Mulin bergegas meninggalkan rumah Anita. Ia tau ia laki-laki, tapi entah kenapa kali ini yang benar-benar ingin sekali menangis sekencangnya. Ia merasa tidak punya tempat lagi diantara mereka. Padahal, ia sudah berniat untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik.
Makanya saat sampai di sebuah jembatan. Ia pun berteriak kencang di sana. Hingga mengundang perhatian para pengguna jalan yang lain. Namun, orang-orang tidak terlalu memperdulikannya dan melanjutkan perjalanan mereka seperti tak terjadi apa-apa.
"Aaaarghhh!!!! GUE BENCI HIDUP GUE TUHAAAN!!! KENAPA NGGAK LOE AMBIL SEKALIAN GUE BARENG NENEK KEMARIN!!!" teriaknya frustasi. "Hiks. Hiks. Hiks." Sambil menangis sesenggukan, Mulin pun menjatuhkan badannya ke atas trotoar. Ia menyandarkan punggungnya ke pembatas jembatan sambil memeluk lututnya dengan erat. "Kenapa hidup gue begini? Hiks. Hiks. Hiks. Kenapa hidup gue nggak bisa tenang seperti yang lain? Hiks. Hiks. Hiks," ujar Mulin di sela-sela tangisannya. Mulin terus menangis dengan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Keadaan Mulin benar-benar tampak seperti gembel memprihatinkan di pinggir jalan. Hingga tak membuat satu dua orang yang merasa iba saat lewat. Mereka melempari Mulin dengan uang receh maupun kertas. Mengira Mulin adalah seorang pengemis kelaparan.
Hingga tak lama berselang. Datang seorang laki-laki dengan berpenampilan sangat rapi yang memakai setelan jas ala para eksekutif muda. Orang itu berjalan mantap mendekati Mulin hingga saat berada tepat di depan Mulin orang itu berhenti.
"Saudara Daffi Mulin Abimana," panggil orang itu mengucap nama lengkap Mulin. Lelaki yang sedang menangis seperti anak kecil itu pun perlahan mengangkat kepalanya. Penasaran dengan orang yang bisa tau nama lengkapnya yang jarang diketahui orang.
"Si… siapa anda?" tanya Mulin dengan nada bergetar. Orang yang menggunakan kacamata hitam dan masker yang menutupi mulut serta hidungnya itu tak menjawab. Namun, dari balik maskernya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman.
"Saya tau banyak hal tentang anda. Jadi, jika anda ingin tau siapa saya. Dengan senang hati saya akan menjelaskannya pada anda. Namun, tidak di tempat ini," jawab lelaki itu yang belum bisa Mulin tebak berapa umurnya. Karena wajahnya yang tertutup masker membuat penyamarannya tampak sempurna.
"Dimana?" tanya Mulin cepat. Sebenarnya ia merasa penasaran dengan identitas dan tujuan orang itu mendekatinya. Namun, dia juga sedikit takut jika orang itu akan melakukan sebuah tindakan kriminal terhadapnya. Makanya, Mulin pun ingin berjaga-jaga bila mana orang itu tiba-tiba menyerangnya.
"Ikuti saya. Saya akan jelaskan semua yang ingin kamu tau dari saya."
"Kemana? Gue tidak akan pernah pergi kemanapun? Kecuali gue tau kemana loe akan membawa gue pergi," ujar Mulin tegas. Ia pun beranjak dari jongkoknya agar terlihat semakin berwibawa. Namun, lagi-lagi orang itu hanya tersenyum sekilas pada Mulin.
"Sudahlah. Ayo, ikut saja!" kata orang itu sambil menepuk pundak Mulin sebanyak tiga kali. Seketika kesadaran Mulin pun langsung menghilang. Ia terpengaruh hipnotis. Sehingga, ia tak melawan sama sekali saat laki-laki itu meminta Mulin untuk mengikuti langkah laki-laki itu.
****************
"Bangun," kata seorang laki-laki berjas hitam tadi sambil menepuk pundak Mulin tiga kali. Seketika Mulin pun tersadar dari hipnotis itu.
Mulin pun terlonjak kaget. Saat ia menyadari badannya sudah tidak ada di pinggir jalan lagi. Ia pun semakin panik saat melihat ruangan sekitar ini tidak tampak rapi dan bersih. Melain seperti gudang bekas yang lama tidak terpakai. Saat ia terus menggerakkan badannya. Mendadak ia tersadar. Jika kedua tangan dan kakinya terikat.
"Hah? Dimana ini? Kenapa gue ada disini? Kenapa Tangan dan kaki gue diiket?" tanya Mulin dengan perasaan panik.
"Hahaha. Tenang saja Mulin. Gue nggak ada niat untuk nyulik elo kok. Gue cuma ingin memastikan loe tetap tenang. Selagi gue memperkenalkan diri di depan loe," ujar lelaki itu yang sudah melepas maskernya. Meskipun sudah memberi gambaran seperti apa wajahnya. Namun, dari kacamata hitam yang masih bertengger di atas hidung nya. Membuat wajahnya tidak bisa seratus persen dapat ditebak. Meskipun begitu, Mulin sangat yakin. Belum pernah ketemu dengan orang ini sebelumnya.
"Kalau begitu cepat katakan saja. Siapa anda? Dan apa maksud anda membawa saya kesini?!" kata Mulin tegas.
"Tak perlu berteriak-teriak. Gue pasti akan perkenalkan siapa gue sebenarnya," timpal laki-laki itu. Kemudian ia pun memutar badannya hingga membelakangi Mulin yang berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. "Nama gue Faizal Arkani. Gue adalah seorang ketua agen rahasia yang sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir mengintai kehidupan loe," ujar Faizal sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya. Ia pun segera menyalakan korek api dan membakar ujung rokok tadi.
"Apa maksud loe melakukan itu semua?" tanya Mulin pelan tapi pasti. Sambil menghisap rokoknya, Faizal tersenyum sekilas. Kemudian ia memutar badannya hingga berhadapan dengan Mulin lagi.
"Gue hanya ingin loe bergabung sama tim gue." Faizal menjawab dengan cepat.
"Apa?!" Mulin pun sedikit terkejut mendengar ucapan Faizal barusan.
"Iya. Gue ingin loe menjadi salah satu Agen rahasia di bawah kepemimpinan gue. Gue akan membantu elo agar tidak kembali menjadi Mulin yang dulu, tanpa merusak potensi besar loe" ujar Faizal dengan mantap. Mulin pun langsung menoleh ke arah Faizal.
"Loe beneran mau bantuin gue? Tapi… tapi kenapa? Kenapa loe mau bantuin gue? Sementara, orang-orang yang lain saja udah nggak ada yang percaya sama gue."
"Karena gue bisa liat potensi menipu loe dari kacamata Intelegensi gue," jawab Faizal yang langsung membuat kerutan di dahi Mulin tampak jelas.
"Maksudnya? Gue semakin nggak ngerti arah pembicaraan loe," tanya Mulin kebingungan.
"Kepiawaian loe dalam berakting atau tipu menipu. Sebenarnya dapat dimanfaatkan asalkan loe bisa asah kemampuan loe dengan baik," jelas Faizal dengan nada serius. Ia pun menatap Mulin intens. Namun, Mulin malah terlihat semakin bingung. "Loe bisa membantu gue melancarkan setiap misi-misi gue. Dengan kemampuan akting loe yang luar biasa itu,' tambah Faizal yang langsung membuat Mulin perlahan mengerti apa yang diinginkan oleh laki-laki ini.
"Heh. Loe itu jangan bercanda. Bagaimana bisa gue berakting di depan orang-orang. Sementara mereka hafal wajah gue yang biasa nongol di dalam televisi sebagai seorang penipu?" Mulin berucap sambil tersenyum geli.
"Hahaha. Loe jangan khawatir. Gue udah persiapkan semuanya. Gue jamin. Setelah ini, loe akan diterima lagi di tengah-tengah masyarakat. Namun dengan satu catatan. Loe harus mau gabung di tim gue. Gimana?" ujar Faizal yang langsung membuat Mulin berpikir keras. Masih ada keraguan yang terlihat dari wajahnya. "Hahaha. Loe yakin mau melepaskan si Anita begitu saja. Perlu gue ingetin. Sangat susah mencari gadis tulus kayak dia di jaman sekarang," bisik Faizal yang langsung membuat mata Mulin melebar.
"Loe tau tentang itu?" tanya Mulin dengan polosnya.
"Of, course! So, gimana? Loe ambil tawaran gue? Atau loe lebih suka kembali ke kehidupan lama loe yang akan membuat loe kembali juga ke dalam jeruji besi?"
"Gue ambil tawaran loe," ujar Mulin mantap.
"Hahaha. Good job. Good job!" ujar Faizal sambil tersenyum lebar dan bertepuk tangan dengan riang gembira.