4. Seseorang disampingnya

1337 Words
"Jo, dimana Janeta?" tanya Rey yang menatap ke arah Johan karena masuk sendiri ke dalam pesawat. "Tadi dia dibelakangku, sebentar lagi juga menyusul. Siapa suruh pake high heels setinggi itu di tempat seperti ini." ucap Johan dengan suara es nya. "Ya sudahlah, namanya juga wanita. Nanti juga datang, mana mungkin dia mau kehilangan kesempatan dekat dengan Ken," ucap Rey yang kemudian berdiri dari tempat duduknya sambil tertawa kecil melirik ke arah Ken. "Tidak usah disusul, nanti dia besar kepala!" ucap Johan menahan Rey yang akan beranjak dari tempat duduknya. "Siapa yang mau menyusul, aku mau ketoilet. Apa kamu mau ikut?" Sahut Rey dengan kedipan genitnya menggoda Johan. "Hemm siapa juga yang mau ikut. Aku ngantuk, lebih baik aku tidur di sini," ucap Johan kemudian duduk dan memejamkan matanya dengan tenang. Tak lama kemudian saat Rey perhi ke kamar mandi dan Johan memejamkan matanya di kursi duduknya, gadis berambut panjang bernama Zasmin Ufaira itu melewatinya. Dia kemudian duduk di kursi yang tertera sesuai tiket yang dia bawa. "Laki laki ini? Bagaimana bisa kebetulan seperti ini?" gumam Zasmin sambil melihat ke arah Ken yang sedang duduk terlihat cuek sambil memejamkan matanya. Kenzie saat ini menggunakan headset di telinganya. Tadinya gadis itu agak ragu saat mau duduk, tapi karena sudah terlanjur masuk pesawat dan mengikuti petunjuk nomor kursi ditiketnya, diapun akhirnya duduk. Tapi karena merasa canggung, akhirnya Zasmin memutuskan untuk memakai jaket, kacamata dan masker untuk menutupi wajahnya dari Ken yang duduk disebelahnya. Zasmin juga mengunakan headset dan mengalihkan wajahnya dari Ken. "Bau parfum ini, kenapa seperti tidak asing? apa Janeta juga memakai parfum ini?" desis Rey yang merasakan wangi parfum Zasmin yang duduk disebelahnya. Ken tadi sebenarnya merasakan seseorang yang duduk disampingnya, tapi dia hanya bersikap cuek karena sudah bisa menebak orang itu adalah Janeta. Orang yang sudah dikasih Rey tempat duduk tiket pesawat disebelahnya. Dia hanya meneruskan diam sambil berpura pura memejamkan matanya agar Janeta tidak mengganggunya selama diperjalanan. Jika dia tidak memejamkan matanya, bisa dipastikan kalau Janeta pasti akan terus mengusiknya. "Jo, Janeta sudah lama datangnya?" ucap Rey yang kemudian duduk ditempat duduknya kepada Johan. "Aku nggak tahu. Kalau penasaran mending kamu kedepan tanya sendiri. Aku ngantuk, mau tidur dulu!" ucap Johan menanggapi tanpa membuka matanya. "Nggak ah, biarkan saja mereka berdua. Aku tidak mau mengganggu," ucap Rey sambil tersenyum usil memperhatikan kepala Ken dan Zasmin yang dia anggap adalah Janeta yang hanya terlihat sedikit dari kursi duduknya. ** "Mbak, berapapun aku bayar asal aku bisa naik pesawat ke Jepang saat ini juga!" bentak Janetta ke petugas jaga pintu masuk keberangkatan. "Maaf Mbak, untuk penerbangan ke Jepang hari ini sudah full semua. Ada lagi besok Mbak." jawab petugas itu mencoba untuk bersikap tetap sopan kepada Janeta. "Saya mau sekarang! bukan besok! mengerti!" sahut Janeta masih dengan nada kesalnya. "Maaf Mbak, untuk hari ini sudah habis. Kamoi mohon maaf!" ucap petugas jaga itu kemudian. "Saya itu sudah punya tiket pesawatnya, tapi bagaimana bisa malah berubah menjadi ke Swis!" ucap Janeta kembali menambahnya. "Kalau itu saya kurang tahu Mbak. Kami hanya mengecek sesuai tiket yang dibawa." jawab petugas jaga itu kembali. "Berarti ada seseorang menukar tiket saya! Saya ingin melihat siapa yang duduk di kursi tiket saya!" ucap Janeta kembali. "Berapa kode kursi tempat duduk Mbak?" ucap petugas itu lagi. "Duch, Mbak ini kebanyakan tanya! Ya Saya nggak tahu. Saya sudah dibelikan tiket oleh orang suruhan kekasih saya. Tapi karena saya belum membuka tiket itu ya saya tidak tahu. Sekarang coba cek saja, penumpang atas nama Kenxie Theo Tristan ada di dalam pesawat itu kan Mbak? Itu nama kekaksih saya!" ucap Janeta dengan nada yang menggebu. "Maaf Mbak, itu privasi, kami tidak bisa memberikan data penumpang," jawab petugas itu kembali mencoba meminta maaf kepada Janeta. "Apa Mbak tidak kenal Pengusaha Leonard? saya ini anaknya lho! Saya bisa saja memborong tiket seluruh pesawat itu!" ucap Janeta dengan nada kesal. "Maaf Mbak, tiket yang sudah terjual tidak bisa dibeli oleh siapun. Kalau Mbak mau membeli semua tiket satu pesawat, mungkin Mbak bisa membelinya untuk hari berikutnya." jawab petugas itu sambil menundukkan