RB - SEPULUH

1889 Words
"Kakakku kemarin ke rumahmu?" tanya Nara di sela sibuknya Rembulan menyiapkan keperluan untuk orientasi SMA Cavendish. "Iya Nara. Dia mengobati Biru. Kaki kanan Biru tertembak," jawab Rembulan setengah berbisik. "Astaga, apa Biru baik-baik saja?" Regulus menyahuti. "Ya, dia baik-baik saja. Kata Kak Nala, he's a were--you know. He'll heal quickly," jawab Rembulan. "Dia akan bersekolah di SMA ini juga. Dia kelas 3." "What??" pekik Nara pelan. "Dia baru 2 hari menjadi manusia dan dia sudah kelas 3? Astaga, aku penasaran seberapa pintar dia." "Kau akan terkejut pada apa yang bisa dia lakukan," kata Rembulan kemudian melangkah menuju aula. Meninggalkan Regulus dan Nara. "Kau percaya ini semua?" tanya Regulus. "Apa? Hal mistis? Kau juga percaya kan?" "Ya, aku percaya. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada Rembulan," jawab Regulus, menatap punggung Rembulan yang menghilang di balik pintu aula SMA Cavendish. Ya Tuhan, apa lelaki ini menaksir Rembulan? ×** *** "Ibuku, dia istimewa sejak lahir," kata Biru. Mengangkat kepalanya dari bahu Rembulan. Kedua manik birunya menatap ke angkasa. Pada indahnya langit sore. "Dia bukan seperti banshee pada umumnya. Dia memiliki sesuatu istimewa yang lain. Dia bisa memanipulasi ingatan orang. Juga memberikan Kilasan-kilasan tentang ingatan yang dia miliki pada orang yang menatapnya," kata Biru. Menoleh pada Rembulan. "Seperti yang tadi aku lakukan padamu. Aku mewarisinya dari Ibuku." "Waw.. Ibumu pasti sungguh cantik, dengan mata Biru sepertimu," puji Rembulan lirih. "Hijau. Warna mata Ibuku hijau. Aku.. Mendapatkan warna biru pada mataku dari ayahku." Rembulan langsung menoleh pada Biru. "Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu?" "Mereka sudah tiada. Meninggalkanku sendiri. Aku satu-satunya keturunan Gaillard yang tersisa," kata Biru mulai menunduk. "Satu-satunya makhluk supernatural yang mungkin masih diberi kesempatan untuk hidup." Rembulan ikut menunduk. Merasakan kesedihan yang luar biasa di salah satu sudut kecil di hatinya. Merasa sedih atas apa yang dialami lelaki tampan di sampingnya. "Aku masih ingat malam itu. Setelah Segara dan kakaknya menceritakan semuanya padaku, aku mendengar ibuku menjerit. Kata Segara, banshee akan menjerit sebagai pertanda sebuah kematian. Tapi jeritan ibuku malam itu, bukan hanya sebuah pertanda kematian. Itu sebuah pertanda kehancuran. Kehancuran kaum kami yang disebabkan oleh kaum Destroyer." "Ibuku menjerit, begitu keras. Ayahku dan ayah Segara membuat barikade untuk kami. Aku, Segara dan kakaknya. Untuk melindungi kami dari kaum Destroyer yang terus berdatangan. Dengan segala s*****a di tangan mereka." Rembulan bisa melihat itu. Buliran bening di sudut mata Biru. "Malam itu, aku melihat dengan kedua mataku sendiri. Ayahku berubah menjadi seekor serigala besar dengan mata Biru yang menyala. Dia terus melawan kaum Destroyer demi melindungi ibuku yang masih terus menjerit. Tapi jumlah kaum Destroyer begitu banyak. Sedangkan hanya ada ayahku dan 3 orang keluarga Hale. Malam itu aku melihat, ayahku yang terus ditusuk, dihujani panah dan tembakan. Hingga ayahku kembali berubah, dari serigala menjadi manusia. Dia terkulai lemas. Terjatuh dan masih terus dihujani tembakan. Dia menatap ke arahku. Kemudian dia mengatakan padaku, untuk lari." Kemudian tanpa Biru sangka, tangan Rembulan bergerak menghapus buliran bening di sudut mata Biru. Biru menoleh, menyempatkan diri untuk tersenyum. "Segara dan kakaknya menarikku untuk pergi. Tapi kakiku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa pergi. Atau membantu ayah dan ibuku yang dihabisi oleh kaum Destroyer. Jadi malam itu, aku bukan hanya melihat perang. Bukan hanya melihat ayah dan ibuku dibunuh. Tapi juga dihancurkan. Mereka dibakar. Semuanya. Hingga tak tersisa. Bahkan abu mereka tidak ada." "Kenapa kaum Destroyer melakukan itu?" tanya Rembulan akhirnya. "Karena itulah yang dilakukan kaum Destroyer. They destroy everything that doesn't make any sense. And myth, definitely doesn't make sense," jawab Biru. "But they trust myth." "No, they trust myth to be destroyed." *** *** Rembulan menghentikan langkahnya setelah memasuki aula SMA Cavendish. Pandangannya terarah pada manik biru yang langsung menyambutnya saat kakinya memasuki aula. Ya. Itu Biru. Dengan seragam SMA Cavendish. Tampan? Sungguh sangat. Terlebih saat bibirnya melengkung membentuk senyuman. "Aku rasa dia tersenyum padamu, Rembulan," seru Nara di samping Rembulan. Membuat gadis itu tersentak. "Kau membuatku terkejut, Nara," omel Rembulan. Mengalihkan pandangan pada Nara dan Regulus. "Ya, sudah jelas lelaki itu menatapmu," sambung Regulus. Benar. Biru memang menatapnya. Menatap Rembulan dengan tatapan sejuk. Bahkan lelaki itu kini berjalan mendekat pada Rembulan. "Dia berjalan ke sini," bisik Nara. "Ke arahmu." "Waw, kita belum resmi menjadi murid SMA Cavendish, dan kau sudah memiliki lelaki yang crush padamu," kata Regulus. "Hai.." sapa Biru. Mengulas senyum pada Rembulan. "Apa yang kau lakukan di sini?" ketus Rembulan. "Kau mengenalnya?" tanya Nara. Namun diabaikan oleh Rembulan. "Aku bersekolah di sini. Kemarin sudah kukatakan padamu," jawab Biru. "Biru --" kalimat Rembulan terpotong. "DIA BIRU?" tanya Regulus dan Nara bersamaan. Dengan suara yang lumayan keras. Rembulan langsung menyenggol lengan Nara. Melirik Nara sinis. Sedang Nara melakukan hal yang sama pada Regulus. Menyenggol lengan Regulus dan menatap sinis Regulus. "Mereka tahu aku?" tanya Biru. Rembulan mengangguk. "Aku menceritakan semuanya pada mereka." "Rembulan, kau--" "Aku tidak bisa menahan semuanya sendiri di dalam kepalaku, Biru." "Baiklah. Tidak apa-apa," lirih Biru. Kembali tersenyum simpul. "Kenalkan, di--" Rembulan kembali tidak menyelesaikan kalimatnya. "Kau Nara, kan?" tanya Biru, menatap Nara. Nara melongo untuk beberapa saat. "Ka.. Kau tahu namaku?" "Rembulan sering bercerita tentang kebaikanmu saat aku masih menjadi.. Serigala," kata Biru. Melirik Rembulan yang mengerucutkan bibirnya. "Aku juga pernah beberapa kali melihat fotomu di ponsel Nala. Kau sepupunya Nala, kan?" "Eh.. Iya. Aku Nara. Adik sepupunya kak Nala." Nara mengulurkan tangannya dan disambut dengan tangan Biru. Mereka bersalaman singkat. Kemudian tangan Biru terulur pada Regulus. "Kau pasti Regulus," tebaknya. Regulus menjabat tangan Biru. "Iya aku Regulus." Lalu dengan cepat Biru menarik tangannya dari tangan Regulus. Mata Biru berkedip beberapa kali. Menatap pada mata Regulus yang sedari tadi menatapnya. Lalu dengan cepat dia mengalihkan pandang pada Rembulan. Seakan memberi kode pada gadis cantik itu untuk berbicara 4 mata dengannya. "Aku harus mengumpulkan stuff ini pada panitia, Biru," ucap Rembulan. Mengerti arti pandangan Biru. "two minutes," lirih Biru. Rembulan menghela napas. "Baiklah, kau duluan, I'll catch up." Biru mengangguk. Melangkah lebih dulu meninggalkan aula. "Ada apa dengannya?" tanya Regulus. "Entahlah." Rembulan mengangkat bahunya. "But he has very beautiful blue eyes," puji Nara. "Ya.. Mata Biru begitu biru," tambah Regulus, melangkah menuju meja panitia bersama Nara. Sementara Rembulan menyusul Biru. *** *** *** Ayooo.. Wasap again ikii?? Ada apa dengan Regulus?  Yok lanjut baca...  Regulus dan biru masih saling berjabat tangan. Itu sudah lebih dari setengah jam. Regulus masih terus menatap kedua mata Biru. Begitu juga Biru. Menatap mata teduh Regulus. Persis seperti yang dilakukan Biru pada Rembulan saat Biru berubah menjadi manusia. Sesekali sudut mata Regulus meneteskan air mata. Dan Rembulan dengan sabar menghapusnya. Regulus dan Biru terlihat begitu fokus satu sama lain. Entah apa yang diperlihatkan Biru pada Regulus. Tapi.. Sesuatu mulai mengganggu pikiran Rembulan. Seperti... Bagaimana jika apa yang dilihatkan oleh Biru adalah kebohongan atau sekedar rekayasa. Seperti yang pernah dilakukan oleh Biru pada ayahnya. "Biru tidak akan pernah melakukan itu, Rembulan," seru Nala. Membuat Rembulan seketika menoleh pada Nala. Mengerutkan keningnya. "Aku bisa membaca pikiran, ingat?" "Itu mengganggu, Kak Nala," protes Nara. Nala menoleh pada adik sepupunya itu. "Terkadang itu membantu, Nara," bela Nala pada dirinya sendiri. "Baiklah," pasrah Nara. Kini mengambil duduk di atas pohon yang tadi diduduki Biru. "Biru tidak sejahat itu dengan memanipulasi masa lalu Regulus," kata Segara membela Biru. "Ya.. Kan, kau yang mengajari Biru hal-hal baik," kata Nala, mengusap punggung Rembulan. "Aku juga baru beberapa hari mengenal Biru dalam wujud manusia. Tapi, percayalah, dia manusia yang baik. Aku pernah mendengar kisah banshee seperti Linear dari temanku. Dia banshee yang baik," lanjut Nala. "Linear?" tanya Rembulan bingung. "Nama ibu Biru," sahut Segara. "Aku tahu, Biru tidak begitu menyukai Regulus dan tidak begitu peduli pada Regulus. Entah mungkin dia cemburu atau karena hal lain. Tapi aku tahu, Birumu sangat peduli pada masa lalu Regulus. Pada satu hal yang tidak Regulus tahu tentang kedua orang tuanya. Yang dihapus oleh pemimpin kaum Destroyer. Boss Dixon." "Boss Dixon? Itu nama orang?" tanya Nara. "Nama pohon yang kau duduki," jawab Segara sebal. "Itu nama orang," jawab Nala. Mengulas senyum pada adiknya. Dan beralih memelototi Segara. "Dia pemimpin kaum Destroyer. Entah dia itu manusia atau juga makhluk supernatural, dia sungguh aneh. Dengan kulit putih, bibir merah penuh dan mata biru yang redup," kata Segara mengingat kembali pertemuannya dengan Boss ini. Dimana berakhir dengan dirinya yang babak belur dihajar habis-habisan oleh anak buah Boss. "Jangan-jangan dia vampir," tebak Nara. Nala dan Segara terkekeh.  "Tidak ada vampir, Nara. Tidak yang tersisa. Karena kaum Destroyer sudah menghancurkan mereka jauh sebelum penghancuran supernatural," jelas Segara. Sementara Segara, Nala, dan Nara yang mulai membahas hal lain, dan terkadang bercanda. Pandangan Rembulan kembali terfokus pada Regulus dan Biru. Yang masih saling berjabat tangan dan saling menatap. Ada apa Regulus? Apakah menyedihkan hingga kau menitikkan air mata? Baru selesai Rembulan membatin, Biru melepas jabatan tangannya pada Regulus. Dengan napas keduanya yang tersengal. Buru-buru Rembulan mengulurkan minum pada Regulus. Namun ditolak oleh Regulus, maka Rembulan memberikan minum itu pada Biru. "You two okay?" tanya Nala khawatir. Meski sedikit kecewa karena Rembulan lebih dulu memberi minum Regulus, namun Biru tetap menerima botol minum itu. "Terima kasih," ucap Biru tulus. "Kau baik-baik saja Regulus?" "Ya.. Ya aku baik-baik saja," jawab Regulus. "At least I know the truth." "You sure, it's the truth?" tanya Rembulan. Melirik sekilas pada Regulus, kemudian kembali menatap Biru yang sudah selesai minum. "Kau masih tidak percaya padaku?" tanya Biru dengan tatapan terluka. Rembulan diam. "Rembulan, jujur, aku tidak begitu menyukai Regulus. Tapi aku hanya ingin membantunya. Mengingat kembali hal dihapus dari ingatannya," tutur Biru. "Kenapa kau melakukannya?" "Karena kau peduli dengan Regulus, kan? Dan aku peduli pada perasaanmu. Seperti kau yang selalu menjaga perasaanku dulu," jawab Biru. Menatap lekat kedua manik bulat Rembulan. Sesuatu sungguh terasa pada hati Rembulan. Di dalam hatinya. Sesuatu yang hangat dan sejuk secara bersamaan. "Aku hanya ingin menunjukkan padamu, bahwa bagaimanapun wujudku, aku adalah Biru. Biru yang terlahir menjadi pribadi yang baru setelah kau menyelamatkanku," *** *** Rembulan tidak bisa tidur malam ini. Sudah 30 menit berlalu setelah makan malam, Rembulan hanya berbaring menatap langit-langit kamarnya. Sedangkan pikirannya berkelana jauh. Pada siang tadi di hutan. Pada Biru. Pada Regulus. Dan ketukan pintu kamarnya mengembalikan pikiran Rembulan pada tempatnya. "Kau masih bangun?" tanya Cendana, setelah membuka pintu kamarnya. Rembulan hanya menatap ayahnya sembari mengangguk. "Syukurlah, karena ada yang ingin bertemu denganmu," lanjut Cendana. Rembulan langsung terduduk. Jantungnya benar-benar langsung berpacu dengan cepat. Apa Biru? "Masukklah Regulus, Rembulan belum tidur," suruh Cendana. Membuka lebar pintu kamar Rembulan. Huft. Untung bukan Biru. Rembulan bisa menghela napas lega. "Terima kasih Mr. Cendana," ucap Regulus. Menundukkan kepalanya sejenak kemudian melangkah masuk kamar Rembulan. "Ayah akan membuatkan kalian cemilan, selagi ayah menunggu ibumu," kata Cendana kemudian berlalu meninggalkan kamar Rembulan. Rembulan menyingkap selimutnya. Berangsur duduk di tepi ranjang. Menarik kursi belajarnya. "Duduklah," suruh Rembulan pada Regulus. Regulus mengangguk, dan menuruti Rembulan. Duduk di kursi belajar Rembulan. "Maaf malam begini mengganggumu," kata Regulus lirih. "Tak apa," ucap Rembulan. "Jadi ada apa?" "Boleh aku menginap di rumahmu malam ini?" "K.. Kau apa?" Rembulan tercekat. Menatap Regulus bingung. "Menginap. Tak apa jika aku harus tidur di sofa atau di manapun." "Kenapa?" "Aku tidak bisa di rumah. Aku merasa asing. Aku.. Setelah apa yang tadi aku lih--" "Kau tidak harus percaya pada apa yang ditunjukkan Biru, Regulus," potong Rembulan. "Tapi yang dia tunjukkan adalah kebenaran, kenapa kau tidak percaya pada Biru?" "Well, kenapa kau percaya?" "Karena sekarang aku sudah ingat semuanya." Rembulan mengerutkan keningnya. Menatap Regulus menyelidik. "Aku ingat siapa diriku sekarang," lanjut Regulus. *** *** *** Siapa Regulus?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD