"Kau bangun pagi sekali," seru Cendana saat melihat putrinya memasuki dapur.
Maretha menghentikan kegiatannya mencuci sayuran. Hanya untuk menoleh pada Rembulan.
"Apa yang membuatmu begitu bahagia sepagi ini, sweetie?" tanya Maretha, kembali mencuci sayuran.
"Tidak ada," jawab Rembulan santai. Mengambil duduk di samping Cendana yang sedang mengiris bawang.
"Apa karena hari ini hari libur?" tanya Cendana lagi.
"Salah satunya," jawab Rembulan. Membantu ayahnya mengiris bawang.
Tapi Cendana dengan cepat mencegah.
"No, tidak boleh. The birthday girl, tidak boleh mengiris bawang," kata Cendana, mengambil pisau dan bawang dari tangan Rembulan.
"The what?"
"Ya Tuhan!!" pekik Maretha, menyempatkan diri memukul punggung suaminya sebelum menyalakan kompor. "Kau ini, kan kita sudah sepakat memberikannya kejutan."
Rembulan mematung sejenak. Sebelum dirinya beranjak dan berlari kecil menuju kalendar di ruang tamu.
Disusul Cendana dan Maretha.
Yap. This is the day. My birthday.
Tapi bukan itu alasanku bangun sepagi ini dan bahagia.
It's because, blue moon. Tonight.
"HAPPY BIRTHDAAYYYYYY," seru kedua orang tua Rembulan. Terdengar begitu nyaring.
Dengan sebuah kue cokelat kecil di tangan Maretha. Dan sebuah kotak kecil di tangan Cendana.
"Selamat ulang tahun, sayang," kata Maretha menyodorkan kue tadi pada Rembulan.
"Aku harus tiup lilin ini?"
"Kebanyakan orang yang berulang tahun meniup lilin," imbuh Cendana.
Rembulan melirik lilin itu sejenak. Kemudian meniupnya.
"Hanya begitu?" tanya Maretha. "Kau tidak menyebutkan harapan ulang tahunmu?"
"Apa harapan ulang tahunku, Ibu?"
"Entahlah, mungkin kau ingin masuk ke SMA favorit di kota," sahut Cendana.
"Hehe," Rembulan menyengir. "Hasil ujian Rembulan belum keluar Ibu."
"Sebenarnya sudah," kata Cendana mengulurkan kotak kecil di tangannya. "Bukalah."
Menurut, Rembulan membuka kotak itu.
Dahinya berkerut. Membaca surat kecil di dalamnya.
"Aaaaa..." Rembulan berteriak. Memeluk ayah dan ibunya.
"Aaaa.. Untuk surat pengumuman kelulusan atau untuk ponsel baru?" tanya Cendana.
"Dua-duanya ayah, aku sungguh senang hari ini," jawab Rembulan. Melepas pelukannya, bergantian memeluk kotak kecil di tangannya.
"Selamat 16 tahun, sayang," ucap Maretha mengusap pipi Rembulan.
"Boleh aku ke hutan sekarang?" tanya Rembulan dengan binar bahagia di wajahnya.
"No. Kau akan membantu ayah dan Ibu untuk pesta ulang tahunmu nanti sore," putus Maretha.
"Pesta apa?"
***
***
Rembulan menghela napas. Lelah. Iya dirinya sungguh lelah.
Ya Tuhan. Ini ulang tahunnya, tapi dirinya juga dibuat kelelahan oleh kedua orang tuanya.
Bagaimana tidak? Bahkan Rembulan belum sempat menikmati kue coklat tadi, tapi Ibunya sudah menyuruhnya mendekorasi taman depan rumahnya.
Karena pestanya akan digelar di halaman rumah. Semacam pesta kebun.
"Mulai hari ini, aku benci ulang tahun," gumam Rembulan.
Yap. Di sinilah sekarang dirinya.
Terbaring di atas rerumputan di dalam hutan. Bersama dengan Biru yang juga berbaring bersamanya.
Kedua orang tua Rembulan sepertinya juga sudah kelelahan. Karena Rembulan akhirnya memiliki kesempatan untuk kabur ke hutan menemui Biru.
"Hari ini ulang tahunku, kau tahu?" kata Rembulan, mulai mendudukkan dirinya. Mengambil daging di dalam tasnya.
Memberikan kotak berisi daging itu pasa Biru.
"Ulang tahun adalah, entahlah. Mungkin semacam memperingati hari dimana kau lahir, dan itu dilakukan setiap tahun."
Biru terlihat seksama mendengarkan ucapan Rembulan.
"Ini adalah ulang tahunku ke 16. Yang mana artinya 16 tahun lalu aku lahir. Untuk pertama kali aku menghirup udara di dunia," kata Rembulan menerawang.
"Ini ulang tahun pertamaku yang dirayakan. Sebelumnya kami hanya makan-makan di luar. Ah," Rembulan teringat sesuatu.
Tangannya kembali menelisik masuk ke dalam tas. Mengambil sebuah kain. Semacam sapu tangan.
"Ini untukmu," kata Rembulan. Mengikatkan kain seperti sapu tangan itu pada salah satu kaki Biru.
"Entahlah, tadi salah satu teman Ibuku memberiku ini," lanjutnya.
Kain itu berwarna Biru. "Ya, kuberikan ini padamu karena warnanya biru."
Rembulan kemudian beranjak. Bangkit dari duduknya. Mengusap sebentar bulu Biru.
"Aku harus pergi. Pestanya akan dimulai pukul 3, yang mana 2 jam lagi. Aku akan kemari lagi setelah pestanya berakhir," ucap Rembulan. Menggendong tasnya. "Blue moon, remember."
***
***
"Selamat ulang tahun, Rembulan," kata Nara. Memeluk Rembulan sejenak. "Kau sungguh cantik," puji Nara.
"Thanks, kau juga Nara. Pita rambutmu itu sungguh indah."
"Ya, sepupuku yang memberikannya padaku," bisik Nara.
"Sepupumu ada di kota?" selidik Regulus yang juga ada di sana sedari tadi.
"Iya, dia ada camping beberapa minggu lagi. Dia sedang liburan."
"Kenapa tak kau ajak saja dia kesini?"
"Tidak bisa, Rembulan. Dia.. Dia tidak bisa ikut."
"Baiklah, ayo kita ke sana," ajak Rembulan. Menunjuk meja penuh makanan.
Ya. Pesta itu sudah dimulai. Sekitar setengah jam yang lalu.
Tidak terlalu banyak yang datang. Karena Rembulan tidak sempat mengirim pesan pada kesemua temannya.
Hanya beberapa dari teman sekelasnya. Nara, Regulus, dan beberapa teman kerja ayah dan ibunya.
Meskipun begitu, pesta ulang tahun Rembulan cukup meriah.
Cukup bisa disebut pesta ulang tahun yang sempurna.
Makanan yang dimasak Maretha semuanya lezat. Juga dekorasi halaman yang nyaman. Dan suasana sore yang lumayan indah.
Dengan angkasa yang cerah dihiasi awan-awan kecil berbentuk seperti kapas. Hembusan angin yang sejuk.
Juga...
Dua cahaya biru kecil di seberang sana.
Di seberang gerbang rumah Rembulan.
Rembulan tersenyum simpul. Kemudian berpamitan pada Nara dan Regulus untuk ke belakang.
Dengan Rembulan yang memberi kode pada Biru untuk memutar arah, agar bisa bertemu di halaman belakang rumahnya.
***
***
"Kenapa kau ke sini?" tanya Rembulan, mengulas senyum pada Biru.
"Kan ini masih jam 4, nanti aku akan menemuimu untuk melihat blue moon."
Biru mengangguk. Kemudian berlalu begitu saja dari Rembulan.
****
****
Rembulan memeluk Nara dan Regulus bergantian. Sebelum 2 temannya itu pulang.
"Sekali lagi selamat ulang tahun yaa Rembulan. Semoga kita semua satu sekolah lagi di Sma," ucap Regulus.
"Ya, semoga kita satu kelas lagi," kata Nara.
"Iya, semoga.. Sampai ketemu besok senin yaa," kata Rembulan, mengantar 2 temannya itu sampai ke taksi.
***
"Hey, it's coming."
"Yeah, I can see," kata Rembulan menatap langit luas di atasnya. "It's beautiful Regulus."
"Told you," kata Regulus di seberang.
Regulus menelpon Rembulan malam ini.
Ya, blue moon itu sungguh indah. Andai saja dia bisa melihatnya sembari berbaring pada perut Biru. Di hutan.
Sialnya, kedua orang tua Rembulan masih sibuk membereskan sisa pestanya. Membuat dirinya tidak bisa menyelinap, pergi ke hutan dan melihat blue moon bersama Biru.
Tapi tak masalah. Setidaknya dia bisa melihat blue moon di taman samping rumahnya.
Bersama Biru.
Duduk berdua di kursi taman.
Serigala besar itu ternyata menunggunya sejak tadi. Saat Biru menghampiri Rembulan di pesta.
Meski Rembulan sudah menyuruhnya kembali ke hutan, tapi Biru ternyata bersembunyi dan menunggu Rembulan.
"Aku tutup telponnya, Regulus. See you," kata Rembulan.
"Baiklah, senin akan kujemput ke sekolah, Sirius keluar kota jadi aku dapat supir."
"Cool, sampai ketemu senin."
Tut. Panggilan terputus.
Rembulan kembali memandang langit malam yang cerah.
Dengan sinar Rembulan yang megah di angkasa.
Dan beberapa awan kecil yang mengelilingi bulan.
"Bulannya besar," ucap Rembulan. "Dan ada sedikit warna biru, kau lihat?"
It's amazing !!
Rembulan kontan menoleh ke arah Biru. Karena dia sungguh jelas mendengar suara barusan dari arah Biru.
Tidak ada siapapun.
Rembulan menoleh ke arah lain. Mencari entahlah, apapun itu yang bisa menyuarakan "it's amazing"
Sepi.
Hanya dirinya dan Biru di taman.
Lalu terdengar panggilan dari Maretha dari dalam rumah, "Rembulan, sayang. Sudah malam, ayo masuk."
"Ya Ibu. Sebentar lagi," sahut Rembulan.
Dia masih celingukan mencari sumber suara.
"Aku harus masuk Biru, ini sudah larut. Akan kutemui kau besok pagi."
Rembulan mengusap lembut bulu Biru sejenak. Sebelum kedua kakinya dengan mantap berlari kecil memasuki rumahnya.
***
***
***
Serigala besar itu berjalan menelusuri gelapnya malam. Mengarah pasti pada hutan.
Tempatnya kini bernaung.
Langkahnya terhenti saat melihat 2 sosok itu. Seorang pria dan seorang wanita.
Seperti tengah menunggunya.
"Kurasa kau sudah melihat blue moon?" seru sang pria. Dia masih muda. Dengan hoodie maroon yang menutupi wajahnya.
"I think he is," kata sang wanita.
"Ayo. Kau harus dipersiapkan. Aku sudah begitu lama menunggu momen ini," kata sang Pria lagi. Menggiring Biru memasuki hutan.
Biru menurut. Mengikuti langkah kedua manusia di depannya.
"Kau tau aku sungguh terkesan kau bisa bertahan sedemikian lama," pria itu mengoceh. Tangannya dengan pasti mengambil pistol dalam balik hoodienya.
"Kau yakin melakukan ini?" tanya sang wanita, terlihat takut.
"Aku yakin, Nala. Aku tidak bisa melihatnya terus-terusan seperti ini."
"Baiklah, aku juga sudah mempersiapkan semunya."
Sang pria mengangguk. Tersenyum singkat pada Nala. Sang wanita.
"It's the time," kata Nala. Menunjuk bulan yang mulai naik.
Sang pria dengan mantap membidikkan pistolnya pada biru.
Sedangkan Biru juga sudah terlihat lemah. Dia berdiri di bawah sebuah pohon besar.
DORRR!!
Hanya dengan sekali tembakan di kaki, Biru langsung terkulai.
***
***
***
Rembulan berlari panik menuruni kamarnya. Dia bergegas mengambil ranselnya. Dia berjalan tergesa keluar rumah. Mengabaikan kedua orang tuanya yang sedang duduk di teras.
"Sayang kau tidak sarapan?" tanya Maretha setengah berteriak.
"Sudah kumasukkan dalam tas Ibu," kata Rembulan tanpa menoleh Ibunya.
"Hati-hati," kata Cendana juga setengah berteriak.
Rembulan hanya mengangkat satu jempolnya ke udara.
Sambil terus berjalan cepat menuju hutan.
Pagi ini, dia mendapatkan mimpi buruk. Sungguh buruk. Hingga dia enggan memutuskan untuk kembali tidur.
Dan malah mandi, kemudian bersiap untuk ke hutan.
Meski ini masih jam setengah 7 pagi. Cuaca masih dingin.
Rembulan tidak peduli.
Dia hanya ingin segera sampai di hutan. Membuktikan bahwa mimpinya hanya sekedar mimpi.
"Biru!! Biru!!" panggil Rembulan keras. Sesaat setelah dia sampai di hutan.
Kakinya terus melangkah, menuju tempat biasanya dia bertemu Biru.
"Biru!!" teriak Rembulan lagi. "Kau dimana?"
Tubuh Rembulan bergetar, mulai merasakan ketakutan akan mimpinya.
"Biru!!"
Rembulan masih melangkah mencari.
Langkahnya terhenti saat dirinya juga mendengar sesuatu yang sedang melangkah.
Rembulan bernapas lega, sebelum dia menoleh.
"Hai, Rembulan," seru sebuah suara lelaki. Nan merdu terdengar di telinga Rembulan.
Membuat jantung Rembulan seakan berhenti seketika.
Suara itu... Seperti suara yang semalam dia dengar.
Dia langsung saja teringat kalimat "It's amazing" di taman semalam.
Dengan tangan yang gemetaran, Rembulan berusaha untuk berbalik. Menengok pada sumber suara.
Dan harus Rembulan akui, jantungnya benar-benar berhenti saat melihat sosok lelaki di depannya.
Napasnya pun seakan berhenti. Seluruh tubuhnya benar-benar membeku.
"Hai, Rembulan," kata lelaki itu.
Menjatuhkan tas yang ada di tangan Rembulan.
***
****
***
***
Sedikit info.. Rembulan tidak pernah begitu tertarik membahas ulang tahunnya.
Jadi ini untuk pertama kalinya dia membahas ulang tahunnya pada Biru.