RB - DELAPAN

1889 Words
"Okey," kata Nara. Mencoba mengatur napasnya. "Biar kuulangi lagi." Rembulan mengangguk. Seperti anak kecil. "Biar kuulangi lagi," Nara kembali menghela napas. "Kau, ternyata selama hampir 3 tahun ini memelihara Serigala?" Rembulan kembali mengangguk.  "Seekor Serigala yang besar?" Rembulan mengangguk.  "Dan kemarin pagi, Serigalamu itu berubah menjadi manusia?" Rembulan mengangguk lagi.  "Serigala besar peliharaanmu berubah menjadi manusia, dan manusia itu lelaki?" tanya Nara.  "Exactly," kata Rembulan akhirnya. Susah payah menelan salivanya. Begitupun Nara.  Tangan Nara bergerak mengambil buku diktat di depannya.  "Tolong tampar aku dengan ini," pinta Nara.  "What? Aku tidak akan menamparmu dengan ini, Nara," pekik Rembulan pelan.  Ya, mereka sedang ada di perpus. Begitu sampai di sekolah, Rembulan langsung menyeret Nara ke dalam perpus dan menceritakan semuanya.  SEMUANYA. TERMASUK BAGIAN BIRU.  Karena sungguh, Rembulan tidak tahu harus bercerita pada siapa. Sedang dia juga tidak sanggup jika harus menyembunyikan ini.  "Serius, Nara. Dia mengatakan dirinya adalah manusia serigala. Dan maksudku. Kenapa dia harus berjenis kelamin lelaki? Kenapa tidak perempuan?" Nara mengerutkan kening.  "Memangnya kenapa jika dia lelaki?" "Ya Tuhan. Nara.. Kau tidak tahu apa yang selama hampir 3 tahun ini kami lakukan," kata Rembulan menutup wajahnya dengan kedua tangan.  "Memangnya apa? Kau tidak pernah cerita, Rembulan." "Aku dan Biru.." "Nama serigala itu Biru?" "Ya!" "Kenapa harus Biru? Ada apa dengan kuning, merah, hijau?" "Demi Tuhan Nara..!! Mata serigala itu berwarna Biru." "Baiklah lanjutkan," kata Nara, tersenyum tipis. "Apa saja yang sudah kalian lalukan." "Dia.. Aku menceritakan segalanya pada Biru. Semua keluh kesahku. Semua yang ada di pikiranku. Aku memberinya makan. Aku sering memeluknya. Menciumnya. Kadang aku tertidur di perutnya. Aku bahkan tak jarang memandikannya, Nara," tutur Rembulan pelan.  Nara terkekeh geli mendengarnya.  "Lalu kenapa? Dia hanya serigala saat itu." "Ya.. Kalau saja dia tiba-tiba tidak berubah menjadi manusia, aku tidak peduli, Nara." "Tenanglah, Rembulan." "Bagaimana aku bisa tenang?" "Kenapa ini?" seru Regulus yang baru saja datang.  Nara dan Rembulan menoleh pada Regulus.  "You should tell him," kata Nara.  *** *** *** Flashback...  "Hai, Rembulan," seru sebuah suara lelaki. Nan merdu terdengar di telinga Rembulan.  Membuat jantung Rembulan seakan berhenti seketika.  Suara itu... Seperti suara yang semalam dia dengar.  Dia langsung saja teringat kalimat "It's amazing" di taman semalam.  Dengan tangan yang gemetaran, Rembulan berusaha untuk berbalik. Menengok pada sumber suara.  Dan harus Rembulan akui, jantungnya benar-benar berhenti saat melihat sosok lelaki di depannya.  Dia hanya bertelanjang d**a dan mengenakan celana pendek selutut.  Napasnya pun seakan berhenti. Seluruh tubuhnya benar-benar membeku.  "Hai, Rembulan," kata lelaki itu.  Menjatuhkan tas yang ada di tangan Rembulan.  Kaki Rembulan sungguh ingin bergerak untuk lari. Namun tidak bisa.  Kakinya sungguh lemas, namun seakan beku.  "Ini aku," kata lelaki di depannya. "Ak--" "Kau siapa?" potong Rembulan cepat. Sebelum suaranya ikut membeku.  "Aku Biru," jawab lelaki di depannya. Dan dengan suara merdurnya, "Aku Birumu." Tangan lelaki itu bergerak melepas kalung di lehernya.  