Bab 3

1341 Words
"Gimana kerjanya menyenangkan?" Tanya Dimas saat aku baru saja duduk dijok belakang. Jam kerjaku sudah selesai dan aku kini akan pulang yang tak kusangka ternyata Dimas mengantar jemput diriku. "Iya lumayan," jawabku disertai senyuman kecil. Aku mengarahkan pandanganku kejendela melihat para pengendara yang berlalu lalang. "Baguslah. Aku udah mengatakan pada manager bahwa kamu hanya akan bekerja di shift pagi." Akupun bertanya, "Apakah disana cafe buka sampai malam?" Dia menganggukan kepalanya, "Iya, cafeku buka sampai jam 9 malam saja. Sudah kukatakan sebelumnya cafeku halal tidak ada club atau minuman keras disana." Aku tersenyum tipis menganggukan kepala mengerti. Kemudian aku teringat sesuatu, "Apa aku akan mendapatkan upah? Bayaran atas jasa kerjaku." Dia melihatku dari kaca depan, "Gaji?" "Iya bukankah aku sudah bekerja apa aku tidak layak untuk mendapatkannya?" Dia menggelengkan kepalanya seraya membelokkan setir mobil, "Tidak, gaji pokok mu akan dipotong sepenuhnya untuk membayar bunga hutang ayahmu." Aku menghela nafas pasrah mendengarnya. "Tapi untuk uang tips yang kamu dapatkan, kamu bisa menyimpannya." "Apa aku juga tidak mendapatkan uang nafkah darimu?" Dia tertawa terbahak-bahak, "Nafkah? Kamu sudah mendapatkan tempat tinggal yang nyaman dan makanan yang mewah untuk setiap harinya. Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga, sudah ada si mbok yang melakukannya. Dan kamu masih ingin meminta nafkah dariku?" Aku memejamkan mata menerima semua kenyataan yang menghantam diriku, "Kalau begitu biarkan aku mengurus rumah." Dia semakin tertawa seakan-akan aku sedang membuat lelucon, "Kamu saja tadi bangun kesiangan. Harus dibangunkan baru kamu mau bangun dan kamu ingin mengurus rumah? Cih! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dirimu jadinya." "Acara pernikahan sederhana bahkan bisa dibilang kecil-kecilan saja membuatmu kelelahan, lalu bagaimana bisa kamu berargumentasi untuk mengurus rumah? Yang jelas-jelas itu akan sangat melelahkan ditambah kamu harus berkerja untukku." Jika dipikir-pikir perkataannya tidak ada yang salah. Sebelumnya aku hanya menjadi IRT untuk mengurus mantan suamiku, tapi sekarang aku harus bekerja. Walaupun ini seperti hanya diputar balikan saja, tapi rasanya aku juga harus menjalankan tanggung jawabku. Mengingat perkataan ayah semalam yang mengatakan bahwa sekarang aku sudah menjadi istri dan suamiku adalah tanggung jawabku. Mengenal Dimas sehari saja aku yakin saat aku tidak memenuhi semua tanggung jawabku, dia akan menginjak seluruh harga diriku. Tentu pekerjaan yang kulakukan tidak akan pernah dihargai olehnya. "Apa seterusnya kamu akan mengantar jemput diriku? Untuk berangkat ketempat kerja?" Tanyaku mengingat sifatnya mungkin saja nanti dia tidak lagi mengantar jemput diriku seperti ini. "Iya jika aku tidak ada kesibukan lain aku akan mengantar jemput dirimu." Aku tersenyum bahagia setidaknya dia masih berbaik hati untuk mau melaksanakan tanggung jawabnya. Tapi kenapa setiap pria yang memenuhi kewajibannya tidak disertai dengan perasaan. Dalam hidup yang aku jalani, pria yang berhubungan denganku seperti itu. Setidaknya ada 3 pria termasuk dengan Dimas. "Mandilah diatas, aku akan keruang kerja." Aku menganggukkan kepala mengikuti perintahnya, "Dia bekerja diluar. Tapi dirumah juga ada ruang kerja. Dia memiliki cafe tapi juga bekerja sebagai rentenir." Ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang Dimas. Tentu saja banyak mengingat kami tidak pernah berhubungan atau berkomunikasi satu sama lain, "Bahkan aku tidak memiliki nomor teleponnya. Hahahha." Aku tertawa betapa bodohnya diriku. Aku sudah selesai mandi tapi tidak ada panggilan dari mbok, "Apa aku terlalu cepat atau memang ada yang aneh?" Aku menuruni anak tangga menuju dapur. Kulihat dapur masih kosong tidak ada kegiatan memasak. Aku berkeliling mencari mbok. Dihalaman depan, halaman belakang, kamar mandi. Tidak kutemui juga keberadaan si mbok. Kemudian aku melihat satu pintu yang tertutup rapat. Perlahan aku membukanya mendapati mbok yang terbaring lemah. "Uhuk-uhuk." Dia terbatuk-batuk ingin mengambil segelas air. Karena melihat dia kesusahan aku berempati untuk membantunya, "Mbok sakit?" Tanyaku setelah dia meminum sedikit air yang kuberikan. Dia menggelengkan kepalanya, "Enggak non, cuma kambuh aja." Aku mengerinyitkan kening bingung. "Biasa non penyakit umur. Mbok udah tua gak muda lagi jadi gampang sakit-sakitan," ujarnya menjelaskan. Aku tersenyum kecil, "Kalau gitu mbok istirahat saja." "Tapi non, mbok harus buatin makan malam buat pak Dimas." Mbok beranjak bangun dari tempat tidurnya. Aku mencegahnya dengan mengatakan, "Biar saya saja mbok. Saya bisa memasak. Mbok istirahat saja." Aku membenarkan posisi bantalnya agar dia dapat istirahat dengan nyaman. "Tapi non ini udah tugas saya. Saya takut pak Dimas nanti marah." "Tenang saja mbok, sayakan istrinya. Mbok istirahat ya. Biar saya yang menyiapkan makan malam. Lagipula saya tidak melakukan pekerjaan apapun sebagai seorang istri. Jadi biarkan saya siapin makan malam untuk suami saya malam ini." Sejenak mbok berpikir, "Iya udah kalau begitu." "Matur nuwun mbok Jun." Aku memeluknya dengan sangat erat. Dia mengelus-elus punggungku, "Harusnya mbok yang bilang makasih karena non mau susah. Mau buatin makan malam gantiin tugasnya mbok." "Ah enggak usah sungkan begitu, lagipula ini memang seharusnya saya melakukan kewajiban sebagai seorang istri." Aku membenarkan posisi mbok untuk beristirahat kembali. "Matur nuwun non," ujar mbok memegang tanganku. "Sama-sama." Aku berjalan kedapur mulai menyiapkan makan malam, "Jadi kita masak apa ya untuk makan malam hari ini?" Aku mulai menggeledah isi dapur, pertama-tama aku mengecek nasi apakah masih ada atau harus memasak lagi. "Sepertinya hanya perlu memasak lauk." Melihat nasi masih banyak didalam magic com. Aku mulai memasak hidangan untuk disajikan diatas meja. "Hum harum, semoga mas Dimas suka sama masakanku." Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu ruangan Dimas, "Mas, masakannya udah jadi." Beberapa saat kemudian Dimas keluar tampak dia seperti orang baru bangun, "Lho kamu? Kemana si mbok?" "Si mbok sakit, jadi aku biarin dia untuk istirahat." Dia menganggukan kepalanya mengerti. Matanya terlihat sipit beberapa garis tidur juga terlihat diwajahnya, "Aku akan kesana setelah mandi." Aku tersenyum menanggapinya. Dia berjalan keatas untuk mandi. Aku menunggu kedatangannya dimeja makan, "Bukankah mbok bilang mas Dimas terbiasa makan setelah mandi? Tapi sekarang dia mandi sebelum makan." Ada rasa senang seperti aku telah merubah sedikit kebiasaan buruknya. "Maaf nunggu lama ya?" Tanyanya menggeser tempat duduknya. "Enggak mas, mau aku siapin makanannya?" Melihat anggukannnya aku mulai menyiapkan piring dan menuangkan nasi untuknya, "Mas mau lauk apa aja?" "Tidak usah biar aku ambil sendiri aja." Aku menyerahkan piringnya dengan senyuman kecil kemudian mengambil piring untuk porsiku sendiri. "Siapa yang masak?" Tanyanya setah memakan sesuap nasi dengan lauk yang aku masak. "Aku mas," jawabku serendah mungkin. Ada rasa takut juga saat dia bertanya demikian. "Apa kamu memasak karena ingin mendapatkan nafkah dariku? Sepertinya kamu wanita yang cukup matre juga. Jangan harap kamu akan mendapatkan nafkah dariku." Dulu saat bersama mantan suamiku, apapun bisa aku minta dengan mudahnya. Sekarang apa yang aku inginkan sepertinya tidak akan dipenuhi. "Kamu butuh les privat memasak," ucapnya setelah mencicipi satu persatu hidangan diatas meja. Ini bukan kali pertama seseorang mengatai masakanku. Dev juga pernah membandingkan masakanku dengan Nadia. Begitu juga dia masa laluku. "Mas mau kemana?" Tanyaku saat melihat dia sudah akan selesai padahal makanannya belum habis. "Aku tidak bisa memakan masakanmu lebih lama lagi. Bisa-bisa aku akan memiliki masalah pencernaan." Bak tersambar petir, dadaku sedikit sesak mendengar perkataannya. "Sekarang mas mau kemana?" Dia mengerutkan keningnya, "Apa itu penting untukmu? Mau aku kemana tidak ada urusannya denganmu. Jangan pernah bertanya kemana aku akan pergi, kamu memang istriku tapi gak punya hak untuk mengatur hidupku." Dadaku semakin sesak dihantam oleh kata-katanya, "Aku hanya bertanya mas, aku enggak ada larang kamu pergi. Aku cuma ingin tau mas pergi kemana." "Mau cari makan!" Hardiknya pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu melihat kepergiannya. ** Flashback on ** "Masakanmu terlalu banyak merica." "Bagaimana mungkin aku numis kangkung pakai lada, aku tidak pernah pakai lada kalau numis sayuran." "Rasanya sedikit pedas kayak lada." Dia meneguk air didalam botolnya. "Itu cabai." "Rasanya seperti lada." Aku hanya bisa pasrah walaupun didalam hati ada rasa kesal dan kecewa. Tak pernah ada yang memuji masakanku iya memang aku bukan wanita yang sempurna. "Ini." Dia memberikan sebuah jaket biru navy padaku. "Apa ini?" Tanyaku membuka packingan jaketnya. "Hadiah anniversary." "Makasih, maaf aku enggak bisa memberikan apapun." Dia memelukku, "Kamu udah memberikan apa yang tidak akan pernah wanita lain berikan padaku. Ini hanya hadiah kecil yang bisa aku berikan padamu." Aku menggelengkan kepala, "Ini hasil kerja kerasmu, makasih udah mau berusaha memberikan jaket ini untukku." Dia tersenyum menatap manik-manikku, "Makasih udah mau jadi kekasihku." Setidaknya aku dapat kebahagian kecil bersamamu. Kebahagian sederhana yang tak akan bisa aku ulang kembali. ** Flashback off **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD