Mulin, Andro dan Faisal berlari mendekati lokasi yang ditunjukkan oleh Didit melewati sela-sela tumpukan kontainer yang tertata rapi di atas kapal itu.
"Sepuluh meter di depan kalian. Ada empat lorong yang membentuk perempatan. Hati-hati. Di sisi kiri ada ABK yang sedang melakukan lashing," ujar Didit memperingatkan rekan-rekannya yang masih berjuang di luar sana. Bak mendengar ide brilian. Mulin pun tersenyum kecil.
"Oke. Gue punya ide. Come on! Ikuti gue!" ujar Mulin. Seketika ia pun menjadi leader operasi itu. "Ayo! Kita harus naik ke atas!" ujarnya. Mulin merambat naik ke atas tumpukan kontainer itu yang langsung disusul oleh kedua rekannya di belakang tanpa banyak bicara. Kemudian mereka berlari lagi. Sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh Didit tadi. Suara langkah kakinya saat menginjak permukaan kontainer yang terbuat dari logam khusus itu pun diredam oleh deru ombak laut yang cukup menggema. "Berapa jumlah ABK dan masih berapa jauh lagi dengan kita?" tanya Mulin pada Didit sembari memencet tombol di earpiece nya.
"Ada dua dan mereka berada semakin dekat sekarang. Sekitar lima meter lagi. Kalian lurus aja terus. Setelah itu kalian akan menemukan dua ABK itu yang masih sibuk dengan baut lashing," jelas Didit. Tentu saja ia bisa mengatakan hal itu karena kamera drone yang berterbangan di atas mereka terus menangkap gambar tentang suasana yang terjadi di bawahnya.
"Siap!" Tut. Sambungan terputus. Mulin menoleh ke arah Faisal dan juga Andro.
"Apa rencana loe sebenarnya, Mulin?!" tanya Andro setengah berteriak. Hal itu yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
"Ikuti gue aja dulu. Ntar gue jelasin sambil jalan!" balas Mulin dengan nada yang sama. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya menemukan beberapa ABK itu sedang sibuk memasang lashing atau baut pengikat pintu kontainer agar tidak terjun ke laut bebas saat diterpa ombak besar. Mulin pun menginstruksikan kepada kedua temannya untuk tetap berada di tempat itu. Sementara dirinya, berusaha menuruni kontainer itu dengan gerakan tanpa suara. Tak butuh waktu lama. Mulin sampai di bawah. Ia pun diam-diam berjalan mendekati kedua orang itu sambil meraih benda tumpul yang kebetulan ada di sekitarnya. Hingga saat langkahnya sudah sampai tepat di belakang mereka. Mulin pun langsung memukul tengkuk kedua lelaki itu secara bergantian.
Bruk! Bruk!
Tanpa bisa melawan keduanya pun langsung berjatuhan tak berdaya. Melihat hal itu Mulin langsung membuka rompi jaring hijau dan helm safety yang memang menjadi ciri khas para ABK kapal. Mulin pun menoleh ke atas. Kemudian ia menunjukkan ibu jarinya sebagai tanda jika ia sudah berhasil. Andro dan Faisal langsung mengangguk mantap. Mereka kini mengerti apa yang harus mereka lakukan. Setelah tadi sempat Mulin jelaskan rencananya secara singkat. Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mendekati para anak buah Hitman yang sedang bertugas menjaga muatan mereka.
Seperti yang sudah Mulin rencanakan tadi. Ia akan mengecoh perhatian orang-orang itu seorang diri. Sementara, Andro dan Faisal akan segera mendekati kontainer-kontainer itu untuk membuka kunci di pintu kontainer itu.
Bak tanpa rasa takut Mulin berjalan dengan terburu-buru menuju orang-orang yang memegang senjata Laras panjang itu. Mereka pun langsung menoleh dan seketika memasang siaga satu saat melihat ada sosok ABK sedang berjalan mendekat dengan wajah panik dan sedikit berlari.
"To… tolong! Tolong!" teriak Mulin dengan nafas yang kembang kempis tak karuan. Raut wajahnya pun tak hanya terlihat panik, tapi juga terlihat ngos-ngosan. Seperti orang yang benar-benar habis dikejar-kejar hantu.
"Ada apa?!" tanya salah satu anak buah Hitman Abraham yang membawa senjata api di tangannya.
"Tem… temen-temen gue di… diserang oleh orang yang nggak gue kenal," kata Mulin dengan nada yang sengaja dibuat putus-putus. Agar semakin terdengar kepanikannya. Bahkan ia juga sedikit membungkukkan badannya seraya memegang pundak lelaki itu. Baginya hal ini bermanfaat ganda. Pertama, dia sedikit menyamarkan wajahnya agar tak dilihat langsung oleh keempat anak buah Hitman Abraham dan yang kedua untuk menunjukkan seolah-olah dia benar-benar kecapaian. Sehingga ia terlihat sedang mengambil nafas dan mengumpulkan tenaganya lagi.
"Apa?! Dimana dia sekarang?!" tanya salah satu diantara keempat lelaki kekar itu dengan nada garang.
"Temen-temen gue ada di sana. Sementara para penyusup itu gue sendiri nggak tau kemana perginya. Gue langsung kabur menyelamatkan diri tadi. Takut gue juga diserang sama mereka juga," jelas Mulin dengan tampang yang sangat menyakinkan.
"Ya, sudah. Mari kita lihat kondisi kedua teman loe!" kata lelaki yang berada tepat di depan Mulin. Sementara yang lain hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Iya. Tapi, loe bisa minta tolong temen-temen loe yang lain. Buat ikut cari penyusup itu? Gue takut orang-orang itu membuat rusuh di kapal ini."
"Loe nggak perlu khawatir. Gue akan minta yang lain untuk ikut membantu mencari keberadaan mereka," ujarnya seraya merogoh saku celananya.
"Tunggu!" tahan Mulin cepat.
"Ada apalagi?!"
"Maksud gue! Jangan teman-teman loe di dalam kapal. Sebelum kita tau pasti apa yang sebenarnya terjadi. Gue takut kalau sampai berita ini tersebar dan membuat semua orang panik termasuk juga kapten. Bisa-bisa perjalanan kita ke pelabuhan yang tinggal beberapa jam lagi akan terhambat. Bahkan, bukan tak mungkin Kapten akan menghentikan laju kapal. Hingga orang-orang itu dilumpuhkan. Jadi, lebih baik kita cari sendiri saja dulu. Kalau memang kita tidak bisa menangani. Baru kita hubungi anak-anak di dalam kapal," kata Mulin dengan segala tipu daya.
"Baiklah. Kalau begitu gue yang akan ikut elo melihat mereka. Sementara kalian berdua berpencar untuk mencari orang itu dan untuk kamu tetap disini jagain kontainer kita. Kalau ada apa-apa segera hubungi yang lain," titah lelaki berambut gondrong itu bak seorang pemimpin.
"Siap, Bang!" balas mereka bertiga dengan nada yang terdengar tegap.
"Bagus!" timpal si gondrong. Kemudian ia pun langsung membalikkan badannya menuju arah kedatangan Mulin. "Ayo! Cepat tunjukkin tempatnya!" ujar lelaki itu dengan nada datar.
"Baik, Bang. Ayo, lewat sini!" ujar Mulin seakan ia hendak mengarahkan lelaki itu untuk menolong orang-orang yang berjatuhan tadi. Padahal, ia hanya ingin mencerai beraikan mereka berempat. Agar drone Didit bisa mendeteksi secara pasti isi kontainer itu. Lalu ia, Andro dan Faisal bisa menghabisi mereka satu persatu. Sambil berjalan Mulin berpikir keras bagaimana cara untuk bisa menghabisi lelaki itu tanpa banyak suara. Setelah beberapa saat berjalan serta ia merasa jarak mereka sudah cukup jauh. Mulin pun mulai beraksi. Ia membalikkan badannya sambil melayangkan tinjunya ke arah wajah lelaki itu. Namun, belum sempat mengenai wajahnya. Tangan Mulin sudah berhasil ditangkap oleh lelaki itu.