Rembulan menyusul Cendana di dapur. Dia melihat sang ayah sedang memasak sesuatu.
"Ayah sedang apa?" tanya Rembulan.
"Oh, kau kesini? Ayah sedang meneliti bawang ini, apakah mengandung zat berbahaya, at--"
"Ayah!!" pekik Rembulan. Mengerucutkan bibirnya.
"Ayah sedang membuat roti isi, kau lihat kan?" Cendana tersenyum. Meneruskan mengoles mentega pada roti.
"Ayah, emm.. Aku tahu alasanku tidak bisa tidur," kata Rembulan, membantu Cendana mengisi roti dengan daging.
"Oh ya, kenapa?"
"Aku belum mempersiapkan atribut untuk besok masa orientasi. Biru datang kesini untuk membantu," jawab Rembulan bohong.
"Oh.. Baiklah, tapi ayah tidak bisa membantu karena harus menjemput ibumu," kata Cendana. Sudah selesai membuatkan roti isi.
"Ya.. Tidak apa ayah. Eh.. Ayah.. Apa boleh Regulus menginap? Ayah Regu--"
"Tentu saja boleh, nanti biar ibumu menyiapkan kamar untuknya. Profesor Cavanagh dan istrinya sedang di luar negeri. Dan kakaknya sedang di luar kota. Mungkin dia kesepian," sambung Cendana.
It's easy.
"Baik ayah. Kalau begitu aku ke kamar lagi ya," kata Rembulan, mengambil nampan dengan beberapa roti isi dan s**u hangat.
"Baiklah, hati-hati di rumah, ayah hanya sebentar," kata Cendana. Rembulan hanya menaik-turunkan alisnya beberapa kali.
***
***
"Serius, Rembulan. Kau harus percaya pada Biru. Dan kau harus membantunya," kata Regulus lagi. Menyomot roti isi.
"Ini susah, Regulus. Aku masih syok. Kau tahu? Dulu dia hanya Serigala besar dan menggemaskan. Dan kini dia manusia."
"Ya, manusia dewasa yang menggemaskan juga, kan? Dan lagi, mana ada serigala yang menggemaskan, Rembulan."
"Aku akan mencoba percaya."
"Aku sudah percaya padanya. Dia memberikan jawaban dari beberapa kilasan yang selalu menggangguku."
"Kilasan apa?"
"Kadang, aku mengingat sesuatu. Sesuatu tentang masa lalu. Aku berdiri dan melihat seorang wanita yang berteriak dengan suara seperti beast. Kadang hanya kilasan tentang seorang pria yang menyuruhku menutup mata sambil menggendongku."
Rembulan mendengarkan dengan seksama.
"Sekarang aku tahu mereka siapa. Mereka ayah dan ibuku. Kedua orang tuaku tidak meninggal saat aku masih bayi. Aku sudah berusia 7 tahun. Saat kedua orang tuaku dibunuh. Bukan dibunuh. Tapi dihancurkan."
Dihancurkan?
"Oleh kaum Destroyer?" tebak Rembulan.
Regulus mengangguk.
"Ayahku dan ibuku adalah Druid. Tapi ibuku seorang dark druid. Kau tahu?"
"Dark Druid? Tidak," jawab Rembulan.
"Dark Druid adalah Druid yang salah arah. Werewolf yang dijaga ibuku dihancurkan sebulan sebelum kedua orang tuaku dihancurkan. Ibuku sungguh marah. Sedih, takut, dan merasa gagal. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dan dia memilih untuk balas dendam," tutur Regulus.
"Sayangnya, dia memilih jalan yang salah. Dia memilih menjadi dark druid. Atau biasa disebut darach. Ibuku meminta bantuan. Entah pada siapa. Dia mulai memuja pohon. Dan mulai melakukan human sacrifice."
"Human sacrifice? You're kidding me?" pekil Rembulan pelan.
"No. Ibuku memang melakukan itu. Dia mencari tumbal dan membunuhnya dengan k**i. Dia membunuh 12 orang, dan ayahku baru mengetahuinya saat dia mendapati dirinya diikat di bawah pohon besar itu bersama 2 orang lain, yang adalah profesor Cavanagh dan istrinya."
"Aku ingat aku menemukan mereka bertiga. Aku bersama dengan Sirius. Saat itu juga sedang ada blue moon. Ibuku akan membunuh ayahku, paman dan bibiku sendiri. Aku melihat ibuku berubah menjadi makhluk yang mengerikan. Dia berteriak membuat telingaku sakit. Tapi aku tidak bisa diam saja. Aku berusaha melepaskan ikatan ayahku." Air mata Regulus mulai luruh.
Rembulan menyodorkan tisu pada Regulus.
"Lalu seseorang datang. Seseorang yang kurus dan tinggi. Dengan mata biru yang redup. Kulit putih pucat dan bibir merah penuh."
"Boss Dixon?"
"Kau tahu Boss Dixon?"
"Ya, tadi Segara membahasnya."
"Ya.. Dia Boss Dixon. Dia dengan pengikutnya berdatangan. Dengan beragam s*****a. Dia mulai memanah ibuku. Tapi ibuku bisa menghindar. Bahkan tak satupun serangan itu mengenai ibuku. Malah serangan itu mengenai profesor Cavanagh. Sirius menjerit melihat ayahnya berdarah."
"Dan tiba-tiba petir menyambar. Aku ingat ayahku menggendongku. Dan Bibiku serta Sirius yang memapah profesor Cavanagh. Ibuku sudah berubah menjadi manusia lagi. Kekuatannya menghilang seiring blue moon yang turun. Dan saat itulah ibuku dihancurkan. Mereka juga menyeret ayahku dan menghancurkan ayahku juga. Semuanya sungguh cepat. Aku ingat Sirius menutupi kejadian k**i itu dengan badannya."
"Lalu seseorang datang. Berlutut padaku dan Sirius. Boss Dixon. Dia.. Dengan suaranya yang dingin mengatakan jika semuanya akan membaik. Dia memegang bagian d**a profesor Cavanagh. Kemudian darah itu hilang. Profesor Cavanagh tertidur. Boss Dixon lalu menyentuh kepala Bibiku. Aku melihat cahaya redup di matanya yang memengaruhi bibiku. Kemudian Boss Dixon menyentuh kepala Sirius. Dia mengatakan, bahwa kelak Sirius harus mengabdi padanya karena Boss sudah menyelamatkan ayahnya. Dia juga mengatakan bahwa mulai saat itu aku adalah adiknya. Dan kedua orang tua Sirius juga orang tuaku. Sirius mengangguk patuh," kata Regulus. Menghela napas panjang.
"Dan saat itulah ingatanku dihapus. Aku benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Dan aku mulai hidup dengan skenario, ayah ibuku meninggal dan keluarga Cavanagh yang merawatku."
"Well, itu sangat tragis, Regulus. I'm sorry about your parents," ucap Rembulan sedih.
"I know. Aku sedih. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku menjadi benci pada ibuku karena memilih jalan yang salah. Bahkan sampai menghilangkan nyawa orang tak bersalah. Tapi aku juga tidak rela jika dia harus dibunuh."
Rembulan mengusap lengan Regulus. "But, like you've said, at least you know the truth. Tapi satu yang tidak kumengerti. Kenapa Boss menghapus ingatanmu?"
"Karena dia juga supernatural creature," seru sebuah suara.
***
"Karena dia juga supernatural creature," seru sebuah suara.
Biru.
Lelaki itu sudah duduk di jendela kamar Rembulan.
Rembulan sungguh terkejut melihat Biru yang tiba-tiba sudah ada di sana. Begitu juga Regulus.
"Ya Tuhan. Kau tidak ada cara yang lebih normal bertamu ke rumah orang?" omel Regulus. "Kenapa kau masuk lewat jendela. Dan sejak kapan kau ada di sana?"
"Maaf, aku sudah mengetuk pintu like a dozen times. Tapi ternyata yang punya rumah sedang mengadakan sesi listening." Biru masih duduk di jendela kamar Rembulan. Menatap Rembulan tanpa berkedip.
"Itu tidak sopan Biru. Bagaimana kalau aku sedang mandi?" protes Rembulan.
"Well, kau mandi di kamar mandi, kan? Dan kau jelas tidak mandi malam-malam begini," jawab Biru. "Kau masih tidak percaya padaku?"
"Bukan tidak. Belum. Well, bayangkan saja jadi aku. Aku sudah begitu senang memiliki teman seorang serigala yang baik dan jinak. Aku menyayanginya. Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Lalu tiba-tiba boom. Dia berubah jadi manusia. Seorang lelaki yang tak jauh beda usia denganku. Kau seorang lelaki, Biru? Apa menurutmu itu hal yang mudah untuk diterima?" kata Rembulan mulai kesal.
"Well.. She's got the point. Itu tidak mudah diterima. Yang mana dia selalu menceritakan apapun padamu," sahut Regulus.
"Dengar, aku mengenalmu begitu baik saat kau menjadi serigala. Aku menyayangimu... Like so much, Biru. Saat kau menjadi serigala," lanjut Rembulan.
"Jadi kau ingin aku menjadi serigala lagi?"
"Of course no. Tidak setelah mengetahui kau sesungguhnya adalah manusia. Dengan begitu banyak kehilangan dalam hidupmu," lirih Rembulan. "Just give me time. Aku percaya pada semua ceritamu. Aku percaya bahwa memang di dunia ini kaum manusia bisa saja berdampingan dengan kaum lainnya. Like.. Werewolf, Vampire, Druid, Banshee, Barrack--"
"It's Darach," ralat Regulus.
"Darach. Ya sorry. Aku selalu berusaha untuk berpikiran terbuka pada segala hal. Seperti yang selalu diajarkan oleh ayah dan Ibuku. Tapi untuk kasus serigalaku yang berubah menjadi manusia, seorang lelaki. Tolong beri aku waktu," pinta Rembulan.
Biru tersenyum mendengar penjelasan Rembulan.
"Aku pasti akan memberimu waktu. Tapi aku tidak punya banyak waktu, Rembulan. Kaum Destroyer yang menembakku beberapa hari lalu sudah sadar. Cepat atau lambat, dia pasti akan memberitahu tentangku pada teman-temannya," kata Biru lembut.
"Wait? Kau tidak membunuh makhluk destroyer itu? He's trying to kill you and you just let him walk away?" tanga Regulus tidak terima.
"It's she. Dia perempuan. Aku tidak membunuhnya. Karena orang tuaku tidak pernah mengajarkanku untuk membunuh. Manusia akan mati pada akhirnya," kata Biru bijak.
Lengkungan senyum itu muncul begitu saja di wajah cantik Rembulan. Mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Biru.
"So what you want me to do?" tanya Rembulan. "Kecuali mempercayaimu. Well aku baru saja percaya padamu. Hanya saja masih belum mudah menerima kenyataan bahwa kau menjadi manusia," imbuhnya cepat.
"I want you to help me," jawab Biru.
"Why me?" tanya Rembulan lagi.
Namun belum sempat Biru menjawab, terdengar langkah kaki mendekat pada kamarnya.
Itu suara heels ibunya.
"Ibumu," kata Biru. Kemudian beranjak dari duduknya di jendela. Dia menatap ke langit, dan dengan seenaknya dia menjatuhkan dirinya ke bawah. Tepat saat Maretha memasuki kamar Rembulan.
"Ibu sudah menyiapkan kamar Regulus," kata Maretha disertai senyum.
Regulus dan Rembulan hanya saling menatap sejenak. Kemudian ikut tersenyum.
"Cool, Mom," kata Rembulan. "Ibu sudah pulang daritadi?"
"Sekitar 10 menit yang lalu, kenapa?"
"Ibu tidak mendengar ketukan pintu?" tanya Rembulan polos.
"Maksudmu, kau tidak mendengar ketukan pintu?" tanya Maretha balik. "Karena ibu dan ayah tak henti mengetuk pintu, sebelum akhirnya kami membuka kenop pintu yang ternyata tidak kau kunci. Rupanya anak gadis ibu sedang asyik membuat tugas sekolah dan bercerita."
"Ibu sempat menengok kami?"
"Tidak, ibu mendengarnya dari kamar seberang. Apa yang kalian bicarakan? Movie?"
"Ya.. Movie."
"Baiklah Regulus. Kau beristirahatlah. Ini sudah larut. Kalian kan besok harus berangkat pagi. Ayah Rembulan yang akan mengantar kalian besok."
"Baiklah Mrs. Maretha. Terima kasih," kata Regulus. Mengambil ranselnya.
Mengikuti Maretha yang menunjukkan kamar untuk Regulus.
**/
***
***
"Kau masih memikirkan Biru?" tanya Regulus begitu menuruni mobil ayah Rembulan.
"Menurutmu?"
"Pasti kau masih memikirkannya. Tenanglah.."
"Bagaimana aku bisa tenang? Regulus, semalam dia melompat dari jendela kamarku. Di lantai 2."
"Well, minggu lalu dia ditembak kakinya oleh destroyer dan dia masih hidup. Ingatlah dia werewolf. Dia sembuh dengan cepat," bisik Regulus.
"Kalian berdua berangkat bersama?" seru Nara di depan Rembulan dan Regulus. "Aku melihat Regulus turun dari mobil ayahmu," lanjut Nara.
"Ya.. Semalam Aku menginap di rumah Rembulan. Ayahku sedang di luar kota dan tidak ada orang di rumah," jawab Regulus jujur.
"Iya.. Kita membuatkan ini untukmu," kata Rembulan menunjukkan atribut yang harus dipakai saat orientasi nanti.
Mata Nara langsung berbinar. Dan kedua tangannya langsung mengambil atribut di tangan Rembulan.
"Terima kasiiiihhh.." ucap Nara. "Aku tahu kau bisa diandalkan, Rembulan."
"Actually, it's Regulus. Dia yang membuatkan. Dia juga membantuku membuat atributku." Rembulan menyengir.
"Thanks Regulus," ucap Nara tulus.
Ya.. Sungguh tulus. Tidak seperti biasanya yang ada nada ketus di balik ucapannya.
Ya.. Setelah mendengar penjelasan Nala semalam, Nara sudah berjanji pada dirinya sendiri akan bersikap lebih baik lagi pada Regulus.
Ya.. Tak semua anak terlahir seberuntung dirinya. Memiliki kedua orang tua yang perhatian dan menyayanginya begitu banyak.
"Ayo masuk," ajak Rembulan. Mengulas senyum tipis saat kedua maniknya menangkap sosok Biru yang sudah berdiri di dalam area sekolahan.
Terima kasih Tuhan. Dia masih hidup.
***
***
***
Akutuh kemaren udah nyiapin cast Birunya.. Tapi sialnya aku lupa nama dia aslinya siapa.. Aku udh save fotonya, tp aku hapus karena lupa aja dulu kenapa aku hapus..
***
*Beberapa istilah dalam naskah ini aku ambil dari serial TV Teen Wolf.
Tolong ya.. Aku ga plagiat..
Kalau yg lain bisa seenaknya pake nama idol mereka untuk dituangkan dalam tulisan, well kenapa aku ga boleh? Kenapa bilang plagiat?
Bagian mananya aku yg plagiat? Dan aku plagiatin cerita siapa??
Ayo bicarakan baik-baik ya..
Be smart reader yang berkepala dingin..