Bab. 35 Berhenti Mendekati Anita

1038 Words
"Kenapa loe bisa kecolongan sih? Kalau sampai dia curiga gimana?" kata Faisal dari seberang sana. "Sorry, Bang. Gue bener-bener nggak bisa cegah hal itu. Tiba-tiba saja Aqila ngomong kalau dia bertemu dengan Anita. Bahkan, sudah berteman dengan dia?" balas Mulin terdengar ketakutan. Ia yang kini berada di ruang kerja Julian yang ada di rumah. Hanya mampu berdiri di samping kaca jendela sambil mengawasi "Heh! Nggak mungkin dia tau Anita kalau loe nggak ceroboh. Gue tau loe buka sosial media Anita di saat Aqila datang. Iya, kan?!" cerca Faisal dengan berapi-api. Mulin pun terdiam. Ia sedikit menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mendengar kebenaran ucapan Faisal. Lelaki itu memang selalu tau apa yang Mulin lakukan. Seakan-akan dia memasang banyak kamera tersembunyi di sekitar Mulin berada. "So… sorry, Bang," ujar Mulin dengan nada penuh penyesalan. "Loe masih percaya sama gue nggak sih?" tanya Faisal dengan nada yang semakin merendah, tapi penuh penekanan. "Ma… masih, Bang," jawab Mulin terbata. "Kalau begitu ikuti semua arahan gue. Gue jamin! Wanita pujaan hati loe itu nggak akan ada yang menggangu sampai loe selesaikan misi kita," ucap Faisal penuh percaya diri. Mulin pun hanya terdiam. 'Mungkinkah gue bisa mengendalikan diri gue untuk menjauhi Anita? Sejak dulu gue juga sudah melakukan itu, tapi nyatanya sampai sekarang gue nggak bisa,' batin Mulin. "Lin," panggil Faisal dengan nada yang lebih lembut. Mulin pun segera tersadar dan menjawabnya. "Iya, Bang." "Gue harap loe inget-inget betul ucapan gue kali ini. Jauhi semua orang yang berhubungan dengan masa lalu loe. Entah itu Anita ataupun keluarga Abimana. Gue tau juga kemarin loe menemui Abimana, kan?" Mulin langsung teringat kejadian tempo hari saat ia diam-diam mengikuti mobil Daffa yang hendak mengantar Abimana cek up. Flashback. Mobil mewah keluar dari area rumah Abimana setelah pintu gerbangnya dibuka lebar oleh seorang Security. Tak lama berselang, mobil hitam lainnya ikut menyusul kepergian mobil Daffa. Mobil tak kalah mewah yang dikendarai oleh Mulin itu, terus mengikuti laju mobil di depannya hingga mereka sampai di sebuah klinik rehabilitasi stroke. Mulin tak mendekat saat Daffa menurunkan badan Abimana dengan susah payah dari mobil hingga sampai di atas kursi roda yang sudah tersedia. Dia tak mau mereka melihatnya ada di tempat itu. Meskipun ia juga merasa sedikit cemas dengan keadaan Abimana sekarang Tak lama kemudian Daffa pun segera mendorong tubuh lelaki tua itu masuk ke dalam klinik. Sementara Mulin yang melihat mereka sudah pergi dari parkiran segera mencari tempat yang pantas untuk ia menaruh mobilnya itu untuk beberapa saat. Mulin keluar dari dalam mobil setelah ia berhasil memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup jauh dari mobil Daffa. Kemudian secara mengendap-endap ia berjalan mencari dimana sang Ayah kini berada. Ternyata Abimana sedang bertemu. Dokter yang menaungi tempat itu. Mereka pun tampak berbincang dengan serius. Sehingga Mulin langsung mempertajam pendengarannya untuk menguping. "Bagaimana, Dok?" tanya Daffa tampak buru-buru. Setelah Dokter memeriksa sang Papa. "Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Tuan Abimana. Dimana Apa yang dia pikirkan ini justru membuatnya bersedih. Apa benar?" kata si Dokter. "Benar Dok," jawab Daffa jujur. "Papa saya terus saja teringat pada saudara kembar saya. Dia sudah lama menghilang, dan ada kabar kalau temannya masuk jaringan mafia kayu Kalimantan yang berpindah-pindah tempat dan sekarang jadi buronan. Mungkin Papa saya berpikir jika saudara kembar saya masuk ke dalam jaringan itu, Dok," jawab Daffa jujur. Dokter Pras pun langsung menggelengkan kepalanya dengan perlahan-lahan. Sementara, di luar Mulin sedikit tercengang. 'Jadi, segitu besarnya Papa sayang sama gue. Hingga dia takut gue masuk ke jaringan nggak bener itu?' batin Mulin. 'Pa. Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja dan tidak terjerumus ke jaringan mafia itu. Justru sekarang aku sedang melakukan misi untuk membantu polisi mengungkap mafia kayu itu. Mungkinkah, Papa akan bangga punya anak seperti gue? Kalau Gue berhasil menjalankan misi ini?' ujar Mulin dalam hati. Sambil terus mengintai keadaan di dalam. "Kamu harus bisa menenangkan Papa kamu, Daffa. Saudara kembar kamu belum terbukti melakukan hal itu, bukan?" "Iya benar, Dok," jawab Daffa mantap. "Nah, sebelum polisi menyatakan keterlibatan saudara kembar anda dengan para mafia itu. Saya rasa kamu harus bisa meyakinkan Papa anda jika hal itu tidak benar adanya. Kamu harus mulai menyeleksi bacaan atau tontonan berita yang bisa ia terima atau tidak bisa ia terima. Sebab, dampaknya akan sangat fatal jika Papa kamu sampai sangat stres dan depresi. Ingat! Obat paling ampuh Adalah perasaan yang bahagia," kata Dokter Pras menjelaskan. Daffa pun tersenyum.sambil mengangguk mantap. "Iya, Dok. Saya dan istri saya akan lebih semangat lagi untuk menjaga Papa," sahut Daffa. "Baiklah. Kalau begitu ini obat yang harus Papa kamu rebus. Rutin minum nya ya. Dan kalau emosinya sudah stabil. Lusa datang lagi kemari untuk melanjutkan terapi saraf Tuan Abimana." Dokter menyodok kertas yang sudah ia isi dengan resep obat yang harus dibeli Daffa si apotek rumah sakit mewah itu. Tak lama kemudian Abimana pun keluar dari ruang perawatan. Dia memang sengaja di tinggal di tempat itu bersama dua perawat lain agar tidak mendengar apa yang sedang Daffa dan Dokter bicarakan. Setelah mereka selesai bicara. Suster itu mendorong kursi roda Abimana keluar. "Baik, Dok. Kalau begitu saya dan Papa saya permisi dulu," pamit Daffa. Mendengar hal itu Mulin pun langsung mencari tempat bersembunyi di balik pot tanaman yang cukup besar. Namun, siapa sangka Daffa malah mendorong Abimana melewati Mulin yang masih bersembunyi. Abimana pun sekilas melihat Mulin yang sedang bersembunyi. "Dap… Dappi!!! Dapppi!!" ujarnya sudah payah. Daffa pun langsung menghentikan langkahnya mendengar hal itu. "Ada apa, Pa?" tanya Daffa cemas. "Dappi! Papppa Li… liat Dappi!" jawab Abimana. Daffa pun langsung menoleh ke sekitar. Namun, ia tak melihat sosok yang mirip dengannya ada di tempat tersebut. Sebenarnya Mulin sudah berlari pergi saat Abimana dan Daffa menghentikan langkah mereka tadi. . "Biar gue yang mengawasi mereka. Dan loe cukup menerima semua informasinya dari gue. Mengerti?!" kata Faisal yang langsung membuyarkan lamunan Mulin. "Mengerti, Bang!" jawab Mulin. Tut. Sambungan pun terputus. Mulin segera menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Sementara di pintu ruangan itu, tanpa Mulin sadari Aqila sedang berdiri sambil mengawasi ekspresi wajah Mulin yang tampak murung. Karena jarak mereka yang cukup jauh. Aqila yang hendak mengantarkan makanan dan minuman untuk sang suami yang dipikir sedang lembur kerja pun tak bisa mendengar dengan jelas apa saja yang Mulin katakan. "Sebenarnya. Siapa yang berbicara dengan Julian di telepon. Kenapa wajah Julian langsung terlihat murung?" gumam Aqila bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD