19. Sah! Menjadi Pacar Panji

2549 Words
Lama Panji terdiam atas syarat yang terakhir diberikan Sekar, memberikan ruang baru pada lukis wajah Sekar. Ia sempat mengira bahwa Panji keberatan dengan syarat yang terakhir, akar teorinya beralasan, dan Sekar tahu pasti itu. Namun, ia tak ingin hati Panji melangkah lebih dalam kepada dirinya, ia tak ingin merelakan Panji pergi sebelum hasratnya terpenuhi. Jangan sampai gara-gara perasaan Panji misi mereka gagal. Saat ingin menekankan kembali persyaratan terakhir Panji langsung bersuara. “OK! Setuju, aku juga boleh ngajuin syarat?” tanya Panji menatap lekat bola mata Sekar, pancarannya bukan meminta izin melainkan memerintah. “Apa?” tanya Sekar ragu, ia bersedia mundur jika syarat tersebut memberatkannya. Air muka Sekar tak dapat menutupi rasa tidak sukanya pada perkataan Panji, semilir angin sejuk tak dapat menurunkan aliran darah yang langsung melaju deras ke wajah Sekar, membuatnya seketika memerah. Bukan merona namun menahan emosi. Tak pernah ada yang mengajukan syarat balik kepada dirinya, ia sempat merasa terhina. Akan tetapi, setelah menimbang bahwa dirinyalah yang lebih memerlukan, maka ia memilih mendengar persyaratan yang diajukan oleh Panji terlebih dahulu. Bila ternyata syarat tersebut memberatkan dirinya, dengan tak segan ia akan angkat kaki dari tempat itu. Tak memedulikan pramusaji yang baru saja keluar dari tempat pengambilan pesanan, untuk siap diantarakan ke meja mereka. Selain itu, ia juga berpikir akan mengakhiri hubungannya dengan Panji. Sekar yakin, syarat yang diajukan Panji adalah syarat yang menguntungkan bagi Panji. Akan tetapi, sekeras apapun ia memikirkan variabel yang tersuguhkan, seluruh variable tersebut mengacu pada syarat-sayat yang ia ajukan dan semuanya telah disetujui oleh Panji. Ia sangsi, Panji akan mengajukan syarat yang sama. Karena bila seperti itu, maka buat apa ia sudi menawarkan bantuan. ahkan dengan ide konyol, yang tak menguntungkan sama sekali bagi pemuda tersebut. Sekar sudah memutuskan, apapun syarat yang memberatkannya ia akan menolaknya. Masa bodoh akan permainan ini. Sekar lebih memilih kembali menjadi teman bagi Arya dan menyiksa dirinya sendiri, akan hujan rindu yang tak berujung. Bibanding harus menyetujui hal yang tidak ia senangi. “Dan kamu harus menyetujuinya!” sambung Panji kembali, seberkas gelombang harapan Panji yang terpancarkan dari bola matanya berusaha menerobos perisai yang Sekar buat seketika. Ia sudah mengetahui bahwa Sekar bukanlah orang yang dapat menyembunyikan perasaannya. Sekar sangat mudah ditebak. Gadis itu tak pernah menunjukkan basa-basi. Akan tetapi, justru Panji menyukai itu. Terutama akan sifat Sekar yang tak segan menyerang, bagaikan induk singa yang sedang melindungi buah hatinya. “Tergantung…! Aku harus dengar dulu. Kalau memang syarat itu gak memberatkan ya aku nggak masalah!” ucap Sekar cuek. Kemudian membuang mukanya kepada pramusaji yang melangkahkan kaki ke arah mereka, sambil membawa baki kayu coklat kehitaman mengkilat tak menutupi niat baki tersebut untuk unjuk diri. Di atasnya, terisi penuh seluruh pesanan Sekar. Ia sedikit membuang pikiran tentang persyaratan Panji, dengan sedikit mengintip apakah menu yang sangat ia ingin cicipi sudah berada di atas baki tersebut atau belum. Hal tersebut tidak terlalu mustahil, karena posisi mereka sedikit lebih di atas. Serta, jarak sang pramusaji sudah sangat dekat, hanya menyisakan beberapa langkah saja. “Aku bakalan bilang setelah waiternya taro semua pesanan kita ya!” hanya dijawab anggukan pelan oleh Sekar. Ia tak ingin memasang wajah tak terima ataupun wajah lega. Sekar sungguh tak ingin diintimadsi oleh Panji. Ia tak ingin Panji merasa bahwa pemuda tersebut sukses membuatnya penasaran, yang mana sama sekali tidak. “Permisi Kak, berikut pesanannya. Satu set awabi…” ucap pramusaji tersebut. Menyebutkan satu sajian dengan empat buah sushi berisi daging abalone pesanan Sekar, yang langsung disambut Sekar dengan mimik muka ceria. Saat sang pramusaji hendak meletakkannya di atas meja mereka. “Terus, satu set sashimi tuna tataki dan satu set wild salmon...” lanjut pramusaji meletakkannya enam belas potongan daging mentah di hadapan mereka. Kali ini, Panji sumringah mendapatkan menu favoritnya tersedia di hadapannya.  “Kemudian dua set assorted sushi. Masing-masing terdiri dari chuka idako, unagi, red snapper, hokigai dan juga ebi…” kembali meletakkannya ke hadapan mereka. “Dan minumnya, satu gelas cold brew amazake, dan satu botol ginjo!” sang pramusaji menyebutkan menu terakhir mereka. Kini dihadapan mereka, sudah terpampang semua hidangan. Mulai dari sashimi, yaitu potongan hidangan laut mentah. Ada pula sushi yang kerap dianggap sama dengan sashimi. Namun sejatinya sushi, merupakan sekepal nasi yang dihiasi sahsimi di atasnya. Tak tertinggal dua jenis minuman sake. Minuman bermenstasi dari beras khas Jepang, yang terkenal beralkohol. Namun sejatinya, tidak semua sake beralkohol. Sekar memilih cold brew amazake, minuman sake dingin nan manis. Salah satu jenis sake yang tidak beralkohol. Sedangkan Panji, memesan satu botol ginjo. Semacam wine dari Jepang, dengan kadar alkohol rendah. “Mohon dicek kak, apakah pesanannya sudah lengkap?” serampak mereka mengangguk kemudian mengucapkan rasa terima kasih kepada waiter tersebut. “Baik… Kalau begitu saya permisi ya Kak. Jika ingin memesan kembali, tolong tekan tombol ini saja ya Kak… Saya akan segera melayani. Selamat menikmati hidangan dari kami… Domo arigatougozaimas” ucapnya kemudian. Setelah seluruh pesanan mereka sudah lengkap, sambil membungkuk sebagai ucapan terima kasih yang sering dilakukan oleh orang Jepang saat mengucapkan syukur. “So syaratnya apa?” tanya Sekar sambil mengambil sumpit yang sudah tersedia. Lalu menimang-nimang, apa yang harus dimakan terlebih dahulu. Tadinya, ia ingin memakan awabi sushi-nya terlebih dahulu. Namun ia urungkan niatnya. Baginya, harus dari pilihan terbaiklah yang menjadi suapan terakhirnya. Hidangan di hadapannya sungguh menggoda, serta ia tak mampu mendustai kenikmatan itu. Sampai-sampai Sekar harus mengurungkan dirinya untuk beranjak dari tempat itu, jika ternyata syarat yang diajukan Panji adalah hal yang memberatkan. Ia hanya akan berkilah, tak ingin menjalankannya dan membatalkan permainan mereka. Tanpa harus menolak karunia sushi di depan matanya. “Cobain ini deh, juara banget…!” ucap Panji menyadari gerak-gerik Sekar yang bingung, sajian mana yang harus pertama menjadi korbannya. “Oh ya?” respon Sekar seraya menjepitkan dua batang sumpit ke chuka idako sushi. “Hmmm… Enak banget…. Daging guritanya lembut, nggak keras dan nggak amis….” sanjung Sekar sambil sesekali menyelesaikan kunyahannya. “Iya kaan… Emang the best kok ini!” ucap Panji sambil mencomot potongan sushi yang sama. “Trus, syarat dari kamu jadinya apa?” tanya Sekar kembali tanpa memalingkan wajahnya dari deretan sushi di atas meja, kali ini sashimi tuna tataki jadi korban sumpit Sekar. “Nanti sashimi-nya bagi dua aja!” ujar Panji yang sibuk melihat tingkah Sekar. “Sumpah ya, dari tadi ditanya syaratnya apa malah dicekuin terus…!” Sekar langsung memalingkan mukanya dari deretan sushi, dan langsung menghujam Panji dengan sorotan emosi yang melekat tajam. Namun, hanya dibalas tawa kecil oleh Panji. “Abisan, kamu lucu banget. Nggak bisa menolak untuk lihat tingkahmu yang menggemaskan ini…” Panji berusaha mencarikan suasana dengan sedikit menggoda Sekar. Namun ia pun menyadari, hal tersebut tidaklah mempan bagi Sekar. Gadis itu masih memicingkan matanya ke Panji, sambil memainkan sumpit yang terpejepit di sela jarinya. “OK! OK! Syaratnya gampang kok. Aku pengen kamu nggak usah merasa terbebani sama aku. Aku tahu, kamu mandiri! Tapi boleh ‘kan aku kasih perhatian ke kamu?” ucap Panji tulus. “Aku nggak akan maksa buat kamu terima perhatianku atau enggak. Tapi paling nggak, perasaanku untuk mempedulikanmu bisa aku salurkan!” raut wajah sekar seketika melunak, suatu syarat yang sangat harus ia laksanakan. Itu sama saja dengan Panji mengijinkan Sekar agar memanfaatkan kehadirannya. Sama selaki tidak merugikan. “Dan yang kedua…” seketika raut wajah Sekar kembali berubah, ia sampai harus mengernyitkan dahinya. Ia pikir, syarat yang diajukan Panji hanya satu. Terlihat kecemasan dari raut wajahnya, akan kemungkinan persyaratan yang diajukan Panji melebihi dari yang ia pinta. “Ada lagi? Kok banyak banget?” Sekar tak mampu menahan protesnya, lagi-lagi membuat Panji tertawa kecil. “Cuman dua kok….” Panji berusaha menenangkan, membuat tangannya sempat terhenti untuk kembali menjempitkan sumpitnya ke hidangan yang ada di hadapan mereka. “Trus satu lagi apa?” “Aku nggak mau menjadi orang yang kamu andalkan disaat kamu susah aja… Aku juga pengen jadi orang yang ada di samping kamu, saat kamu senang. Aku ingin menjadi orang yang bisa merasakan kebahagiaan kamu!” kalimat Panji cukup membuat Sekar kebingungan. “Intinya aku mau kamu berbagi perasaanmu saat senang, mau pun susah.” tambah Panji tak menjawab kebingungan Sekar “Maksud kamu gimana?” Sekar tak paham penuh ucapan Panji, ia jelas sekali mengatakan bahwa Panji tidak boleh menuntut, namun syarat yang ia ajukan jelas berupa tuntutan. "Gini, menurut kamu mana yang lebih ngenes? Di saat kita kesusahaan nggak ada orang yang turut merasakan kesusahan kita, atau di saat kita bahagia karena suatu hal nggak ada orang yang turut merasakan kebahagiaan kita?” cukup memakan beberapa detik untuk memahami pertakaan Panji. Seketika ia merasa merinding. Apa yang ia jalani selama ini, memaparkan bahwa manusia manapun akan berusaha menenangkan manusia lain. Bahkan, menghibur manusia tersebut disaat mereka mendapatkan kesusahan ataupun musibah. Manusia lebih cenderung mudah berempati kepada manusia lain, di kala manusia tersebut mengalami masalah. Dibanding, manusia tersebut mengalami hal yang menyenangkan. Seketika ia kembali mengingat momen kebahagiaan dalam sejarah hidupnya, hanya keluarganyalah merasakan yang sama disaat ia berhasil menempuh pendidikan di kampus serta jurusan yang ia inginkan. Sedangkan mahluk yang dilabeli teman, mereka hanya sekedar mengucapkan selamat tanpa menyiratkan kebahagiaan yang sama. Begitu juga dengan beberapa kejadian lainnya. Contohnya saja baru-baru ini saat ia dinyatakan sebagai seorang produser. Tak sedikit yang mengucapkan selamat atas kenaikan jabatannya itu dengan keterpaksaan, cenderung tak suka dan iri.  Seketika, bulu roma Sekar berdiri. Ia tak menyadari bahwa dirinya pun seperti itu. Ia cenderung berempati pada manusia yang terkena musibah, dari pada berempati pada manusia yang baru saja mendapatkan rejeki runtuh, atau prestasi lainnya. “Hmmm… Lebih ngenes disaat kita seneng, tapi nggak punya orang buat turut merasakan kesenangan kita sih… Rata-rata cuman ngasih ucapan selamat doang. Itu juga basa basi!” “Nah, itu dia… Manusia memang mudah merasa kasihan ke orang lain. Bahkan yang belum dia kenal, dibanding ikut merasa bahagia atas kebahagiaan orang lain. Nggak jarang malah ada yang iri…” “Iya bener banget… Aku baru sadar kalo itu nyesek banget. Saat kita sedang ingin curhat mengenai hal yang menyenangkan, tapi nggak ada yang peduli!” “Makanya, aku mau menjadi orang yang ikut senang atas kebahagiaan kamu. Dan, aku harap apa pun yang membuat kamu senang, kamu kasih tau aku!” mata Panji menyoroti ketulusan yang berarti bagi Sekar. “Nanti kita bisa rayakan kesenangan kamu dengan pesta kecil-kecilan…” tamba pemuda itu sambil tersenyum bahagia. Namun Sekar tak yakin, apakah ucapan pemuda yang duduk di hadapannya itu akan terbukti, di kala hal tersebut memang terjadi. “Termasuk kalo nanti rencana kita berhasil dan Arya bakalan jadian sama aku?” hanya dijawab anggukan pasti serta senyuman lebar oleh Panji. “Kamu yakin??” terdengar nada menyangsikan yang keluar dari bibir tebal Sekar, yang kini sedang bekerja menyeruput cairan dingi hasil fermentasi beras dari Jepang tersebut. “Yakin! Makanya aku ngajuin syarat itu…” “Lho? Katanya kamu suka sama aku? Mana ada orang yang bahagia melihat orang yang dia suka jadian sama sahabatnya!” cela Sekar sedikit mengejek. Ia sangsi Panji akan turut senang dan bahagian disaat rencana mereka berhasil. Ia pun ragu Panji masih akan menemuinya saat ia berhasil menggandeng tangan Arya. “Aku bukan sekedar suka sama kamu, tapi jatuh cinta sama kamu! Lagian, ‘kan kamu sendiri yang larang aku buat suka sama kamu… Jatuh cinta dan suka beda lho!” “Hmmmm… Emang bedanya apa?” “Kalo suka ya tertarik, kalo cinta itu tahap yang lebih tinggi. Di mana dia akan memberikan kepedulian, perhatian dan juga kasih sayang ke orang tersebut. Walaupun orang itu nggak melakukan hal yang sama. Yang terpenting, orang yang dia cintai selalu aman, nyaman, dan bahagia!” ucap Panji seakan-akan sedang bertuah. “Sedangkan rasa suka itu, sekedar keegoan diri untuk dapat memiliki sesuatu!” Panji berhenti sejenak. “Jujur, aku nggak ada niatan untuk milikin kamu Sekar… Aku cuman pengen menyalurkan rasa kepedulianku, agar kamu selalu bahagia tanpa berharap kamu melakukan yang sama! Dan, aku akan bahagia melihat orang yang aku pedulikan merasa bahagia.” lanjutnya, hanya dipandang remeh oleh Sekar. “Ini yang juga aku lakukan ke Anindya lho! Aku masih peduli dan sayang dia, walaupun ya… dia nggak nanggepin. Bahkan sampai detik ini masih aku lakuin. Tapi, intensitasnya aku kurangi, terutama sejak ketemu kamu. Dia juga nggak mempertanyakan kenapa tiba-tiba aku jarang perhatian lagi…” bela Panji atas tatapan Sekar yang tak mempercayainya. “Pastinya, suatu saat kepedulianku ke Anindya juga bakalan menipis seiring waktu. Mungkin juga akan hilang selamanya, terutama kalau dia sudah punya orang lain.” “Jadi, mantanmu itu masih single?” hanya dijawab anggukan oleh Panji. “Kirain, dia mutusin kamu karena ada orang ketiga!” tambah Sekar. “Itu juga yang aku pikir, tapi sampai detik ini dia masih sendiri. Padahal banyak yang deketin dia, cuman ditolak semua. Aku juga bingung. Tapi, intinya begitu. Aku orang yang akan berusaha memperhatikan orang yang aku peduli. Menurutku, perasaan kepedulian terhadap seseorang yang tidak tersalurkan itu menyiksa!” jelas Panji meyakinkan Sekar. “Jadi, kepedulian mu akan hilang seiring waktu. Ketika cewek yang kamu peduliin, sudah punya orang lain?” masih dijawab dengan anggukan oleh Panji. “Termasuk ke aku?” tanya Sekar tajam, tak tersirat rasa penyesalan atau pun kesedihan jika hari itu terjadi suatu saat nanti. Di mana Panji akhirnya merelakan perasaan atas dirinya hilang. “Iya…” “Kenapa begitu? Kesannya kamu kaya cuman peduli sesaat gitu? Munafik banget! Katanya sayang, tapi kok ngilang?” sindir Sekar tak membuat Panji merasa sakit hati. Karena, pemuda itu mempunyai alasan tersendiri. “Aku nggak mau membebani orang. Bayangin kalo kamu terus-terusan dibaikin sama orang yang nggak kamu suka Akhirnya kamu merasa sungkan dan terbebani, ‘kan? Belum lagi kalau kamu sudah punya pasangan. Pasti pasanganmu akan merasa terganggu juga. Jadi, aku lebih memilih untuk memendam kepedulianku, dari pada harus membebani orang yang aku sayangi….” sungguh kalimat yang dapat membuat siapa pun kaum hawa akan bertekuk lutut dan terenyuh. Namun, tidak dengan Sekar. Ia hanya cukup kagum dengan pemikiran Panji. Serta menyetujui bahwa apa yang diutarakan pemuda itu ada benarnya. “OK kalau itu mau kamu. Itu hak kamu juga sih buat ngasih perhatian ke orang yang kamu peduliin. Menurutku, ada untungnya juga bisa berbagi rasa kebahagiaan…” Panji pun lega. Sesaat ia tersenyum senang persyaratannya disetujui oleh Sekar. “Ya, seperti yang kamu bilang. Kita beruntung, kalau bisa mendapatkan seseorang yang akan merasakaan kebahagiaan yang sama di saat kita bahagia. Tentunya, tanpa meminta reward atau pajak sama kita yaa… Eh kamu nggak bakalan minta traktir kan pas aku jadian ama Arya?” tawa Panji berhasil pecah, ia bersyukur Sekar memahami perasaannya. “Ya enggak laah… Malah kalo bisa, aku yang akan bikin pesta buat kalian berdua. Kalian orang yang sangat berharga buat aku. Ingat ‘kan kalo aku utang budi sama kalian?” ucap Panji sambil menuangkan ginjo dari sangkarnya. “Well, kita liat aja nanti…” ucap Sekar ikut membasahi tenggorokannya. “So deal?” tanya Sekar sambil meregangkan tangannya ke arah Panji setelah membebaskan tangannya dari gelas berisi sake itu. Dengan yakin Panji menyambut tangan mungil nan halus Sekar. “Deal… jadi mulai sekarang kamu pacarku?” “Pacar palsumu! Dan semoga saja kamu nggak menyesal sudah menawarkan diri buat jadi pacarku!” ucap Sekar, yang dibalas dengan senyuman tipis pada wajah Panji. “Gak akan…!” jawab Panji tanpa mengetahui, dirinya telah masuk secara sukarela ke dalam mara bahaya yang akan mengancam nyawanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD