"Baru menyebut nama Ratih saja, kau sudah lupa aku siapa, Pa. Kau bahkan memanggil namaku kembali, " lirih Anita berderai air mata. Tiba-tiba saja, tetesan bening itu mengalir begitu deras. Ada rasa sakit yang tak bisa dia uraikan memenuhi hatinya. Haryanto terdiam. Memory puluhan tahun tiba-tiba bergelayutan di dalam kepalanya. Rasa kagumnya begitu murni pada seorang janda anak 1 yang tangguh dan gigih. Bahkan ia menyalahkan waktu, mengapa menghadirkan Ratih setelah ia menikah dengan Anita, gadis kaya raya yang dijodohkan orang tuanya. "Aku ragu, selama ini apa benar-benar kau mencintaiku, Pa? " "Kita sudah sama-sama tua, tak elok lagi mempertanyakan masalah cinta. Harusnya aku yang bertanya, mengapa kau tega menyembunyikan fakta besar ini?! Lalu untuk apa? Kenapa kau libatkan Ratih

