Bab. 14 Bukan Orang Sembarangan

1583 Words
"Bagaimana, Pak? Apa ada yang bukti pelanggaran dengan perusahaan saya?" tanya Daffa dengan nada panik. Pada seorang lelaki dari Tim Penyidik Kepolisian. Mereka berdua terlihat sangat serius dengan masalah ini. Sampai-sampai tidak ada yang menyadari ada seorang lelaki yang memakai jaket hitam dengan topi hitam dan kacamata hitam. Berdiri diantara kerumunan para karyawan Daffa. "Sebelumnya saya ingin memohon maaf. Jika kehadiran kami terlalu mendadak dan langsung membuat anda dan karyawan anda panik. Kami memang tidak menemukan pelanggaran di perusahaan ini. Seperti laporan yang masuk," kata Pak Polisi itu yang membuat Daffa bernafas lega. Sementara beberapa orang di sekitar lelaki itu terdengar mengucapkan syukur. "Namun, kami menemukan bukti beserta pelaku yang sudah mengirimkan berita bohong itu kepada kami," tambah si Bapak Ketua Penyidik. Keadaan seketika berubah bergemuruh. Sebagian besar orang saling melempar pertanyaan yang sama satu sama lain. Berbeda dengan lelaki berkacamata hitam itu. Dengan stay cool ia menikmati setiap momen yang sedang dipertunjukkan di depan sana. Sedetik kemudian sepenggal video amatir yang tertangkap oleh lensa matanya dan tersimpan di memori otaknya diputar dengan jelas dalam benak laki-laki itu. Flashback. Tak lama Mulin sampai di ruangannya. Lalu tanpa membuang waktu ia segera duduk di kursi kekuasaannya. Dia menghidupkan komputer iMac keluaran terbaru yang berdiri di atas meja kerjanya. Kemudian ia buka email yang masuk. Dan seketika mata Mulin pun nyaris melompat melihat isi yang surat elektronik dari sang Bosnya itu. Bagaimana tidak? Dalam email itu terlampir sebuah video pendek berdurasi lima belas menit yang menayangkan sebuah percakapan antara seorang lelaki dengan lelaki lain yang jauh lebih tua darinya. Laki-laki tua itu langsung Mulin kenalin sebagai Hitman Abraham. "Jadi, kamu ngerti apa yang harus kamu lakukan?" tanya Hitman Abraham dengan nada serius. Pada laki-laki itu yang sedari tadi hanya menunduk wajahnya dalam-dalam. Tampak jelas lawan bicaranya ketakutan berhadapan dengan sang milyuner itu. "Iy… iya, Bos. Saya mengerti. Sangat mengerti malah," ujarnya dengan nada bergetar. "Bagus. Kalau begitu lakukan dengan sempurna. Tanpa ada kesalahan sedikitpun," kata Hitman penuh penekanan. Di depan wajah lelaki itu yang semakin terlihat ketakutan. "Kalau sampai ada sedikit saja kesalahan. Kamu tau sendiri akibatnya," tambah Hitman dengan nada mengancam. "Iy… iya, Bos. Iya. Saya tidak mungkin mengecewakan anda. Saya akan melakukan penyelundupan kayu ke gudang PT. Abimana Family Group dengan sangat rapi. Hingga tidak ada sedikitpun orang yang mengira ini hanya manipulasi." "Bagus." Hitman menepuk pipi lelaki itu beberapa kali. Hitman menegakkan badannya lagi. "Lakukan semuanya sekarang!" "Baik, Bos." Lelaki itu segera meninggalkan tempat itu dengan cepat dan kemudian video pun berakhir. Mulin mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. Lalu ia kembali menelpon Faizal. "Halo, Bang." "Bagaimana? Loe udah liat isi email-nya?" "Sudah, Bang. Jadi, mereka mau menjebak Daffa?" "Tepat sekali. Dan mereka mulai beroperasi malam ini. Apa loe siap?" "Karena ini berhubungan dengan keluarga gue. Gue sangat siap," tegas Mulin. "Oke. Kita mulai permainan jam sepuluh malam. Jadi, loe harus siap sedia." "Oke, Bang. Jam berapapun gue siap." Tut. Sambungan telepon langsung terputus. Mulin memasukkan benda pipih itu kembali ke dalam saku. Tatapan matanya lurus ke depan dengan tangan yang mengepal erat. "Hitman. Tunggu pembalasan gue," gumamnya dengan penuh amarah. Malam pun tiba. Jam dinding di ruang tamu pun sudah berdentang sepuluh kali. Seperti yang sudah direncanakan sejak awal. Setelah Aqila tertidur pulas karena meminum minuman dingin yang dicampur obat tidur. Mulin segera beraksi. Siang tadi ia sengaja pulang lebih awal. Untuk mengetahui Medan yang akan dilaluinya saat ini. Makanya, tak heran jika ia pun akhirnya bisa keluar dengan melewati atas tembok yang tinggi menjulang mengelilingi rumah besar Aqila. Mulin juga dengan sengaja menumpuk ban bekas di belakang rumah Aqila sebagai tempat pendaratannya. Untung saja belakang rumah mewah itu belum digunakan untuk pembangunan rumah mewah. Jadi, masih bisa dimanfaatkan oleh Mulin. Setelah melompat ke bawah Mulin segera berlari ke arah mobil Sam yang sudah menunggunya di ujung blok. "Sudah lama?" tanya Mulin basa-basi pada pada Sam dan Andro yang berada di dalam mobil itu. "Nggak kok. Kita juga baru aja nyampe. Ini jangan lupa penyamaran kita," balas Andro sambil menyerahkan sebuah topeng ninja untuk Mulin. Mulin pun segera meraih benda itu dan memakainya. Seperti arahan Faizal, Mulin juga menggunakan outfit serba hitam. Mulai dari sepatu, celana, kaos, jaket dan sekarang topeng. Ck. Sekarang dia lebih mirip arang daripada manusia. Wk. Wk. Kembali pada Mulin dan Andro yang sedang mendengarkan instruksi dari Faizal. Mereka yang sudah bersembunyi di balik pepohonan pun sesekali mengintip ke arah datangnya truk-truk besar itu. Sementara Sam, sengaja pergi untuk melancarkan misi yang lain. "Kalian standby di situ. Beberapa saat lagi mobil-mobil penyelundupan kayu akan segera datang," ujar Faizal yang terdengar lewat headset wireless yang terpasang di kedua telinga mereka berdua. "Siap, Bang. Kami sudah ready dengan semua ranjau yang kita sebar di beberapa titik. Sesuai dengan arah dari loe," ujar Mulin. "Bagus. Dalam hitungan ke sepuluh mobil pertama akan sampai di depan kalian berdua. Berhati-hatilah dan tetap waspada. Orang yang sedang kalian hadapi bukan orang sembarangan." "Siap, Bang. Kami mengerti." Tut. Sambungan telepon pun akhirnya terputus. Mulin dan Andro memakai masker sebelum menggunakan penutup wajah mereka lagi. Tepat di hitungan kesepuluh, sebuah mobil truk besar itu pun berhenti. Mulin dan Andro langsung bergerak mendekati mobil itu. Sang sopir pun membuka kaca jendela mobilnya untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Karena tidak menemukan apa-apa. Si sopir mobil pun langsung turun dari mobilnya. Dan disaat itu pula. Mulin membekap mulutnya dari belakang. Rekan si supir pun sedikit terkejut mendengar ada yang ribut di samping mobilnya. Makanya, ia berniat untuk melongokkan kepalanya ke arah si rekan kerjanya. Namun, belum sempat melakukan itu. Seseorang sudah membekap mulutnya dari belakang. Awalnya lelaki itu berontak. Namun sedetik kemudian badannya pun terkulai lemas tak berdaya. Mulin dan Andro segera menyeret kedua tubuh lelaki itu ke semak-semak sebelum mobil berikutnya tiba. Setelah kedua orang itu beres. Andro dan Mulin masuk ke dalam mobil truk itu. Lalu dengan keadaan ban mobil yang tertusuk ranjau mobil itu kembali berjalan. Tak lama berselang mobil kedua dan ketiga pun mengekor di belakang. Dengan senyum penuh kemenangan. Mulin mengarah mobil truk itu ke arah kantor polisi. Melihat jalur yang mereka tuju berbeda dari tujuan awal. Mobil di belakang segera mengirim pertanyaan lewat HT yang ada di salah satu sisi dasbor. "Di sini kelinci dua. Di sini kelinci dua. Kenapa jalur kita berbeda dengan rencana awal. Ganti," ujar seseorang yang terdengar dari benda kotak dengan antena cukup panjang itu. Mulin dan Andro saling melempar pandang sambil tersenyum geli. Sebelum akhirnya Mulin meraih benda itu dan mendekatkannya ke mulut. "Di sini kelinci satu. Di sini kelinci satu. Ban mobil kita kena ranjau. Sepertinya ada orang yang sengaja melakukan ini. Kita harus ganti rute biar tetap aman sampai di lokasi. Ganti," ujar Mulin sambil memencet salah satu tombol di benda itu. "Di sini kelinci dua. Di sini kelinci dua. Baiklah. Kita ikuti saja jalan yang tidak akan menimbulkan masalah." Senyum Mulin dan Andro pun semakin mengembang saat rencana mereka membawa orang-orang itu ke kantor polisi akan segera terlaksana. Namun, ternyata mereka tak sebodoh yang mereka berdua kita. Saat menyadari mobil semakin mendekati kantor polisi. Mendadak terdengar seseorang melempar sesuatu ke atas mobil itu. "Kita dicurigai. Ayo, cepat keluar!" ujar Andro. Mulin segera melepas sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya. Ia pun segera menghentikan mobil itu sembarangan. Dan sedetik sebelum mobil itu meledak. Mulin dan Andro berhasil melompat keluar. Duarrr!!! Mulin dan Andro menatap nanar kobaran api di depannya. Seketika itu orang-orang yang ada di sekitar mulai panik. "Woii!!! Kalian berdua!!" teriak Sam dari dalam mobilnya. Bak seorang penyelamat yang datang di saat yang tepat. Mulin dan Andro pun segera berlari masuk ke dalam mobil itu. Namun, baru saja sampai di pintu masuk. Mulin sedikit terkejut melihat ada sosok lelaki yang ada di dalam video itu. Sekarang tengah terkapar dengan tangan dan kaki terikat di dalam mobil itu. "Nggak usah bingung. Tadi, Bang Fai sendiri yang menangkap dia. Dan dia suruh gue bawa ke perusahaan kakak elo," kata Sam menjelaskan. "Terima kasih, Bang Fai," gumam Mulin. "Oke. Ayo, kita kesana sekarang." Mulin segera masuk begitu pula dengan Andro Karena para anak buah Hitman yang mulai menggila dengan isi peluru dari senapan di tangan mereka. Dorrr!!! Dorr!! Letusan senapan angin pun langsung terdengar entah berapa kali. Hanya saja dengan sigap Sam menjalankan mobilnya. Hingga mereka terbebas dari peluru para anak buah Hitman itu. . "Siapa orang yang Bapak maksud?" tanya Daffa yang membuat lamunan Mulin buyar seketika. "Tolong, pelaku dibawa keluar!" titah lelaki itu pada anak buahnya. "Siap, Komandan!" balas si anak buah sambil mendorong lelaki berumur tiga puluh tahunan yang tangannya sudah diborgol di balik punggung. Ketika wajah lelaki yang terus menunduk itu keluar dari balik pintu kantor semua orang langsung membulatkan matanya sambil menutup mulut mereka yang terbuka lebar. "Pak Anwar?!" ujar semua orang nyaris berteriak. Daffa pun langsung berjalan mendekat dan menarik kerah baju orang itu. "Siapa yang udah menyuruh Anda melakukan semua ini?!" tanya Daffa dengan nada emosi. "Ma… maafkan saya, Pak," balasnya dengan nada tergagap. "Saya tidak butuh permintaan maaf kamu. Saya hanya ingin tau siapa yang sudah meminta kamu menjebak saya?!" ujarnya dengan nada yang semakin meninggi. "Sa… saya diperintah oleh–" Dorrr!!! Belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Pak Anwar sudah ditembak oleh seorang sniper. Dan seketika semua orang yang ada di sana berhamburan karena panik. "Waaaa!!!" teriak orang-orang seraya menyelamatkan diri. Begitu pula dengan Mulin yang langsung masuk ke dalam mobilnya. "Benar kata, Bang Fai. Hitman memang bukan orang sembarangan. Namun, siapapun dia. Akan gue pastikan dia nggak bisa menyentuh keluarga gue," gumam Mulin bertekad. Sambil menatap orang-orang yang masih berhamburan menyelamatkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD