersamanuu," gumam Rembulan lirih.  Menutup buku diktat di depannya.  **** *** "Sudah jelas, seorang melindungi Serigala itu," geram seorang pria kurus. Berkulit putih pucat.  "Ya, ini sudah hampir 2 minggu, dan tidak ada tanda akan keberadaan serigala itu," kini Sirius yang mengucap.  "Atau Druid s****n itu membawa pergi serigalanya?" "Aku dengar dia mendapat bantuan. Entahlah, aku sempat bertemu dengan seseorang yang mirip Druid itu. Dan dia bersama seorang wanita," lanjut pria lainnya.  *** **** "Kau yakin ingin kembali?" tanya seorang perempuan di balik kemudi mobil.  "Ya. Aku harus kembali. At least, we both know that he is in the safe place," jawab seorang pria. Di samping perempuan tadi.  Sedang mengamati Serigala besar yang tengah asyik bermain air bersama seorang gadis muda.  "I mean, he's showering," lanjut pria tadi. Disertai senyum tipis.  Ya. Itu adalah Rembulan dan Biru yang dilihatnya.  "Ya.. I wonder what he looks like really," kata ang perempuan. "Yeah, me too. But we have to go back. Kita harus kembali kuliah, kan?" "Yap.." *** *** "Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?" tanya Nara. Melempar pandangan sinis pada Rembulan dan Regulus di depannya.  Rembulan dan Regulus saling menatap sejenak. Kemudian kembali menatap Nara. Tidak mengerti.  "Apa maksudmu?" tanya Regulus balik.  "Aku beberapa kali memergoki kalian bercakap serius. Kemudian saat aku datang, kalian seakan... Berubah," lanjut Nara.  "Kami hanya membicarakan beberapa pelajaran," jawab Rembulan. Berbohong sedikit.  Ya jelas bukan hanya pelajaran.  Tapi hal lain. "Kalau hanya pelajaran kenapa kalian tidak membahasnya bersamaku?" "Karena kau tidak akan mengerti. Kenapa kau tidak mengerti? Karena kau--" kata-kata Regulus tertahan oleh tendangan pelan kaki Rembulan.  "Aku apa? Ah.. Kalian berdua berpacaran ya?" selidik Nara.  "Astaga Nara, kau ini tidak ingat berapa usia kita? Kita baru 15 tahun," omel Rembulan. "Baiklah kita akan mengatakan padamu. Tapi kau juga harus mengatakan rahasiamu pada kami. Apa yang kau sembunyikan dari kami," lanjutnya.  "Apa yang aku sembunyikan? Tidak ada," Nara mengelak.  "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu," tuduh Regulus. Dan ya. Nara tidak bisa berbohong dan terus-terusan menyembunyikan hal ini.  "Meet me at the "bench" after school," suruh Nara, menyebut nama sebuah kafe di dekat rumah Rembulan.  "Kenapa tidak ke rumahku saja? Sekalian kita membahas untuk pendaftaran masuk Sma," tawar Rembulan. "Ke rumahmu? Kenapa? Aku ingat beberapa hari yang lalu kau tidak ingin kami berkunjung ke rumahmu," Regulus nenyelidik.  "Aku sedang tidak dalam mood baik, sekarang aku sudah dalam mood baik," jujur Rembulan.  Ya dalam mood yang sangat baik karena hutan tempat tinggal Biru sudah kembali aman.  Setelah lebih dari 2 minggu Biru tinggal di rumahnya. Ah jujur Rembulan ingin Biru tetap di rumahnya.  Tapi..  Hutan adalah tempat teraman untuk Biru. Dan juga untuknya bercerita.  Karena jika di rumah, ayah dan ibunya akan bergantian menjaganya.  Seperti 2 tahun lalu.  Jadi saat Cendana mengatakan hutan sudah kembali aman, Rembulan langsung saja menyetujui agar Biru dipindahkan ke hutan.  Ah, dan sekarang Rembulan sudah sangat merindukan Biru. *** *** "Ya, aku menyembunyikan sesuatu dari kalian. Aku juga sebenarnya memercayai hal mistis. Atau lebih ke.. Sedang berusaha percaya," jujur Nara.  Kini Nara, Rembulan, dan Regulus sudah berada di taman samping rumah Rembulan.  Setelahnya, kata demi kata mulai bergantian keluar dari mulut Nara, Rembulan, dan Regulus.  Ketiganya untuk beberapa saat membahas sesuatu yang serius.  Membahas tentang kematian orang tua Regulus. Tentang sepupu Nara yang pernah diikuti sesuatu.  Juga tentang pria misterius yang beberapa minggu lalu menemui Rembulan.  "Dan kau," kini Nara menunjuk Rembulan. Dengan tatapan mengintimidasi. "Katakan apa yang kau sembunyikan dari kami." "A.. Aku? Apa yang aku sembunyikan dari kalian?" elak Rembulan.  Hening. Baik Nara maupun Regulus hanya menatap Rembulan dengan tatapan menyelidik.  "Baiklah, aku memang menyembunyikan sesuatu. Aku... Kalian.." gugur Rembulan.  "Rembulan, jadi aku atau kalian?" geram Nara.  "Sebenarnya, tentang pria misterius itu.. Aku melihat pria itu dihajar oleh beberapa orang," kata Rembulan akhirnya.  Sungguh dia berusaha jujur.  Tapi tidak.. Tidak jujur pada semuanya.  Tidak tentang Biru. "Ya Tuhan, itu kan di hutan Rembulan. Apa yang kau lakukan di hutan?" Regulus menatap Rembulan. Meminta penjelasan.  "Aku sedang berlari.. Pagi.. Lalu aku melihat sekelompok orang berjalan memasuki hutan. Mereka mencurigakan. Jadi aku mengikuti mereka. Dan.. Aku melihat pria itu dipukuli," tutur Rembulan. 65% berbohong.  Dia memang ada di hutan.  Tapi tidak berlari. Dia menemui Biru.  Dia memang ada di sana saat p**********n itu terjadi. Tapi dia tidak melihat dengan jelas.  "Aku tidak melihatnya dari cctv ayahku," lanjut Rembulan lirih.  Nara menatap Rembulan sedih. Kemudian merengkuh Rembulan singkat, "Tapi kau baik-baik saja kan? Maksudku, kau tidak trauma?" "She looks fine, like. So much fine," sahut Regulus. Tersenyum tipis pada Rembulan.  "Yeah, I'm better now," kata Rembulan.  "So, kalian sudah siap untuk fenomena blue moon? Itu kurang dari 1 bulan lagi," Regulus mengingatkan.  "Ya.. It's my first blue moon," Nara terlihat semangat. "Aku sebelumnya tidak begitu tertarik dengan fenomena alam, tapi, blue moon kelihatannya akan amazing." "Trust me, it will be amazing," Regulus mengulas senyum.  *** *** *** "Kau tahu Biru? Aku senang kau ada di rumahku, tapi jujur, aku lebih senang jika kau ada di hutan. Karena kita bisa bebas bercerita," kata Rembulan. Mengusap bulu Biru. Kemudian memberikan daging yang tadi dia bawa.  "Apakah memakan daging mentah itu enak?" Biru terlihat tidak menanggapi pertanyaan Rembulan. Serigala itu terlihat asyik melahap daging. "Aku sungguh berharap suatu saat bisa membagi makananku denganmu," kata Rembulan, mengambil kotak makan di dalam ranselnya.  "Tadi ibuku membuatkanku kebab. Kau tahu? Kebab buatan ibuku sungguh enak," ujar Rembulan bangga.  Kemudian mulai mengunyah kebabnya.  "Mmhh.. Sungguh enak. Benar-benar rasanya membuatku tak bisa berhenti mengunyah." "Oh ya, kau ingat tentang Blue moon yang dulu pernah aku katakan?" Biru menghentikan aktivitasnya menyantap daging. Beralih menatap Rembulan dan terlihat berpikir.  Kemudian mengangguk dan kembali menyantap dagingnya.  Rembulan terkekeh melihat tingkah Serigala besar di depannya. "Kau ini semakin pintar, ya?" puji Rembulan. "Blue moon, itu minggu depan." "Aku sungguh tidak sabar. Aku ingin melihat bersamamu," kata Rembulan, menyudahi makannya.  "Dan aku sungguh berharap akan ada hal menarik yang akan terjadi saat blue moon. Sebelum aku harus sibuk dengan urusan Sma." Setelahnya Rembulan diam. Hanya diam dan menatap Biru yang lahap memakan daging.  Senyum Rembulan terukir begitu saja melihat makhluk buas dan besar di hadapannya.  Seperti dia tidak takut. Ah Rembulan memang tidak takut, kan?  "Kita sudah hampir 3 tahun berteman, kau tahu?" seru Rembulan. Mengeluarkan botol besar dari tasnya. Juga sebuah wadah.  Menuangkan air dalam botol itu pada wadah yang dia bawa.  Untuk minum Biru.  Dan ya, serigala pintar itu langsung minum dari wadah.  Senyum Rembulan kian merekah. "Aku selalu penasaran, saat tidak ada aku, apa yang kau lakukan?" Rembulan kembali mengusap bulu lembut Biru.  "Apa yang kau makan jika aku lama tak mengunjungimu?" Rembulan mengedar pandang ke sekeliling. Menemukan seekor kelincu hutan yang sedang... Entahlah, tidak begitu jelas apa yang sedang kelinci itu lakukan.  "Kau makan kelinci itu?" selidik Rembulan, menatap lekat kedua manik Biru.  Biru menggeleng.  "Apa kau memakan tupai? Tikus atau binatang kecil lainnya?" Biru kembali menggeleng.  "Jadi kau hanya makan saat aku memberimu makan?" Biru mengangguk.  "Ya Tuhan, aku akan selalu mampir memberimu makan mulai besok," kata Rembulan. Tersenyum lebar sembari menepuk pelan punggung Biru. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD