Bab. 11 Menjadi CEO?

1014 Words
Hari pun telah berganti. Minggu pun terus berlalu. Mulin semakin bisa mendapatkan kepercayaan keluarga Aqila. Bahkan, hari ini ia dipercaya untuk memimpin perusahaan Hartawan yang bergerak di bidang properti. Dengan menggunakan setelan jas hitam slimfit dipadu dengan kemeja putih, serta dasi dan sepatu hitam, Mulin berdiri di depan semua karyawan Hartawan Corporation. Bibirnya yang dipaksa untuk terus tersenyum pun sampai terasa kaku. Saking lamanya ditarik dari kedua sisi. Sebenarnya, Mulin sudah menolak rencana ini sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan, sampai sekarang masih lekat dalam ingatannya saat ia dan Hartawan sedang berdebat tentang ini. Flashback. "Sayang. Sebenarnya selain makan siang spesial ini. Ada hal spesial lain yang akan dikatakan Papa sama kamu," ujar Aqila di tengah-tengah acara makan siangnya bersama Mulin dan Papa Mamanya di sebuah restoran bintang lima. Mulin yang baru saja memasukkan makanan ke mulutnya pun langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia memandang sepasang suami istri yang kala itu duduk bersebrangan dengannya. Mereka berdua memang tampak tersenyum bahagia sejak pertemuan ini berlangsung. "Benarkah? Apa itu, Pa?" Hartawan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kedua sendok di tangannya dengan posisi tengkurap. Lalu membalas tatapan Mulin. "Jadi, begini Julian. Kamu ingat kan dengan rencana kita sebelum perjalanan kamu ke Samarinda kemarin?" Mulin langsung mengerutkan keningnya. Berpura-pura berpikir. Padahal, ia benar-benar tidak tau apa yang sedang dibicarakan mereka semua. Mulin pun menoleh ke arah Aqila. Meminta bantuan agar wanita itu mau menjelaskannya lebih dulu. Tanpa harus ia berakting lagi. Namun, Aqila malah tersenyum sambil menatap wajah bingung Mulin sekilas. 'Oh, my God. Apa yang bisa gue harapkan dari wanita gangguan jiwa ini,' pikir Mulin kesal. Mau tidak mau Mulin pun merintih. Pura-pura kesakitan. "Aduh," ujar Mulin sambil memegangi kepalanya. "Julian kamu kenapa?" tanya Aqila terlihat begitu panik. Kedua orang tuanya pun langsung menatap Mulin dengan penuh perhatian. "Aku nggak tau. Tapi, kepalaku rasanya sakit sekali," jawab Mulin tanpa melepas tangannya yang mencengkram erat kepalanya sendiri. "Apa kita ke rumah sakit saja? Ayo, cepat!" ajak Hartawan sambil beranjak dari duduknya. "Jangan-jangan!" Mulin berkata dengan cepat. Ketiga orang itu langsung menghentikan gerakannya. "Kenapa Julian? Kan kamu kesakitan. Kamu harus diperiksa oleh Dokter. Biar kamu cepat sembuh." Aqila berucap mirip anak kecil. "Nggak. Nggak perlu. Sepertinya aku begini karena aku tidak bisa mengingat banyak kejadian sebelum kecelakaan. Kemarin aku pun begitu saat mengingat-ingat letak rumah kita," ujar Mulin akhirnya. 'Huft. Untung gue memang dibayar untuk ini,' batinnya. "Oh, begitu. Tapi, kita bisa tanyakan hal itu pada Dokter. Biar dia bisa mengobati penyakit kamu," timpal Regina. "Tidak perlu, Ma. Sebentar lagi aku juga sembuh kok." Mulin berusaha mengelak dengan berbagai alasan. "Kamu yakin? Gimana kalau kamu malah tambah sakit?" Aqila bertanya dengan penuh kekhawatiran. Padahal, bagi Mulin itu semakin menyulitkan dirinya. Tetapi bukan Mulin namanya kalau tidak bisa mengelak dari permasalahan kecil ini. Ia meraih kedua pipi Aqila dengan lembut. "Kamu adalah Dokter buat aku. Kamu adalah penyembuh yang dikirimkan Tuhan khusus untuk aku. Aku tak butuh Dokter lain. Cukup kamu, sayang. Cukup kamu." Akhirnya Mulin mengeluarkan jurus pamungkasnya. Merayu. Dan jurus itu masih mujarab sampai saat ini. Terbukti dengan senyum manis Aqila yang terus mengembang. "So sweet." Begitu pula dengan kedua orang tuanya. "Ma, Pa. Aku yakin dia pasti akan membantu aku mengingat semua kejadian yang pernah kita lewati bersama. Karena Aqila satu-satunya obat setiap kesakitanku," kata Mulin. Kemudian ia mengecup punggung tangan Aqila. "Wah, so sweet," ulang kedua orang tua Aqila. "Baiklah. Kalau begitu mari kita lanjutkan makan sambil membicarakan rencana pemindahan kekuasaan kamu di perusahaan, Papa," kata Hartawan. "Apa?!" Mulin reflek nyaris berteriak. Sehingga membuat ketiga orang di depannya itu tercengang. "Eh, maksud aku…. Apa nggak terlalu cepat? Papa kan masih terlihat sehat?" ralat Mulin cepat. Dan seketika wajah ketiga orang itu kembali tersenyum. "Iya, benar. Papa memang masih sehat. Tapi, Papa kan sudah berjanji sama kamu sebelum kalian menikah. Lagian kamu ini aneh deh. Bukannya dulu kamu yang terlihat sangat ingin memiliki perusahaan itu. Dan seperti janji saya. Jika kamu sudah bisa mencintai anak saya dengan sepenuh hati. Maka perusahaan saya akan saya serahkan untuk kepadamu," jelas Hartawan yang membuat Mulin sedikit berpikir. Hartawan memperhatikan sikap sang anak menantu yang terasa tak seperti biasanya. "Kamu seperti memang lupa akan hal itu?" "Oh…. Sebenarnya aku tak melupakannya, Pa. Aku hanya berusaha mencintai Aqila dengan penuh hati lagi," jawab Mulin ngeles. "Hahaha. Mendengar ucapanmu. Membuat Papa semakin yakin kamu bisa mengelola perusahaan Papa ini." Sebenarnya Mulin malas berurusan dengan semua seluk beluk perusahaan. Sebab, apa yang dilakukan dulu. Membuatnya masih sedikit trauma. Hanya saja, ia tidak mungkin berkata tidak pada Hartawan. Apalagi tadi Hartawan sempat mengatakan jika dia sangat menginginkan memiliki perusahaan besar itu. "Bagaimana, Sayang? Kamu mau kan?" tanya Aqila dengan tatapan penuh harap. "Iya, Sayang. Untuk kamu. Aku akan melakukannya," balas Mulin akhirnya. "Yeee…! Terima kasih, Julian. Aku yakin kamu pasti bisa menjadi pemimpin perusahaan yang baik dan nggak kalah sama Papa." "Heh." Mulin tersenyum sekilas. "Semoga," gumamnya nyaris tak terdengar. . "Julian," panggil Hartawan yang tidak diindahkan oleh Mulin yang sedang asyik melamun. "Julian," bisik Aqila sambil menyenggol siku Mulin dengan sikunya. "Julian," ulang Aqila. Mulin pun langsung tersadar seketika. "Oh, iya. Ada apa?" "Kamu dipanggil sama Ayah tuh!" bisik Aqila. Mulin langsung menoleh ke arah lelaki setengah baya yang sedang menatapnya itu. Hartawan pun memberikan sebuah isyarat agar Mulin segera mendekat. Mulin yang paham. Langsung melakukannya tanpa banyak bertanya. "Dan ini dia. Putra menantu saya tercinta. Julian Prasetya. Dia yang akan menggantikan posisi saya di perusahaan ini," kata Hartawan yang segera mendapatkan applaus dari semua karyawannya. Plok! Plok! Plok! Mulin membalas tepukan mereka dengan tersenyum manis. "Untuk itu mulai hari ini. Saya sebagai pemimpin lama akan menyerahkan tugas dan tanggung jawab saya pada pemimpin kalian yang baru. Julian Prasetya," lanjut Hartawan. Yang kembali disambut dengan tepuk tangan yang semakin meriah. Sementara di sampingnya, Mulin merasa gugup. Secara umum dia memang sudah mempelajari semua hal tentang pendidikan Julian. Namun, tetap saja ia sesungguhnya merasa nervous saat menjadi pusat perhatian seperti ini. "Julian silahkan berikan sedikit ucapan untuk mereka semua," perintah Hartawan. "Baik, Pa," timpal Mulin. Mereka berdua bertukar posisi. "Selamat siang semua," sapa Mulin yang terdengar lantang lewat pengeras suara. "Siang," balas mereka semua secara serempak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD