Sekar tertawa terbahak-bahak, mendengar kesimpulan konyol yang terpikirkan oleh wanita tua itu. Ia bahkan sampai tidak enak hati. Karena orang yang sudah memberikan kebaya indah yang ia kenakan itu, sampai harus mencemaskan hal yang tak berarti. “Ya ampun… emangnya aku anak kecil!” ucapnya disela tawanya yang tak tertahankan. “Lagian, yang namanya kecelakaan siapa sih yang mau? Toh, pihak perusahaan bis pariwisata yang disewa keluargamu juga udah dituntut, ‘kan? Nggak mungkin lah, aku nyalahin kamu atas kecelakaan yang juga menghilangkan seluruh keluargamu. Ya mau gimana lagi, kita memang terjebak sama takdir yang lucu ini…” tambah Sekar meracau. “Itu juga yang aku bilang ke Tante Vonnie, lama lho dia nangisnya.” “Hmmm… Kapan-kapan, pas kamu mau ketemu Tante Vonnie. Ajak aku sekali