Mata Rembulan terbelalak. Saat lelaki yang mengaku sebagai Serigalanya itu membuka liontin kalungnya.  Dimana ada foto Rembulan dan tulisan tangan Rembulan di dalam liontinnya.  "Da.. Dd.. Darimana kau mendapatkan kalung itu?" selidik Rembulan gugup.  "Kau memberikannya padaku. Di malam setelah hujan itu," jawab sang lelaki berkulit putih itu.  "Tidak mungkin. Biruku adalah serigala." Lelaki itu tersenyum, "Aku selalu suka saat kau mengatakan Biruku." Lelaki itu kemudian mendekat.  Sedangkan Rembulan, dia sungguh kesusahan hanya untuk menggeser badannya.  Bahkan saat sang lelaki sudah berada tepat di depannya.  "Kau.. K.. Kau bukan Biruku," kata Rembulan. Mencoba untuk tidak takut.  "Percayalah, aku adalah Biru. Serigala besar yang tertembak dan kau tolong, hampir 3 tahun yang lalu," ucap lelaki bermata biru itu. Memandang Rembulan lekat.  Sungguh. Rembulan ingin mengelak. Tapi... Tidak bisa.  Kedua sorot mata lelaki di depannya ini memang sangat mirip dengan Biru.  Warna biru pada matanya pun sama persis dengan Serigala besarnya.  Bahkan..  Ikatan kain di lengan kirinya. Adalah ikatan yang kemarin dia ikatkan.  "Ka.. Kau.. Apa kau membunuh Biru?" Tiba-tiba saja air mata Rembulan luruh.  Dan lelaki di depannya mulai terlihat panik.  "Hey, hey.. Jangan menangis Rembulan," ucap lelaki itu. Terdengar begitu lembut di telinga Rembulan.  Namun Rembulan malah kian menangis.  "Aku tidak membunuh Biru. Karena akulah Biru. Akulah Birumu," ucapnya mantap.  Satu tangannya menghapus buliran air mata di wajah Rembulan. Sedangkan satu tangannya yang lain, meraih tangan Rembulan dan menggenggamnya erat.  "Lihatlah kedua mataku!" suruh lelaki tadi. "Lihatlah, dan kau akan mendapatkan bukti, bahwa aku memanglah Biru." *** *** *** "Wait a minute, kau memelihara serigala?" Regulus memekik tidak percaya. Dan langsung mendapatkan injakan mesra dari kaki kanan Nara. "Aww.." "Ini perpus, kecilkan suaramu Regulus," omel Nara. "Rembulan. What's wrong with you? Kenapa kau memelihara serigala? What happened with cats, or dogs, or rabbits, or fish, or another puppies? Why wolf?" tanya Regulus lagi.  "Aku menyelamatkannya. Hampir 3 tahun yang lalu di hutan." ****** PART IN BERISI FLASHBACK. MOHON JANGAN KOMPLAIN F LASHBACK "Lihatlah kedua mataku!" suruh lelaki tadi. "Lihatlah, dan kau akan mendapatkan bukti, bahwa aku memanglah Biru." Bagai terkena hipnotis, Rembulan menurut. Menatap ke dalam birunya mata lelaki di depannya.  Seakan tenggelam dalam manik biru yang sebiru lautan. Semakin dalam.  Semakin dalam.  Dan semuanya kembali berputar bagaikan film.  Semuanya.  "AYAHH!!!" teriak Rembulan. Saat tiba-tiba tubuhnya jatuh telentang pada semak-semak karena sesuatu yang besar menimpanya.  "Ayah lihat!!" seru Rembulan setelah menghabiskan susunya. Tangan kecil Rembulan menunjuk pada luka di tubuh serigala itu. "Ayah jangan tembak dia." "Apa ayah akan menggendong serigala malang itu ke rumah sambil berlari?" tanya Rembulan setelah keduanya sampai di pinggir jalan.  "Ibu, selamatkan dia. Dia kasihan, bu," rengek Rembulan.  Rembulan melirik ke kanan dan kiri. Sebelum kemudian berlari menghampiri cahaya itu.  Menghampiri serigalanya.  Rembulan langsung saja memeluk serigala besarnya itu. "Ke hutan?" "Kau ingat apa yang aku ajarkan minggu lalu? Untuk mengangguk jika iya, dan menggeleng jika tidak?" lanjutnya. Mendelik menatap Serigala besar di depannya tanpa takut. Seolah dirinya guru yang sedang memarahi muridnya.  "Serigala? Ke hutan?" Serigala besar itu mengangguk pelan. Seketika membuat senyum Rembulan merekah.  "Ayah, aku tidak mau berpisah dengannya," kata Rembulan masih memeluk serigalanya. "Tidak bisakah kita memeliharanya di rumah?" "Apa kau sudah makan?" tanya Rembulan setelah sampai di hutan dan terduduk di atas semak-semak yang telah dibersihkan oleh serigalanya.  "Kau belum makan?" Rembulan terkekeh. "Lalu kenapa kau semakin besar saja?" Rembulan menepuk pelan punggung serigalanya.  "Serigala, apa kau baik-baik saja berada di dalam hutan sendirian? Di mana orang tuamu?" "Apa kau tadi kehujanan?" tanya sang Rembulan. "Aku ada sesuatu untukmu," kata Rembulan, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.  "Entah kau tahu atau tidak, akan kuberitahu kau. Ini namanya kalung. Kalung dipakai di leher." Rembulan menunjukkan kedua kalung itu pada serigala di depannya.  "Lihat ini," kata Rembulan mengambil salah satu kalung dan membuka liontinnya. "Ada fotoku di sini dan namamu, Blue. Blue artinya biru. Jadi namamu Biru sekarang." Rembulan mengulas senyum bangga. Hanya karena dia berhasil memberi nama serigala besar di depannya.  "Ya, aku sudah bosan memanggilmu Serigala. Itu terlalu panjang. Kau mau kan namamu Biru?" "Aku merindukanmu, kau tahu? Di sekolah tadi teman baikku tidak masuk. Jadi aku kesepian." "Aku tahu wajahku tidak cantik. Tapi aku menyayangimu." "Oke Biru, stop. Biru aku merasa geli," kata Rembulan saat sampai di hutan dan Biru langsung menciumi pipinya. "Baiklah, baiklah. Aku tak akan memaksa. Lagi pula, aku juga tidak ingin berbagi dirimu dengan temanku yang lain." "Aku takut, kau tahu?" "Aku takut, kau tahu? Ada pria yang mengawasi rumahku sejak tadi siang," kata Rembulan lagi.  "Emm.. Bulumu sungguh sangat lembut," kata Rembulan, mengusap bulu Biru. "Lebih lembut dari selimut bermerk yang dibelikan ibuku saat aku ulang tahun, tahun lalu." Hanya terdengar geraman Biru. "Kenapa bulumu bisa sedemikian lembut?" Rembulan mendudukkan diri. Mengusap kepala Biru. "Kau tidak pernah mandi, kau tidak pernah ke salon. Kenapa bisa lembut?" "Ahahaha.. Kau harus mandi, Biru. Nanti kau kutuan. Seperti kucing Fifa dulu, banyak kutunya karena dia tidak mau mandi," kata Rembulan, kemudian mematikan air shower. Berganti menyabun Biru.  "Ini sabun kesukaan ibuku. Kau cium aroma wanginya?" Rembulan mengulurkan tangannya yang berisi cairan sabun. "Harum kan? Seperti aroma bunga yang paling wangi." "Kau tau Biru, kata Regulus akan ada fenomena blue moon 2 bulan lagi. Saat akhir bulan." "Aku ingin melihatnya bersamamu nanti," Rembulan memeluk singkat Biru. "Kau mau?" "Ayo kita sembunyi, ada orang yang datang," kata Rembulan menarik Biru bersembunyi.  "What are you going to do? Kill him?" tanya Rembulan, meminta penjelasan.  "Leave the wolf with us," kata perempuan. "NO!!" kini Rembulan memekik.  "Kau tahu Biru? Aku senang kau ada di rumahku, tapi jujur, aku lebih senang jika kau ada di hutan. Karena kita bisa bebas bercerita," kata Rembulan. Mengusap bulu Biru. Kemudian memberikan daging yang tadi dia bawa.  "Aku sungguh berharap suatu saat bisa membagi makananku denganmu," "Blue moon, itu minggu depan." "Aku sungguh tidak sabar. Aku ingin melihat bersamamu,"  "Bulannya besar," ucap Rembulan. "Dan ada sedikit warna biru, kau lihat?" It's amazing!  "Biru!!" "Hai, Rembulan," Dan.. Kilasan tentang kebersamaan Rembulan dan Biru selama hampir 3 tahun, berhenti.  Kini seluruh pandangannya terarah pasti pada kedua manik Biru lelaki di depannya.  Begitu juga lelaki itu, menatap lekat kedua mata Rembulan.  "Kau percaya sekarang?" tanya sang lelaki.  "Kau.. Bagaimana kau melakukannya?" Rembulan balik bertanya.  Dahi lelaki di depannya berkerut seketika.  "Melakukan apa?" "Kilasan-kilasan tadi, bagaimana kau melakukannya?" "Aku tidak melakukannya. Kau yang melakukannya. Kau yang minta bukti jika aku Biru kan? Dan kau sudah mendapatkannya." Rembulan susah payah menelan salivanya.  Apakah benar? Lelaki di depanku ini adalah Biru? Serigalaku yang aku selamatkan?  "Kenapa begitu sulit untukmu percaya jika aku memanglah Biru, Rembulan?" lirih lelaki itu.  "Kenapa kau begitu yakin kau adalah Biruku?" "Karena memang aku adalah Birumu." "Kau bukan." Rembulan menepis tangan lelaki di depannya dengan kasar. Hendak melangkah menjauh, namun lengannya kembali dicekal oleh lelaki tampan di depannya.  "I am." "No!!" pekik Rembulan. Berusaha lepas dari cekalan lelaki itu. "Baiklah, kalau kau Biru. Kenapa kulitmu putih sekali?"  "Kenapa?" tanya lelaki itu tidak percaya.  "Biruku berbulu hitam legam. Kenapa kulitmu putih?" "Ha?"  "Kau bukan Biru." "Aku Biru, Rembulan. Sungguh. Kulitku memang putih sedari aku lahir. Kata orang, seperti ibuku. Dan kenapa buluku hitam, well.. Aku rasa semua bulu berwarna hitam?" Rembulan diam. Terlihat berpikir.  Benar juga.  "Lalu.. Kenapa kau.. Kenapa kau dulu menjadi serigala dan kini menjadi manusia?" "Bisakah kau mempercayaiku, jika aku menceritakan semuanya?" Lelaki itu memandang lekat pada manik Rembulan. "Bisakah aku percaya padamu jika aku menceritakan kisahku?" *** *** Flashback nyaaa sengaja aku italic dan aku italic bold, untuk memisah Flashback dari part berbeda.. Kalian bisa bayangin gak itu kayak di film2 gitu? Kilasan2 singkatnya di efek lain dan suaranya kayak ngambang hahahaha Karena aku bayangin gitu.. Thanks yang udah baca.. Ohya, sebelumnya maaf kalau aku pakai teks bahasa Inggris ya.. ada beberapa yg komen jangan banyak pakai bahasa Inggris, Maaf yaa, aku memang merasa lebih ngeFeel kalau pakai bahasa Inggris.. bukan sok Inggris, akupun translate kok..kadang aku minta tlg temen translate.in juga.. Jadi, sorry to say, ayo bareng2 belajar bahasa Inggris.. sekalian baca, sekalian belajar. Sekarang mah gampang udh ada aplikasi translate. Jangan jadi reader yang seenaknya sendiri.. mau enaak aja.. gak vote, gak kasih saran, kasihnya komentar pedas. "KAK JANGAN PAKE BAHASA INGGRIS" itu gak aku anggap saran. Itu aku anggap orang malas yang gak pernah mau belajar. Udah itu aja titik. Enggak ngatain kok serius. Daann... Tak lupa juga terima kasih yang gak hanya banyak,tapi banyak bangeeeettt buat kalian yang selalu nunggu cerita aku. Yang Nerima apa adanya cerita ini. Yang mau koreksi typo dan benerin kalimat yang kurang pas. Yang gak pernah lupa vote dan komen Semoga kalian sehat selalu dan rejekinya dilimpahkan oleh Allah Aamin.. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD