Bab 3

1458 Words
World Boutiqe Jakarta. Jeva melihat-lihat beberapa baju yang tergantung sembari menunggu pegawai butik memberinya baju pesanan perusahaan untuk syuting. Perempuan itu melirik sekilas pasangan yang memilih-milih baju di sekitar ruang ganti. Sang wanita membawa beberapa potong baju dan membawanya masuk ke ruang ganti. Sedangkan sang pria menunggu di sofa depan ruang ganti. "Jadi perempuan dengan rambut ikal sebahu, dress warna biru selulut karya Valentino garavani, higheels dengan merk Louboutin dan tas brand Hermes. Tubuh ramping dan juga wajah cantik tanpa keriput itu IBU Anda," ujar Jeva sarkas. Perempuan itu menatap tanpa minat pada pria yang duduk tak jauh darinya. Pria itu menoleh bingung ke arah Jeva. Ia menoleh ke belakang, kanan dan kiri karena merasa tak mengenal perempuan yang baru saja berbicara tersebut. "Ma'af, kau berbicara denganku?" tanyanya kemudian setelah memastikan tidak ada oranglain selain dirinya dan perempuan itu. "Ma'af, tadi saya tidak sengaja mendengar obrolan Anda dengan siapapun itu di telfon. Tepat di halaman gedung milik WENAS GROUP," sahut Jeva dengan santai. Saat pria itu hendak menyanggah, perempuan itu sudah menghilang bersama pemilik butik di ujung lorong. "Jadi dia pegawai di sana. Baiklah, Wenas. Aku akan sering mengunjungimu," gumam pria itu tersenyum lebar. ***** Flashback On "Jevara!" teriak seorang perempuan ke arah perempuan lainnya yang berlari melintasi mobil yang sedang ia parkir. Perempuan bernama Jevara itu hanya menoleh sekilas tak mengacuhkan perempuan yang hendak turun dari mobil putihnya. "Hei, kau terlambat juga?" tanya perempuan itu saat sudah berjalan sejajar dengan Jeva. "Busnya terlambat," jawab Jeva singkat. "Ah, begitu." Belva mengangguk perlahan. "Kalau aku karena bangun kesiangan. Entahlah, sepertinya aku memang tidak pernah bersahabat dengan matahari pagi," keluh perempuan itu tanpa diminta. "Hehm." Jeva hanya bergumam lalu melanjutkan langkahnya. "Eh, tunggu," ucap perempuan itu lagi mencegah langkah Jeva. Ucapan Belva barusan membuat Jeva berhenti melangkah, ia menoleh ke arah perempuan yang mencekal lengannya dengan tanda tanya di wajahnya. "Ada apa lagi?" tanyanya kemudian. "Ada yang kurang!" teriak perempuan itu heboh. "Kau tahu Jevara, kau melupakan sesuatu yang sangat sangat penting, khususnya bagi perempuan," omel perempuan itu seraya mengacak acak isi tas brandednya. "Aku tidak merasa melupakan sesuatu," ucap Jeva dengan kening berkerut bingung. "Tidak. Tidak. Kau melupakan satu hal yang sangat sangat penting. Oh my God, kau benar benar ceroboh"omel perempuan itu lagi. Jeva masih memandang perempuan yang sibuk dengan isi tasnya itu dengan heran. "Tara! Lipstik. Kau melupakan ini. Coba lihat! Mybelline  baru saj mengeluarkan brand lipstik terbaru dan aku sudah mempunyainya. Hanya ada 10 pcs di dunia ini, kau harus mencobanya supaya penampilanmu bertambah mempesona. Ayo coba! Lagipula hari ini kau terlihat pucat. Ini hari pertama kita bekerja, jadi kita harus terlihat cantik dan menarik!" seru perempuan itu membuat Jeva melotot kesal. "Belvara, astaga! Kita sudah terlambat dan kau masih memikirkan soal penampilan!" gerutu Jeva kembali meneruskan langkah cepatnya. "Gunakan otakmu untuk mencari alasan yang logis kenapa kita bisa terlambat di hari pertama bekerja. Kau tidak ingin 'kan kalau kepala HRD menertawaimu yang menggunakan alasan keterlambatan karena terlambat bangun pagi," omel Java tak habis fikir dengan tingkah Belva. "Hehehe. Aku sudah menemukan alasannya," sahut Belva cengengesan di balik punggung Jeva, membuat langkah perempuan itu terhenti. "Apa?" tanya Jeva berbalik badan ke arah Belva. Kedua tangan perempuan itu bersedekap dengan tatapan tajam menelisik. "Kau pakai dulu lipstik ini. Nanti aku beritahu," celoteh Belva sukses membuat kedua bola mata milik Jeva berputar malas. Jeva diam sejenak, tatapan tajamnya masih ke arah Belva. Belva tak mengacuhkan tatapan tajam milik Jeva, ia justru tersenyum lebar dan menodongkan lipstik di tangannya ke arah teman barunya itu. Jeva mendesah pelan lalu dengan gerakan cepat ia meraih lipstik merah dari tangan Belva lantas memutar tubuhnya ke samping. Menjadikan kaca berframe hitam mobil Audy putih di sampingnya sebagai pengganti kaca. Memoleskan ginchu merah itu dengan cepat dan terburu-buru, sedikit membasahi bibirnya guna meratakan bagian yang kurang rata. Namun tiba-tiba saja kaca berframe hitam itu terbuka sedikit demi sedikit hingga menampilkan wajah pria dengan hidung mancung, alis tebal serta bibir penuh yang ternyum mengejek kearah Jeva yang masih mematung di tempatnya. Pria itu menggunakan kaca mata hitam yang membatasi penilaian Jeva terhadap pria tersebut. Dengan refleks Jeva mundur teratur ke belakang saat melihat gerakan pria itu yang akan membuka pintu mobil putih itu. Flashback Off Jeva menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. Betapa malunya dia saat ketahuan memoles bibirnya di kaca mobil orang. Tidak tanggung-tanggung pemilik mobil itu adalah petinggi di perusahaan tempat ia bekerja. Rasa malunya semakin besar saat mendengar kalimat dari pemilik mobil itu. "Jev, tugas dari Pak Indra sudah selesai?" Pertanyaan dari rekan kerjanya membuat perempuan itu membuyarkan lamunannya. "Sudah, mau aku print sekarang?" sahut Jeva kikuk, ia mencoba mengalihkan fikirannya dari masa lalu. Fokus bekerja dan bersikap profesional. "Boleh, sekalian file yang dari Ajeng ya! Bu Ratih minta proposal laporan penjualan minggu lalu," ujar Ratih kemudian. "Oke, siap." Perempuan itu mengambil flashdisk di atas mejanya lantas berjalan menuju mesin print di pojok ruangan. ****** Flashback On "Ini aku baru saja sampai di kantor, bye, nanti aku telfon lagi." Daska mengakhiri pembicaraannya dengan sang ibu. Ia mematikan mesin mobil setelah terparkir dengan sempurna di depan gedung Wenas Groub. Saat Daska hendak keluar mobil, seorang perempuan tiba tiba saja berdiri di samping mobilnya. Perempuan itu menjadikan jendela mobilnya menjadi sebuah kaca dan memoleskan lipstik di bibirnya yang mungil. Daska sempat diam terpaku saat wajah perempuan itu kian mendekat. Ia merasa jantungnya bergemuruh jauh lebih cepat dari biasanya. Lalu tanpa sadar, tanganya bergerak menekan tombol sehingga kaca mobil perlahan terbuka. Kini ia bisa menatap wajah cantik di hadapannya tanpa penghalang apapun. Daska lalu membuka pintu dan keluar dari mobil, berdiri menjulang di hadapan perempuan yang membuatnya terkesima. Perempuan itu masih betah terdiam di tempatnya tanpa berani bergerak ataupun berucap. Melirik ke arah samping dengan ekor matanya. "s**t! Belva sialan! Hilang kemana dia," gerutunya kesal. Dalam hati Daska tersenyum kecil saat melihat raut wajah kesal perempuan itu. Ia sendiri masih berdiri menjulang di hadapan perempuan itu, menelisik penampilannya dari atas hingga ujung kaki. Kemudian Daska mengambil langkah mendekat ke arah perempuan itu, mengikis jarak satu jengkal itu dengan satu langkah panjangnya. Daska kemudian mengulurkan tangannya menuju bibir ranum milik perempuan itu, mengusap pelan pada sudut bibir itu dengan ibu jarinya. Perempuan itu berdiri gugup di hadapan Daska. Tidak tahu saja, jika perempuan itu berusaha untuk menormalkan degup jantungnya yang menggila. Lantas dengan sangat berani perempuan itu mengamati secara terang terangan wajah khas asia milik Daska. Kulit putih pucat dengan bibir penuh Daska, alis tebal yang menggantung indah dan juga iris di balik kacamata hitam yang dipakai Daska. Di balik kacamata hitam itu memang tersembunyi iris mata hitam kelam yang siap menenggelamkan siapapun yang menatapnya langsung. Melihat tingkah sikap perempuan itu yang tak seperti perempuan kebanyakan, Daska menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian. Merasa tertarik dengan tingkah laku perempuan dengan kulit kuning langsat khas asia, mata bulat berwarna hitam, hidung kecil tapi menggantung dengan sempurna, alis mata natural tanpa polesan apapun, lalu bibir penuh yang dilapisi lipstik warna merah. Gadis ini benar benar ayu....dan unik. Sebenarnya Daska betah saja berlama lama dengan perempuan yang sepertinya pegawai baru di kantor ini. Tapi ada hal penting yang mengharuskannya untuk enyah dari hadapan perempuan itu. Ia lantas menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah perempuan itu, berbisik pelan ditelinganya. "Lipstikmu belepotan. Karena kita baru pertamakali bertemu jadi aku hanya akan menggunakan ibu jariku. Tapi kalau lain kali kita bertemu dan lipstikmu masih belepotan. Aku tidak segan segan untuk menghapusnya langsung menggunakan bibirku." Hembusan mint dari mulut Daska membelai lembut belakang telinga perempuan itu. "Selamat bekerja. Nona Jevara," imbuh Daska setelah menegakkan tubuhnya lantas tersenyum menyeringai meninggalkan Jeva yang masih diam tanpa kata. Flashback Off Daska tersenyum lebar kala ingatannya memutar ulang kejadian saat pertama kali bertemu dengan Jeva 1 bulan yang lalu. Seorang Wenas begitu tertarik pada salah satu anak Hawa bahkan saat pertamakali bertemu, dia telah jatuh hati pada perempuan seperti Jevara. Benar juga ungkapan lirik lagu yang dilantunkan ed sheeran, orang orang jatuh cinta dengan cara yang misterius. Oh s**t! Sekarang dia harus berterimakasih pada pencetus teori "LOVE AT THE FIRST SIGT", manusia bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena berkat teori itu, dirinya tidak akan heran kenapa jantungnya bisa berdetak lebih cepat saat menatap wajah Jeva untuk pertamakalinya seperti dulu. Kalau tidak, mungkin Daska akan langsung memeriksakan dirinya ke rumah sakit takut kalau jantungnya bermasalah. Dan sebagai seorang anak Adam, tentu saja sudah menjadi kodrat laki laki itu untuk mendekati sang perempuan terlebih dahulu. Karena sudah pasti dalam kamus hidupnya, pantang bagi seorang Wenas membiarkan Hawa yang bertindak agresif. Dimana mana pria lah yang seharusnya dominan dan juga agresif, tapi tentu saja bukan dalam konteks sexs saja. Dalam hal apapun, pria selalu tercipta sebagai pemimpin. Ok. Lupakan masalah kodrat dominan pria sebelum para kaum hawa yang membaca cerita ini mengumpat atau memaki sang pemain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD