bc

Terjebak debt Collector

book_age16+
27
FOLLOW
1K
READ
love after marriage
second chance
scandal
goodgirl
badgirl
sensitive
bxg
first love
tortured
selfish
like
intro-logo
Blurb

Gagal dipernikahanku yang pertama menjadikan aku janda tanpa rahim. Menikah kembali demi membayar hutang ayahku bisakah aku mempertahankan pernikahan ini?

"Hanya karena aku meminjamkan kamar mandi dalam ini padamu bukan berarti aku mau tidur denganmu!" Dimas murka melempar semua barang-barangku yang ku tata didalam lemari.

"Tapi aku kan istrimu mas."

Dia mencekram wajahku erat-erat, "Kamu hanya istri diatas surat nikah untuk melunasi hutangmu. Bukan berarti menikah hutang ayahmu bisa lunas begitu saja!!!" Dia mengusirku keluar kamar, "Keluarlah! Tidur! Besok kau harus bekerja untuk melunasi hutang ayahmu!!!"

chap-preview
Free preview
Bab 1
"Sah?" "Sah." Ijab kabul itu meresmikan hubungan pernikahanku dengan Dimas. Pria yang mau menikahiku atas dasar hutang yang tak sanggup dibayar oleh ayahku. Diatas altar putih aku mencium tangan yang resmi menjadi suamiku. Bersalaman dengan kedua mertuaku. "Semoga kalian bahagia." "Sakinah mawadah warahmah." Selesai dengan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga tanpa resepsi aku diantar oleh Dimas menuju rumahnya. Betapa tercengangnya aku membuka pintu mobil. Rumah yang jauh lebih besar dari rumah mantan suamiku. "Masuklah biarkan mbok yang membawakan barang-barang mu." Aku menganggukan kepala masuk lebih dulu sementara Dimas masih harus memanggil pelayanannya untuk mengambil barang-barang yang ada di bagasi. "Mulai saat ini kamu akan tinggal disini. Kamu boleh membersihkan diri terlebih dahulu. Sementara aku akan berisitirahat sebentar diruang kerja." "Mari non." Mbok menuntunku menaiki tangga sambil membawa tas barang milikku. "Mbok keberatan? Mau saya bantu bawain?" Mbok menggeleng, "Jangan non entar pak Dimas marahin saya. Lagipula ini sudah tugas saya, sudah sering angkat-angkat barang. Bahkan yang lebih berat daripada ini." "Benarkah?" "Iya non, mari masuk." Mbok membukakan pintu kamarnya. Aku kembali terpukau melihat kamar besar berisi ranjang dengan ukuran king. "Ini kamar saya mbok?" Mbok menganggukan kepalanya, "Pak Dimas menyuruh saya mengantarkan non kemari, tentunya ini kamar non." "Oh ya mbok nama mbok siapa ya? Supaya enak manggilnya gak mbok mbok aja hehehe." Mbok terkekeh kecil, "Nama saya Juniarti, biasanya dipanggil mbok Jun. Non boleh manggil saya dengan sebutan mbok Jun saja." "Oh mbok Jun." "Iya non, ini barang-barangnya saya taruh sini atau langsung ditata non?" Aku segera menggelengkan kepala, "Enggak usah mbok Jun, biar saya saja. Kasihan mbok kecapekan nanti." "Ah non bisa saja. Harusnya saya yang bilang begitu. Soalnya nonkan baru nikah, pasti non kecapekan." Aku lagi-lagi menggelengkan kepala, "Enggak mbok, tadi juga cuma pernikahan kecil-kecilan. Enggak ada capeknya." "Ya sudah kalau gitu tak tinggal dulu. Mbok mau siapin makan malam buat non dan pak Dimas." "Nggih mbok." Mbok menutup pintunya dan turun kebawah. Aku masih berkeliling kamar mengamati setiap sudutnya, "Besar sekali. Rumah sebesar ini dia hidup sendirian? Sangat disayangkan." Aku segera merapikan barang-barangku menatanya didalam lemari, "Ya ampun ini semua baju-bajunya?" Aku terkejut melihat banyak deretan baju yang tertata dilemari. Grek! Aku menggeser beberapa bajunya agar muat menaruh pakaian milikku, "Gapapakan aku menggesernya lagipula kami sudah menikah. Dia pasti membiarkan aku menaruh pakaianku disini." Kemudian aku melihat kembali pelosok kamar, "Disini juga tidak ada lagi lemari yang lainnya." Setelah selesai menata semua pakaian aku beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. "Non!" Tok! Tok! Tok! "Iya mbok." Aku membukakan pintu kamar, "Maaf mbok tadi saya masih dikamar mandi." Aku keluar dengan kondisi rambut masih basah dan hasilnya bagian punggungku lepek terkena air yang belum aku lap sampai kering. "Maaf non, tapi makanannya sudah siap." "Iya mbok sebentar saya turun, oh ya pak Dimas mana ya mbok kenapa enggak naik?" "Pak Dimas sudah duduk dimeja non, biasanya setelah makan malam baru pak Dimas mandi." Aku menganggukkan kepala mengerti, "Ah begitu, Baiklah." Kebiasaan yang aneh dan buruk. Gumamku dalam hati. "Baik non, kalau begitu saya turun dulu. Pak Dimas sudah nunggu non dibawah." "Nggih mbok." Bergegas aku merapikan rambut dan turun menuju meja makan. Dimas menatap heran diriku, "Kenapa gak pakai hijab?" Aku menggaruk tekuk leherku, "Ah rambutku masih basah. Aku habis keramas. Nanti setelah rambutku kering baru aku pakai hijab." "Oh, duduklah." Dimas tampak begitu sopan dan ramah. Ada sedikit nyaman untuk hari pertama ini. Setidaknya tidak ada kesinisan dari raut wajahnya meskipun dia terkesan dingin padaku. "Mau apa kamu?" Tanya Dimas saat aku mengikutinya kekamar. "Kekamar." Aku menunjuk pintu yang ada dibelakangnya." "Oh." Dia seperti mengingat sesuatu yang penting. Aku mengikuti langkahnya masuk kekamar. "Kamu tidur dikamar sebelah!" Dia memberikan bantal dan selimutnya kepadaku. "Eh kenapa?" Tanyaku keheranan. Dia kemudian membuka lemari membuang semua pakaianku dari lemarinya, "Kemas semua pakaian mu dan pindahkan kekamar sebelah." "Kenapa ini? Bukankah kita sudah menikah? Apa kita pisah kamar?" Aku memungut semua pakaianku yang berserakan dilantai. "Kamu kira aku sudi tidur denganmu? Aku hanya menyuruh si mbok membawa mu kemari karena tidak ada kamar mandi lagi. Dibawah hanya ada kamar mandi disamping dapur itu untuk tamu dan pembantu jadi aku masih berbaik hati meminjamkan kamar mandi ini untukmu." Mataku berlinang mendengar perkataannya, "Lalu kenapa kamu mau menikah denganku?" "Tentu saja untuk memenuhi surat perjanjian. Lihatlah ayahmu! Sudah tidak memiliki apapun! Rumah sudahku ambil alih! Sertifikat tanah, rumah semuanya sudah jadi milikku itu karena ayahmu tidak bisa lagi membayar hutangnya padaku!" Aku menangis tersedu-sedu, "Lalu sekarang ayah tinggal dimana?" "Dia? Mana aku tau! Tanyakan saja pada ayahmu!" Brak! Dimas menutup pintu kamarnya. Aku tersentak mendengar perkataannya. Aku segera mengemasi barang-barangku dan membawanya kekamar sebelah. Tut! Tut! Tut! Telepon masih belum tersambung dan aku terus berusaha menghubungi ayah. "Halo nak." "Ayah, sekarang ayah berada dimana?" Buru-buru aku menanyakan keberadaan ayahku setelah mendengar semuanya dari Dimas. "Ayah? Ayah baik-baik saja nak. Sekarang ayah tinggal dirumah ibu. Dipondok lama." Aku sesenggukan membayangkan bagaimana ayahku duduk dilantai semen yang dingin, dinding besek yang terbuat dari anyaman bambu. "Apa ayah baik-baik saja? Kenapa ayah tidak bilang semuanya padaku?!" "Nak sudah ayah katakan ayah baik-baik saja. Ayah senang kamu bisa bahagia disana sama seseorang yang bisa melengkapi kebutuhanmu. Maafkan ayah tidak bisa memberikan yang terbaik buatmu." Tangisku semakin menjadi, "Ayah, Intan yang minta maaf karena tidak bisa memberikan apapun pada ayah. Sebesar ini Intan tidak bisa membahagiakan ayah dihari tua. Maafkan Intan yah," ucapku gemetaran dibalik telepon. "Jangan menangis nak, ayah tidak keberatan lagipula kamu anak bungsu ayah. Sudah jadi tanggung jawab ayah saat kamu belum menikah. Sekarang kamu sudah menikah, kamu harus berbakti pada suamimu bukan pada ayah lagi." "Tapi ayah adalah orang tuaku bagaimana mungkin aku tidak berbakti pada ayah sampai kapanpun aku akan tetap berbakti pada ayah!" Bantahku padanya. "Kamu anak yang baik nak, tapi sekarang Dimas tanggung jawabmu bukan ayah." "Tidak yah! Bagaimanapun juga ayah akan tetap jadi tanggung jawabku juga!" "Nak halo? Nak? Ada apa? Ayah gak bisa dengar." Tut! Telepon ditutup secara sepihak. Aku tau ayah pasti sengaja berpura-pura tidak mendengar perkataanku. "Hiks-hiks" Seandainya dulu aku tidak melakukan kesalahan mungkin hidupku tidak akan seperti ini. Aku benar-benar menyesal pernah berhubungan cinta dengan dia. ** Flashback On ** "Kamu itu egois Intan! Yang kamu pentingin hanya dirimu sendiri! Apa kamu pikir aku hanya berhubungan dengan dirimu saja?! Aku masih punya teman! Punya saudara! Aku juga harus membagi waktu dengan mereka!" "Coba ngertiin aku Tan! Jangan maunya dimengerti aja! Aku juga punya dunia lain selain dirimu!" Tangisku pecah sejadi-jadinya. Aku seperti dicampakkan secara tidak langsung. Entah aku memang terlalu egois, atau perasaanku saja dia hanya mencariku disaat dia merasa kesepian. Dunia terasa mencengkeram saat itu. ** Flashback off **

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook