6. Membuka Koper dengan paksa

1315 Words
Sesampainya di kamar yang dia tuju, ternyata kamar itu masih tampak kosong, besih dan tertata dengan rapi. Rey mengelilingi seisi ruangan kemudian menelepon bagian resepsionis depan untuk meneleponnya jika nanti ada orang yang konfirmasi masuk ke kamar itu. "Bagaimana Rey? siapa yang menempati kamar itu?" tanya Jo kepada Rey yang berjalan keluar dari kamar yang telah dia sediakan untuk Janeta. "Tidak ada siapa siapa," sahut Rey dingin bercampur sebal. "Lalu apa kamu akan menunggu dan tidur dikamar itu?" sahut Johan masih menatap ke arah Rey. "Enggaklah, kita kan masih ada pekerjaan yang harus kita kerjakan bersama. Nggak seru juga kalau aku di kamar ini sendirian," ucap Rey menanggapi. "Lalu dimana kamarnya? aku mau istirahat!" ucap Ken kemudian berjalan melewati Rey dengan suara dingin. "Baiklah Ken, mari aku antar, aku juga sudah ingin merebahkan tubuhku di bed empuk kamar itu! Untuk kamar ini akan aku block agar tidak ada yang bisa masuk lagi." ucap Rey sambil tersenyum melihat Ken dan Johan bergantian. Saat sampai disebuah kamar paling ujung yang terlihat elegan Rey bergerak cepat melewati Kenzie dan kemudian berdiri di depan pintu. "Bagaimana Ken, Jo? Apa kalian suka?" tanya Rey kemudian kepada Kenzie dan Johan. "Lebih baik baik kamu menyingkir dan biarkan kita segera masuk Rey," ucap Ken yang kemudian menggeser Rey agar tidak berdiri menghalangi dedepan pintu. Ken kemudian memasuki kamar mereka dan mengamati sekeliling ruangan itu. "Kenapa kamu tidak memesan kamar pribadi saja Rey buat kita? Sempet sempetnya kamu mendesign kamar ini untuk kita bertiga?" ucap Johan kepada Rey. "Bukankah kita ada proyek yang harus dikerjakan bersama sama? Dan tentunya kita butuh ruangan privasi untuk kita mengerjakan bersama bukan? Lagian Ken juga lebih senang mengerjakan malam hari kan? Jadi rasanya lebih enak kalau kita satu kamar, biar serasa di Villa kita." ucap Rey kemudian mengutarakan pendapatnya. "Lalu bagaimana kalau kita butuh hiburan? apa kita tidak punya privasi untuk kita Rey?" sahut Johan kemudian. "Jo, tumben tumbennya kamu bilang begitu? Kalau memang kamu nanti butuh kamar khusus, tenang saja masih banyak kamar disamping yang belum berpenghuni. Kalau kamu mau, spesial akan aku pesenin buat kamu," sahut Rey dengan senyum khasnya mencoba menggoda Johan. "Ya ya ya," sahut Johan hanya menanggapi dengan datar. Ken kemudian merebahkan tubuhnya di bed yang paling pinggir yang langsung bisa melihat keindahan alam di sekitar hotel dari kaca kamarnya. Tatapannya seolah menerawang, entah mengapa dia tiba tiba jadi teringat dengan bayangan wanita yang duduk disebelahnya tadi, dengan bau khas parpum yang masih jelas terasa di indra penciumannya masih sangat terasa. "Ken, apa kamu benar benar mau istirahat? apa kamu tidak ingin jalan jalan dulu mumpug cuacanya mendukung nih," ucap Rey yang mencoba bersikap manis berbicara dengan Kenzie. "Kalau kalian mau pergi jalan jalan, pergilah dulu, nanti akan aku susul. Rey, apa kamu sudah menyiapkan bahan untuk nanti malam?" ucap Ken kemudian teringat nanti malam ada pertemuan penting dengan rekan bisnis Titan Grup. "Tenang ken, semua bahannya sudah beres. Dan soal nanti malam, Tuan Takashi juga mengundang kita untuk berpesta ke club hotel ini ken," ucap Rey kemudian mengingatkan. "Okey, kita harus manfaatkan waktu kita pergi kesini, Tuan Takasasi termasuk orang penting di sini. Dia juga memegang beberapa bursa perdangangan di Jepang. Kita tidak boleh menghiraukan undangannya nanti malam," sahut Ken kemudian tanpa menoleh ke arah Rey. "Tentu saja Ken, semoga semuanya bisa berjalan semuai rencana kita. Jadi bukan hanya bisa refresing disini, tapi kita bisa menambahkan nilai plus untuk Titan Grup," ucap Rey dengan semangat sambil menoleh mengamati Johan. Terlihat Johan di dekat bed nya sedang mengamati koper di depannya. Dia tampak asing dengan koper ini. Kalau dilihat dari warna dan bentuknya memang hampir sama dengan kopernya, tapi koper ini sebenarnya berbeda. "Jo, kamu sedang apa?" tanya Ken kemudian yang melihat Johan terlihat sibuk dengan kopernya. "Rey, koper ini sepertinya bukan koperku!" ucap Johan dengan nada frustasi. Kenzie dan Rey pun kemudian menoleh ke arah Johan hampir bersamaan. Pandangan mereka pun kemudian beralih ke koper di belakang Johan. "Bagaimana bisa Jo? biasanya kamu orang yang paling perfect soal barang barang!" ucap rey menanggapi. "Sepertinya tertukar oleh orang yang menabrakmu tadi. Seingatku dia juga membawa koper dengan warna senada!" Johan mencoaba mengingat kejadian yang terjadi tadi di bandara. "Kalau begitu, tiket pesawat dan koper memang salah dengan punyanya? apa ini kebetulan? atau memang dia sengaja menukar tiket dan koper punya kamu Jo?" ucap Rey mencoba menganalisis apa yang terjadi. "Menurutku sekarang dia juga ada di kota ini!" sahut Ken kemudian. "Bagaimana kamu bisa yakin Ken?" tanya Johan menanggapi. "Wanita di pesawat itu pasti dia," lanjut Ken kemudian. "Ya, aku juga melihatnya, tapi aku tidak yakin sebelumnya. Aku melihatnya keluar dari pesawat itu. Kenapa kamu tidak teliti dulu koperku Rey saat membawanya? Ada data pentingku di dalamnya! bagaimana kalau sampai hilang!" ucap Johan kesal. "Ya maaf Jo, aku kira juga sudah benar kopermu. Warna dan bentuknya juga hampir sama kan!" ucap Rey merasa bersalah. "Menurutku dia tidak sengaja! Kalau dia berniat mengambil koper Jo dan mengambil barang di dalamnya, dia tidak akan ikut naik ke pesawat itu!" ucap Ken kemudian. "Benar juga Jo, kalau dia ada dikota ini juga harapan koper dan barang berhargamu bisa kembali," ucap Ken mencoba membuat Johan tenang. "Mana kunci kamarnya," ucap Ken kemudian meminta Rey kunci kamar tadi. Rey kemudian memberikan kunci kamar tadi kepada Ken. Ken kemudian melepon seseorang untuk tetap membiarkan jika ada orang yang memasuki kamar itu. Johan dan Rey pun hanya memperhatikan Ken kemudian saling menatap bergantian. "Jadi kamu biarkan orang itu tetap masuk ke kamar itu Ken?" tanya Johan kemudian. "Kalau kamu mau kopermu kembali, paling tidak kamu harus bisa bertemu dengannya lagi kan? kalau kamar itu di block, dan dia pergi bagaimana kita bisa melacaknya kalau kita tidak tau tentang orang itu." ucap Ken kemudian sambil menatap ke pemandangan luar kaca. "Biar aku suruh orang untuk membuka koper itu dengan paksa. Siapa tau kita bisa menemukan petunjuk dari dalam koper itu jika koper itu tidak prank!" ucap Rey kemudian. "Idemu bagus juga Rey, cepat kamu cari orangnya. Kalau itu punya perempuan paling tidak ada bra dan cd yang bisa kamu gunakan untuk hiburan," ucap johan menggoda Rey. "Siap Jo," ucap Rey dengan lega, paling tidak Johan tidak menyalahkannya soal kopernya yang hilang. Rey pun kemudian menghubungi seseorang dari pihak hotel, dan tak lama kemudian datanglah seorang lelaki yang masuk membawa beberapa perlengkapan untuk membuka koper itu. Tak butuh waktu lama untuk membuka koper itu. Setelah koper bisa terbuka, laki laki itupun kemudian keluar dari kamar itu. "Benar sekali Jo katamu, koper ini memang memang milik seorang gadis. Liat gaya bra dan celana dalamnya. Warna warni," celoteh Rey sambil mengeluarkan isi koper itu satu persatu sambil tersenyum renyah. "Sepertinya deritaku menjadi sumber inspirasimu nanti malam Rey," ledek Johan yang melihat Rey sangat senang membuka isi koper itu satu persatu. Ken kemudian ikut mengambil pouch di dalam koper itu, dia kemudian melihat isi dari pouch itu dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalamnya. "Tiga ratus dolar dan dua kartu debit. Artinya dia memang tidak sengaja bukan? mana mungkin dia mengambil koper dan menggantinya dengan koper berisi uang dan atm miliknya disini. Dan lihat ini, sepertinya ini adalah pasport miliknya, tanpa ini dia tidak bisa pergi jauh dari sini," ucap ken kemudian menunjukkan pasrport yang dia pegang. "Benar juga Ken katamu. Rey, lebih baik kamu rapikan isi koper ini. Kalau dia mengembalikan koperku, bukankah kita juga harus mengembalikan koper ini. Ken, apa ada nomor handphone yang bisa menjadikan petunjuk?" ucap Johan kembali mencoba siapa tau dewi fortuna masih berpihak padanya. "Hanya ada nomor ini, coba saja kamu hubungi kalau bisa. Tapi ini nomor indonesia." ucap ken memberikan kartu nama yang ada di pouch itu. "Okey, aku coba hubungi, siapa tau aku bisa mendapatkan petunjuk dari nomor ini," ucap Johan kemudian mencoba menghubungi nomor di kartu nama itu. Kenzie kemudian membuka pasport yang ada di tangannya. Dia mengamati foto dan nama yang tertera di dalamnya. "Zasmin Ufaira?" ucapnya lirih seolah tak asing dengan nama itu. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD