Empat
"Iya, aku sangat bahagia karena semalam aku mendapatkan teman baru. Dia seorang lelaki. Rambutnya pirang. Kau tahu? Putih seperti tulang," kata Rembulan menjelaskan.
Biru langsung saja melengos. Meskipun binatang, tapi Rembulan bisa melihat raut Biru sekarang terlihat murung.
Wait, tapi Kenapa Biru murung?
"Namanya Regulus. Dia anak salah satu teman ayahku. Dia juga pecinta binatang. Emm.. Maksudku, dia juga menyukai semua jenis binatang. Karena katanya kemarin, binatang itu unik. Kau mau ku kenalkan dengannya?"
Kontan Biru menggeleng.
"Kau tak mau?" Rembulan terkekeh. "Dia tidak akan menyakitimu, percayalah." Rembulan mengusap lembut bulu Biru.
Tapi Biru masih menggeleng.
"Baiklah, baiklah. Aku tak akan memaksa. Lagi pula, aku juga tidak ingin berbagi dirimu dengan temanku yang lain."
Benarkah?
Hening untuk beberapa waktu. Rembulan hanya mengusap bulu Biru. Dan Biru, serigala besar itu hanya duduk, menatap Rembulan yang pandangannya entah untuk siapa.
"Aku harus pulang. Itu mobil Nara," kata Rembulan bangkit dari duduknya. "Aku akan menemuimu setelah Nara pulang. Oke?"
Biru mengangguk sekilas.
Kemudian Rembulan buru-buru berlari meninggalkan hutan.
******
****
"Kenapa kau terengah seperti itu?" tanya Nara setelah turun dari mobilnya dan mendapati Rembulan yang terengah.
"Aku baru saja berlari Nara. Aku tadi dari--"
"Dari?" kini Fifa, yang baru saja turun dari mobil Nara bertanya menyelidik.
"Dari rumah teman ibuku. Ayo masuk. Aku ingin bercerita pada kalian," ajak Rembulan. Merengkuh kedua temannya memasuki rumah.
***
***
Keesokan harinya, Rembulan sedang menunggu Nara di depan gerbang sekolahnya. Saat kedua matanya menangkap sosok asing yang sabtu lalu berkenalan dengannya.
Regulus. Baru saja turun dari motor sport hitam. Setelah berpamitan singkat dengan seorang pria yang memboncengnya, Regulus beranjak memasuki area sekolah.
Langkahnya terhenti karena panggilan Rembulan, "Regulus!"
"Hai, kau tak masuk?" Regulus berjalan mendekat pada Rembulan.
"Aku masih menunggu temanku. Dia kakakmu?"
"Iya, Sirius. Dia sedang berada di kota untuk pekerjaan dari kampusnya," Regulus menjelaskan.
"Seriously? Sirius and Regulus? Like Black Family in Harry Potter?" canda Rembulan.
Regulus terlihat mengangkat kedua bahunya.
"Yah, seems like my parents are Harry Potter lovers."
Keduanya terkekeh pelan.
"I like the name Regulus and Sirius."
"I like the name Rembulan. Lebih manusiawi," Regulus berkata pelan. "Kenapa kau tak menunggu temanmu di dalam saja?"
"Karena.." Rembulan menjeda ucapannya. Tangannya melambai pada Nara yang baru turun dari mobilnya. "Naraa!!"
Nara langsung bergegas mendekat pada Rembulan. "Hai," sapa Nara.
"Kenalkan, ini Nara," kata Rembulan, menyenggol lengan Regulus.
Regulus menoleh sejenak pada Nara. Mengamati gadis yang ditunjuk Rembulan sejenak.
"Regulus," kata Regulus akhirnya, mengulurkan tangannya. Disambut dengan tangan mungil Nara.
"Narashanza, kau bisa memanggilku Nara." Nara tersenyum ramah. "Ini teman barumu yang kau ceritakan kemarin?"
"Iya. Nara akan ada di kelasmu Regulus. So you both are officially classmates."
"Oh.." Regulus mengangguk singkat.
"Sebentar lagi akan bel. Ayo masuk," ajak Nara. Diikuti Regulus dan Rembulan.
***
****
"Kau yakin?" tanya Nara untuk ketiga kalinya di sela makan siang.
Rembulan kembali mengangguk.
"Okey, let me make it right. Kau tengah malam ke rumah teman ibumu?"
"Tidak tengah malam, Nara. Itu masih jam 9."
"Untuk remaja Smp seperti kita, jam 9 adalah tengah malam," kata Nara.
"Maksudmu untuk remaja penakut sepertimu?" sahut Regulus yang sedari tadi asyik melahap makan siangnya.
"Ya Tuhan, Regulus, kita baru saja berteman beberapa jam yang lalu, dan sekarang kau mengejekku?"
"Nara, dalam beberapa jam aku sudah bisa menyimpulkan bahwa kau memanglah penakut."
"Rasa takut itu penting, Regulus. Rasa takut membuat kita tetap hidup," Nara mulai berdebat.
"Oke, kalian mau mendengar ceritaku atau.." Rembulan menengahi.
"Okey sorry, lanjutkan."
"Begitu aku pulang dari rumah teman Ibuku, tiba-tiba saja ada sosok pria, bertubuh kurus dan tinggi, dia bilang terima kasih," kata Rembulan, mencoba mengingat malam itu.
"Lalu bagaimana?" tanya Nara antusias.
"Lalu aku tanya siapa dia, dan dia menjawab, dia sebagian dariku. Dan saat aku menoleh ke arah lain, dia menghilang."
"Dia seperti apa?" Regulus ikut penasaran.
"Dia tinggi, kurus. Dan gelap."
"Gelap? Maksudmu berkulit gelap?"
"Tidak Nara. Saat itu gelap. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas."
"Apa mungkin dia tetanggamu?" Regulus menaikkan satu alisnya.
"Tidak. Di lingkungan tempat tinggalku tidak ada pria dewasa seperti lelaki itu."
Lalu siapa?
****
****
Rembulan berdiri gelisah di dalam kamarnya. Sesekali menatap keluar jendela kamarnya.
Sosok itu masih berdiri di depan rumahnya. Menatap ke... Entahlah. Dia hanya memandang rumahnya. Kemudian mengalihkan pandang.
Rembulan kembali menengok jam di atas meja belajarnya.
Sudah pukul 7 malam. Tapi kedua orang tuanya tak kunjung pulang.
Padahal mereka bilang tidak akan lembur.
Lalu apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus Rembulan lakukan sekarang?
Takut? Iya dia sudah sangat takut sejak satu jam terakhir. Saat tadi dia berencana untuk mengunjungi Biru di hutan saat senja, kemudian pandangannya bertemu dengan sosok pria itu, sedang berjalan ke arahnya.
Maka, Rembulan memutuskan untuk mengambil langkah seribu memasuki rumahnya.
"Regulus," gumam Rembulan. Tiba-tiba saja dia teringat lelaki berambut pirang itu.
Buru-buru Rembulan berlari menuju telepon rumahnya. Menekan nomor ponsel Regulus yang tadi siang diberikan.
"Regulus, siapa ini?" sapa suara seberang. Terdengar mengantuk.
"Aku Rembulan, kau sedang tidur?"
"Ah, kau. Aku sedang berbicara denganmu kan? Ada apa?"
"Bisakah kau ke rumahku sekarang? Karena aku sungguh merasa ketakutan. Sosok yang tadi siang kita bicarakan ada di depan rumahku," jelas Rembulan.
"Baiklah. Sepuluh menit. Tidak lima menit aku akan kesana," putus suara Regulus di seberang. Bersamaan dengan panggilan telponnya yang terputus.
Lima menit berlalu, dan Regulus benar-benar sudah datang. Lelaki itu berhamburan masuk ke dalam rumah Rembulan.
"Kenapa dia masih berdiri di sana?" tanya Rembulan panik.
"Entahlah, tadi dia hanya minggir saat aku datang. Dia bahkan tidak menengok padaku," Jawab Regulus. Mengikuti Rembulan, mengintip pria tadi di balik korden rumahnya.
"Kau tidak bertanya?"
"Kau kira aku tidak takut?"
"Jadi kau juga takut?"
"Yeah, well dia terlihat seusia Sirius. Dan aku takut pada kakakku itu."
Rembulan mengangguk mengerti. "Ayah dan Ibuku akan pulang 1 jam lagi."
"Baiklah, aku bawa buku pelajaran. Kau mau membantuku mengerjakan PR?"
"Ya, aku juga ada PR."
***
***
Rembulan sungguh ingin bertemu dengan Biru malam ini. Setelah merasa ketakutan beberapa jam terakhir, dia sungguh ingin bertemu dan bercerita dengan serigala besar itu.
Karena, Rembulan tak bisa menyembunyikan hal apapun pada Biru.
Rembulan selalu berbagi segala keluh kesahnya. Segala ceritanya di sekolah, di rumah, dan cerita lainnya pada hewan yang tergolong buas itu.
Entahlah, dia merasa nyaman saja bercerita pada Biru.
Kalau ditanya kenapa? Because that big wolf won't judge.
Tapi.. Bagaimana kalau pria misterius tadi muncul lagi?
Sungguh dia masih gemetaran sekarang. Meski kedua orang tua Rembulan sudah pulang setengah jam yang lalu. Bersaman dengan pulangnya Regulus.
"Pergi tidak ya?" gumam Rembulan.
"Aku pergi saja," putus Rembulan, mengambil hoodienya dan kembali menyelinap di tengah gelap.
Berjalan mengendap agar kedua orangtuanya yang sudah terlelap tidak mengetahui.
Rembulan terus berjalan. Mengendap di antara lampu-lampu pedesaan yang tidak begitu terang.
Hingga langkahnya terhenti sejenak. Iya, karena dia merasa ada yang mengikuti.
Rembulan menghela napas dalam-dalam.
Jangan menoleh ke belakang, Rembulan. Jangan. Tetaplah berjalan.
Tapi tidak bisa. Kakinya sungguh berat digerakkan.
Maka, Rembulan memilik berjongkok. Berpura-pura membenarkan ikatan sepatunya.
Hingga keberaniannya kembali terkumpul. Dia kembali melangkah. Sedemikian cepat menuju hutan.
"Biruu," panggil Rembulan lirih. Begitu dirinya sampai di tempat biasa dia bertemu dengan Biru.
Terdengar suara sesuatu bergerak.
Rembulan embali bernapas lega saat hewan berukuran besar itu mendekat. Dengan mata biru yang menyala dalam gelapnya malam.
Rembulan segera saja memeluk serigala itu. Seakan sudah lama dia tidak bertemu.
Padahal kemarin dia nyaris menghabiskan hari minggunya dengan serigala itu.
"Aku takut, kau tahu?"
Biru menatap Rembulan sejenak, kemudian mengedar pandang.
Lalu berjalan, seakan meminta Rembulan untuk mengikutinya.
Dan di sinilah kini kedua makhluk ciptaan Tuhan dalam wujud berbeda itu.
Di bawah sebuah pohon besar.
Dengan beberapa bunga putih yang menyebar di kanan kiri pohon.
Rembulan takjub untuk beberapa waktu.
Dia belum pernah masuk ke dalam hutan bagian ini.
"Wauu.. Ini sungguh indah," kata Rembulan, mengambil duduk di antara hamparan bunga itu.
"Duduklah," suruh Rembulan. Menurut, Serigala besar itu duduk di samping Rembulan.
"Aku takut, kau tahu? Ada pria yang mengawasi rumahku sejak tadi siang," kata Rembulan lagi.
Biru terlihat berpikir, kemudian dengan santainya menyandarkan kepalanya pada pangkuan Rembulan.
"Kau sudah makan?"
Biru menggeleng dalam pangkuan Rembulan.
"Kau ini tidak pernah makan? Kenapa badanmu semakin besar?"
Rembulan baru akan bersuara lagi, namun urung karena sayup-sayup dia mendengar perdebatan tak jauh dari tempatnya.
Maka, Rembulan memeluk Biru erat. Mengisyaratkan agar Biru diam.
"Pergilah, hutan ini tidak diijinkan ada perburuan," seru suara pria.
"Aku tidak akan pergi. Karena ada binatang buas di dalam hutan ini," sahut suara pria lain.
"Lalu kenapa? Apa hewan itu mengganggumu? Tidak kan? Hutan ini dilindungi oleh pemerintah, tidak satupun perburuan yang dibenarkan."
"Kau tahu? Kebenaran pasti akan datang."
****
****
****
"Kau tidak bercanda kan?" tanya Nara dengan suara lumayan keras.
Rembulan langsung saja menutup mulut Nara dengan tangannya. Matanya memelototi Nara kesal.
"Sorry," lirih Nara setelah Rembulan menarik tangannya. "Jadi pria misterius itu berdiri di depan rumahmu sepanjang sore?"
"Ya, sepanjang sore dan hingga malam. Tanyakan saja pada Regulus," kata Rembulan menunjuk lelaki kurus berambut pirang, Regulus, yang baru saja memasuki kantin.
Regulus berjalan menghampiri meja Nara dan Rembulan. Dengan tangannya yang menempelkan ponsel di telinganya.
"Okey, Kak," kata Rembulan sebelum menutup telponnya.
"Jadi benar Regulus?" tanya Nara.
"Apa?"
"Bahwa kemarin ada yang mengawasi rumah Rembulan."
"Iya.. Tapi kalau menurutku pria misterius kemarin tidak jahat," kata Regulus. Menarik piring makan siang Nara lalu mulai menyantap nasi goreng Nara.
"Hey, kenapa kau makan?" Nara memukul lengan Regulus.
"Aku lapar Nara. Dan kau kan tadi berjanji mentraktirku."
Nara memukul pelan keningnya. "Yasudah aku pesan lagi," gerutunya pelan. Beranjak menuju stand nasi goreng di kantin.
"Siapa yang menelponmu?" tanya Rembulan penasaran.
"Kakakku, Sirius. Ah, dia titip salam padamu. Dia berpesan, jangan keluar rumah malam-malam."
Deg.
Sirius mengenalku? Dan dia tahu aku semalam keluar rumah?
"Kakakku semalam pergi ke meninjau lokasi kemah untuk komunitasnya. Dia melihat kau berjalan malam. Membenarkan ikatan sepatumu," lanjut Regulus. Masih melahap nasi goreng di depannya.
Apa Sirius yang mengikutiku semalam?
Rembulan merasakan tenggorokannya kering. Tangannya tiba-tiba berkeringat.
"Dan ada orang yang mengikutimu?" tambah Regulus. Sungguh langsung membuat jantunh Rembulan mencelos.
Bukan sirius? Lalu siapa?
"Ehm.. Ngomong-ngomong, kenapa kakakmu menelpon?" Rembulan mengalihkan pembicaraan.
"Ahh.. Dia mengabariku bahwa 3 bulan lagi akan ada fenomena blue moon," jawab Regulus. Menyudahi makan siangnya
"Fenomena apa?" sahut Nara yang sudah kembali dengan semangkuk mie.
"Blue moon. Kau tahu kan?" Regulus menggeser badannya untuk memberi Nara tempat lebih luas.
"Blue moon? Apakah nanti moon-nya akan berwarna blue?" tanya Nara asal. Ah dia jelas tahu apa itu blue moon.
"Seriously? Yah.. Bulan akan berwarna biru. Sebiru matanya Nala Eleanor Grass, kakak sepupumu itu," kata Regulus terdengar mengejek.
"Kakak sepupumu ke sini?" Rembulan menyelidik.
"Ya.. Semalam dia datang. Makanya aku tidak bisa ke rumahmu pulang sekolah. Dia ke sini bersama temannya," jawab Nara. "Yang mana aku yakin temannya itu adalah kekasihnya," lanjut Nara setengah berbisik.
"Oh ya? Berapa umur kak Nala?"
"18, dia baru beberapa bulan masuk kuliah. Tapi dia sudah mengalami masa sulit."
"Bully?" tanya Regulus.
"Bukan. Another difficult issues. Not bully," kata Nara sembari tersenyum tipis. "I can't explain it."
"Okay, jadi kata Sirius. Tanggal 22 3 bulan lagi, akan ada fenomena blue moon. Oh sayang sekali blue moon hanya istilah. Meskipun aku berharap warna bulan akan biru, dan menjadi Rembulan biru dalam arti sesungguhnya," tutur Regulus.
Uhuk uhuk.. Rembulan terbatuk. Buru-buru meraih gelas jusnya.
"Hey, kau ini kenapa? Daritadi aneh," selidik Regulus.
"Tidak. I'm good."
"Serius Rembulan, jangan berjalan malam lagi. Bagaimana kalau kau diculik?"
"Aku hanya mencari udara segar, Regulus."
"Really? Udara segar jam 10 malam?"
"Shut up!!" Nara melerai. "Aku harus segera menghabiskan mie ini sebelum bel. Kalian berdua diamlah."
Oke, percayalah Nara. Aku akan diam. Karena sungguh. Kejadian beberapa hari ini sungguh membuatku ingin terus diam.
***
***
Serigala besar itu kini terduduk di depan pintu rumah Rembulan. Meski sudah jelas ini masih sore.
Hewan itu bahkan masih bisa dengan jelas mengawasi pergerakan orang-orang yang memandangnya dengan beragam arti.
Tapi dia tidak peduli. Karena sepertinya dia sungguh ingin menemui Rembulan.
Entahlah. Dia mungkin merindukan temannya itu.
Tapi sudah hampir 2 jam dia duduk di sana, gadis cantik itu tak kunjung pulang. Atau bahkan kedua orang tuanya juga belum pulang.
Hingga kedua indera pendengarannya menangkap suara mobil.
Serigala itu buru-buru bersembunyi di balik pot besar di teras rumah Rembulan.
Ah, there she is. Rembulan.
Gadis itu sudah pulang.
Dengan Regulus yang juga ikut menuruni taksi.
"Ah s**l," gumam Rembulan pelan. Saat kedua matanya menangkap kedua mata biru Biru, di balik pot besar.
"Regulus, kau langsung pulang saja, ya," kata Rembulan.
"Kenapa?"
"Em, kau lihat? Tidak ada pria yang kemarin. Jadi aku aman. Kau pulang saja."
Regulus terlihat mengedar pandang. Mencari sesuatu yang ganjal. Seperti pria misterius kemarin. Namun dia malah menangkap sesuatu berwarna biru di teras rumah Rembulan.
"Sudah sana pulang," suruh Rembulan. Mengalihkan pandangan Regulus.
"Baiklah, sampai ketemu besok. Bye," kata Regulus. Mengusap bahu Rembulan sejenak. "Take care."
"Okey, kau juga."
Setelah taksi itu berlalu, Rembulan segera menghampiri Biru. Mengusap bulu lembut Biru.
"Hey, ada apa kau sampai kesini?" tanya Rembulan. Menggiring serigala itu memasuki rumahnya.
Jelas saja Rembulan tidak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
I mean, wolf can not talk.
Yah, tapi bibir Biru bisa. Bukan berbicara.
Tapi memberikan jawaban.
Saat bibir itu terbuka, terdengar suara sesuatu terjatuh. Selongsong peluru.
"What is this?" tanya Rembulan tidak percaya. Tangannya mengambil selongsong itu.
***
***