"Ah. Lu gimana sih? Kenapa nggak bilang dari awal kalau Julian dan Aqila menikah karena dijodohkan?" protes Mulin pada seseorang di seberang sana.
"Hehe. Sorry deh. Gue kira itu nggak akan jadi masalah buat loe disana," timpal Faizal orang itu.
"Ya, seenggaknya gue jadi tau gimana sikap Julian sama si Aqila. Lagian elo udah kasih semua catatan tentang bisnis, pendidikan bahkan sampai keluarga Julian. Tapi, nggak ngasih tau gimana gue harus bersikap pada Aqila. Gimana sih?"
"Hehe. Sorry. Sorry. Kalau yang ini gue nggak tau pastinya gimana. Jadi, gue nggak bisa kasih loe gambaran secara jelas. Oh, ya. Terus mereka curiga sama elo?" tanya Faizal.
"Loe lupa siapa gue? Masak gitu doang nggak bisa ngeles sih," timpal Mulin dengan bangganya. Tak lama berselang Aqila datang ke balkon kamarnya itu. "Kalau gitu. Udah dulu ya, Sob. Besok kalau ada waktu kita ketemuan ada di tempat biasa," ujar Mulin asal. Faizal yang mengetahui maksud dari ucapan Mulin pun hanya bisa mengiyakan ucapan ngelanturnya.
"Siapa?" tanya Aqila sambil ngelendot manja di sandaran tangan kursi yang diduduki Mulin. Mulin pun meletakkan telepon itu ke atas meja di depannya. Lalu meraih pinggang Aqila agar dia duduk di atas pangkuannya. Sekilas Mulin teringat kejadian tadi. Saat Papa Aqila mengucapkan kalimat yang cukup menohok di depannya.
Flashback.
"Julian. Jika boleh jujur. Saya suka cara kamu memperlakukan Aqila seperti ini. Meskipun terlihat seperti orang lain. Namun, saya yakin Aqila sangat menyukainya," ujar Hartawan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Mendengar ucapan Hartawan barusan. Mulin yang sedang minum pun langsung tersedak.
"Aduh. Hati-hati dong Julian. Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ujar Aqila sambil mengusap bibir Mulin dengan ujung bajunya yang longgar. Mulin tak membalas. Ia hanya tersenyum sekilas sambil berusaha untuk bersikap biasa.
'Ish. Kenapa Faizal tidak pernah memberitahukan hal sebesar ini sih? Gimana nih? Gue bisa ketahuan nih,' batin Mulin panik. Namun sedetik kemudian ia langsung tersenyum sumringah. Agar mereka tidak ada yang sadar akan kejanggalan sikap Mulin yang berbeda dengan Julian. 'Gue harus memikirkan alasan yang tepat. Sebab, nggak mungkin gue tiba-tiba berubah menjadi Julian sekarang. Bisa-bisa mereka akan langsung mengenali penyamaran gue,' pikir Mulin cepat.
"Ehms…. Jadi, pada saat itu… saat pesawat itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan jatuh. Orang yang pertama aku ingat yaitu Aqila. Aku tiba-tiba merasa memiliki banyak sekali kesalahan padanya saat itu. Sehingga membuat aku bersemangat untuk bertahan hidup dan kembali ke pelukan Aqila," ujar Mulin setelah berpikir sejenak. "Kemudian saat aku terapung-apung di permukaan lautan yang sangat luas. Aku berusaha menemukan tepian ke semua arah yang aku tau. Sayangnya, tetap saja aku tidak menemukan daratan. Dan saat rasa putus asa memuncak. Aku berjanji pada Tuhan. Jika aku berhasil selamat dari tempat itu. Aku akan memperbaiki sikap aku sama kamu, Aqila. Aku akan lebih perhatian, lebih sayang dan lebih siap menjaga kamu," lanjut Mulin sambil memegang kedua tangan Aqila dengan mesra. Chup! Lagi-lagi ia mengecup punggung tangan Aqila dengan penuh perasaan. Hartawan dan Regina pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya bisa saling melempar pandang dan senyum melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia.
"Oh, jadi begitu kami sangat senang mendengarnya," kata Regina sambil merangkul pundak sang anak.
"Iya, Ma. Cuma saya harap kepulangan saya jangan dilebih-lebihkan ya. Maksudnya, jangan terlalu banyak orang yang tau. Apalagi sampai media massa. Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia dengan Aqila, Ma, Pa. Kalau sampai anak nelayan itu tau aku disini. Dan mereka menuntut aku untuk menikahi anaknya. Sudah pasti aku dan Aqila yang akan ribet sendiri," ujar Mulin. Ia sengaja mengatakan hal itu untuk mencegah awak media yang hendak mengekspos dirinya. Sebab, selain penyamarannya akan terancam. Hal itu juga akan membuat Mulin kehabisan waktu untuk melakukan wawancara dengan berbagai media, dipanggil kesana-kemari di berbagai acara tv dll. Sehingga waktunya untuk melanjutkan misi utamanya disini menjadi terganggu.
.
"Julian. Kita makan siang dulu yuk!" ajak Aqila yang membuat Mulin terjaga dari lamunannya. Ia pun tersenyum manis.
"Ayo," balas Mulin. Kemudian mereka berdua pun beranjak dari duduknya. Untuk meninggalkan tempat itu. Mereka pun berjalan menuju ruang makan yang ada di lantai pertama. Setelah melewati anak tangga. Aqila yang terus mengapit lengan Mulin pun langsung menariknya ke sisi kiri. Sementara Mulin yang belum hafal benar dengan tata letak ruangan ini hanya bisa mengikutinya saja. Saat keduanya hendak masuk ke dalam ruang makan mendadak….
"Surprise!!" ujar Hartawan, Regina dan juga para ART yang ada di rumah itu. Mulin terkejut melihat ruangan itu sudah dihiasi dengan balon dan balon foil warna-warni bertuliskan 'Selamat Datang Kembali Tuan Julian'. Sedangkan di atas meja sudah disediakan berbagai macam hidangan yang enak-enak.
"Wow. Siapa yang ulang tahun?" tanya Mulin dengan polosnya.
"Hahaha. Kamu ini gimana sih, Julian. Lihat tuh tulisan! Kita mau bikin acara syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan kamu. Karena kami yakin kamu nggak akan mau kalau kita buat acara yang meriah," ujar Aqila sambil ngelendot manja di lengan Mulin.
"Wah. Aku merasa sangat bahagia. Dan benar ini lebih dari cukup untuk menggambarkan kebahagiaan kita semua," kata Mulin lalu memeluk pundak Aqila dengan penuh bahagia.
"Baiklah. Mari kita santap makanan ini bersama-sama," ajak Hartawan dengan penuh bahagia.
"Yeeey…. Ayo kita makan besar! Ayo, Bik! Ayo, Mbak Winarti dan semuanya! Kita makan-makan bersama. Yeeey!" ujar Aqila sambil tersenyum penuh bahagia. Ia pun segera mengajak Mulin mendekati meja makan. Lalu mereka semua menyantap makanan yang sudah dipesan dari restoran mewah itu bersama-sama.
Semua orang terlihat bahagia. Canda dan tawa pun menghiasi wajahnya mereka. Sambil menyantap makanan itu. Sesekali Mulin dan Hartawan saling melempar candaan. Sesekali Mulin melirik ke arah Aqila yang tampak begitu bahagia. Padahal, ia sangat ingat dengan tampang lusuh dan tidak bersemangat wanita itu saat beberapa hari yang lalu ia intai dari jarak cukup jauh. Saat itu Aqila hanya terdiam sambil duduk di atas kursi roda. Tatapan matanya kosong seakan tak bernyawa. Sangat berbeda dengan ekspresi wajahnya sekarang. Ia tampak begitu ceria dan menikmati momen bersama Julian palsu.
'Sepertinya wanita ini begitu mencintai Julian. Lihat saja senyumannya yang terus berkembang. Seakan ingin menunjukkan kepada semua orang jika dia sedang merasa sangat bahagia,' batin Mulin sambil terus menatap wajah Aqila diam-diam.
"Hei. Kenapa kamu diam saja? Makanannya nggak enak ya? Kamu nggak suka?" tanya Aqila yang membuat Mulin membuyarkan lamunannya.
"Oh, iya. Iya enak kok. Cuma aku lagi seneng aja memperhatikan wajah kamu yang berseri-seri," timpal Mulin yang membuat Aqila langsung merangkul pundaknya lagi.