Aqila memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya. Ia mengurungkan niatnya untuk memberikan minuman dan makanan untuk Julian. Sebab, ia tak mau mengganggu apa yang sedang dilakukan oleh sang suami di dalam ruang kerjanya.
Blak!
Aqila pun langsung menutup pintu kamarnya dengan wajah yang terlihat gelisah.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Siapa orang yang sedang ditelpon oleh Julian? Dan apa hubungannya dengan Dokter Anita?" gumam Aqila mulai gelisah. Ia pun langsung teringat dengan sikap manis Julian akhir-akhir ini yang melebihi perilaku biasanya. Aqila juga merasa kalau ada yang berbeda dari kelopak mata Julian yang dulu dan sekarang. "Gue yakin banget. Dulu Julian punya tai lalat di salah satu kelopak matanya. Tapi, kenapa sekarang menghilang. Kalau misalkan perilaku dia berubah karena dia memang sudah benar-benar jatuh cinta sama aku. Lalu bagaimana dengan tanda lahir yang tiba-tiba menghilang? Ini rasanya benar-benar di luar nalar," tambahnya sambil berjalan kesana kemari kayak setrikaan.
Ckrek!
Hingga saat terdengar bunyi orang memutar gagang pintu. Cepat-cepat Aqila melompat ke atas tempat tidur dan berpura-pura sudah terlelap.
Blak!
Pintu kembali terdengar dengan suara tertutup. Tak lama kemudian Mulin pun datang. Ia menatap wajah Aqila yang sudah tertidur. Kemudian tanpa sungkan Mulin mendekatkan wajahnya dan mengecup kening wanita itu.
Cup!
"Good night, Aqila," bisik Mulin dengan nada lembut. Setelah itu Mulin pun langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya di samping Aqila. Tanpa Mulin sadari Aqila malah meneteskan air mata. Ia merasa sangat terharu dengan sikap Mulin yang begitu perhatian terhadapnya.
'Andai saja kamu benar-benar Julian? Aku sungguh menjadi wanita paling bahagia sedunia,' batin Aqila. Ia pun langsung mempererat pelukannya di bantal guling yang dia peluk sejak tadi.
Di samping Aqila Mulin belum juga tidur. Ia juga sedang memikirkan sesuatu yang begitu menyita pikirannya. Apalagi kalau bukan soal Anita. Mulin masih belum siap jika ia harus menjauhi wanita itu. Sebab, wanita itulah yang selalu ada di saat ia terpuruk ke jurang yang paling dalam.
Flashback.
Bug! Bug! Bug!
Berulang kali Mulin mendapatkan bogem mentah dari napi lain yang begitu membencinya. Namun, bukannya menunjukkan wajah memelas. Mulin justru menyunggingkan senyum mengejeknya.
"Heh. Cuma segitu doang kemampuan loe pada?" tanya Mulin dengan wajah yang sudah babak belur.
"Oh, jadi loe pengen yang lebih dari ini ya? Asal loe tau!!! Jangankan membunuh satu bunglon kayak loe. Bunuh buaya raksasa aja gue bisa pakai tangan kosong," ujar si lelaki yang sedang mencengkram erat kerah baju tahanan Mulin. Satu tangan yang lain pun mengepal di samping kepalanya. Bersiap meluncur ke wajah Mulin. Namun, belum sempat kepalan tangan itu sampai di wajah Mulin. Mendadak terdengar suara peluit petugas.
Priiittt!!! Priiittt!!! Priiittt!!!
"Cukup! Cukup sudah berkelahinya. Jangan sampai saya yang bikin kalian berdua patah tulang di tempat ini!!" teriak seorang sipir sambil berlari ke arah Mulin dan lelaki itu. Di belakangnya ada tiga sipir lain yang ikutan berlari mendekat. Semua napi yang sedang menonton pertunjukan di lapangan bola itu pun langsung membubarkan diri. Karena mereka menganggap perusuh sudah datang dan tontonan sudah tidak asyik lagi. "Bubar!!! Bubar kalian semua! Bubar!!!" teriak si sipir pertama sambil mengusir mereka yang berkerumun. "Kamu juga bubar sana! Berkelahi saja bisanya! Kamu nggak malu sama anak istrimu di rumah?" tambah si sipir yang langsung di balas dengan tatapan tajam oleh lelaki itu. "Kenapa nggak terima dengan ucapanku, hah?!" tantangnya. Lelaki berbadan kekar itu pun tak membalas. Ia hanya melenggang pergi begitu saja.
"Sudah sama pergi!" kata si sipir lain.
"Kamu juga! Bisa nggak sih sehari saja nggak cari masalah. Ayo ikut kami!" ajak si sipir pertama.
"Tap… tapi untuk apa, Pak? Biasanya juga Bapak nyuruh aku ke ruang kesehatan sendiri?" tanya Mulin heran.
"Sudahlah. Jangan banyak bicara. Ayo, ikut saja!" titah sipir itu. Ia pun segera mendorong tubuh Mulin agar segera berjalan sesuai tempat yang mereka rencanakan. Mau tidak mau Mulin pun hanya mengikuti langkah mereka saja. Daripada ribut toh dia nggak akan dapat untungnya juga.
Setelah melewati pintu jeruji besi kedua. Mulin pun langsung mengerutkan keningnya seketika. Saat melihat sosok Anita ada di samping pintu depan sana dengan wajah yang terlihat tak bahagia.
"Anita?" ujar Mulin kaget. Sebab, tak biasa-biasanya Dokter cantik itu menunggunya seperti ini. Pasti dia yang akan mendatanginya di ruang kesehatan. Namun, melihat wanita pujaannya itu ada di ujung jalan. Maka Mulin pun segera mempercepat langkahnya yang sedikit tertatih. "Anita," panggil Mulin. Wanita itu pun langsung menoleh. "Pasti para sipir ini yang sudah mengadu ya. Kalau aku sedang berkelahi. Kamu jangan sedih begitu dong. Aku kan kuat. Lihat! Aku masih bisa tersenyum kan buat kamu," cerocos Mulin dengan senyum yang sangat lebar. Namun, Anita tak merubah ekspresi wajahnya. Ia tetap saja murung. Bahkan, sekarang ia memilih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mulin sampai merasa heran. Karena biasanya wanita itu tidak pernah terlihat sesedih ini. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mulin lembut sambil meraih dagu Anita dan sedikit mengangkatnya. Anita langsung memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan mata Mulin. Namun, akhirnya setetes air bening meluncur begitu saja dari kedua matanya yang berbentuk almond. "Ada apa Anita? Katakan!" Nada bicara Mulin pun langsung berubah cemas.
Gluk!
Anita pun menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian ia juga menghapus sisa-sisa air matanya sebelum mengangkat kepalanya untuk membalas tatapan Mulin.
"Kamu yang sabar ya! Karena tadi ada kabar kalau nenek kamu sudah meninggal," ujar Anita dengan nada bergetar.
"Apa?" gumam Mulin seakan tidak sadar. Namun….
Brukkk!
Mendadak tubuhnya jatuh ke lantai dengan tidak berdaya.
"Mulin," ujar Anita dan beberapa sipir yang melihatnya. Mereka pun tampak ikut berkabung dan merasakan kesedihan yang Mulin rasakan. Karena mereka pun tau betapa Mulin sangat menyayangi neneknya itu.
"Nenek? Hiks…. Nenek nggak mungkin mati, kan? Hiks.... Nenek nggak mungkin ninggalin aku sendiri, kan?" ujar Mulin sambil menangis sesenggukan. Anita yang merasa kasihan dengan lelaki pujaannya itu pun langsung berjongkok untuk memeluknya.
"Mulin kamu harus sabar ya. Semua ini adalah takdir Allah. Kamu jangan khawatir. Masih ada aku disini yang akan selalu ada untuk kamu," ujar Anita sambil mengelus punggung Mulin yang bergetar.
***
Di pemakaman Nenek Desi Anita juga datang untuk memberikan dukungannya pada Mulin. Bahkan, saat segelintir orang yang mengikuti prosesi pemakaman itu sudah pulang. Anita masih sabar menunggu Mulin yang masih sesenggukan di atas pusara bersama seorang sipir yang bertugas untuk mengawal Mulin keluar rutan.
"Mulin kamu yang sabar ya," ujar Anita sambil terus mengelus punggung Mulin yang bergetar.
"Mulin," panggil seseorang dari belakang mereka bertiga. Mulin pun langsung menoleh begitu pula dengan Anita dan si sipir penjara. Mereka pun tampak sangat terkejut dengan siapa yang datang.
"Daffa," gumam Mulin.
.
Kembali pada Mulin yang masih menatap langit-langit kamarnya. Tak lama berselang kedua mata Mulin pun menutup rapat. Ia tertidur.
Aqila yang masih belum bisa memejamkan matanya pun memutar badannya hingga berhadapan dengan Mulin. Ia menatap lekat-lekat wajah lelaki itu untuk memastikan apa yang sedang ia pikirkan. Namun, di saat Aqila sedang sibuk menatap Mulin. Tiba-tiba Mulin mengigau.
"Anita," gumam Mulin tanpa sadar.
Aqila pun langsung membulatkan matanya seketika.
"Anita?" ujar Aqila lirih. Mengulangi ucapan Mulin barusan.