Malam ini adalah pesta empat bulanan Kinan. Setelah serangkaian acara sakral sudah dilakukan sejak pagi. Kini sebagai acara syukuran Daffa mengundang semua kolega dan teman bisnisnya. Termasuk si Hitman Abraham. Daffa yang masih memendam perasaan bersalah. Akibat kepergok telah bekerja sama dengan salah satu klien andalan mereka. Dengan diundangnya si Hitman. Daffa juga sebenarnya ingin mengetahui ekspresi wajah Hitman saat berjumpa dengannya.
"Gue cuma pengen liat wajahnya. Mungkinkah dia marah. Atau mungkin sebaliknya," ujar Daffa saat ditanya oleh Wira kenapa dia mengundang si Hitman Abraham.
"Tapi, gimana kalau dia bikin ulah lagi. Loe nggak lupa kan dengan kejadian saat pesta pernikahan loe waktu itu?" balas Wira saat itu.
"Heh." Daffa tersenyum sambil menepuk pundak Wira. "Loe jangan khawatir. Gue dan dia nggak pernah ada masalah sebelumnya. Yang terjadi saat itu hanyalah kesalahpahaman saja. Jadi, gue yakin. Hal itu nggak akan terulang lagi," sahut Daffa.
"Baiklah gue percaya sama elo," timpal Wira kemudian.
.
"Hust." Wira menyenggol siku Daffa dengan sikunya. Sehingga membuat Daffa seketika itu tersadar dari lamunannya. Daffa pun langsung menoleh ke arah Wira. Dan Wira langsung mengangkat dagunya. Memberikan isyarat pada Daffa untuk menatap ke arah pintu masuk. Daffa pun mengarahkan pandangannya ke arah yang ditujukan oleh Wira. Hingga akhirnya matanya menatap sosok Hitman Abraham yang datang bersama sang putri tercinta. Grace. "Biar gue sambut dia," ujar Daffa lirih.
"Mas Daffa mau kemana?" tanya Kinan yang berdiri di samping sang suami.
"Aku mau menemui kolega Bisnisku sebentar," jawab Daffa. Kinan pun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan mantap. Kemudian Daffa pun segera berjalan meninggalkan tempat itu.
"Selamat malam, Pak Hitman Abraham yang terhormat," sapa Daffa dengan nada memuji. Hitman yang sedang mengambil minuman dengan sang putri pun langsung membalikkan wajahnya sambil menampakkan senyum palsunya.
"Selamat malam, Pak Daffa. Selamat ya! Akhirnya sebentar lagi anda akan menjadi seorang Bapak," ujar Hitman Abraham sambil mengulurkan tangan kanannya. Daffa pun langsung menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.
"Terima kasih, Pak. Oh, ya. Ngomong-ngomong, ini putri Bapak?" tanya Daffa dengan tatapan setengah tidak percaya saat melihat sosok Grace yang kini sudah beranjak dewasa.
"Iya benar. Ini putri saya. Graciela," jawabnya memperjelas.
"Wah. Cantik sekali. Padahal dulu kita pernah bertemu dan saat itu dia masih SD kan, Pak?" tanya Daffa.
"Benar. Benar sekali. Dan saat itu anda masih jadi pelajar SMA ya."
"Iya."
"Hahahaha." Keduanya pun tertawa kecil bersama-sama. Mengingat kejadian itu.
"Perkenalkan, Pak. Aku Graciela. Tapi, kamu cukup panggil aku Grace," ujar Grace gantian mengulurkan tangannya.
"Iya, Grace. Aku Daffa. Dan karena kita hampir seumuran. Kamu bisa panggil aku Daffa saja. Kayaknya kalau Pak terlalu tua. Hanya saja Papamu ini terlalu kaku. Atau bisa jadi dia memang memandangku sudah tua. Hahaha."
"Hahahaha." Mereka bertiga pun tertawa bersama-sama.
"Tidak. Bukan seperti itu. Saya kan menghormati kamu. Seperti saat saya menghormati Papa kamu. Lagian prestasi kamu di perusahaan. Tidak bisa diragukan lagi. Makanya dia pantas di sebut Pak. Biar semua orang ikut menghargai orang besar seperti dia. Hahaha," puji Hitman setinggi angkasa.
"Hahaha. Pak Hitman ini terlalu berlebihan. Biasanya orang yang pandai memuji adalah orang yang hebat. Persis seperti anda," timpal Daffa tak mau kalah. Lalu ketiganya pun kembali tertawa bersama-sama. Hitman pun tau Daffa sering mencuri pandang ke arah sang putri. Maklum, Grace yang kala itu mengenakan dress asimetris ketat dengan potongan d**a berbentuk V yang menampakkan sebagian isinya pun tampak sangat menawan dan juga sexi.
'Jadi, pantas saja semua lelaki tergoda. Termasuk juga si anak ingusan ini,' batin Hitman sambil tersenyum penuh arti.
"Oh, ya. Papa melihat ada rekan bisnis Papa juga disini. Kalian ngobrol dulu ya. Papa mau ketemu dia sebentar," ujar Hitman beralasan.
"Baik, Pa," kata Grace.
"Daffa. Saya titip Grace sebentar ya," ujar Hitman. Daffa pun langsung mengangguk mantap.
"Dengan senang hati, Pak," timpalnya. Setelah kepergian Hitman. Keduanya pun tampak canggung. Hingga mereka hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Wah. Nggak nyangka. Jadi, sebenarnya pertemanan kita diwarisi oleh orang tua kita ya," kata Daffa membuka pembicaraan.
"Hahaha. Iya juga ya. Padahal, kalau dipikir-pikir. Kamu kakak kelas aku lho!" ujar Grace yang langsung membuat Daffa tertarik.
"Benarkah?" tanya Daffa dengan senyum yang semakin mengembang.
"Heeh. Kamu dari SMA Bakti Nusa juga, kan? Sama. Aku juga alumni SMA itu. Cuma jarak angkatan kita terlalu jauh. Makanya nggak pernah ketemu. Iya, kan?"
"Iya. Iya. Bener juga. Selain itu aku lebih banyak Homeschooling. Bisa masuk SMA pun. Karena aku bener-bener memohon sama Papa," ujar Daffa curhat.
"Sama aku juga. Saat SD dan SMP. Aku hanya sekolah di rumah. Meskipun gurunya asyik. Tapi, bosen nggak sih kayak gitu mulu. Maksudnya, tiap hari gitu kita harus bertemu dengan satu orang yang sama. Tanpa banyak pergaulan. Karena cuma kita yang sekolah. Nggak ada yang lain."
"Bener. Bener banget. Hahaha." Keduanya pun langsung tertawa bersama. Tak menyangka kalau mereka memiliki pengalaman yang sama yaitu pernah mengalami homeschooling yang sangat membosankan. "Hahaha. Nggak nyangka ya. Ternyata kita punya pengalaman yang sama. Padahal, aku sangat pesimis nggak bisa punya temen yang senasib denganku dulu," ujar Daffa sambil terus tersenyum.
"Iya. Bener. Temen-temenku aja ngetawain aku semua pas tau cerita ini. Bahkan, nggak satu dua yang ngatain aku anak Papa sampai Putri Rapunzel yang tertawan. Huh. Sebel," cerita Grace dengan raut wajah kesal. "Makanya setelah SMA. Aku maksa Papa buat Kuliah di luar negri. Udah malu ketemu temen-temen dalam negeri. Hahaha."
"Hahaha. Ternyata kamu lebih sulit ya saat itu. Kalau aku sih nggak ada yang ngejek. Mungkin karena cowok kali ya. Jadi, mereka pada segan."
"Bisa jadi karena kamu tampan juga. Jadi, mereka nggak ada yang berani gangguin kamu." Mendengar pujian Grace Daffa pun langsung tersipu malu.
"Hahaha. Emang apa hubungannya wajah sama diejek," ujar Daffa sambil geleng-geleng kepala. "Oh, ya. Terus kemudian kamu kuliah dimana? Aku juga lanjutin di luar negeri lho. Di… Sydney." Mereka berdua pun tercengang saat menjawab kota yang sama.
"Hah? Beneran?" ujar keduanya lagi-lagi bersama-sama. Hingga mengundang gelak tawanya diantara mereka berdua.
"Hahaha."
"Mas Daffa!" panggil Kinan yang langsung membuat kedua orang itu mengalihkan perhatiannya.
"Iya. Kenalin. Ini istri aku. Kinanti," ujar Daffa sambil memperkenalkan Kinanti.
"Kinanti," kata Kinan sambil mengulurkan tangannya.
"Grace," balas Grace sambil menyambut tangan Kinan.
"Mas. Ayo kita ke depan! Acaranya sudah mau dimulai," ajak Kinan.
"Tapi, Grace–"
"Udah nggak usah khawatir. Aku bisa sendiri kok disini. Paling bentar lagi Papa dateng," potong Grace cepat.
"Nggak. Aku udah janji sama Papa kamu. Buat jagain kamu. Jadi, mendingan kamu ikut aku ke depan!" ajak Daffa yang langsung membuat mata Kinan membulat.
"Tap… tapi, Mas–"
"Udah nggak apa-apa. Ayo!" kata Daffa sambil menarik Kinanti dan Grace secara bersamaan. Dari kejauhan Hitman pun menatap mereka bertiga sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Heh. Ternyata masih banyak cara untuk menjatuhkan loe, Daffa," gumam Hitman lirih.