Mulin hanya mampu terdiam. Saat kedua orang tua Aqila menatapnya dengan penuh perhatian. Kening Papa Aqila pun sampai berkerut sempurna memperhatikan Mulin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sehingga membuat Mulin tahan nafas. Untung saja, Faizal sudah merubah penampilan Mulin hingga sangat mirip dengan Julian. Sehingga membuat Hartawan, Papa Aqila itu akhirnya tersenyum lebar.
"Julian," ujarnya sambil merangkul Mulin dengan erat. Sedangkan sang Mama hanya tersenyum bahagia.
"Huft." Akhirnya Mulin pun bisa bernafas lega. Karena penyamarannya tidak diketahui oleh keluarga Aqila.
"Syukurlah, Kamu selamat. Papa tidak tau lagi harus mengatakan apa untuk menunjukkan kebahagiaan Papa saat ini," kata Hartawan sambil mengelus punggung Mulin dengan pelan.
"Aku juga sangat bahagia, Pa. Akhirnya bisa berkumpul dengan kalian lagi," ujar Mulin sambil membalas pelukan Hartawan.
"Kami sangat putus asa saat mencarimu, Julian. Apalagi Aqila. Dia sampai sakit karena memikirkanmu," tambah Regina. Ibu Aqila. Sambil memeluk putrinya yang sangat ia cintai. Raut wajah Regina pun tampak sangat bahagia. Melihat wajah anaknya yang terlihat kembali ceria seperti dulu sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi.
Hartawan pun melepas pelukannya.
"Terima kasih. Aku sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat peduli padaku seperti kalian," ujar Mulin dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk saat ini. Ia tidak pura-pura. Ia benar-benar merasa haru dengan sikap penyayang mereka. Sesaat ia teringat pada Daffa dan Abimana. Orang-orang yang pernah ia perlakukan dengan jahat, tapi mereka tetap membalasnya dengan rasa kekeluargaan.
'Entah mengapa aku jadi merindukan Daffa dan Abimana,' batin Mulin dengan senyum yang semakin layu.
"Lalu dimana kamu selama ini?" tanya Hartawan. Senyum Mulin pun kini benar-benar meredup. Ia menundukkan pandangannya dengan tatapan menerawang.
"Jadi, waktu itu. Kebetulan aku duduk tidak jauh dari pintu keluar. Setelah merasa ada yang aneh dengan laju pesawat. Aku langsung berusaha meminta jaket pelampung pada pramugari yang sedang memandu agar para penumpang untuk tenang. Aku terus menatap keluar jendela. Untuk memperkirakan ketinggian pesawat yang paling aman untuk aku melompat keluar. Dan waktu itu berjalan sangat cepat. Aku takut aku kehabisan waktu. Makanya, tanpa banyak berpikir aku berlari ke pintu keluar. Aku paksa pintu itu terbuka dengan sekuat tenaga. Saat semua pramugari meminta Penumpang untuk tetap tenang di bangku masing-masing. Aku melompat tanpa ada orang yang menyadarinya. Dan… dan saat itu jarak jatuh cukup tinggi. Melihat lautan yang sangat luas. Dalam hati aku berdoa agar aku bisa selamat dan kembali bersama Aqila. Hingga entah berapa menit kemudian. Akhirnya aku terjatuh ke dalam permukaan air. Untungnya pelampungku sudah terisi udara dan bikin aku mengapung. Awalnya aku sangat bahagia. Karena aku selamat dari pesawat yang langsung terjun ke dalam permukaan air laut itu. Namun, ternyata aku salah. Aku berenang entah kemana. Terombang-ambing oleh ombak. Hingga akhirnya aku kelelahan. Dan pingsan di tengah lautan," cerita Mulin begitu runtut dan masuk akal. Sebab, ia sudah menghafalnya seharian penuh. Mendengar cerita Mulin semua orang yang mendengarnya merasa miris dan prihatin. Mereka benar-benar membayangkan jika hal itu dilakukan oleh Julian pada saat kecelakaan itu.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Regina penasaran.
"Entah kapan? Aku pun tak tahu pasti. Yang jelas, saat itu aku terbangun di sebuah rumah nelayan. Badanku terasa remuk semua dan menurut orang yang membantu aku dari tengah-tengah laut. Aku sudah tidak sadar selama beberapa hari. Saat aku mau beranjak pun rasanya aku tidak bisa. Aku kembali jadi bayi. Yang hanya bisa membuka dan menutup mata. Tanpa bisa menggerakkan semua sendi dan otot tubuhku. Orang yang menolongku memanggilkan seorang tukang pijat. Karena dia juga bukan orang kaya. Jadi, dia tidak bisa membawa aku ke rumah sakit dengan biaya mahal. Setiap hari badanku di pijat dan diberi rangsangan agar bisa digerakkan lagi. Sedikit demi sedikit. Akhirnya aku pun bisa seperti sekarang. Meskipun bisa dilihat. Ada banyak lebam dan kakiku masih sedikit pincang. Semua karena aku sebenarnya belum pulih benar," lanjut Mulin.
"Kita sangat berhutang budi pada nelayan itu, Ma, Pa. Kapan kita bisa bertemu dengan dia dan berterima kasih," kata Aqila tiba-tiba.
"Jangan! Jangan!" potong Mulin cepat. Tentu saja dia tidak ingin mereka meminta Mulin mempertemukan keluarga Aqila dengan nelayan yang baru saja ia karang itu.
"Kenapa?" tanya Aqila dan kedua orang tuanya secara bersamaan.
"Karena… sebenarnya aku kabur dari rumah mereka," jawab Mulin asal.
"Kabur? Kenapa?" tanya Regina yang menjadi perwakilan dari rasa penasaran anak dan suaminya.
"Karena… aku mau dijodohin sama anaknya. Katanya aku ganteng, putih dan badan aku kekar. Makanya anak perempuan dia suka. Padahal, aku udah bilang kalau aku punya istri cantik yang membuat aku nggak bisa tidur nyenyak disana karena menahan rindu. Tapi, mereka malah mengunci kamar aku. Itu juga yang membuat aku kabur dan memilih mobil pick up tadi untuk mengantar kesini," jawab Mulin dengan wajah yang sangat meyakinkan.
"Kalau begitu. Jangan, Ma, Pa. Kita jangan kesana. Aku takut Julian malah diculik sama mereka dan dijauhin dari aku lagi. Jangan, Ma. Jangan!" ujar Aqila histeris. Mulin pun segera bangkit dari duduknya. Lalu ia berjalan mendekati Aqila dengan langkah tertatih.
"Sayang," panggil Mulin sambil jongkok di depan wanita itu. "Kamu jangan takut ya. Aku udah bilang, kan? Tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan kita berdua," ujar Mulin sambil menggenggam tangan Aqila.
"Beneran?" tanya Aqila dengan senyum yang terus merekah.
"Jelas dong. Aku yang akan menghajar orang itu dengan tanganku sendiri. Kalau sampai ada yang berani gangguin hubungan kita," ujar Mulin ngegombal. Untuk urusan beginian ia memang sudah ahli. Makanya dulu banyak cewek langsung kecantol sama perkataannya yang semanis gula. Chup! Mulin menambahkan kecupan mesra di punggung tangan Aqila yang membuat hati wanita itu semakin berbunga-bunga.
Regina dan Hartawan pun saling melempar pandang satu sama lain. Melihat sikap Julian yang lebih perhatian pada Aqila dibandingkan sebelum Julian menghilang saat itu. Membuat hati mereka bimbang. Antara bahagia karena Aqila terlihat begitu senang hati diperlakukan seperti itu oleh lelaki yang sangat ia cintai. Namun, ia juga merasa heran. Kenapa sikap Julian bisa berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya yang cenderung cuek pada Aqila dan lebih suka menang sendiri. Meskipun begitu senyum di bibir kedua orang itu tetap terpancar dengan indahnya. Cuma sayang, Hartawan bukanlah orang yang suka bicara di belakang. Makanya, ia pun langsung bersuara merasakan kejanggalan itu.
"Julian. Jika boleh jujur. Saya suka cara kamu memperlakukan Aqila seperti ini. Meskipun terlihat seperti orang lain. Namun, saya yakin Aqila sangat menyukainya," ujar Hartawan.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Mendengar ucapan Hartawan barusan. Mulin yang sedang minum pun langsung tersedak.
"Aduh. Hati-hati dong Julian. Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ujar Aqila sambil mengusap bibir Mulin dengan ujung bajunya yang longgar. Mulin tak membalas. Ia hanya tersenyum sekilas sambil berusaha untuk bersikap biasa.
'Ish. Kenapa Faizal tidak pernah memberitahukan hal sebesar ini sih? Gimana nih? Gue bisa ketahuan nih cuma karena salah sikap doang,' batin Mulin panik.