Bab. 7 Memulai Hidup Julian

1184 Words
Mulin dibawa ke Markas Faizal Arkani yang berada di pinggiran kota Jakarta. Tempat terlihat seperti gudang jika tampak dari luar. Namun, jika sudah berada di dalam. Semua orang akan kagum dengan keadaan yang ada di dalam ruangan. Semua fasilitas ada di dalam ruang bawah tanah tempat itu. Mulai dari area gym, meja biliar, ruang IT dengan layar besar hingga sebuah dapur mewah dan mini bar untuk minum dan makan. Mulin pun tercengang saat masuk ke dalam ruangan itu untuk pertama kalinya. Ia tidak menyangka di bawah gudang tak terawat ada ruangan sebagus ini. "Hei. Kenapa berhenti? Ayo ke dalam! Ada beberapa orang yang harus loe temui," ujar Faizal yang membuyarkan lamunan Mulin seketika. Tanpa banyak bicara, Mulin segera melanjutkan langkahnya mengekor Faizal yang sudah berjalan di depannya. "Hello, guys! Ucapkan selamat datang pada rekan baru kita, Daffa Mulin Abimana!" titah Faizal sambil menoleh ke arah Mulin. Ketiga orang yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing itu pun langsung menoleh serempak. Mereka langsung menghentikan aktivitas mereka. Kemudian berkumpul di depan Faizal seraya menatap Mulin yang terlihat canggung.berada di depan mereka . "Dia yang akan membantu kita melancarkan semua misi. Jadi, bersikap baiklah dan bekerja sama layaknya tim!" tambah Faizal dengan nada yang sama. "Andro," ujar lelaki berbadan kekar sambil mengulurkan tangannya. "Mulin," tumpal Mulin seraya meraih tangan besar itu untuk ia jabat. Namun, sesaat kemudian Andro malah meremas tangan Mulin sekuat tenaga. Hingga tangan itu terasa seperti mau remuk saja. "Aw. Aw. Aw. Sakit. Sakit," rintih Mulin sambil berusaha mengibaskan tangannya dengan sekuat tenaga. "Hahahaha." Bukannya iba dengan keadaan Mulin. Semua orang di dalam sana malah tertawa lepas. Tak terkecuali si Faizal Arkani. "Begitulah cara dia menyambut teman baru," kata Faizal sambil menepuk pundak Mulin. "Dia mantan seorang petinju sekaligus atlet MMA. Dan dia juga yang akan membantu mengamankan keadaan saat loe menjalankan misi kita." Mulin tak membalas apa-apa. Namun, dalam hati ia berjanji tidak akan berurusan dengan orang ini. "Dan satu lagi. Dia yang akan mengajari elo ilmu beladiri." "Apa? Kenapa gue harus belajar bela diri segala? Bukannya si Julian adalah seorang pebisnis?" "Iya. Tapi, tugas loe lebih besar dari hanya jadi seorang Julian. Mungkin sekarang loe belum paham. Tapi nanti, sambil jalan loe pasti akan mengerti dengan semua yang gue maksud tadi," jawab Faizal yang membuat Mulin menatap dengan serius. "Selanjutnya!" "Gue Sam. Gue yang akan bantu elo kabur. Kalau loe terjepit di semua misi kita," kata laki-laki berbadan gempal dan berwajah bundar. Sambil mengulurkan tangannya. Tak mau membuat teman barunya itu kecewa. Mulin segera mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan Sam. Saat mereka berjabatan. Mulin baru sadar jika tangan Sam sedikit basah dan lengket. Mulin pun langsung menariknya dengan cepat. "Sorry, tangan loe terasa aneh," kata Mulin reflek "Hehe. Sorry, kebiasaan gue–" kata Sam sambil mengeluarkan tangan satunya yang membawa sebuah gula pasir di dalam kemasan kecil. Kemudian ia menaburkan gula itu di atas telapak tangan kanan lalu ia jilati sampai habis. "Ish," sungut Mulin sambil mengibaskan tangannya dengan jijik. Melihat hal itu, Faizal pun memberikan sebuah tissue padanya. "Dia memang jorok. Tapi, dia akan sangat berguna saat keadaan genting," ujar Faizal sambil memberikan tissue itu pada Mulin. "Terima kasih," balas Mulin segera meraih benda itu. "Kenalin gue Didit. Gue ahli IT yang akan membantu elo dari jarak jauh," kata lelaki berkaca mata tebal dan berbadan lusuh. Seperti jarang mandi. Mulin pun langsung meraih tangan Didit sambil tersenyum. Meskipun badannya sedikit bau, tapi Mulin merasa dialah yang paling waras dari pada kedua rekan baru lainnya. "Mulin." "Oke. Baiklah. Cukup perkenalannya. Mulai sekarang kita akan bekerja secara tim. Jadi, tetap profesional di bidang masing-masing dan jangan ragukan rekan lainnya." ************* Lebih dari empat bulan kemudian. Mulin mempelajari semua yang berkaitan tentang Julian Prasetya. Mulai dari kebiasaan, tingkah laku, karir, pendidikan, keluarga bahkan nasib pernikahannya yang baru seumur jagung. Memang awalnya tak semudah yang ia pikirkan. Namun, sekarang semuanya sudah tertata rapi di otaknya. Hingga akhirnya waktu pelepasan Mulin pun tiba. Sebelum pergi sengaja Mulin dibuat bonyok di beberapa bagian tubuhnya. Agar keluarga Julian percaya dengan akting Mulin. Seperti yang kini Mulin ketahui. Julian adalah salah satu korban kecelakaan pesawat terbang yang jatuh di perairan Laut Jawa. Puing-puing pesawat itu saja banyak yang tidak ditemukan. Karena kedalaman laut dan juga arus laut dalam yang cukup tinggi. Sehingga membuat semua awak pesawat dan penumpang dinyatakan meninggal dunia dalam kecelakaan itu. Proses evakuasi pun tak semudah yang dibayangkan. Karena arus laut dalam itu memang sangat sulit ditembus dan juga membuat badan pesawat terbang dipastikan hancur lebur terseret arus. Sambil duduk di jok samping Sam mengendarai mobil itu. Mulin menatap foto istri Julian yang diberikan Faizal beberapa saat yang lalu. Menurut penuturan Faizal. Wanita itu kini tampak tak waras lantaran ia kehilangan sosok lelaki yang paling dicintainya itu. Mulin mengangkat gambar wanita cantik yang dia perkirakan seumuran dengan Anita itu. 'Wah. Kasihan banget Julian punya istri secantik ini. Harus cepet-cepet ditinggal mati,' batin Mulin. "Kita sudah sampai," ujar Sam yang membuat Mulin langsung membuyarkan lamunannya. Mulin menatap ke sekitar dan dia pun langsung mengenali tempat itu seperti apa yang sudah direncanakan oleh Faizal. "Oke. Gue pergi sekarang." Mulin segera turun dari mobil untuk menunggu mobil bak terbuka yang akan lewat di jalan sepi itu. Sementara mobil Sam langsung pergi setelah Mulin turun dari dalam mobilnya. Ia juga tidak mau menggagalkan rencana Faizal yang sudah disusun dengan matang itu. Bak seorang gembel. Mulin duduk di pinggiran jalan dengan tampang memelas dan menunggu sebuah mobil pick up yang lewat dari luar kota. Setelah menunggu satu setengah jam. Akhirnya mobil yang dia tunggu pun datang juga. Mulin segera melambaikan tangannya ke udara sambil berjalan tertatih ke tengah jalan. Untuk jalannya yang pincang bukan karena ia sedang berakting. Namun, pergelangan kakinya sengaja dipatahkan oleh Andro. Untuk menambah kesan dramatis aktingnya. Chitttt! Mobil bal terbuka itu pun berhenti tepat di depan Mulin berdiri. "Woi!!! Kenapa loe di tengah jalan, hah?! Loe udah bosen idup?!" bentak sang supir dari dalam mobil. Sedangkan di belahan dunia lain…. Seorang baby sitter sedang menyuapi makanan pada seorang wanita cantik yang duduk dengan lesu di atas kursi rodanya. Pandangan memang mengarah pada bunga-bunga indah yang bermekaran di taman depan rumahnya. Namun, pikirannya entah melayang kemana. Tatapannya kosong. Mulutnya tertutup rapat dan tak bersemangat hidup sama sekali. "Ayo, makan Non. Satu suapan saja. Sejak kemarin kan Non Aqila belum makan apa-apa. Nanti, Non malah sakit," bujuk si Baby sitter yang usianya jauh lebih muda itu. Aqila melirik ke arah Babby sitternya itu. Kemudian ia pun mendorong tubuh wanita itu hingga makanan di tangannya jatuh berantakan. Setelah itu Aqila pun turun dari kursi roda dan berlari menuju gerbang. "Non Aqila. Mau kemana?" teriak si Babby sitter itu sambil beranjak. Lalu segera menyusul kepergian Aqila. Wanita yang sedang terganggu jiwanya itu pun memanjat pintu gerbang seperti orang kesetanan. Ia langsung melompat keluar saat security rumahnya menyadari hal itu. Hanya saja saat ia hendak berlari lebih jauh. Tiba-tiba sebuah mobil pick up muncul dan berhenti tepat di depannya. Aqila pun menundukkan kepalanya takut ditabrak mobil itu. "Aqila," panggil Mulin setelah keluar dari dalam mobil pick up. Aqila pun langsung mengangkat wajahnya. Matanya melotot melihat sosok laki-laki yang ada di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD