Daffa menghentikan mobilnya di depan kantor polisi. Ini sudah kesekian kalinya ia datang ke tempat yang sama untuk alasan yang sama juga.
"Bagaimana, Pak? Apa masih belum ada kabar keberadaan Mulin sekarang?" tanya Daffa dengan wajah yang sangat serius.
"Sampai saat ini belum ada," balas seorang laki-laki berseragam polisi dengan nada mantapnya. "Namun, kita akan terus menyelidiki saudara Mulin yang kemungkinan besar telah bergabung dengan rekannya dalam jaringan mafia besar di Kalimantan," tambahnya. Pak Polisi itu pun mengeluarkan sebuah kertas berisi beberapa gambar yang masuk dalam daftar pencarian orang. "Lihat ini! Namanya Johan, bukan? Dulu dia juga terlibat dalam kasus penipuan terhadap keluarga anda?" Daffa meraih kertas itu. Lalu memperhatikan gambar orang yang baru saja ditunjuk oleh Pak Polisi. Benar. Daffa ingat betul wajah itu. Wajah teman Mulin yang dulu pernah bertarung dengannya hingga babak belur.
"Mafia di Kalimantan? Apa maksud anda Mulin sekarang menjadi bagian dari Mafia itu dan tinggal di Kalimantan?" tanya Daffa bingung.
"Sebenarnya tidak sesederhana itu. Jaringan mafia ini sangat luas. Bahkan, hampir ada di seluruh kehutanan di Kalimantan. Mereka melakukan perusakan alam mencuri kayu-kayu jenis meranti dan bengkirai. Kemudian mereka bawa kayu-kayu itu ke Jakarta dengan melakukan pemalsuan dokumen di pelabuhan," jelas Pak Polisi.
"Berarti bisa dikatakan jika perusahaan yang menjadi dalang pencurian ini ada di Jakarta. Begitu, Pak."
"Tepat sekali. Dan kami juga tengah melakukan sebuah investigasi terhadap beberapa perusahaan properti dan perusahaan furniture di Jakarta. Termasuk perusahaan anda," kata Pak Polisi sambil menyodorkan sebuah kertas yang berisi surat perintah penyidikan. Daffa pun meraih kertas itu. Lalu membaca isinya dengan seksama. "Dan tepat pada hari ini. Tim kami sedang menjalankan misi ini. Kami tau jika hari ini anda datang kesini. Makanya, kami memilih untuk memberikan surat perintah penyidikan ini langsung pada anda disini," tambahnya berujar. Daffa meletakkan kertas itu lagi dengan senyum manisnya yang mengembang.
"Sebenarnya saya cukup kaget dengan penyelidikan ini. Namun, saya optimis. Jika perusahaan saya bersih dari segala macam tuduhan," balas Daffa mantap. Pak polisi itu tersenyum simpul.
"Saya juga sangat berharap begitu. Melihat tindakan anda selama ini yang dekat dengan polisi. Saya harap itu bukanlah topeng belaka," sahutnya sinis.
"Maksud Bapak apa?" tanya Daffa dengan kening yang berkerut sempurna. Pak Polisi itu kembali tersenyum sinis.
"Tidak ada apa-apa. Cuma kami mendapat laporan. Jika terjadi sebuah kejanggalan di gudang perusahaan anda."
"Oh, itu tidak mungkin. Perusahaan saya sangat bersih. Saya membeli kayu-kayu itu dari petani. Selain itu, saya tidak pernah melakukan proses produksi di Jakarta. Perusahaan saya hanya menerima barang jadi," jelas Daffa berusaha mengelak.
"Oh, iya. Kami pun mengetahui akan hal itu. Dan surat perintah penyidikan ini juga berlaku untuk semua anak perusahaan anda sampai titik terkecil sekalipun," kata Pak Polisi dengan sengit. Seakan ingin menyudutkan Daffa. Daffa hanya bisa terdiam. Meskipun dadanya terasa bergemuruh karena panik. Dia harus tetap terlihat tenang.
"Baiklah, Pak. Saya tunggu semua hasilnya." Daffa berucap dengan penuh penekanan. Kemudian ia beranjak dan segera berlalu. Sementara Pak Polisi itu hanya mampu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum geli.
Daffa berjalan keluar dari kantor polisi itu. Ini memang salahnya. Harusnya, Daffa langsung pergi ke kantor dan melihat keadaan di sana terlebih dahulu. Namun, akhir-akhir ini ia terus kepikiran Mulin. Makanya, tanpa pikir panjang ia langsung menggerakkan roda mobilnya menuju kantor polisi tempatnya melaporkan berita kehilangan Mulin itu.
''Huft.'' Daffa menghembuskan nafas beratnya.
"Apa mungkin Mulin beneran bergabung dengan mereka?" gumamnya bingung. "Ah. Itu bisa dipikirkan nanti. Sekarang gue harus ke kantor dan melihat keadaan di sana seperti apa?" lanjutnya sambil masuk ke dalam mobil mewahnya itu.
Daffa pun langsung tancap gas menuju kantor kebanggaannya. Sebenarnya, ia sempat berpikir untuk menghubungi orang kantor untuk menanyakan keadaan disana. Namun, kemudian ia berpikir jika sampai di sana langsung lebih menjawab semua pertanyaan yang membelenggu pikirannya saat ini.
Dengan kecepatan tinggi Daffa terus melajukan mobilnya. Dalam benaknya sudah terbayang bagaimana paniknya semua orang yang ada di dalam gedung yang bernaung atas nama dirinya itu. Mendadak kata-kata Pak Polisi tadi tentang ada sebuah laporan kejanggalan dengan gudang perusahaannya kembali terlintas.
"Apa yang sedang terjadi? Apa ada yang berniat menjebak perusahaan gue?" gumam Daffa sambil terus memperhatikan jalanan di depannya.
Tak lama berselang mobil Daffa akhirnya sampai di depan kantornya. Baru saja melewati pintu gerbang ia sudah bisa melihat para karyawannya yang berkumpul di pelataran gedung. Ketika melihat mobil Daffa memasuki area kantor. Pak Yosep yang menjabat sebagai kepala divisi pengadaan barang langsung mendekati mobilnya.
"Pak Daffa kantor kita sedang–" ujarnya yang langsung dibalas dengan tangan kanan Daffa yang terangkat.
"Saya sudah tau. Tapi, saat kamu datang. Tidak ada kejanggalan di gudang perusahaan, kan?" tanya dengan wajah panik.
"Tidak, Pak. Semua rapi seperti saat kita tinggalkan kemarin," ujar lelaki yang bertanggung jawab dengan bagian gudang itu.
"Bagus. Kalau begitu kita berdoa saja. Sepertinya ada orang yang berniat tidak baik pada kita."
"Apa?! Tapi siapa, Pak?! Dan apa motifnya? Kita tidak pernah bermasalah dengan perusahaan lain," berondong Pak Yosep dengan wajah panik.
"Hust…. Ini baru dugaan saya. Belum tentu benar juga. Jadi, saya harap kamu juga jangan panik dulu," ujar Daffa berusaha menenangkan anak buahnya. Di saat yang sama para polisi mulai keluar dari dalam gedung. Melihat itu dengan cepat Daffa dan Pak Yosep pun langsung mendekat.
"Bagaimana, Pak? Apa ada yang bukti pelanggaran dengan perusahaan saya?" tanya Daffa dengan nada panik. Ketua Tim Penyidik pun tak langsung menjawab, tapi ia malah menghembuskan nafas beratnya terlebih dahulu.
"Sebelumnya saya ingin memohon maaf. Jika kehadiran kami terlalu mendadak dan langsung membuat anda dan karyawan anda panik. Kami memang tidak menemukan pelanggaran di perusahaan ini. Seperti laporan yang masuk," kata Pak Polisi itu yang membuat Daffa beserta semua anak buahnya bernafas lega. "Namun, kami menemukan bukti beserta pelaku yang sudah mengirimkan berita bohong itu kepada kami," tambah si Bapak Ketua Penyidik yang langsung membuat ekspresi wajah semua orang berubah penasaran dan saling bertanya satu sama lain.
"Siapa orang yang Bapak maksud?" tanya Daffa cepat. Mewakili pertanyaan yang timbul dalam benak anak buahnya.
"Tolong, pelaku dibawa keluar!" titah lelaki itu pada anak buahnya.
"Siap, Komandan!" balas si anak buah sambil mendorong lelaki berumur tiga puluh tahunan yang tangannya sudah diborgol di balik punggung. Ketika wajah lelaki yang terus menunduk itu keluar dari balik pintu kantor semua orang langsung membulatkan matanya sambil menutup mulut mereka yang terbuka lebar.
"Pak Anwar?!" ujar semua orang nyaris berteriak. Daffa pun langsung berjalan mendekat dan menarik kerah baju orang itu.
"Siapa yang udah menyuruh Anda melakukan semua ini?!" tanya Daffa dengan nada emosi.
"Ma… maafkan saya, Pak," balasnya dengan nada tergagap.
"Saya tidak butuh permintaan maaf kamu. Saya hanya ingin tau siapa yang sudah meminta kamu menjebak saya?!" ujarnya dengan nada yang semakin meninggi.
"Sa… saya diperintah oleh–"
Dorrr!!!
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Pak Anwar sudah ditembak oleh seorang sniper yang bersembunyi di atas gedung sebelah. Dan seketika semua orang yang ada di sana berhamburan karena panik.
"Waaaa!!!"