Bab 4

1195 Words
Beberapa bulan kemudian "Hah." Daska memutar kursi membelakangi pintu, lalu menyandarkan bahunya ke belakang kursi setelah menghela nafas lelah. Tingkat kepercayaan diri Daska yang tinggi harus hancur berkeping keping karena Jeva sama sekali tak mengacuhkannya. Bahkan saat pertemuan kedua mereka, perempuan itu hanya mengangguk sopan tanpa membicarakan mengenai kejadian sebelumnya. Mungkin karena mereka masih dalam area kantor, jadi wajar saja kalau dia bersikap sopan dan formal selayaknya atasan dan bawahan, fikir Daska pada waktu itu. Tapi kemudian, saat dia mencoba untuk menemui Jeva di luar kantor. Tetap saja perempuan itu tak meninggalkan sikap formalnya, selalu tersenyum seperlunya dan berkata hanya tentang masalah kantor. Beberapa bulan ini, sudah tak terhitung berapa kali Daska mengajak Jeva makan siang dan selalu mendapat kalimat penolakan dari perempuan itu. Begitu juga dengan ajakan makan malam, jalan, nonton atau acara apapun di luar kantor. Sulit sekali rasanya mendekati seorang Jevara. Sikap perempuan itu benar benar dingin tak tersentuh, di tambah lagi dengan ancaman Belva yang melarangnya mendekati Jeva bahkan saat kali pertama Daska menanyakan perihal perempuan itu pada Belva.Meskipun sekarang Belva sudah menjadi sekutunya dalam meluluhkan hati Jeva. Sial! Percuma saja aku insaf kalau track record-ku tetap berpengaruh, cih menyebalkan. Oh. Ngomong ngomong tentang Mak Lampir Belva. Daska jadi ingat tentang kesepakatan yang mereka lakukan beberapa bulan yang lalu, Belva yang memberinya izin untuk mendekati Jeva. Juga rencananya untuk membuat Jeva tak lagi bersikap dingin kepadanya. Ck. Dasar Mak Lampir Sialan! "Dia memberiku izin atau tidak, tetap saja Jevara tak mudah di sentuh. Sungguh tidak berguna, Mak Lampir itu sama sekali tidak bertanggung jawab. Tidak ada gunanya aku melakukan kesepakatan konyol itu, buang buang waktu saja," gerutu Daska kesal sendiri. "Dia selalu bilang akan mendekatkanku dengan Jeva. Tapi sampai sekarang, nyatanya hubunganku dengan Jeva tak pernah bisa berkembang. Kali ini aku tidak akan mema'afkanmu, Nona Belvara." Daska kembali mengomel. "Awas saja! Kalau dia terlambat sekali saja, aku akan langsung memecatnya. Aku tidak akan pernah membiarkan Mak Lampir itu mempengaruhiku lagi," omel pria berjas biru gelap itu. Tekatnya sudah bulat, jangan pernah percaya dengan bualan Belva. Perempuan ular itu licik dan berbisa. "WAW! Jadi kegiatanmu di siang hari yang cerah ini hanya menggerutu seperti kaum Hawa. Kau sudah bosan jadi laki-laki? Mau berpindah jadi perempuan?" Suara bass dari kaum Adam lain menginterupsi omelan Daska barusan. Membuat pria tampan itu berjengit kaget. "Bagus! Baru saja aku memaki adiknya, lalu sekarang kakaknya muncul di hadapanku secara langsung dengan wajah dan tingkah yang sama menyebalkannya. Terkutuklah kalian! Kakak beradik Ray Praja!" omel Daska dalam hati. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Daska datar tanpa minat, kedua tangan yang semula menganggur kini sibuk berkutat dengan tumpukan file. "Aku ingin makan siang," jawab pria itu dengan santainya, kemudian duduk di sofa panjang yang terdapat diruangan Daska. "Ck. Kau jauh-jauh pergi ke Jakarta Pusat hanya untuk makan siang. Kalau kau lupa, kantormu itu di Jakarta Selatan, Bung! Kenapa kau repot repot kemari? Pasti ada udang di balik batu," celoteh Daska mencibir. Pria itu menolak dengan keras pikiran positive tentang sahabatnya menghantui otak pintarnya, kini yang tersisa di otak pintarnya itu hanyalah ribuan perspektif negatif tentang pria bermarga Ray Praja itu. "Payah! Negative sekali pikiranmu tentangku," oceh pria itu seraya memainkan miniatur menara Eiffel setinggi 1 meter yang berada di sudut sofa hitam yang ia duduki. "Playboy cap bangau sepertimu memang sepatutnya dicurigai. Mana pernah kau melakukan hal positif yang menguntungkan orang lain, yang ada kau itu selalu merugikan orang lain," balas Daska pedas. "Yak! Aku sudah tobat, jadi jangan memanggilku playboy lagi," protes pria itu. "Ck. Tobat kau bilang? Hanya orang t***l yang mempercayai bualan seorang Madenta Ray Praja. Dan syukurnya aku bukan golongan orang t***l itu," celoteh Daska lagi lagi dengan kalimat pedas. "Damn it! sepertinya track record-ku benar benar parah," dengkus Denta akhirnya. "Haissh, sudahlah! Kali ini aku akan membiarkanmu untuk menindasku, tapi jangan harap ada moment lain kali, Presdir. Aku pasti akan mengalahkan mulut pedasmu itu. Sekarang ayo kita makan!" "Baiklah, aku akan menunggu moment langka dimana kau akan mengalahkanku. Kau ingin pesan makanan apa?" tanya Daska seraya meraih gagang telfon di atas meja kerjanya guna menghubungi sang sekretaris alias Belva untuk memesankan mereka makanan. "Kalau pesan makanan dari luar, aku juga bisa melakukannya di kantorku," sungut Denta membuat tangan Daska berhenti di udara. "Lalu apa maumu?" tanya Daska tak habis fikir. "Aku ingin makan di kantin kantormu," sahut pria yang biasa di panggil Denta itu dengan entengnya. Pria itu beranjak dari sofa yang semula ia duduki. "Kantin?" Dahi Daska berkerut samar, heran dengan jawaban Denta yang ingin makan di kantin kantornya. "Kau sudah tidak waras? CEO tidak makan di kantin," ketusnya kemudian. Tingkah sahabatnya itu semakin absurd saja, huh ingatkan dia untuk tidak menerima sahabat semacam pria itu. lagi. "Kita pesan makanan jepang saja," imbuh Daska lagi. Ia kembali mengangkat gagang telfon. "Hei, sekali sekali tidak masalah bukan. Down to earth, Men!" Denta langsung menarik gagang telfon di tangan Daska dan mengambalikannya ke tempat semula. "Jangan jadi pemimpin yang arogan dan jaga jarak dengan karyawannya," ujar Denta semakin membuat Daska heran. Otak sahabatnya itu tertukar dimana, sih? fikir Daska. "Ayo!" ajak Denta tanpa menunggu jawaban pria itu langsung meninggalkan sang sahabat yang masih stay di kursi kebangsaannya. "Hei! Aku belum mengiyakan ajakannmu, bastard!" teriak Daska kesal. Mendengar makian Daska barusan justru membuat Denta tertawa puas sudah berhasil membuat mood pria itu terusik. "Apa yang kau lakukan hingga membuat Si b******k itu teriak teriak?" tanya Belva kala melihat Denta keluar dari ruangan Daska sambil tertawa. "Aku mendengar panggilanmu barusan. Seharusnya kau tidak menggunakan kata-k********r padaku, aku atasanmu kalau kau lupa," omel Daska sebelum pertanyaan Belva terjawab oleh Denta. "Cih!" cibir Belva melengos. "Sana kembali bekerja! Malam ini kau harus lembur, atau besok pagi kau tidak perlu datang lagi ke kantor ini. Aku tidak memerlukan pegawai malas sepertimu," ucap Daska pedas. Mulut Belva sukses melongo setelah mendengar kalimat pedas Daska barusan. "Pemalas katamu?" geram perempuan itu menahan emosi. "YAK! Aku tidak pemalas!" teriaknya. "Aku hanya tidak bisa bangun pagi. Sialan!" sungutnya kesal. "Nah, aku baru menegurmu dan kau sudah mengumpat padaku. Kau mau dipe....." "Pecat saja dia, perempuan malas tidak berguna itu hanya akan membuat perusahaanmu bangkrut." Hell! Itu suara Denta. Abang sialan! b******k! Bastard! Anjing! b*****t! #@%&&%%&**%%#:%####88*^7468779%%####%&%#%%&%&%###%3&£¥₩₩§₩¥£>¥}₩»^®₩}®'©»¡¢£_>₩¥ Dia malah mendukung sahabatnya untuk memecat adiknya sendiri... "Kurang ajar! Kau minta dipecat sebagai abangku!" teriak Belva kalap. Untung saja ruangan itu terpisah dengan ruangan pegawai kantor yang lain, kalau tidak pasti semua orang berfikir kalau mereka sedang syuting drama. "Hei, aku yang lahir lebih dulu. Seharusnya aku yang akan mengeluarkanmu dari kartu keluarga Ray Praja," celoteh Denta semakin menyulut amarah Belva. "Dasar menyebalkan! Mentang mentang kekasihku tidak ada di sini, lalu kalian berani membullyku. Awas saja kalau dia kembali ke Indonesia, aku akan mengadukan tingkah kalian berdua padanya," ucap Belva berapi-api. "Lakukan saja! Kalau dia berani memarahi kami. Aku yang akan memecatnya dari kartu keluarga Wenas. Kau mau apa? Huh!" Daska yang sedari tadi diam kini angkat bicara. "Yak!" teriak Belva benar-benar kesal, wajah perempuan itu kini sudah merah seperti kepiting rebus. "Sudahlah! Hiraukan saja dia. Ayo kita makan!" ajak Denta kemudian meninggalkan Belva yang masih mencak-mencak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD