**Flashback On**
"Apa-apaan ini Tan?! Kamu selingkuh?!"
"Ya ampun bang! Gak ada! Aku gak ada selingkuh! Aku tuh cuma chatingan temenan sama dia enggak ada unsur selingkuh!"
"Kamu gitu ya bukannya jaga hati! Justru mencari kesenangan sama pria lain!"
"Bang aku itu chatingan group online terus dia ngechat ngebahas ini itu ya udah aku tanggapin. Kamu juga sibuk sama dunia kamu sendiri!"
"Intan! Meskipun aku punya dunia lain selain kamu, gak ada tuh ceritanya aku selingkuh cari kesenangan sama wanita lain! Tapi kamu malah kayak gini dibelakang aku! Aku kecewa sama kamu Tan!"
** Flashback off **
Byur!
"Akh!" Pekikku terkejut saat air dingin mengguyur wajahku.
"Humph, Ada apa ini?!" Tanyaku kebingungan saat Dimas berdiri dihadapanku membawa ember.
Dimas menatap garang diriku, "Bangun! Enak-enakan tidur, mau bangun jam berapa?!"
Aku terkesiap dan melihat jam yang ada disampingku, "Ya ampun aku kira udah siang ini baru jam setengah 7." Aku pasti kecapekan dan tertidur setelah sholat subuh. Buktinya aku masih mengenakan mukenah dan tertidur diatas lantai dengan lipatan sajadah yang ada ditanganku.
"Terus kamu mau bangun jam berapa?!"
Aku menundukkan kepala merasa bersalah, "Iya maaf, aku udah bangun bentar lagi turun."
Brak!
Dimas melemparkan pakaian rapi berisi gantungan, "Untuk apa ini mas?" Tanyaku mengangkat pakaian tersebut.
"Setelah mandi pakai itu! Kamu akan kerja!" Dimas berjalan kearah pintu.
"Kerja?"
Mendengar pertanyaanku dia membalikan badannya didepan pintu, "Iya kerja! Sertifikat rumah dan tanah tidak cukup membuat hutang ayahmu! Kamu kira dengan menikahimu hutangnya akan lunas begitu saja?! Jangan harap!"
"Ah ya satu lagi, Kamu bisa melepaskan hijabmu! Karena tempat kerjaku berlaku untuk umum, kebanyakan non muslim dan peraturan ini sudah berlaku sejak dulu."
Brak!
Pintunya ditutup sangat keras olehnya. Aku menghela nafas panjang menatap nasibku saat ini.
"Takdirku sangat buruk, aku tidak tau sampai kapan semua ini harus kujalani."
"Pakaian ini sangat ketat." Aku menurun-nurunkan rok yang panjangnya diatas lutut.
Aku merasa tidak nyaman setelah berhijrah, "Tuhan, aku menutup aurat ku untuk bisa bertahan dan tidak ingin terlihat hina setelah kejadian itu. Namun sekarang aku kembali membuka aurat ku, lindungilah hamba ya Tuhan." Doaku sebelum keluar dari kamar.
Untuknya aku mempunyai stocking dan aku gunakan agar tidak memperlihatkan kakiku secara lebih terbuka. Pakai kaos polo ini setidaknya masih sedikit longgar meskipun terasa tidak nyaman untuk bagian d**a yang terbiasa aku tutupi dengan hijab.
"Aduh Gusti, ayune." Puji mbok saat aku menuruni anak tangga.
Aku tersenyum kecil walaupun dalam benak benar-benar tidak nyaman dengan pakaian yang aku pakai.
"Ekhem!" Dimas berdeham dimeja makan.
Aku segera menghampirinya, mengerti akan kode yang dia berikan. Ini pasti sudah sangat terlambat baginya untuk berangkat.
"Ini non, dimakan dulu sarapannya."
"Matur nuwun mbok." Logat mbok saat berbicara membuatku terbiasa untuk menanggapinya dengan bahasa Jawa.
Aku memang lemah dalam bahasa, terbiasa dengan bahasa Indonesia. Untuk menggunakan bahasa Jawa hanya bisa berbicara dengan kalimat pendek saja. Padahal aku orang Jawa asli.
"Non, mau bawa bekal?" Mbok menawarkan Tupperware padaku yang belum diisi olehnya.
"Boleh mbok." Kebetulan juga aku tidak memilki uang di dompet, setidaknya untuk makan dan minum diluar masih bisa berhemat.
"Ayo berangkat." Dimas mengajakku kegarasi setelah mbok memasukan bekalku ketas.
Aku membuka mobil pintu depan namun Dimas menghentikanku, "Eits! Kamu mau ngapain?" Tanyanya mengenggam tanganku.
"Mau masuk, duduk. Apa ada yang salah?"
"Kamu duduk dikursi belakang!"
Brak!
Dia menutup pintunya. Aku menghembuskan nafas berat berjalan kekursi belakang.
"Dah? Gak ada yang ketinggalan?"
Aku menganggukan kepala setelah mengecek isi tas.
"Kamu akan bekerja di cafe."
"Cafe?!" Pekikku membayangkan situasi cafe pada umumnya.
Dimas melirikku dari kaca depan, "Enjoy tenang saja, cafeku halal tidak ada miras hanya ada kopi."
"Tapi aku tidak bisa bahasa Inggris." Sanggahku.
"It's oke, Ada karyawan lain yang akan menanganinya. Nanti setelah sampai disana kamu akan diarahkan oleh managerku."
Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya. Untuk pertama kalinya aku bekerja, saat lulus SMK aku langsung menikah. Tidak pernah merasakan dunia kerja yang sesungguhnya kecuali saat training dulu itupun dijurusan yang berbeda.
Jika pernikahan yang pertama baru aku rasakan hambatannya saat mertuaku meminta cucu, kini disaat pertama sudah merasakan kejamnya suami.
Dipernikahan pertama akhirnya aku melangkah mundur dan mencoba untuk ikhlas membiarkan mantan suamiku untuk menikahi orang lain. Sekarang aku tidak tau apakah bisa bertahan dipernikahan yang jauh lebih besar tantangannya.
"Turunlah kita sudah sampai!"
Aku melirik kejendela mendapati papan nama bertuliskan, 'Ds.Caffe.'
"Turun! Cepat! Aku sudah terlambat untuk absen kekantor!"
Aku menganggukan kepala membuka pintu mobil.
"Intan!" Panggilnya dari jendela mobil.
Aku menghampirinya dan bertanya, "Iya?"
Dia memberikan map biru padaku, "Bawa ini, temui manager. Jika karyawan lain bertanya katakan bahwa kamu sudah memiliki janji untuk bertemu dengannya!"
Aku menganggukan kepala mengerti mengenai arahannya.
Dimas kemudian memutarkan mobilnya dan melaju pergi meninggalkan yang masih berdiri didepan pintu.
"Bismillahirrahmanirrahim." Aku berjalan memantapkan diri masuk kedalam cafe.
"Selamat datang di Ds.Caffe." sapa karyawan dipintu masuk. Kemudian dia menuntunku menuju kasir. Pikirnya aku adalah seorang pelanggan, "Mau pesan apa?" Tanyanya.
Aku menggeleng dengan senyuman kecil, "Saya kesini untuk bertemu dengan manager."
Dia menatapku, "Maaf, apa sebelumnya anda sudah membuat janji?" Tatapannya semakin tajam dan terlihat sinis.
"Sudah."
Kring!
Bel pintu berbunyi tanda seseorang membuka pintu masuk.
"Intan ya?" Suara baraton dari depan pintu.
Aku membalikkan badan, "Iya pak," jawabku dengan anggukan kecil.
"Maaf saya terlambat, mari ikut keruangan saya." Dia menunjukan ruangan yang tersembunyi dilorong tangga.
Aku menganggukan kepala dan mengangguk kecil pamit kepada karyawan yang tadi.
"Maaf dihari pertama justru kamu sudah melihat kejadian seperti ini."
"Tidak masalah pak," jawabku seadanya.
"Apa kamu punya pengalaman kerja sebelumnya? Terutama bagian cafe? Atau tau sedikit tentang kopi?"
Aku menggelengkan kepala, "Tidak pak. Bisa dikatakan saya fresh graduate."
Dia tertawa kecil, "Hahah kalau fresh graduatekan baru tamat sedangkan usiamu sudah 25 tahun."
Aku tersipu malu menjawabnya, "Iya karena saya tidak ada pengalaman apapun. Jadi bisa dibilang saya orang baru didunia kerja."
"Hahahahah, Baiklah. Kamu akan mengambil bagian waitress. Kamu tau basicnya?"
"Tidak pak."
Pak manager menghela nafas panjang, "Coba kamu berdiri."
Aku menuruti perintahnya untuk berdiri.
"Jadi seandainya saya adalah pelanggan yang baru masuk bagaimana caramu menyambut saya?"
Aku mereka ulang karyawan tadi menyambutku didepan pintu, "Selamat datang di Ds.Cafe."
Prok! Prok! Prok!
"Bagus! Kamu udah punya modal awal yang bagus. Hahaha ternyata kamu cukup pandai juga. Cepat belajar dan tanggapnya. Tidak salah pak Dimas memberikan pekerjaan ini kekamu."
Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya terutama bagian dia menyebutkan nama Dimas. Yang jelas dia sudah tau aku adalah suruhan Dimas tapi masih butuh tes lagi untuk diterima kerja. Ah berat banget jalaninnya.
"Baiklah untuk selanjutnya kamu akan belajar sama karyawan yang ada didepan."
"Terima kasih pak." Aku membungkukkan badan sebelum pergi keluar ruangan.
Rasanya aku didalam hanya sekitar 25 menitan tapi pelanggan yang berdatangan sudah cukup ramai.
"Hey! Kamu! Sini!" Panggil karyawan yang tadi menyambutku.
"Maaf," ujarku malu-malu karena sempat tidak mendengar panggilannya.
"Jadi kamu karyawan baru disini?" Tanyanya mengintrogasi.
"Iya."
Dia menganggukan kepala mengerti, "Kalau begitu taruh tasmu disana. Dan tolong antarkan ini ke meja 6 yang ada disudut ruangan itu!" Dia menunjuk kearah sudut kanan dari pintu masuk dekat jendela.
"Oke, eh by the way boleh aku tau namamu? Supaya enak manggilnya." Tanyaku padanya yang justru kudapatkan adalah tatapan terintimidasi.
"Aku Nita, senang berkenalan denganmu." Dia tersenyum menjabatkan tangannya padaku.
"Intan. Senang juga berkenalan denganmu."
"Sudah buruan orangnya pasti udah nungguin pesanannya sejak tadi."
"Uhm iya." Aku berjalan mendekati meja 6 membawa nampan yang berisi pesanannya.
Aku menaruh perlahan secangkir mocca panas dan sepiring potongan cheesecake, "Silahkan dinikmati hidangannya tuan."
"Terima kasih."
Aku tersenyum menganggukan kepala dan berbalik kembali menghampiri Nita.
** Flashback on **
"Kamu kerja bang?"
"Heheh iya."
"Aku baru tau kamu kerja."
"Sebenarnya ini pekerjaan sampingan."
Aku tau dia pasti kerja untuk membelikan hadiah anniversary. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat pengorbanan yang dia lakukan.
"Semangat ya bang kerjanya."
"Iya makasih ya. Aku off dulu udah selesai jam istirahatnya."
"Iya bang."
Rasanya aku jadi wanita terbahagia di dunia. Jauh sebelum semua rasa sakit itu tiba menghancurkan seluruh hidupku. Menghancurkan semua masa depanku.
** Flashback off **