"Non Aqila. Mau kemana?" teriak si Babysitter itu sambil beranjak. Lalu segera menyusul kepergian Aqila. Wanita yang sedang terganggu jiwanya itu pun memanjat pintu gerbang seperti orang kesetanan. Ia langsung melompat keluar saat security rumahnya menyadari hal itu. Hanya saja saat ia hendak berlari lebih jauh. Tiba-tiba sebuah mobil pick up muncul dan berhenti tepat di depannya. Aqila pun menundukkan kepalanya takut ditabrak mobil itu.
"Aqila," panggil Mulin setelah keluar dari dalam mobil pick up. Aqila pun langsung mengangkat wajahnya. Matanya melotot melihat sosok laki-laki yang ada di depannya.
"Julian," gumam Aqila setengah tidak percaya. Kemudian ia segera berhambur ke pelukan Mulin. "Julian. Benar kan apa yang aku bilang. Kamu masih hidup," kata Aqila sambil memeluk tubuh Mulin erat. Awalnya Mulin enggan membalas pelukan wanita itu. Padahal, biasanya ia sangat senang jika dipeluk cewek cantik begini. Namun sekarang, jauh di dalam lubuk hatinya. Ada rasa bersalah karena sudah menipu wanita ini.
'Ish. Apaan sih? Biasanya gue paling mahir dalam keadaan beginian,' pikir Mulin cepat. Mulin mengulurkan tangannya untuk membalas perlukan Aqila.
"Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan wanita cantik yang menjadi ratu di hatiku ini," ujar Mulin mulai menggombal.
Di saat yang sama Baby Sitter dan Security rumah Aqila sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka berpelukan. Kedua orang itu pun langsung tercengang. Antara kaget dan senang bukan kepalang melihat sang majikan yang baik hati itu sudah kembali.
"Tuan Julian kembali," gumam si Baby sitter Aqila yang sejak dulu sudah bekerja di rumah ini sebagai ART. "Syukurlah. Aku seperti mimpi rasanya," tambah wanita itu.
"Benar. Aku juga merasa seperti sedang bermimpi," sahut si security. Mendengar ucapan si security. Wanita muda di sebelahnya pun langsung mencubit lengannya dengan cukup keras. "Aw. Aw. Aw. Winarti. Sakit tau," protes lelaki yang usianya baru tiga puluhan itu.
"Kalau sakit tandanya kamu nggak mimpi, Mas," timpal Winarti tanpa dosa.
"Oh, iya ya. Bener juga," gumam si security sambil manggut-manggut tak jelas.
Sementara itu, di depan sana Mulin melepas pelukannya. Ia merapikan poni Aqila yang menutupi dahinya yang tidak terlalu lebar. Sambil tersenyum manis Mulin pun mengecup kening Aqila sekilas.
"Aku takut kamu nggak akan kembali," gumam Aqila dengan air mata yang bercucuran.
"Jangan berpikir yang macam-macam. Alam semesta nggak ada yang berani memisahkan cinta kita berdua," kata Mulin yang membuat hati Aqila meleleh. "Kecuali Tuhan yang berkehendak," imbuhnya. Aqila pun tersenyum sambil menepuk d**a bidang Mulin dengan gemas. "Kita masuk yuk!" ajak Mulin. Aqila pun langsung mengangguk mantap. "Mas. Terima kasih ya tumpangannya!" tawar Mulin pada supir pick up yang mengantarnya pulang.
"Sama-sama," balas si supir pick up dari dalam mobilnya. Kemudian Aqila dan Mulin pun segera masuk ke dalam rumah.
"Tuan Julian," sapa Winarti dan Roni, s security.
"Ah… ehms… kalian ini–" Mulin pun pura-pura melupakan nama mereka berdua. Sambil menundukkan ekspresi berpikir keras. Agar mereka tidak curiga.
"Saya Winarti, Tuan," sahut si cewek.
"Saya Roni, Tuan," lanjut si security.
"Winarti, Roni," ulang Mulin. Lalu tiba-tiba ia memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan. "Aduh," ujar Mulin. Berbohong tentunya.
"Julian."
"Tuan Julian," ujar mereka bertiga bersamaan.
"Cepat bawa Julian masuk!" perintah Aqila.
"Baik, Non." Winarti dan Roni lagi-lagi berkata secara bersamaan. Roni dan Winarti segera memapah tubuh Mulin yang berjalan dengan tertatih masuk ke dalam rumah mewah itu.
Baru saja masuk ke dalam rumah Aqila. Mulin pun merasa takjub. Ia merasa rumah ini jauh lebih besar dan lebih mewah daripada rumah Daffa yang sudah bagus itu. Mata Mulin pun tak bisa berbohong jika ia sedang mengagumi arsitektur rumah bergaya modern yang menggunakan kaca dan kayu sebagai hiasan dominan itu. Sinar matahari yang leluasa masuk lewat jendela kaca yang cukup besar. Membuat luas ruang tamu yang bernuansa putih abu-abu itu semakin terlihat luas.
"Tuan Julian! Mari duduk dulu!" kata Roni yang membuat Mulin membuyarkan lamunannya.
"Iya," timpal Mulin lalu ia mendudukkan dirinya ke atas sofa yang empuk. Baru saja duduk Aqila langsung merangkul lengan Mulin. Awalnya Mulin kaget diperlakukan seperti secara tiba-tiba. Namun, ia sudah terbiasa untuk berpura-pura. Makanya Mulin tetap terlihat tenang.
"Kalau Tuan dan Non Aqila butuh apa-apa. Tinggal panggil saya saja ya, Tuan, Nona. Kami permisi kembali ke dalam dulu," pamit Winarti.
"Iya," ujar Mulin singkat. Setelah itu, Winarti dan Roni berjalan menuju dapur. Namun, di balik dinding mereka malah bertemu dengan ART lain yang sedang mengintip.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Winarti.
"Hust…. Itu beneran Tuan Julian?"
"Iya."
"Alhamdulillah. Syukurlah dia selamat dari kecelakaan itu," timpal ART lain. Julian memang terkenal baik pada semua orang. Tak terkecuali pada para ART yang ada di rumahnya. Mulin menoleh Aqila yang terus menggelendot manja di lengannya. Seketika ia teringat pada Anita.
'Padahal, gue udah janji pada Anita dan diri gue sendiri. Kalau gue nggak akan berhubungan dengan wanita lain selain dia. Tapi, kenapa takdir berkata lain,' batin Mulin.
"Julian," panggil Aqila yang membuat Mulin mengalihkan perhatiannya.
"Ya," timpal Mulin singkat.
"Aku telpon Papa dan Mama ya. Mereka pasti seneng banget kamu sudah kembali," kata Aqila. Ia pun segera beranjak lalu meraih telepon duduk yang berada tak jauh dari tempat itu. Tanpa menunggu jawaban dari Mulin dulu. Padahal, andai ia bisa memilih ia ingin sekali merebahkan badannya ke atas ranjang terlebih dahulu. Sebab, badannya terasa pegal-pegal karena seharian ini naik pick up.
Tut…. Tut…. Tut…. Panggilan Aqila tak kunjung diterima.
"Halo," sapa suara bass laki-laki yang sangat fenomenal di telinga Aqila.
"Halo, Pa. Coba tebak aku punya kabar baik apa?" ujar Aqila dengan nada yang sangat bahagia.
"Aqila. Ini beneran suara kamu? Kamu mau kasih kabar baik apa, Sayang? Papa senang sekali bisa mendengar suara kamu lagi," balas laki-laki itu dari seberang sana.
"Julian udah pulang, Pa," jawab Aqila dengan penuh semangat.
"Apa?!" sahut Papa Aqila setengah tidak percaya. Kemudian ia pun teringat ucapan Dokter yang menangani kesehatan mental Aqila yang drop sejak Julian kecelakaan pesawat terbang itu.
"Rasa kehilangan Bu Aqila sangat besar. Makanya, dia kadang sering mengigau keberadaan Pak Julian yang ada di sampingnya. Saya tidak menyalahkan keadaan Bu Aqila. Sebab, dia sangat mencintai laki-laki yang baru saja berstatus sebagai suaminya itu," kata Dokter itu tempo hari.
"Sayang. Mbak Winarti mana? Kamu sudah minum obat dari Dokter, kan?"
"Sudah, Pa. Aku tidak bohong. Julian ada disini."
"Iya-iya. Kamu panggilin Mbak Winarti dulu ya! Papa mau bicara sama dia sebentar."
"Iya. Oke." Aqila pun menjauhkan gagang telepon itu dari telinganya. "Mbak!! Mbak Winarti!!! Ada telepon dari Papa!!" teriak Aqila yang sempat membuat Mulin kaget karena teriakannya yang cukup kencang.
"Iya, Non. Saya datang," kata Winarti sambil tergopoh-gopoh mendekati Aqila. "Ada apa ya, Non?"
"Ini! Papa mau ngomong sama Mbak!" kata Aqila sambil menyerahkan gagang telepon itu.
"Baik, Non." Winarti segera meraih gagang telepon itu. Lalu mendekatkannya di telinga. "Selamat siang, Tuan!"
"Siang, Winarti. Kamu sudah kasih obat Aqila secara rutin, kan?"
"Sudah, Tuan. Kalau untuk siang ini memang belum. Sebab, Non Aqila belum mau makan sejak tadi," jawab Winarti jujur.
"Oh, begitu. Lalu, apa Aqila masih sering mengigau?"
"Tidak, Tuan. Saya rasa Non Aqila semakin sehat, Tuan. Apalagi setelah Tuan Julian pulang."
"Apa?! Julian beneran pulang?!"
"Iya, Tuan. Sekarang saja sedang bersama Non Aqila, Tuan. Non Aqila sudah menemukan obat yang benar-benar dia butuhkan," kata Winarti dengan nada yang menggebu-gebu.
"Jadi, Julian beneran pulang?!" tanya Papa Aqila tak percaya.
"Iya, Tuan."
"Alhamdulillah. Baiklah. Kalau begitu. Saya kesana sekarang," kata Papa Aqila dengan penuh semangat.