"Baik, Bang. Ayo, kesini!" ujar Mulin seakan ia hendak mengarahkan lelaki itu untuk menolong orang-orang yang berjatuhan tadi. Padahal, ia hanya ingin mencerai beraikan mereka berempat. Agar drone Didit bisa mendeteksi secara pasti isi kontainer itu. Lalu ia, Andro dan Faisal bisa menghabisi mereka satu persatu. Sambil berjalan Mulin berpikir keras bagaimana cara untuk bisa menghabisi lelaki itu tanpa banyak suara. Setelah beberapa saat berjalan serta ia merasa jarak mereka sudah cukup jauh. Mulin pun mulai beraksi. Ia membalikkan badannya sambil melayangkan tinjunya ke arah wajah lelaki itu. Namun, belum sempat mengenai wajahnya. Tangan Mulin sudah berhasil ditangkap oleh lelaki itu.
"Apa-apaan ini?" tanya lelaki itu dengan nada tinggi.
"Sorry, Bang. Tapi sepertinya kita sudah menemukan penyusup itu," ujar Mulin. Satu tangannya yang lain dengan cepat meraih senjata itu, sedangkan satu tangannya yang masih digenggam oleh lelaki itu langsung memutar di pergelangan tangannya. Lalu membuangnya begitu saja. Anak buah Abraham yang tidak siap sedia. Tak mampu mempertahankan benda itu. Apalagi menggunakannya untuk menyerang Mulin. Makanya dengan leluasa Mulin bisa melempar benda itu begitu saja. Sepersekian detik berikutnya Mulin pun langsung memutar badannya. Lalu menggunakan tangannya yang masih digenggam oleh lelaki itu. Ia membanting badan kekar itu ke depan.
Brukkk!
Badan lelaki itu pun langsung terkulai lemas. Setelah punggungnya menabrak kontainer. Kemudian jatuh di atas lantai. Namun, tak berselang lama kemudian ia kembali menegakkan badannya.
"Sialan! Oh, jadi elo orang yang mau ngerusuh disini?" ujar lelaki itu dengan nada emosi.
"Kalau iya kenapa? Ada masalah?" tanya Mulin dengan nada menantang.
"Heh. Tidak buat gue, tapi iya buat diri loe sendiri. Kenapa? Karena loe sama aja setor nyawa kesini," ujar lelaki itu sembari mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik baju hemnya yang sedikit lusuh. Mulin sedikit tercengang melihat mata pisau lipat itu tampak sangat tajam. Sayangnya, hal itu tentunya tidak akan membuat seorang Mulin gentar sedikitpun.
"Heh. Apa orang-orang seperti loe hanya bisa ngandelin senjata doang? Cemen loe kalau tarung tanpa senjata?" ledek Mulin seraya menyunggingkan senyum meremehkan.
"Sialan loe! Oke. Gue buang benda ini!" Si lelaki kekar itu langsung membuang pisau lipatnya dengan asal. Kemudian ia langsung pasang kuda-kuda. Begitu pula dengan Mulin. Pada detik berikutnya, mereka mulai adu jotos. Keduanya saling melepas tinju, meskipun tak sekali dua kali hanya meleset. Karena kurang perhitungan dan juga kalah gesit dari sang lawan yang sudah berhasil mengelak duluan. Jika dibandingkan Daffa, Mulin memang tak begitu jago untuk urusan bela diri. Namun, dia cukup handal untuk mengelak dan menghindari serangan demi serangan yang bertubi-tubi mengarah padanya.
"Cuma segitu doang kemampuan loe? Cepetan lawan gue? Tonjok gue? Apa elo cuma pintar berbual doang, hah?" kata lelaki itu dengan nada meremehkan. Sambil berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang.
"Heh? Nggak usah banyak omong loe! Cepet lawan gue!" Mulin tak mau kalah. Apalagi menunjukkan kekurangannya dalam menghajar musuh. Ia hanya ingin terlihat hebat dan tangguh. Selain itu, sebenarnya Mulin juga sedang menghemat tenaga. Ia menyimpan tenaganya hingga laki-laki itu kelelahan. Di saat itulah, tonjok-tonjokkan Mulin bisa dirasakan dengan pas oleh lelaki itu.
Bug!
Satu bogem mentah akhirnya mendarat di rahang kanan Mulin saat lelaki itu sedang terlena. Ia pun langsung melangkah mundur beberapa kali. Karena kesadarannya nyaris menghilang. Matanya pun seketika berkunang-kunang dengan badan yang terasa sangat lemas.
Brukkk!
Mulin pun akhirnya terjatuh oleh serangan yang langsung menuju titik kelemahan seorang manusia itu.
'Jangan Mulin! Jangan sampai loe kalah disini. Ingat! Masih banyak orang yang butuh bantuan loe. Ada Daffa dan Papa loe Abimana. Ada Aqila. Bahkan, Anita yang sedang didekati laki-laki lain. Loe harus kuat! Loe nggak boleh mati disini,' ujar sebuah suara dari dalam hari Mulin yang terus menyemangati Mulin untuk kembali bangkit dan melanjutkan misinya kali ini.
Melihat Mulin sudah terjatuh. Lelaki itu pun segera meraih pisau lipatnya. Segera ia membuka benda itu hingga menunjukkan sisinya yang sangat tajam.
"Saatnya loe ucapkan selamat tinggal pada dunia yanh kejam ini," kata si lelaki itu sambil mengarahkan pisau tadi ke arah Mulin. Untungnya, Mulin segera tersadar. Hingga sebelum benda berujung lancip itu mengenai wajahnya yang mulus. Ia sudah berhasil menahannya terlebih dahulu.
"Nggak secepat itu, Brother!" kata Mulin. Ia yang masih memiliki tenaga penuh. Langsung menarik tangan lelaki itu dan menghadiahinya sebuah pukulan penuh amarah tepat di hidung lelaki itu. Seketika Bagain tubuhnya itu langsung mengeluarkan darah segar. Namun, Mulin tak mau lagi membuang-buang waktu ia segera melancarkan serangan-serangannya yang membabi-buta. Hingga akhirnya lelaki itu terjatuh di lautan lepas.
Sedangkan di tempat lain tampak Andro pun tampak masih berkutat dengan pukulan dan tendangannya pada anak buah Hitman Abraham yang lain. Tak jauh dari tempat si Andro. Faisal pun terlihat mulai berhasil mengalahkan lawannya itu. Tak butuh waktu lama mereka semua berhasil menyingkirkan semua musuh itu.
Tak mau membuang waktu percuma. Mereka langsung berlari ke arah kontainer yang sudah mereka curigai tadi. Sampai di sana ia mereka bertemu.
"Bener! Ini kontainer yang kita cari. Semuanya ada dua puluh. Cepat! Kita tidak punya waktu lagi," ujar Didit dari seberang sana.
"Siap!" jawab mereka siap.
***
Akhirnya kapal kontainer itu pun berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok. Baru saja merapat ke pelabuhan. Kapal itu sudah disambut oleh puluhan polisi berseragam lengkap. Salah satu polisi pun terlihat naik ke atas kapal dan bertemu dengan sang kapten. Setelah meminta izin untuk memeriksa kapal itu. Puluhan polisi pun langsung menyebar untuk melaksanakan tugasnya.
Awalnya orang-orang yang ada di kapal itu tampak santai. Terutama para anak buah Hitman Abraham. Mereka yakin semua akan berjalan lancar dan akan aman-aman saja. Karena mereka sering melakukan ekspedisi ilegal ini. Bahkan, saat salah satu diantara mereka ditanyai oleh pihak berwajib karena bukan Anak Buah Kapal itu. Dengan santai ia menjawab jika ia hanya menumpang menuju Jakarta karena kekurangan bekal di jalan. Dari situ polisi pun mulai curiga karena jumlah mereka cukup banyak. Sekitar dua puluh orang. Hingga saat mereka selesai memeriksa. Mereka pun menemukan puluhan kontainer yang sudah terbuka dengan batu bata merah yang sebagian sudah terbengkalai di depan pintu kontainer. Sehingga menunjukkan isi kontainer itu yang sebenarnya. Mereka pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Saat polisi langsung menggiring mereka keluar dari dalam kapal dengan tangan yang sudah terikat borgol plastik. Di luar kapal mereka pun langsung di sambut oleh puluhan awak media yang sudah standby menunggu kedatangan mereka. Seakan semua itu memang sudah diatur sedemikian rupa.
Sedangkan di sudut belakang kapal itu, Mulin dan rekan-rekannya melompat ke dermaga dengan cepat. Lalu mereka segera masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggu di sana. Sambil menjauhi tempat itu. Mereka berempat pun tertawa girang bersama-sama.