Bab. 6 Transformasi Mulin

1271 Words
Mulin menatap wajahnya yang terpantul di cermin datar. Ia pun membiarkan seorang Kapper memangkas rambutnya yang panjang sebahu dan tidak terawat itu. Sesekali pandangan matanya pun menangkap sosok lelaki empat puluh tahunan yang sedang mengawasinya dari bangku tunggu. Yah! Dialah Faizal Arkani. Orang yang akan memberi hidup baru untuk Mulin. Mendadak Mulin pun teringat akan percakapan mereka berdua beberapa saat yang lalu. Flashback. "Gue punya satu informasi yang akan memperkuat alasan loe terima tawaran gue," kata Faizal dengan nada serius. Mulin pun langsung menatap laki-laki itu seketika. "Apa?" tanyanya penasaran. Faizal tak langsung menjawab pertanyaan Mulin. Ia malah mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jaket kulitnya. "Loe tau ini siapa?" Mulin langsung meraih benda itu dari tangan Faizal. "Ini kan orang yang ada di pesta pernikahan Daffa saat kemarin," ujar Mulin sambil menatap wajah orang yang memakinya dan membuat pesta pernikahan Daffa berantakan beberapa hari yang lalu. "Namanya Hitman Abraham. Dia adalah seorang mafia besar yang punya topeng tebal. Dan diam-diam dia merencanakan kehancuran pada perusahaan milik saudara kembar loe," jelas Faizal yang langsung membuat mata Mulin membulat sempurna. "Apa? Tapi kenapa? Bukankah mereka adalah rekan bisnis?" "Yap! Awalnya mereka adalah partner yang sangat solid. Hingga akhirnya, Daffa melakukan sebuah kesalahan fatal yang bikin Hitman Abraham geram. Namun, dia sendiri tidak sadar." "Apa itu?" sergah Mulin semakin penasaran. "Tiga bulan sebelum kepulanganmu dari dalam sel penjara. Daffa dan Kinanthi melakukan peninjauan hutan di Kalimantan. Mereka datang bersama rombongan para aktivis lingkungan dan juga beberapa warga kampung sekitar. Sampai disana mereka menemukan fakta mengejutkan tentang illegal logging yang merusak hutan dengan parah. Dengan strategi Daffa dan juga aparat sekitar. Semua komplotan penebangan liar itu berhasil tertangkap dan masuk ke dalam bui. Sayangnya, mereka semua tidak ada yang mau mengaku. Siapa bos besar yang memberikan pekerjaan haram itu pada mereka." "Tunggu-tunggu. Jangan bilang kalau orang yang ada di balik pembalakan liar itu… Hitman Abraham?" sela Mulin. "Tepat sekali. Makanya diawal gue bilang dia mafia bertopeng tebal. Sulit untuk dilacak oleh aparat negara sekalipun." "Terus. Kalau loe tau. Kenapa nggak loe laporin dia aja ke polisi. Pasti mereka akan merasa sangat terbantu," ujar Mulin dengan polosnya. "Hahaha. Andaikan semudah itu. Tentu bukan gue orang yang pertama kali melaporkan dia ke polisi." "Jadi, maksud loe? Dia nggak mudah ditangkap?" "Dia itu lebih licin daripada belut. Lebih berbahaya daripada bisa ular. Dia adalah orang yang punya kekuatan hampir di setiap nadi pemerintahan, aparat kepolisian bahkan sampai punya Advokat terkenal yang akan selalu membantu dia lolos dari semua jeratan hukum. Bahkan, dia bisa membalikkan fakta dan memenjarakan orang tak bersalah yang sengaja mengusik ketenangannya," ucap Faizal dengan pelan dan jelas. "Kalau dia sangat berbahaya seperti itu. Lalu bagaimana nasib Daffa dan Kinan?" "Nah, itu yang mau gue bilang sama elo. Nasib mereka sekarang ada di ujung tanduk. Dan yang lebih mengerikan lagi. Mereka tidak sadar siapa musuh mereka sebenarnya." Faizal menjelaskan dengan mantap sambil membuang pandangannya ke arah sungai besar yang mengalir di depan. "Nggak. Gue nggak akan tinggal diam. Gue harus bisa melindungi mereka," ujar Mulin kemudian. "Benar. Benar sekali. Tapi, bukan sebagai Mulin, tapi sebagai Julian Prasetya," jawab Faizal mantap. "Julian Prasetya? Siapa dia?" "Ayo, ikut gue. Nanti juga loe tau," balas Faizal sok misterius. . "Sudah selesai, Bang," ujar si Kapper yang membuat Mulin tersadar dari lamunannya. Mulin pun menatap rambut barunya yang dipotong undercut dengan sangat rapi dan terlihat berkelas. Rambut-rambut halus di wajah Mulin pun sudah dibersihkan. Sehingga membuat lelaki itu tampak bersih dan rapi. "Gimana Mulin? Loe suka?" tanya Faizal sambil berjalan mendekat. "Sebenarnya gue belum pernah potong rambut sependek ini sih, Bang. Cuma boleh lah. Kayaknya nggak buruk juga." "Ya. Loe memang harus tampil beda. Bahkan, untuk kedepannya gue harap loe bisa berpenampilan lebih beda dari Mulin yang dulu. Baiklah. Kalau begitu udah selesai kan potong rambutnya?" "Udah, Bang. Udah selesai," timpal si Kapper mantap. "Oke. Kalau gitu kita pergi ke tempat lain. Masih banyak tempat yang harus loe datangi," ajak Faizal. "Kemana?" "Ntar juga loe tau," timpal Faizal. Kemudian mereka pun segera bergegas pergi dari tempat itu setelah membayar ongkos cukur. Setelah pergi dari Barbershop itu. Mulin dan Faizal datang ke sebuah salon kecantikan. Meskipun Mulin terus menolak keinginan Faizal. Namun, laki-laki itu terus memaksanya untuk melakukan perawatan. "Nggak, Bang. Gue nggak mau. Loe pikir gue cowok apaan harus pakai-pakai begituan," protes Mulin sambil menunjuk ke arah wanita yang sedang melakukan perawatan wajah. "Heh. Asal loe tau ya! Si Julian itu emang udah lama nggak ada kabar. Tapi, bukan berarti bukan berarti wajahnya buluk kayak loe," bisik Faizal geram. "Aduh, Bang. Tapi gue…." "Udah nggak usah tapi-tapian. Cepetan masuk!" kata Faizal sambil mendorong tubuh Mulin masuk ke dalam. Hasil perawatan itu pun membuat wajah dan kulit Mulin yang tadinya kusam serta dekil kini terlihat lebih bersih juga terawat. Tak hanya itu. Alis dan bibir Mulin yang sudah disulam pun tampak sangat berbeda. Begitu pula dengan cuping hidungnya yang tampak lebih mancung. Setelah dijepit sejak awal treatment yang dilaluinya itu dimulai. Faizal tampak sangat puas. Karena tampilan Mulin sekarang seratus delapan puluh derajat tidak sama seperti beberapa menit yang lalu. Setelah itu, Mereka pun langsung masuk ke dalam toko pakaian khusus pria. Faizal pun meminta Mulin memilih baju kantor yang Mulin suka. Namun, karena Mulin tidak suka ke kantor dan tidak suka kerapian. Dia malah memilih celana jeans yang robek-robek di bagian depan seperti habis diserang macan, kaos polos pendek dan jaket kulit hitam. "Gimana?" tanya Mulin sambil menunjukkan benda-benda itu pada Faizal. Faizal pun menatap baju-baju itu dengan kening yang berkerut sempurna. "Loe yakin mau ke kantor pakai ginian?" "Yah. Ini style gue sih. Gimana menurut loe? Bagus kan?" Faizal malah tersenyum kecut. Kemudian ia meraih baju-baju itu. Dengan tampang tak berselera. Faizal mengembalikan benda-benda itu ke gantungan. "Lho. Lho. Kok malah dibalikin sih. Tadi loe minta gue milih baju," protes Mulin. "Iya. Tapi, semua yang elo pilih. Bukan baju yang mau kita beli." "Terus kenapa loe minta gue milih. Kalau nggak mau dibeli." "Justru itu. Dengan gue biarin loe milih baju sendiri. Gue bisa tau seperti apa style loe biasanya. Jadi, mudah buat gue memastikan. Kalau style Julian itu berbeda seratus delapan puluh derajat dari style Mulin yang biasanya," jelas Faizal. "Jadi, baju seperti apa yang mau kita beli?" "Ikut gue," timpal Faizal. Kemudian ia berjalan mendahului Mulin. "Tungguin gue!" ujar Mulin sambil mengejar kepergian Faizal. Akhirnya mereka pun sampai di bagian baju formal. Tanpa buang waktu Faizal mengambil beberapa kemeja, setelan jas dan juga dasi. Kemudian ia melempar ke arah Mulin yang berjalan di belakangnya. "Bawa semua baju itu ke fitting room," titah Faizal tegas. "Sebanyak ini! Wah, banyak duit juga loe, Bang," ujar Mulin sambil menatap baju-baju itu dengan kagum. Sedangkan di belakangnya, Faizal malah meraih sebuah kaos dan celana jeans belel. Di depan kamar pas Faizal menunggu Mulin mencoba satu persatu baju-baju itu. Faizal pun membantu sedikit untuk merapikan baju Mulin agar tampak sesuai keinginannya. Namun, sampai baju ketiga belum ada baju yang pas. Seperti apa yang tergambar dalam benaknya. Hingga akhirnya pada setelan jas abu-abu yang dipadu dengan kemeja hitam dan dasi garis-garis hitam dan putih. "Nah, ini dia. Cocok banget. Sini-sini kita masuk lagi," kata Faizal sambil mendorong tubuh Mulin kembali masuk ke dalam fitting room itu lagi. Faizal pun segera mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku. Kemudian ia segera mengambil foto Mulin beberapa kali. "Oke. Bagus. Buka baju loe. Lalu kembali seperti semula." "Hah? Bukannya ini yang mau kita beli?" "Enak aja. Ini yang mau kita beli," kata Faizal sambil menunjukkan baju kaos polos dan jeans belel di tangannya. "Loe pikir orang yang baru menghilang selama berbulan-bulan. Lalu pulang pakai baju semahal itu? Heh." Faizal pun membalas dengan sengit lalu tersenyum meremehkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD