Bab. 4 Kita Harus Berakhir Anita

1207 Words
"Mulin," panggil Anita sambil berjalan mendekati laki-laki yang sedang berdiri di samping jembatan itu. Mulin yang awalnya melempar pandangan ke arah sungai di bawah sana yang berarus cukup deras pun akhirnya menoleh. "Anita," gumam laki-laki itu dengan senyum yang mengembang. "Kenapa kamu nggak langsung ke rumah aku aja sih? Udah deket juga, kan?" ujar Anita sambil mengelendot manja di lengan Mulin. Yap! Selama Mulin berada di dalam penjara. Ia memang memiliki banyak sekali pelajaran hidup. Salah satunya, mendapatkan cinta yang tulus dari seorang Dokter cantik seperti Anita. Mulin tersenyum. Kemudian ia memegang kedua pipi Anita dengan kedua tangannya. Mulin menatap kedua mata wanita cantik yang sudah lama menjadi kekasihnya itu secara bergantian. Gluk! Bahkan, ia juga menelan ludahnya terlebih dahulu sebelum menggerakkan bibirnya untuk berbicara. Seakan ada rasa ragu di dalamnya. "Kenapa?" tanya Anita yang merasakan hati Mulin yang gundah gulana. "Sebenarnya aku takut, Anita. Aku takut kedua orang tua kamu nggak menerima kedatangan aku," kata Mulin dengan nada bergetar. Dia cukup tau diri siapa dirinya saat ini. Sekuat apapun dia berusaha menjalani hidup dengan lebih baik. Namun, label napi kasus penipuan seakan tetap menempel di jidatnya yang tidak terlalu lebar. Anita menggenggam kedua tangan Mulin dengan lebih kuat. Sambil tersenyum manis. Ia pun berkata, "Kamu nggak perlu khawatir. Ada aku disini. Kita akan melewati ini sama-sama." Mendengar ketulusan cinta Anita, Mulin pun tersenyum. Hatinya merasa sangat lega mendengar ucapan Anita barusan. Sungguh, dia pun sebenarnya sangat takut kehilangan Anita. Sebab hanya dia satu-satunya orang yang mencintainya dengan sangat tulus dan ikhlas. "Baiklah. Kalau begitu mari kita ke rumah kamu sekarang," ajak Mulin sambil tersenyum. Meskipun masih ada keraguan di hatinya, tapi semua itu tidak boleh membuat Anita meninggalkannya. 'Aku harus bisa bertahan untuk Anita. Kasihan dia. Dia sudah lama menunggu kebebasanku,' pikir Mulin sambil terus berjalan bergandengan tangan menuju rumah Anita yang memang berjarak tak jauh lagi. Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah Anita. Saat Anita hendak meraih pegangan pintu. Mendadak Mulin menahan tangan Anita. "Tunggu!" ujar Mulin yang langsung membuat Anita menoleh dengan tatapan bingung. "Kenapa lagi?" tanya Anita. "Aku benar-benar takut, Anita. Bagaimana kalau kedua orang tua kamu tidak setuju dengan rencana pernikahan kita?" ujar Mulin terdengar sangat pesimis. Melihat hal itu Anita pun langsung memeluk laki-laki itu. "Kamu harus buang rasa takut dan ragu kamu, Lin. Demi kelangsungan hubungan kita," ujar Anita berusaha mengembalikan kepercayaan diri Mulin. "Lagian. Kalau kamu aja takut ketemu sama kedua orang tua aku. Bagaimana cara kamu melamar aku? Iya, kan?" Lagi-lagi Mulin berusaha tersenyum untuk wanita itu. Sambil mengacak rambut Anita. Mulin pun mengangguk mantap. "Ya sudah. Masuk ya?" tanya Anita memastikan. "Iya, " jawab Mulin singkat sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, udah. Yuk!" Cekrek! Pintu kayu itu pun di dorong Anita dari luar. Sebenarnya, jauh di dasar hati Anita. Ia juga merasa takut bila kedua orang tuanya tidak menghargai proses perubahan pada diri Mulin. Lalu mereka menyimpulkan masa depan kehidupan Anita sendiri. Sehingga membuat mereka tidak mau menerima Mulin sebagai bagian dari keluarganya. "Assalamualaikum," ujar Anita sambil melewati pintu kayu itu. "Wa'alaikumsalam," kata Papa dan Mama Anita secara bersamaan. Mereka yang sedang duduk santai di ruang tamu pun langsung menoleh ke arah lelaki yang datang bersama Anita. Tiba-tiba kening keduanya pun berkerut sempurna. "Anita. Siapa dia?" tanya Papa Anita dengan nada penuh curiga. Ia terus mentap wajah Mulin yang tengah menundukkan pandangan. Seakan keberanian yang sedari tadi ia kumpulkan. Kini sudah hancur berantakan. "Pa. Apa Papa nggak bisa suruh Mulin duduk dulu? Dia kan tamu. Bukannya Papa yang ajarin aku cara untuk menghargai tamu yang datang?" Anita berusaha menetralkan suasana. "Baiklah. Silahkan duduk!" kata Papa Anita dengan tangan yang terjulur ke depan. "Terima kasih, Om," ujar Mulin dengan nada bergetar. Akhirnya ia pun duduk di sofa paling ujung. Paling dekat pintu. Namun, baru saja menempel bokongnya ke permukaan sofa, Anjani memberikan kode agar dia mau bergeser sedikit agar memberikan ruang duduk untuknya. Mau tidak mau Mulin pun melakukannya. Ia memaksakan tubuhnya untuk bergeser mendekati Papa Anita di seberang sana. "Baiklah. Sekarang kamu bisa jawab dulu. Apa hubungan kamu dengan anak saya?" tanya Papa Anita to the point. "Sebenarnya kami–" "Diam kamu Anita!" sela Papa Anita dengan nada tinggi. Hingga membuat nyali sepasang kekasih itu benar-benar menciut. Anita dan Mulin pun saling melempar satu sama lain. "Papa hanya ingin mendengar jawaban dari mulutnya saja. Tidak lebih!" lanjut Papa Anita tanpa menurunkan nada bicaranya. "Ba… baiklah, Om, Tante. Saya akan perkenalkan diri saya. Nama saya adalah…." Belum juga kalimat Mulin terselesaikan. Namun, Papa Anita kembali memotong pembicaraannya. "Jawab saja pertanyaan saya barusan. Saya sudah tau siapa kamu dan keluarga kamu yang pernah kamu tipu itu dari berita. Jadi, tolong jangan berbelit-belit," kata Papa Anita dengan nada penuh penekanan. Anita dan Mulin pun langsung saling menatap. Seakan apa yang sedari tadi mereka takutkan. Akan segera menjadi kenyataan. Sedangkan Mama Anita hanya terdiam dengan tatapan tajam ke arah Mulin. Sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, Mulin mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Jadi, apa hubunganmu dengan anak saya?" ulang Papa Anita dengan wajah serius. "Sa… saya…," kata Mulin terbata. Mendadak dadanya berdetak kencang dan keringat dingin mulai mengucur deras di dahinya. Melihat sang kekasih tengah merasakan kegugupan yang cukup tinggi. Anita pun langsung menggenggam tangan Mulin dengan erat. Bak ingin menyalurkan kekuatan pada lelaki itu. Mulin menoleh ke arah Anita. Kemudian Anita pun mengangguk mantap. Mulin pun menghembuskan nafas beratnya. Lalu ia melanjutkan, "Saya adalah pacar Anita." "Apa?!" teriak Papa Anita sambil mengangkat badannya hingga berdiri. Tak hanya Anita dan Mulin saja yang kaget dengan respon laki-laki setengah baya itu, tapi Mama Anita yang duduk di samping lelaki itu juga merasakan hal yang sama. "Kalian pacaran?! Dimana akal sehat kamu Anita? Kamu tolak puluhan laki-laki dengan kelakuan baik. Hanya untuk laki-laki macam ini?!! Kamu nggak ingat siapa dia? Rasanya berita kasus penipuannya saja masih diberitakan sampai kemarin pagi? Apa ya kamu mau mencoreng wajah keluarga, hah?!" Anita tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun, tangan mereka masih bergandengan dengan erat. Seakan mereka tidak mau terpisahkan walaupun hanya semenit saja. Papa Anita pun mengambil nafas panjang lalu ia keluarkan secara perlahan. "Sudahlah. Papa tidak ingin banyak bicara lagi. Papa hanya ingin kalian akhiri saja hubungan kalian," kata Papa Anita dengan nada yang lebih tenang. "Enggak!! Enggak, Pa?! Aku hanya cinta sama Mulin, Pa. Aku yakin dia pasti bisa berubah menjadi orang yang lebih baik," ujar Anita dengan berderaian air mata. Ia pun berdiri untuk menunjukkan rasa kesal di hatinya. "Anita! Kamu jangan jadi anak yang durhaka ya. Kamu pengen liat Papa dan Mama jadi bahan olok-olokan tetangga. Iya?!! Kamu ingin melihat Mama jantungan lagi. Karena tidak kuat menahan tindakan kamu yang bodoh ini?!!" tanya Papa Anita dengan nada yang kembali meninggi. Anita pun terdiam. Ia yang juga tau penyakit ibunya yang bisa merenggut nyawa wanita itu setiap saat. Namun, ia juga tidak bisa melepaskan Mulin begitu saja. "Papa kamu benar, Anita," kata Mulin yang langsung membuat semua orang di sana terperangah. Kemudian Mulin pun ikutan beranjak dari duduknya. "Sebaiknya. Kita akhiri saja hubungan ini," tambah Mulin dengan nada mantap. Kemudian ia bergegas meninggalkan tempat itu. "Mulin. Mulin apa maksud kamu? Mulin!! Tunggu!!" teriak Anita yang tak lagi digubris Mulin. Kedua tangannya dipegangi oleh Papanya. Jadi, ia tidak bisa mengejar kepergian Mulin. "Anita cukup!! Biarkan dia pergi!!" kata Papa Anita dengan nada tinggi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD