Mulin merasa benar-benar merindukan Anita sekarang. Setelah bermain dengan Aqila barusan. Ia terus kepikiran sosok wanita pujaannya itu. Entah karena merasa bersalah saja atau memang hatinya sudah terikat dengan erat pada wanita itu. Bisa dibilang menemuinya adalah kebiasaan yang sulit diubah. Maklumlah, selama di dalam sel setiap hari ia bisa bersanding dengan pujaan hatinya itu. Bahkan, demi Anita pula ia berniat merubah sikap dan perilakunya yang memang tidak menyenangkan orang lain.
Sayangnya, sekarang Mulin tak bisa mendekati Anita lagi. Tentunya, ia juga tak mau identitasnya cepat terbongkar dan semua rencana Faisal berantakan. Namun, bukan Mulin namanya kalau tidak memiliki ide brilian. Setelah menghidupkan mesin mobilnya. Mulin langsung tancap gas menuju rumah Anita. Ia tak sabar melihat gadisnya itu berangkat kerja pagi ini. Hingga setelah beberapa saat menunggu gadis itu keluar. Nampak Anita berusaha membuka pintu gerbang rumahnya dengan susah payah. Sebab, di tangannya membawa Tote Bag yang berisi banyak berkas tentang catatan kesehatan para napi dan satu tangan yang lain membawa bekal yang selalu disiapkan oleh ibunya. Tak hanya itu, sambil menenteng tempat makan tangan Anita pun menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinganya.
"Dasar Anita selalu saja melakukan semuanya sendirian. Kenapa dia tidak minta bantuan orang di rumahnya sampai taxi onlinenya sampai," gumam Mulin sambil terus menatap gerakan Anita.
Brukkk!
Tiba-tiba saja tote bag itu meluncur dari tangan Anita yang hendak membuka pintu pagar. Hingga berkas-berkas yang ada di dalamnya jatuh berserakan. Reflek Mulin pun langsung membuka seat belt yang melingkar di pinggangnya. Lalu berniat untuk turun. Tetapi, mendadak gerakannya terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan Anita. Kemudian turunlah seorang lelaki yang kemarin ia lihat di depan pintu gerbang Rutan. Baju yang dikenakannya pun masih sama seperti baju para sipir yang biasa menjaganya dulu. Mulin langsung memasukkan kakinya yang sempat keluar tadi. Lalu menutup pintu mobil itu sebelum ada yang melihatnya.
"Siapa sebenarnya laki-laki itu?" gumam Mulin. Tangannya pun langsung meremas setir mobilnya sendiri. Tatkala melihat lelaki itu tengah membantu Anita memunguti barang-barangnya. Lalu mengelus punggung tangan Anita yang mulus itu. "Bener-bener tuh lelaki bikin gue emosi," gumam Mulin dengan geram. Ia pun kembali membuka pintu mobilnya. Akan tetapi belum sempat terbuka lebar. Seseorang langsung masuk ke dalam mobil itu.
"Pindah loe!" titah Faisal dengan nada ketus. Mulin tak bisa mengelak perintah dari sang pemimpin kelompoknya. Ia langsung meringkukkan tubuhnya untuk bisa sampai di jok samping. Belum sempat Mulin duduk dengan sempurna Faisal langsung tancap gas hingga tubuh Mulin sedikit terjungkal ke belakang.
"Pelan-pelan dong, Bang!" protes Mulin.
"Kenapa harus pelan-pelan. Biar pacar loe itu sadar dulu siapa yang ada di dalam mobil ini sebenarnya?" balas Faisal dengan nada menohok.
"Ya, enggak gitu juga sih, Bang," timpal Mulin dengan nada tidak bersemangat.
"Elo, tuh ya. Dibilangin berkali-kali tapi masih aja ceroboh. Loe mau ngapain barusan? Mau jadi jagoan yang kebakaran jenggot?"
"Ya sorry, Bang. Tadi gue reflek. Abis gimana lagi. Misal pacar loe digangguin orang. Masak loe mau diem aja sih."
Chiiitttt!!!
Faisal menghentikan mobil itu secara tiba-tiba. Hingga badan Mulin gantian terjungkal ke depan.
"Terserah loe aja deh. Cuma gue mau ingetin. Kalau sampai loe bikin berantakan rencana gue. Gue bisa pastikan. Nggak cuma elo tapi keluarga loe juga hancur. Loe akan kehilangan kehidupan loe sekarang dan loe belum tentu diterima oleh keluarga Anita. Jadi, semuanya ada di tangan loe," ujar Faisal dengan nada penuh penekanan. Kemudian ia pun segera membuka pintu mobil itu dan pergi begitu saja. Seakan dia tak peduli. Dimana dia sekarang dan bagaimana dia bisa pulang.
Blakkk!
Suara benturan pintu mobil yang cukup keras membuat Mulin sedikit terkejut. Ia pun langsung menoleh ke belakang. Mencari tau mau kemana lelaki itu kiranya. Namun, belum sampai ia menoleh dengan sempurna. Mobil Sam pun melintas dengan kecepatan tinggi.
"Heh. Jadi, selama ini gue dimata-matai," gumam Mulin sambil tersenyum kecut. Saat lelaki itu masih asyik menatap kepergian mobil Sam. Tiba-tiba ponselnya berdering cukup kencang.
Kring!!! Kring!!! Kring!!!
Bunyi gawai yang tersimpan di saku dalam jas Mulin.
"Nomor siapa ini?" tanya Mulin sambil menatap sederet angka yang belum tersimpan di dalam kontak ponselnya. Namun, takut orang itu adalah orang penting di kantor Hartawan. Mulin pun terpaksa menerima panggilan itu.
"Halo," ujar Mulin sambil menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, Sayang. Kenapa sih lama banget angkatnya," teriak seorang wanita dengan suara yang terdengar berbeda dengan suara Anita. Sambil menjauhkan benda pipih itu Mulin pun mengerutkan keningnya.
'Siapa wanita ini?' tanya Mulin dalam hati.
"Halo! Sayang. Kok diem sih? Emang Sayang nggak kangen ya?" ujar cewek itu dengan nada merengek. Mulin pun langsung tersadar. Ia segera mendekatkan benda itu ke telinganya lagi.
"Oh, sorry-sorry. Jalanan macet. Suara bising banget di sekitar sini. Jadi, gue nggak begitu denger suara loe," kata Mulin berbohong.
"Lho kok loe gue sih manggilnya. Ini pasti gara-gara kecelakaan kemarin ya. Sayang jadi amnesia gini," ujar si wanita dengan nada merengek.
'Heh. Siapa sih cewek ini. Bawelnya melebihi si Aqila deh,' batin Mulin sambil menatap layar ponselnya lagi. Namun, tak lama kemudian Mulin kembali menempelkan benda itu ke telinganya.
"Iya, Sayang. Maaf ya. Setelah kecelakaan itu. Kepala Sayang jadi sering sakit. Apalagi Kalau harus mengingat kejadian sebelum kecelakaan," kata Mulin kembali berbohong.
"Oh, gitu ya. Ya, udah. Gini aja. Sekarang Sayang udah ada di depan kantor Sayang. Jadi, Sayang cepetan balik ya. Panas nih. Masa Sayang nggak kasihan liat Sayang kepanasan."
'Ish. Ribet banget sih nih cewek ngomongnya. Bikin gue harus mikir panjang dulu deh,' ujar Mulin dalam hati lagi.
"Iya, Sayang. Berdoa aja ya. Biar kemacetan ini nggak terlalu lama. Oke?" timpal Mulin dengan nada tidak bersemangat.
"Yah, kok gitu sih. Sampai gosong dong Sayang nungguin."
"Ya, mau gimana lagi. Kalau Sayang punya sayap sih. Sayang pasti udah terbang biar bisa lolos dari kemacetan ini. Lalu, Sayang juga akan menarik awan biar bisa melindungi Sayang dari terik matahari," gombal Mulin. Dia tidak mau terlihat berbeda dengan kehidupan Julian sebelumnya. Jadi, dia tetap harus berakting seperti Julian yang sesungguhnya. Meskipun pada sosok cewek yang belum ia ketahui identitasnya itu.
"Duh. So sweet. Sayang pasti kangen banget ya sama Sayang. Jadi, berubah sweet banget gitu."
"Iya. Makanya Sayang yang sabar ya. Sayang lebih nggak sabar lagi buat ketemu, Sayang."
"Ih, so sweet…. Iya-iya. Sayang akan setia nungguin Sayang sampai disini."
"Eh. Eh. Udah pada gerak nih. Sayang matiin dulu ya telponnya."
"Baik, Sayang. Hati-hati di jalan ya. Bye. Bye."
"Bye." Tut. Mulin pun segera memutuskan sambungan teleponnya. "Siapa wanita ini sebenarnya?" gumam Mulin sambil berpikir keras. "Gue harus tau informasi tentang cewek ini sebelum bertemu dengannya," lanjut Mulin. Ia pun segera mengirim nomor ponsel wanita itu pada Didit. Tak lama kemudian Didit mengirimkan detail profil si nomor telepon itu dengan sangat lengkap. Mulin pun langsung memperhatikan informasi itu.
"Graciela Annabela Abraham," gumam Mulin membaca layar ponselnya.