Rey berjalan dengan langkah ragu dan berjalan dibelakang Kenzie dan Johan. Dalam pikirannya masih memikirkan tentang keberadaan Janeta yang tiba tiba menghilang dari pesawat.
"Kalau itu Janeta? tidak mungkin dia pergi duluan?" gumam Rey pelan tapi masih terdengar oleh Johan yang ada didepannya.
"Kalu kamu masih ingin mencarinya kamu cari dulu saja Rey. Biar kita duluan, lagian kamu sudah tahu hotelnya kan?" ucap Johan yang dari tadi melihat Rey seperti orang yang kebingungan.
"Bukan seperti itu Jo, aku hanya tidak percaya saja. Kenapa Janeta tiba tiba menghilang? Bagaimanapun, keselamatan Janeta adalah tanggungjawab kita kan Ken?" ucap Rey kemudian ke arah Ken yang juga melirik ke arahnya.
"Tunggu sebentar, ini Tuan Leon meneleponku. Bagaimana kalau dian menanyakan Janeta? dan mengetahui kalau Janeta tidak bersama kita sekarang?" ucap Rey kemudian mengeluarkan ponselnya yang tadi berbunyi karena mendapat panggilan dari Tuan Leonard, ayah janetta.
"Sudah, kamu terima saja dulu, tidak usah memikirkan macam macam," ucap Johan yang melihat Rey masih memegang ponselnya saja.
"Hallo Tuan Leon?" ucap Rey kemudian mengangkat telepon itu.
"Hallo Rey, apa kalian sudah sampai di Jepang?" tanya Tuan Leon dari balik telepon.
"Iya Tuan Leon," jawab Rey singkat sambil menatap Johan dan Kenzie yang masih memperhatikannya.
"Kalau boleh tahu, apa ya nama hotel tempat kalian menginap? Besok, Janeta akan menyusul dengan penerbangan pertama," ucap Tuan Leon kemudian yang membuat Rey kebingungan.
"Apa? Janeta akan menyusul?" ucap Rey dengan suara kagetnya seolah tidak percaya. Tatapan matanya kemudian seolah menanyakan banyak pertanyaan kepada Johan dan Kenzie.
"Iya Rey, apa kamu bisa membantu? Janeta dari tadi terlihat kecewa karena tertinggal dengan rombongan kalian. Dia bilang tiket yang dia bawa salah," ucap Tuan Leon menambahkan.
"Salah bagaimana maksudnya?" ucap Rey ragu.
"Tiket yang dia bawa adalah tiket ke Swiss bukan ke Jepang. Dan dia tidak bisa membeli tiket ke Jepang karena itu adalah penerbangan terakhir ke Jepang. Dan untuk tiket ada lagi baru besok," Tuan Leon menerangkan dengan detail seperti apa yang di ceritakan Janeta padanya tadi melalui telepon.
"Saya tidak tahu bagaimana tiketnya bisa ke Swiss Tuan Leon, karena setahu saya semua tiket bertujuan ke Jepang. Mungkin ada kesalahpahaman. Tapi untuk alamat hotelnya nanti saya akan kirimkan. Tapi mungkin kami akan berpindah tempat kalau pertemuan kita dengan klien sudah selesai," balas Rey dengan nada sopan.
"Sebenarnya saya juga khawatir dengan Janeta, tapi dia bersikeras mau menyusul," ucap Tuan Leon kemudian dengan menghempaskan nafasnya kuat.
"Kalau Tuan Leon khawatir, lebih baik Jangan dibiarkan menyusul, nanti Tuan Leon malah jadi khawatir soal keadaan Janeta," ucap Rey mencoba memberi masukan.
"Janeta itu mempunyai pendirian kuat. Jadi, kalau dia sudah kekeh ingin ikut, tidak ada yang bisa menahannya. Apalagi ini berkaitan dengan perasaannya. Tadi, sebenarnya saya mau menghubungi Kenzie untuk menitipkan Janeta, tapi teleponnya tidak diangkat. Pasti baru sibuk," ucap Tuan Leon kemudian.
"Oh, iya Tuan Leon, Kenzie baru sibuk sekali. Kalau begitu, besok saya akan kirim alamat hotelnya jika Janeta jadi menyusul. Sudah begitu saja Tuan Leon?" ucap Rey kemudian ingin mengakhiri teleponnya. Paling tidak Rey menjadi sedikit lega karena sekarang dia tidak kepikiran dengan Janeta yang mungkin ketinggalan.
Tapi, di dalam pikirannya kembali berfikir keras, "Lalu siapa gadis yang duduk di sebelah Ken tadi? bagaimana bisa dia duduk disana kalau dia tidak punya kuncinya," gumam Rey sendiri setelah mematika teleponnya tadi.
"Rey, kenapa kamu jadi melamun seperti ini?" ucap Johan kemudian menepuk punggung Rey yang masih terdiam.
"Ken? gadis yang aku lihat duduk disamping tadi, ternyata dia bukan Janeta. Apa benar benar kamu tidak melihat orangnya? bagaimana bisa? Katanya tiketnya salah, padahal aku yakin aku sudah mengecek semuanya dengan benar, tidak mungkin salah semua tiket yang aku beli semua ke Jepang," ucap Rey kemudian sambil terlihat sedang berfikir keras.
"Aku tidak melihatnya, hanya saja aku seperti tidak asing dengan bau parfum yang dia pakai," Ken akhirnya mengeluarkan kata katanya sambil berjalan membalikkan badannya untuk meneruskan perjalannya.
"Jo, kamu tidak menukar tiket Janeta hanya karena tidak ingin dia ikut bersama kita kan Jo?" tanya Rey menyelidik mendekati Johan.
"Rey, apa kamu baru mengenalku kemaren? Walaupun aku memang tidak suka dengan Janeta, tapi aku juga tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Sudahlah, aku tidak mau memikirkan hal itu lagi. Kalau kamu masih mau memikirkannya, kamu pikirin dulu sendiri. Biar aku dan Ken ke hotel lebih dahulu, Okey?" ucap Johan kemudian berlari kecil mensejajarkan langkahnya di depan Rey.
"Tunggu Ken, Jo," ucap Rey yang kemudian menyusul mereka berdua yang sudah berjalan lebih dulu.
**
"Kemana dompet dan handphone ku?" ucap Zasmin tampak kebingungan ketika menyadari handphone dan dompetnya sudah tidak ada pada dirinya.
"Kalau tidak ada handphone, bagaimana aku bisa mengubungi Hanna? Arggg.." ucap Zasmin tampak frustasi.
"Untung saja di koper ini, aku masih menyimpan beberapa lembar uang. Semoga saja masih cukup untuk bertahan sampai nanti aku kembali dengan tiket ini," ucap Zasmin berusaha membuat dirinya kembali tenang.
Kali ini, Zasmin hanya bisa duduk menyendiri pada sebuah kursi tunggu. Dia berfikir, bagaimana kali ini dia akan bisa bertahan dan tinggal di tempat ini seorang diri tanpa ada yang kenal.
"Ariel Mahesta,, kamu dimana? apa kamu masih terlalu sibuk untuk menjemputku disini?" ucap Zasmin kemudian tampak sedih.
Kali ini, pikiran Zasmin seolah melayang memikirkan hubungannya dengan Ariel Mahesta, yang kini telah menjadi pacarnya. Dulu, Ariel sangat perhatian dan baik kepada Zasmin. Tapi entah mengapa, sikap Ariel selama dua tahun ini seperti telah berubah. Ariel sekarang seolah sangat cuek dan tidak perduli dengan Zasmin. Dia seolah lebih mementingkan semua pekerjaannya dari pada Zasmin sendiri. Tapi Zasmin tetap berusaha untuk memahami Ariel. Dia merasa tidak boleh egois. Dia harus mencoba berfikir positif, kalau Ariel seperti itu pasti karena juga untuk kebaikannya kelak. Saat ini, Ariel juga adalah anak laki laki yang telah di beri amanat untuk mengurus perusahaan keluarganya.
Dalam liburannya kali ini, Zasmin sengaja di beri hadiah tiket liburan ke Swiss oleh Hanna, sekretaris Ariel untuk menyusul Ariel yang sedang ada pekerjaan di Swiss untuk beberapa hari. Hanna hanya ingin memberi kejutan kepada Ariel dengan kedatangan Zasmin ke Swiss dan dan menyusulnya akan menjadi hadiah ulang tahun yang sangat berkesan untuk Ariel. Tapi kenyataannya, Zasmin kali ini malah pergi ke Jepang karena tiketnya telah tertukar saat dia terjatuh tadi.
"Apa aku ke hotel ini saja ya? Mungkin Ariel sudah menungguku di sana." ucap Zasmin lirih bermonolog kepada dirinya sambil melihat ke arah tiket kamar hotel yang ada di tangannya.
**
Sesampainya di hotel, Rey dengan buru buru menuju kamar yang telah dia pesan untuk Janeta. Kali ini, dia sangat penasaran siapa orang yang telah mengambil tiket yang sudah dia siapkan itu sehingga Rey dianggap tidak teliti dalam membeli tiket pesawat itu oleh Tuan Leon.
"Rey, kenapa kenapa kamu jadi gerak cepat seperti itu?" ucap Johan yang melihat Rey tidak seperti biasanya.
"Aku ingin tau siapa orang itu Jo. Orang yang telah mengambil tiket Janeta. Bagaimanapun, dia harus bertanggung jawab. Aku sudah teliti sebelumnya!" ucap Rey dengan nada kesal sambil terus berjalan menuju kamar itu.
"Memangnya kalau dia benar benar datang dan ada didalam kamar, apa yang akan kamu lakukan Rey?" tanya Johan kemudian.
"Lihat saja nanti! aku akan usir dia. Siapa suruh berani beraninya mengambil barang milikku sehingga membuat aku malu dan dianggap tidak teliti!" sahut Rey dengan raut muka yang terlihat masih sebal.