Di depan Lapas Bina Warga sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam terparkir sejak beberapa saat yang lalu. Mulin sang pengemudi, terus membuang pandangannya ke arah pintu gerbang yang terbuat dari plat aluminium setinggi dua setengah meter itu. Tak berselang lama seorang wanita cantik keluar dari balik gerbang itu. Mulin pun langsung mengangkat badannya.
"Anita," gumamnya. Tanpa pikir panjang ia langsung memegang handel pintu mobil itu untuk segera pergi. Sayang gerakannya langsung terhenti saat melihat Anita didekati oleh seorang lelaki yang keluar dari balik gerbang dengan menggunakan seragam sipir. "Siapa dia? Kenapa gue baru liat? Apa mungkin dia sipir baru?" tanya Mulin pada dirinya sendiri. Ingin rasanya ia turun dari dalam mobil dan mendatangi kedua orang itu.
Kring…. Kring…. Kring….
Belum sempat keluar dari dalam mobil. Ponsel pintar di sakunya sudah berdering cukup kencang. Mau tidak mau Mulin mengurungkan niatnya. Ia kembali masuk ke dalam mobil itu dan mengeluarkan benda pipih itu.
"Halo," kata Mulin pada seseorang di seberang sana.
"Jangan melakukan hal bodoh! Kalau sampai Anita mengenali wajah elo. Hancur semua rencana kita!" kata Faizal dengan nada penuh ancaman. Mendengar ucapan Bosnya Mulin langsung menoleh ke belakang, ke samping kanan-kiri dan ke sekitarnya. Mencari sosok Faizal yang bisa saja tengah bersembunyi. Namun sayangnya Mulin tak menemukannya di sana.
"Loe ada disini juga?" tanya Mulin dengan bodohnya. Faizal malah tertawa lepas.
"Hahaha. Loe pikir gue sebodoh elo, hah?" balas Faizal dengan penuh misterius. "Tidak usah banyak bicara. Sekarang lebih baik loe balik ke kantor. Ada email yang harus loe cek sekarang juga," tambah Faizal.
"Huft." Mulin menghembuskan nafas kesalnya. Sebab, sebenarnya ia masih ingin berada di sini dan menatap Anita dari jauh. Namun, apalah daya. Ia juga tidak bisa mengabaikan perintah Bosnya yang sudah memberi kehidupan mewah seperti ini.
"Baiklah. Aku langsung kembali ke kantor sekarang," balas Mulin. Ia segera menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian meninggalkan tempat itu.
Di saat yang sama Anita menoleh ke arah mobil Mulin yang mulai berjalan.
'Kenapa sedari tadi gue merasa diperhatikan sama seseorang yang ada di dalam mobil itu ya?' pikir Anita sambil menatap kepergian mobil Mulin menjauh. Ia pun sadar jika mobil yang sempat terparkir di seberang jalan itu sudah ada sejak ia keluar tadi. Bahkan, ia sempat melihat sekilas si pengemudi hendak keluar dari kendaraan mewah itu. 'Kira-kira siapa ya? Apa gue kenal?' batin Anita sambil terbengong.
Melihat wanita cantik di depannya tengah melamun. Sipir muda yang berdiri di depan Anita pun memiringkan wajahnya sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Anita.
"Hei! Kok loe melamun sih? Lagi mikirin apa?" tanya lelaki itu yang membuat Anita langsung terjaga dari lamunannya.
"Oh, enggak kok. Enggak. Gue nggak lagi mikirin apa-apa? Ya, udah gue pulang dulu ya. Taxi online gue udah dateng nih," ujar Anita saat melihat sebuah mobil berhenti di sampingnya.
"Eh, tunggu! Tunggu!" ujar lelaki itu sambil menahan kepergian Anita.
"Ada apalagi, Nando?"
"Gue cuma mau denger jawaban elo atas pertanyaan gue tadi."
"Pertanyaan?" ulang Anita sambil berusaha mengingat percakapan mereka tadi. "Oh, iya. Gue malah hampir lupa. Jadi… nanti malam gue free kok. Nggak ada acara," tambah Anita sambil berusaha menarik kedua ujung bibirnya.
"Yes!!! Yes!" sorak Nando sambil melompat kegirangan. "Kalau begitu nanti malam gue jemput jam delapan ya."
Anita masih enggan membuka mulutnya. Namun, ia terus mempertahankan senyumannya sambil mengangguk mantap.
"Yes! Yes! Kalau gitu gue masuk dulu. Loe hati-hati di jalan dan sampai jumpa nanti malam," ujar Nando berurutan.
"Iya. Terima kasih," balas Anita sambil mempertahankan senyumannya. Bahkan, dengan setengah hati ia membalas lambaian tangan Nando yang terus menatapnya sambil berjalan masuk ke dalam area lapas lagi.
"Eh, awas!" kata Anita.
Bruk!! Sayangnya, peringatan wanita itu kurang cepat. Sebab, Nando sudah menabrak pintu aluminium itu sedetik kemudian. Hal itu pun membuat Anita tertawa kecil. Sedangkan Nando berjalan masuk ke dalam lapas sambil menahan sakit dan malu yang luar biasa.
Setelah Nando menghilang di balik pintu gerbang. Anita melanjutkan gerakannya untuk masuk ke dalam mobil yang sudah ia pesan secara daring itu. Ia pun masih tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mengingat kejadian Nando tadi. Hanya saja saat Anita membuka pintu mobil itu dan tak sengaja menatap tempat mobil mewah tadi berhenti. Entah mengapa ia langsung teringat pada Mulin.
'Loe dimana Mulin? Kenapa sampai sekarang loe belum ada kabar?' batin Anita sambil menatap tempat itu dengan tatapan penuh rasa rindu untuk Mulin. Sedetik kemudian ucapan sang Papa pun melintas di benaknya.
"Alah. Apa yang bisa kamu harapkan dari seorang penipu seperti dia, Anita? Masih mending dia menghilang. Tandanya dia sadar diri dan berharap kamu bisa cari lelaki yang lebih baik darinya," ujar Papa Anita tempo hari.
"Bu. Maaf. Apa kita jadi berangkat sekarang?" tanya si supir taksi online membuyarkan lamunan Anita.
"Oh, iya Pak. Maaf," balas Anita kemudian ia pun segera masuk ke dalam mobil itu.
Di tempat lain Mulin sudah sampai di depan kantornya. Seorang pegawai yang sudah standby di samping mobil mewah itu langsung membukakan pintu untuk Mulin.
"Terima kasih," ujar Mulin dengan ramah. Meskipun ia bukan orang baik, tapi Neneknya dulu selalu mengajarkannya tentang cara menghargai orang lain.
"Sama-sama, Pak," timpal lelaki yang lebih tua dari Mulin itu. Kemudian Mulin tersenyum. Ia pun dengan sigap keluar dari dalam mobil dan membiarkannya untuk dibawa ke parkiran oleh pegawainya itu. Sementara dia langsung melenggang menuju ruang pribadi di lantai atas.
Lima menit kemudian lift yang dipakai Mulin sampai di lantai tujuannya. Ia pun berjalan dengan tegap dan sedikit buru-buru. Karena sudah sangat penasaran dengan apa yang sudah dikirim Faizal ke dalam email-nya di komputernya. Beberapa orang yang berpapasan dengan Mulin pun menundukkan kepalanya sambil menyapa Mulin penuh keramahan. Sementara Mulin masih membalasnya dengan senyuman khasnya. Sebenarnya, Mulin merasa sedikit risih dengan keadaan yang dialaminya sekarang. Sebab, ia jadi teringat dengan apa yang pernah ia lakukan pada Daffa dan Abimana beberapa waktu yang lalu. Dan seperti Dejavu. Sekarang pun Mulin tidak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan kebohongannya.
'Semoga kebohongan gue kali ini bermanfaat untuk orang lain. Terutama keluarga Aqila yang sudah sangat baik sama gue,' batin Mulin sambil terus berjalan. Tak lama ia pun akhirnya sampai di ruangannya. Lalu tanpa membuang waktu ia segera duduk di kursi kekuasaannya. Dan segera menghidupkan komputer iMac keluaran terbarunya itu. Segera ia buka email yang masuk. Dan seketika mata Mulin pun nyaris melompat melihat isi yang surat elektronik yang Faisal kirimkan padanya itu.