kepalanya meminta maaf. "Kamu!" ucap Janeta merasa kesal. "Beraninya kamu. Lihat saja nanti!" ucap Janeta kemudian dengan sebal menunjukkan muka sebalnya. Dia kemudian melangkahkan kakiknya meninggalkan petugas itu. Dia berniat menunghubungi ayahnya untuk melaporkan kejadian yang dia alami di bandara. Dia ingin ayahnya untuk menghubungi Ken agar mau membantu merayu Ken untuk dekat dengan dirinya. ** Setelah delapan jam berlalu, pesawat kemudian sampai ke jepang. Zasmin yang tidak bisa tenang selama perjalanan karena berada di dekat Ken, akhirnya memilih paling awal untuk menuju pintu keluar. Johan yang baru saja terbangun dari tidurnya, sempat sekilas saat Zasmin melewati kursinya berjalan kebelakang. "Rey, bangun! apa kamu melihatnya? Bukankah dia gadis yang menabrakmu di bandara? aku kira tadi dia buru buru karena menuju pesawat keberangkatan ke Swiss," ucap Johan pada Rey yang ikut tertidur di sebelahnya. "Apa sudah sampai?" tanya Rey yang belum sepenuhnya pulih terbangun. "Belum, nggak jadi terbang, pesawatnya ngambek!" jawab Johan asal asalan sambil merapikan bajunya karena tadi tertidur di kursi duduknya. "Jo, kamu jangan bercanda, ini sudah sampai jepang kan? Akhirnya aku bisa ke sini juga," ucap Rey yang terlihat senang melihat pemandangan kota Jepang dari jendela pesawat. "Ya ya ya, ayo cepat kamu keluar. Itu Ken sudah berjalan kebelakang," ucap Jo kepada Rey yang masih terbengong menikmati pemandangan dari dalam pesawat. "Iya Jo, ini juga sudah mau berdiri," ucap Rey yang kemudian sibuk mengelilingkan pandangannya mencari sosok Janeta yang tidak dia temukan. "Ken, Janeta mana? bukankah tadi dia disebelahmu? kenapa dia sekarang tidak ada?" tanya Rey yang tampak penasaran. "Sepertinya dia sudah keluar tadi, apa kamu tidak melihatnya?" jawab Ken menanggapi dengan nada cuek. "Jo, kamu melihat tidak?" tanya Rey menatap ke arah Johan. "Lha kamu lihat nggak? kita kan cuma sebelahan. Kalau kamu tidak lihat, aku juga nggak lihat," jawab Johan agak kesal. "Aku tadi tertidur Jo," sahut Rey kemudian dengan nada manjanya. "Aku tadi juga tertidur, tapi tadi aku sepertinya hanya melihat gadis yang menabrakmu saja yang pertama lewat," sahut Johan sambil mengambil barangnya dari lemari atas tempat duduknya. "Maksudmu gadis yang Kenzie pangku?" ulang Rey mencoba menanggapi. "Aku tidak memangkunya, dia terjatuh di depanku," sahut Kenzie yang ikut mendengar pembicaraan Rey dan Johan menyangkut dirinya. "Iya sama saja kan. Tapi aku kira dia tadi buru buru karena mengejar keberangkatan ke Swiss? kenapa bisa di pesawat ini?" Rey mencoba mengingat kejadian saat Zasmin buru buru pergi ke arah pintu masuk keberangkatan pesawat ke Swiss. "Aku tadi juga berfirkiran seperti itu," sahut johan kemudian. "Ken, Janeta tadi benar disebelahmu kan?" tanya Rey agak ragu ke arah Kenzie. "Ya tadi ada yang duduk disebelahku. Tapi aku tidak memperhatikannya. Kalau bukan Janeta siapa lagi? Kamu pasti sudah mengatur tempat duduknya di sebelahku kan?" ucap Ken dengan suara dingin. "Hehe, dia kan ngefans nya sama kamu Ken. Kalau aku buat disebelahku apa dia mau?" ucap Rey dengan tertawa kecil yang renyah. Kenzie hanya menoleh dan menatap Rey dengan mata elangnya. Rey yang melihat ke arah Kenzie pun menghentikan tertawanya karena takut dengan tatapan elang Kenzie. "Maksud aku, dia pasti akan menggoda kamu terus kan Ken kalau ada kamu. Dia tidak akan berhenti mengajakmu ngobrol. Tapi, kalau katamu tadi kamu dan dia hanya saling diam, apa itu bisa? Apa itu benar benar seoarang Janeta?" ucap Rey kemudian. "Maksud kamu? dia orang lain? Apa dia adalah gadis yang aku lihat tadi?" Johan menanggapi dengan serius. "Maybe, karena menurutku seseorang seperti Janeta tidak akan terdiam saat bersama dengan seorang Kenzie Theo Tristan," sahut Rey menambahkan. "Kalau dia gadis itu, berarti Janeta tidak ikut bersama kita." ucap Johan kemudian menyimpulkan. "Sudah, tidak usah dibahas. Lebih baik kita segera ke hotel untuk beristirahat. Tidak usah membahas hal yang tidak penting!" ucap Ken melangkahkan kakinya terlebih dahulu. "Apa Janeta kita tinggal lagi Ken?" tanya Rey agak ragu. "Bukankah dia membawa tiket kamar hotel? Kalau dia Janeta, dia juga bisa sampai sendiri ke hotel itu. Tapi kalau dia orang lain, nanti kita akan tahu siapa dia saat di hotel," ucap Ken terus melangkahkan kakinya. Rey dan johan pun akhirnya ikut mengikuti Ken yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD