Bab. 15 Olahraga Pagi

1224 Words
Mulin masih terlelap, saat sebuah bulu kemoceng masuk ke dalam lubang hidungnya yang sudah dibotox hingga jadi lebih mancung. "Ha… hatchi!!!" Tanpa bisa ditahan Mulin langsung bersin-bersin tak karuan. "Hahahaha." Melihat hal itu, Aqila malah tertawa girang. Sampai akhirnya Mulin terbangun. "Oh, jadi kamu sengaja ngerjain aku. Iya?" kata Mulin sambil mengangkat badannya. Ia pun langsung menangkap pinggang Aqila yang hendak pergi. Kemudian ia kunci dalam pelukannya. Tak hanya itu, Mulin juga menggelitiki pinggang Aqila hingga wanita itu menggeliat-geliat menahan geli. "Ampun! Ampun, Julian! Ampun! Hahaha," teriak Aqila terus memohon ampun. "Hahaha. Rasakan ini! Rasakan! Hahaha." Bukannya merasa iba dengan Aqila. Mulin malah semakin semangat menggelitiki pinggang wanita itu. Tawa mereka pun terus bersautan satu sama lain. Aqila berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Hingga akhirnya badannya malah terjatuh ke atas ranjang dengan posisi Mulin berada di atasnya. Mendadak tawa mereka pun berhenti. Saat menyadari betapa dekatnya mereka saat ini. "Julian." "Ya." "Sejak kamu pulang. Kamu belum pernah menyentuhku lagi. Apa kamu tidak kangen?" tanya Aqila. Gluk! Sebagai lelaki normal saat berada sangat dekat dengan lawan jenis seperti ini sudah dapat dipastikan libidonya akan naik. Namun, disisi lain Mulin merasa jika hal itu sebenarnya bukanlah haknya. "Oh, mungkin aku terlalu bersemangat pagi ini. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus segera bangun. Hari sudah menjelang siang." Aqila berusaha menerima keadaan jika sang suami mungkin masih belum bisa menghilangkan trauma. Setelah kecelakaan pesawat itu. "Emang kamu mau kalau aku melakukannya sekarang?" tanya Mulin. "Hah?" Aqila terperangah dengan ucapan Mulin yang membuat tanganya yang tengah mendorong tubuh lelaki itu terhenti. "Kalau kamu siap. Aku akan melakukannya," ujar Mulin setengah berbisik. Dengan wajah yang ia dekatkan di wajah Aqila. Kedua pipi wanita itu langsung bersemu merah. Kepalanya pun langsung mengangguk mantap. Mengiyakan pertanyaan Mulin tadi. Mulin pun berusaha tersenyum. Lalu dengan sedikit ragu-ragu ia menggapai bibir Aqila dengan bibirnya. Menciumnya dengan mesra. 'Maafin gue, Anita. Gue udah melanggar janji gue sama elo,' batin Mulin sambil memberanikan diri untuk meningkatkan permainan bibirnya. Maklum, namanya juga kucing. Kalau udah ada ikan di hadapan. Pastinya akan segera melahapnya tanpa pikir panjang. Begitu juga dengan Mulin. Meskipun otaknya terus menentang tindakannya agar tidak bertindak lebih, tapi libidonya menuntun Mulin untuk menikmati setiap inci tubuh wanita itu. Akhirnya benteng ego Mulin runtuh. Ia yang sudah lama sekali tidak tersentuh dan menyentuh wanita. Seakan tak bisa lagi menahan badannya yang menggelora dan begitu mendamba tubuh wanita yang sedang pasrah dalam kungkungannya. Dengan gencar Mulin mengecup setiap inci tubuh Aqila sambil melucuti pakaiannya satu per satu. Menikmati semua bagian yang ia suka tanpa terkecuali. Aqila sendiri hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat sambil mencengkram erat seprei yang ada di sampingnya. Ia yang sudah lama merindukan belaian dari sang suami pun tak bisa menahannya lagi. Ia terus mengekspresikan perasaan bahagianya lewat desahan dan lenguhan panjang. Tiap Mulin mempermainkan bagian-bagian sensitif di tubuhnya. Entah ia sadar atau tidak. Namun, tubuhnya merasa permainan suaminya saat ini lebih dahsyat ketimbang sebelumnya. Sebab, dulu sang suami tidak mau memberikan sentuhan-sentuhan nakal sebelum inti permainannya. Padahal, sejujurnya Aqila sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan pada tubuhnya. "Aaargh!!!" Ia melenguh manja saat jemari Mulin berhasil mengundang air bah keluar dari dalam liangnya. Seluruh badannya terasa mengejang dan semua sendi dan ototnya terasa kaku. Berkumpul pada satu titik yang berkedut manja di bawah sana. Mulin menghentikan gerakannya sesaat. Ia memberikan waktu pada Aqila untuk mengumpulkan tenaga dan menikmati momen indahnya. "Sudah siap untuk naik ke level permainan selanjutnya?" bisik Mulin dengan nada menggoda. Aqila pun tak menjawab dengan kata-kata. Pikirannya seakan masih menari-nari di awang-awang. Namun, kepalanya mengangguk perlahan beberapa kali. Tak mau melewatkan kesempatan untuk merasakan sensasi yang jauh lebih indah dari ini. Sepersekian detik berikutnya. Ia sudah kembali merintih saat Mulin benar-benar meningkatkan level permainannya. Tubuh mereka semakin beradu dalam pertarungan yang syahdu. Nafas mereka terengah-engah seperti sedang berlari mengejar kenikmatan yang hampir mereka capai. Tak ada yang mau saling mengalah hingga saat garis finish itu semakin jelas di depan mata. Dan ritme permainan semakin menggila. Mulut Aqila yang hendak melenguh dengan lebih keras langsung disumpal dengan bibir Mulin yang rakus. Takut ada orang yang mendengarnya. Namun, saat garis finish itu tinggal selangkah lagi. Mulin melepas ciumannya. Bersama-sama ia melenguh dengan suara yang sangat kencang. Bahkan, mungkin menggema di ruangan ini. Hanya saja kini ia tidak peduli. Sebab, ia sangat bahagia. Apa yang selama ini ditahannya kuat-kuat. Kini membludak keluar seperti lahar gunung berapi saat erupsi. 'Anita!!! I love you, baby,' batin Mulin dengan mata yang terpejam erat. Hatinya memang sudah terikat dengan gadis itu. Sehingga kala ia memejamkan matanya. Hanya gadis itu yang tampak dalam ingatannya. "Aahhh…." Mulin mengeluarkan sisa-sisa lenguhannya. Sambil menggulingkan badannya ke samping Aqila. Sambil menatap langit-langit kamarnya. Hatinya bimbang. Antara menyesali apa yang sudah terjadi atau menikmatinya dengan sepuas hati. Ia menyesal karena sudah kembali menjadi Mulin yang bajing*n seperti dulu, tapi jujur saja ia pun sangat menikmatinya. 'Maafin gue Anita. Maafin gue,' ujarnya berulang kali dalam hati. Aqila melirik ke arah Mulin. Keningnya berkerut melihat ekspresi wajah Mulin yang terlihat tak bahagia. Lalu ia mendekatkan diri dan menjatuhkan kepalanya di d**a bidang Mulin. "Kamu kenapa? Kayak ada yang sedang dipikirkan? Nggak puas ya main sama aku?" tanya Aqila yang membuat Mulin tertawa. "Hahaha. Kok kamu bisa bilang seperti itu sih?" tanya Mulin sambil memeluk tubuh Aqila yang masih polos. Jari telunjuknya pun menoel ujung hidung mancung Aqila. "Ya. Abis kamu diem aja sambil cemberut. Kan jadi kelihatannya kayak nggak suka," jawab Aqila dengan cemberut. Melihat itu, Mulin meraih dagu Aqila dan menariknya ke atas. Chup! Ia mengecup bibir Aqila sekilas. Jelas saja setelah ini Aqila langsung tersenyum sumringah. "Aku sedang memikirkan nasib karyawan. Mereka harus bangun pagi terus berangkat bekerja tepat waktu. Sementara aku, bangun pagi olahraga enak dulu sama kamu. Masih bisa bermesraan kayak gini lagi. Duh, hidup memang kadang tidak adil ya," sahut Mulin berbohong. "Hahaha. Kamu kan Bos. Pemilik perusahaan sekarang. Jadi, bebas dong mau ngapain aja. Mau berangkat kapan aja. Bebas. Suka-suka kamu aja. Lagian aku masih pengen sayang-sayangan sama kamu. Sampai nanti siang." "Iya. Tapi, aku kan pemimpin. Dan pemimpin itu harusnya kasih contoh yang baik buat karyawan. Jadi, aku harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor." "Ehms…. Tapi kan aku masih pengen bareng sama kamu. Kamu bisa aja kok nggak berangkat. Atau datang aja nanti siang. Kalau sekarang aku masih pengen sayang-sayangan sama kamu," kata Aqila sambil mempererat pelukannya. 'Aduh gimana ini. Kalau gue nggak keluar. Gue nggak bisa liat Anita. Juga nggak bisa memantau perkembangan kasus berita bohong yang hampir mencelakakan Daffa kemarin. Duh, gue harus bisa lepas dari wanita ini. Pikir Mulin! Pikir!' batin Mulin sambil berpikir keras. "Sayang. Ada banyak hal yang harus aku urus di kantor. Lagian, Papa kamu kasih mandat besar banget sama aku di perusahaan besar itu. Kamu mau aku mengecewakan dia?" "Enggak juga sih." "Nah. Jadi biarin aku berangkat ya, Sayang. Nanti sore kan kita bisa ketemu lagi. Bisa sayang-sayangan lagi. Iya, kan?" Bak seorang bapak yang sedang menenangkan anaknya yang rewel. Mulin pun berkata dengan sangat halus. "Iya deh. Kamu boleh berangkat sekarang. Tapi, kalau aku kangen aku boleh telpon kamu ya!" "Iya, Sayang. Telpon aja kapan pun kamu mau. Oke? Sekarang aku mau mandi dulu." Mulin melepas pelukan Aqila dari badannya lalu segera berlari ke arah kamar mandi di kamar itu. Mulin masuk ke dalam ruang pribadi itu lalu segera menutupnya dengan rapat. ''Huft. Akhirnya,'' gumam Mulin bisa bernafas lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD