TIGA
" Kenapa kau dan Nara selalu menanyakan itu setiap aku mengajak berkunjung ke rumah?" tanya Rembulan menyelidik.
Fifa langsung terbatuk saat telinganya mendengar nada selidik dari pertanyaan Rembulan.
"Ehm... Se.. Sebenarnya.. Okey sebenarnya, dulu Nara pernah bercerita padaku. Saat dia berkunjung ke rumahmu, dia pernah melihat sesuatu seperti baru keluar dari jendela kamarmu. Oh atau seseorang. Dia kira itu ayah atau ibumu. Tapi saat itu kau mengatakan jika kedua orang tuamu tidak ada di rumah. Jadi Nara takut. Makanya dia tidak pernah mau ke rumahmu, jika kedua orang tuamu tidak ada," Fifa menjelaskan.
Dahi Rembulan seketika berkerut. Kepalanya mencoba meminta otaknya bekerja sedikit lebih keras untuk mengingat saat itu. Saat pertama Nara berkunjung ke rumahnya.
Ya. Pada siang itu.
Rembulan sungguh ingat. Karena dia juga merasakan ada kehadiran sosok lain di rumahnya.
Saat dia sedang membuatkan Nara es jeruk di dapur. Samar-samar dia juga mengingat, jika ada sesuatu yg sedang menyorot tajam pada dirinya.
Tapi apa? Siapa?
***
***
***
Rembulan masih termenung di kamarnya. Bahkan saat sang ibu sedang menata rambutnya.
Oh ya, jangan lupa, mereka akan makan malam dengan salah satu teman ayahnya malam ini.
Tapi ini baru jam 5 sore dan Mareta sudah heboh sendiri.
Terlebih saat tahu jika anak teman ayahnya pindahan dari luar negeri.
"kau dengar ibu Rembulan?" seru Mareta masih menyisir rambut panjang Rembulan.
Hening.
"Rembulan!!" seru Mareta lagi.
"Ah iya bu. Rembulan dengar," kata Rembulan menatap pantulan dirinya pada cermin di depannya.
"Ibu bilang apa?" tanya Mareta melirik sekilas pada Rembulan.
"Ibu bilang Rembulan cantik," jawab Rembulan santai.
Mareta langsung terkekeh dibuatnya.
"Ibu bilang, nanti saat makan malam, jangan pilih makanan yg akan membuatmu alergi. Karena mungkin kita akan lama."
"Baik bu," kata Rembulan patuh.
"Pintar, ayahmu akan datang sebentar lagi."
***
***
***
Pukul setengah 6, keluarga Cendana berangkat menuju restoran tempat makan malam.
Yang ternyata berada di tengah kota. Rembulan sempat melirik hutan sekilas saat mobil sang ayah melalui hutan.
Dan langsung saja Rembulan bertemu dengan 2 cahaya biru favoritnya.
Sedang berdiri mengawasi di balik pohon besar di pinggir hutan.
Senyum Rembulan merekah begitu saja.
Untung kedua orang tua Rembulan sedang asyik mengobrol, sehingga tidak menyadari jika putrinya masih menatap 2 cahaya biru tadi, bahkan saat mobil sudah jauh meninggalkan hutan.
Kita akan bertemu besok, Serigala.
***
***
***
"Ayah, apa itu pasar malam?" seru Rembulan, meloncat dari duduknya dan menepuk pundak ayahnya. Menunjuk oada keramaian di seberang jalan.
"Iya, sayang. Itu memang pasar malam," Mareta menjawab. Tersenyum melihat Rembulan yang begitu girang hanya karena melihat pasar malam.
"Bisa kita mampir sebentar?" tanya Rembulan lagi, dengan raut berbinar. "Ayolah ayah."
"Ya, kita akan mampir sebentar. Karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."
Cendana menepikan mobilnya pada tempat parkir yang sudah disediakan.
Mengajak anak dan Istrinya untuk memasuki area pasar malam.
Rembulan langsung berhamburan menuju penjual aksesori.
"Boleh Rembulan minta jepitan ini?" Rembulan menunjuk jepitan warna warni dengan model sederhana. "Untuk Nara juga," lanjutnya mulai memilih jepitan yang dia suka.
"Baiklah, beli juga satu untuk Ibumu, ya?" kata Cendana merangkul sang Istri.
"Kau ini," kata Mareta seraya menepuk pelan d**a bidang sang suami. "Aku sudah tidak memakai jepitan warna warni seperti pelangi," makinya.
Rembulan sungguh terlihat asyik memilih beberapa jepitan lucu untuknya dan juga Nara. Saat kedua matanya menangkap sesuatu yang panjang dan berkilauan.
Rembulan melirik sejenak pada sang ayah dan ibu yang sedang asyik bergurau.
Kemudian dengan pasti mengambil 2 buah benda itu. Kalung. Dengan liontin berbentuk hati.
"Psst, bibi.." panggil Rembulan sepelan mungkin pada bibi yang berjualan.
Bibi itu menoleh pada Rembulan.
"Aku mau membeli ini 2,bisakah kau pisahkan dengan jepitanku yg ini? Aku akan membayar ini sendiri," Rembulan menjelaskan. Kemudian merogoh sakunya. Mengambil amplop berisi uang yang tadi diberikan oleh teman ayahnya.
***
****
***
Rembulan masih duduk dengan senyum yang sangat lebar di dalam kamarnya, meski hujan masih turun dengan sangat lebat.
Oh ini untuk pertama kalinya, dalam 2 tahun terakhir dia begitu santai saat hujan lebat.
Biasanya dia akan mondar mandir tidak jelas di dalam kamar karena hujan tidak kunjung reda.
Atau akan mengomeli kedua orang tuanya. Karena serigalanya pasti kehujanan di dalam hutan.
Tapi sungguh malam ini dia begitu tenang dan santai.
Atau
Teralihkan.
Ya setidaknya itu yang dipikirkan Cendana dan Mareta.
Bahwa putri kecil mereka sedikit teralihkan dari serigalanya. Sejak makan malam tadi bersama Professor Cavanagh.
Terlebih saat Rembulan dan anak Profesor Cavanagh, Regulus, langsung akrab.
Anak laki-laki berambut pirang itu langsung menarik hati keluarga Cendana dengan sikap ramahnya.
Termasuk Rembulan.
Dia bahkan langsung mengatakan menyukai gaya Regulus yang memiliki pemikiran kritis dan tidak pilih-pilih teman.
"Aku Rembulan," kata Rembulan mengulurkan tangannya. Dimana langsung disambut oleh tangan Regulus.
Lelaki tampan berambut pirang itu mengulas senyum. Regulus Clay Cavanagh.
"Regulus, tapi kau boleh memanggilku Clay seperti teman-temanku sebelumnya." Regulus tersenyum.
Regulus lebih tua 1 tahun dari Rembulan. Karena dia memang sengaja mengulang kelas 3 nya tahun ini.
"Baiklah, Regulus terdengar lebih ringan daripada Clay." Rembulan membalas senyum Regulus.
Tak begitu lama, keduanya sudah akrab mengobrol.
***
***
Rembulan masih asyik dengan 2 kalung yang tadi dia beli.
Entah dia berekreasi membuat apa. Yang jelas, Rembulan memang melupakan derasnya hujan di luar sana.
"Rembulan," panggil Mareta akhirnya. Membuka pintu kamar Rembulan.
Buru-buru Rembulan menyembunyikan kreasinya tadi. Di balik selimut.
"Ya, Bu?" Rembulan langsung melompat dari atas kasurnya.
"Kau sedang apa?" Mareta mengusap rambut panjang Rembulan.
"Em.. Tidak ada, sedang berbalas pesan saja dengan Nara." Rembulan menunjukkan ponselnya.
"Baiklah, ibu dan ayah akan tidur dulu, ya? Besok pagi-pagi sekali kami harus berangkat."
"Baik Bu. Aku sudah meminta Nara kesini pagi," kata Rembulan. Berbohong? Jelas saja.
Dia bahkan tidak berbalas pesan dengan Nara.
Dia sedang mencari kreasi kalung di google.
"Okey, jangan tidur malam-malam sayang." Mareta mencium singkat puncak kepala Rembulan.
Rembulan hanya mengangguk,"Sleep tight and sweet dream Mom."
***
***
***
Rembulan terlihat tengah mengendap melewati pagar rumahnya di suatu malam sunyi.
Setelah memastikan pagar itu kembali terkunci, gadis itu berlari secepat mungkin menuju arah selatan.
Langkahnya mulai pelan saat ia sudah sampai di tempat yang ia tuju.
Di sebuah tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.
Dia mulai berjalan pelan memasuki hutan. Melewati pepohonan rindang dan semak belukar. Juga rumput-rumput yang basah karena hujan baru saja reda setengah jam yang lalu.
Begitu sampai, dua cahaya kecil berwarna biru langsung menyambutnya.
Juga suara geraman khas hewan hutan.
Namun gadis itu sama sekali tidak takut. Dia malah mendekati dua cahaya biru itu.
Cahaya biru dari mata seekor serigala dengan ukuran sebesar Bu Puan, guru bahasa Inggrisnya.
Gadis itu bergerak memeluk serigala dengan mata birunya yang bersinar di tengah gelapnya malam.
"Apa kau tadi kehujanan?" tanya sang Rembulan. "Maaf tadi orang tuaku mengajakku makan malam di luar. Jadi aku baru bisa mengunjungimu. Tadi siang aku ada tugas di sekolah."
Gadis itu melepas pelukannya.
"Aku ada sesuatu untukmu," kata Rembulan, mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.
"Tadi aku dan ayahku mampir sebentar ke pasar malam," kata Rembulan mengeluarkan kalung dengan liontin love.
"Entah kau tahu atau tidak, akan kuberitahu kau. Ini namanya kalung. Kalung dipakai di leher." Rembulan menunjukkan kedua kalung itu pada serigala di depannya.
"Lihat ini," kata Rembulan mengambil salah satu kalung dan membuka liontinnya. "Ada fotoku di sini dan namamu, Blue. Blue artinya biru. Jadi namamu Biru sekarang." Rembulan mengulas senyum bangga. Hanya karena dia berhasil memberi nama serigala besar di depannya.
"Ya, aku sudah bosan memanggilmu Serigala. Itu terlalu panjang. Kau mau kan namamu Biru?"
Layaknya manusia, Serigala besar itu terlihat berpikir sejenak. Menatap liontin dan Rembulan bersamaan. Kemudian mulai mengangguk.
Diiringi Rembulan yang kembali tersenyum bangga.
Dan Rembulan mulai memakaikan kalung pada serigala yang sudah diberinya Nama.
"Kalau yang ini kalungku," kata Rembulan menunjukkan kalung yang tersisa. "Lihat! Ada namamu dan namaku di sini. Rembulan dan Biru," Rembulan berseru senang.
Kemudian mengenakan kalung itu pada lehernya. Dan kembali memeluk serigala hitam itu erat.
"Aku merindukanmu, kau tahu? Di sekolah tadi teman baikku tidak masuk. Jadi aku kesepian."
Rembulan melepas pelukannya. "Tapi kau jangan merasakan kesepian ya? Kan tadi sudah kuberi kalung dengan fotoku di dalam liontinnya," kata Rembulan menunjuk kalung di leher serigala besar berbulu hitam pekat itu.
"Aku tahu wajahku tidak cantik. Tapi aku menyayangimu."
***
Rembulan menghela napas lega setelah dirinya sampai di rumahnya.
Berlari bersama serigalanya yang kini bernama Biru.
Rembulan kembali memeluk sejenak serigala besar itu. Mengusap bulu lembut Biru dengan sayang.
"I see you tomorrow?" tanya Rembulan sembari menatap lurus pada biru mata Serigalanya.
Serigala itu terlihat mengangguk. Kemudian buru-buru mengalihkan pandang pada rumah Rembulan.
"Baiklah, aku akan segera masuk. Kau berlarilah ke hutan," suruh Rembulan. Meski jelas sekali di dalam hatinya, dia tidak ingin berpisah dengan Biru.
"See you tomorrow?"
Biru langsung saja mengangguk. Setelahnya binatang besar itu berlari kembali menuju hutan.
Rembulan tersenyum melihat serigalanya itu berlari kecil menuju hutan.
Namun senyumnya langsung menghilang saat mendengar sebuah suara.
"Terima kasih," seru sebuah suara pria.
Rembulan langsung saja berbalik. Dan mendapati sosok pria bertubuh kurus dan tinggi itu sudah berdiri tepat di depannya.
Rembulan merasakan seperti membeku seketika. Meski jelas dia merasakan tangannya gemetaran.
Terlebih saat sosok itu mendekat.
"Si..siapa kau?" tanya Rembulan. Sekuat tenaga untuk mengeluarkan suaranya.
"Aku, adalah bagian darimu," jawab orang itu santai.
"Kau bagian dari apa?" Rembulan mengerutkan dahi. Melirik ke sekitar.
Sungguh luar biasa sepi. Seakan waktupun ikut membeku seperti dirinya.
"Kau si--" Suara Rembulan seakan lenyap, karena saat dia berbalik pria tadi sudah tidak ada.
Tubuh Rembulan benar-benar gemetaran sekarang. Dia menghela napas kuat-kuat. Kemudian berlari sekencang mungkin memasuki rumahnya.
Ya Tuhan, yang tadi itu siapa?
***
***
***
Rembulan mengerjap beberapa kali karena usapan lembut di rambutnya.
Mareta, tersenyum sambil masih mengusap rambut Rembulan.
"Ayo bangun sayang," kata Mareta lembut. "Ayah dan ibu akan segera berangkat, tadi Nara mengirim pesan akan datang pukul 9. Apa itu tidak masalah?"
"Sekarang jam berapa, bu?"
"Jam setengah 7. Ayo bangun, ibu sudah menyiapkan sarapan."
"Baik, Bu," kata Rembulan patuh. Karena memang dia sungguh sudah sangat lapar karena semalam.
***
***
**
"Wow wow.. Pelan-pelan sayang, kau bisa tersedak," tegur Cendana melihat Rembulan begitu rakus saat makan.
"Rembulan lapar ayah, semalam Rembulan bermimpi buruk."
"Oh ya? Mimpi buruk tentang apa?" Mareta ingin tahu.
"Tentang seorang pria yang tiba-tiba muncul dan mengatakan dia bagian dar--"
Ups.. Rembulan, jangan cerita.
"Dari?" Mareta ingin tahu.
"Bagian dari pasukan teroris yang ingin menghancurkan kota," jawab Rembulan bohong.
Cendana dan Mareta langsung saja terkekeh.
"Kau ini ada-ada saja. Mungkin karena semalam kau dan Regulus bercerita tentang bom di kota sebelah?" Cendana mengingatkan.
"Mungkin."
Atau mungkin karena cerita Fifa tentang seseorang yang lain di rumahnya.
Dan semalam dia bertemu dengan pria itu.
"Ayah, bolehkah aku ke hutan sekarang?"
"Sayang, bukannya kau ada janji dengan Nara?" Mareta menyahuti.
"Ini masih jam 7 Ibu. Nara akan datang kesini nanti jam 9,kan?" kata Rembulan lagi. Tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya, Rembulan beranjak dari duduknya. Menyabet jaketnya, "aku menyayangi kalian." Rembulan mencium pipi ayah dan ibunya.
"Rembulan--"
"Aku akan berhati-hati!!"
***
***
***
"Biru!!" panggil Rembulan begitu sampai di hutan. "Biruuu.."
Dan serigala besar itu segera berlari menghampiri Rembulan, bahkan menerjang gadis kecil itu.
Hingga tubuh Rembulan ambruk pada semak-semak.
Terlihat Biru yang menciumi pipi kanan kiri Rembulan.
"Oke Biru, stop. Biru aku merasa geli," kata Rembulan. Menjauhkan kepala Biru dari badannya.
Biru bergerak menuruni tubuh Rembulan. Terduduk di depan Rembulan. Menatap lekat kedua manik Rembulan.
"Kau tampak bahagia hari ini," kata Rembulan. Ikut duduk di samping Biru. "Kau kenapa?"
Biru terlihat berpikir sejenak. Menatap Rembulan sungguh lekat.
Stop biru, stop. Jangan buat gadis di sampingmu ini pingsan atau tertidur.
Kau tahu kan orang tua Rembulan sedang ada pekerjaan.
"Biru, oke. Mungkin aku tidak tahu kau bahagia karena apa. Tapi aku juga sangat bahagia."
***
***