18. Janji Di Atas Angkara

1788 Words
 “Jadi, apa alasanmu kenapa menerima tawaranku untuk kita jadian?” Panji langsung saja menyerang Sekar, dengan pertanyaan yang sama saat mereka masih berada di dalam perjalanan. Sekar tak langsung memberikan alasannya, ia berkilah akan mengatakannya sambil menyantap sushi kesukaannya. Begitu pun dengan Panji. Ia pun akan memberitahukan bagaimana ia dapat mengenal Roni, teman satu-satunya Sekar yang ia miliki. Seingat gadis itu, ia tak pernah memperkenalkan Roni pada Panji maupun Arya. Padahal, Roni di saat itu sudah berada pada titik tertinggi rasa penasarannya akan Arya. Namun tak kunjung Sekar membiarkan teman kantornya tersebut untuk mengetahui sosok Arya, bahkan foto dari Arya sendiri pun tak pernah ia tunjukkan pada Roni. Hal itu terjadi pada saat teman kantornya itu merengek meminta ponselnya, ketika tak sengaja melihat Arya mengirimkan potret selfie-nya kepada Sekar. Karena bagi Sekar, kehidupan pribadinya cukup ia sendiri yang konsumsi. Kalaupun ada seseorang yang ingin mengetahui sisi lain Sekar, maka orang tersebut hanya mampu mendapatkannya dari Sekar sendiri. Gadis itu pun akan memberikan informasi tersebut seadanya, sesuka hatinya tak peduli apakah orang tersebut puas atau tidak dengan jawaban yang ia berikan. Kini, Sekar dan Panji sedang duduk berhadapan sambil bermandikan temarang bintang di lantai tak beratap pada ketinggian dua ratus delapan puluh lima meter di atas permukaan tanah. Langit malam itu seakan sekutu bagi Panji, kilauan benda langit yang bertebaran tak karuan. Namun menyejukkan pandangan mata. Ditambah, berdampingan dengan semarak rembulan. Meningkatkan atmosfer romantisme mereka yang bersandar pada kursi minimalis. Namun mewah berwarna hitam metalik persis di sebelah pagar kaca tebal yang bertujuan untuk melindungi tamu restoran tersebut. Tak ketinggalan, pantulan sinar kecil yang dihasilkan dari bermacam gedung, rumah, kendaraan dan penerangan jalan seakan saling berkompetisi untuk menarik perhatian Sekar. Panji lansung menodong jawaban Sekar akan kejutannya hari ini begitu sang pramusaji membacakan ulang pesanan mereka kemudian berlalu meninggalkan Panji dan Sekar. “Nggak sabaran amat… Aku mau menikmati pemandangan dulu sebentar ya…” ucap Sekar memalingkan wajahnya dari Panji. Lalu, menyapu pandangannya pada kerlap-kerlip cahaya ibu kota. Ia tersihir akan suguhan panorama kota malam itu. Seluruh lampu seakan berilian baginya. Hiruk-pikuk bising dari segala penjuru, bagaikan alunan melodi yang terangkai indah dalam balutan simfoni. Sedangkan langit laksana kubah teater, yang terlukis oleh seniman paling handal di dunia. Sudah lama Sekar tak memanjakan dirinya seperti ini. Bukan karena ia tak mampu untuk memanjakan dirinya dengan keadaan yang disajikan Panji untuknya. Melainkan hidup Sekar yang tak beraturan membuat dirinya enggan merepotkan diri dengan hal-hal berelebihan seperti ini. Sedangkan Panji yang sudah beberapa kali berada di sini, tak terlalu menaruh perhatian pada pesona alam malam itu. Ia tak mungkin menghiraukan pemandangan yang lebih indah dari pada apapun. Pesona Sekar mengalahkan pemandangan apapun. Baginya, Sekar jauh lebih menarik untuk diperhatikan dari pada panorama yang tersuguhkan oleh semesta. Matanya tak malu memandang keelokan rupa Sekar yang tersirami cahaya temaram lampu restoran tersebut. Rambut hitam bergelombang milik Sekar yang terikat, menyisakan sejumput helaian tipis tergerai sesekali bergerak kecil seakan terbang saat semilir angin menerpanya mampu menambah kesejukkan hati Panji. Ia dapat menyimpulkan, ia betul-betul sudah jatuh cinta dengan gadis yang ada di hadapannya. “Ok… Sebelum aku jawab, kamu jawab dulu dong kok bisa kamu kenal Roni?” ucap Sekar yang sudah cukup puas menangkap seluruh suasana indah yang dapat ia amati dari ketinggian ini. “Curang…!” rajuk Panji sambil memasang raut wajah seperti anak kecil, yang ingin dibelikan mainan. “Sok imut deeeh…. Gak mempan!” sanggah Sekar sambil mencoba menahan tawanya. “Kemarin pas aku anterin makanan buat kamu. Niatnya kan mau kasih surprise. Eeeh malah gagal, gara-gara kamu lagi keluar buat interview. Nah… pas aku titipin makanan ke resepsionis, Roni tiba-tiba nyamperin. Dia langsung bisa tau aku siapa! Terus, dia ajak aku ke kafe yang ada di lobby gedung utama kantormu. Dia ngasih beberapa tips gimana caranya menjadi pacar yang baik untuk nona Sekar!” “Halah… Jangan percaya! Ajaran sesat tuh… Emang anaknya suka SKSD sih!” “Tapi gapapa, toh karena sekarang statusnya kita sudah pacaran lambat laun….” “Kita pura-pura pacaran!” seketika Sekar menyela ucapan Panji. “Iya, tapi kan orang-orang taunya kita pacaran. Jadi lambat laun aku bakalan kenal Roni juga ‘kan?” “Aku nggak ada niatan lho, buat kenalin kamu ke Roni andai kata kita pacaran beneran sekalipun!” sanggah Sekar sedikit sinis. Wajahnya yang tadi menatap Panji ia palingkan ke arah dalam restoran mewah itu. Menyapu keindahan interior ruangan yang hanya terpisah jendela besar bening yang bagian tengahnya akan bergeser otomotis seakan menjadi gerbang untuk orang berlalu-lalang. “Tapi yaudahlah… Toh, aku nggak bisa ngelarang kamu buat kenal sama Roni! Tapi jangan coba-coba ngorek informasi dari dia tentang aku ya! Aku nggak suka ada orang yang kepo tentang aku! Kalo kamu mau tanya, tanyain aku langsung aja. Seperti yang aku bilang tadi, kalau aku bersedia jawab, pasti aku jawab kok!” “Janji!” ucap Panji sambil mengangkat tangan kanannya dan melipat jari manis, kelingking dan jempolnya, menyisakan jadi tengah dan telunjuk yang tegak berdiri seperti orang yang sedang menggesturkan angka dua lewat tangan. “Tadi Arya nelpon aku!” ucapnya setelah menganggut.  “Trus?” Panji tak paham arah pembicaraan mereka, setahunya selama ini Arya dan Sekar masih saling berhubungan, jadi tak ada yang aneh bila Arya menelpon Sekar. “Dia masih berusaha jodohin aku sama kamu. Dia malah berharap kita bisa jadian. Padahal, aku udah pancing-pancing dan kasih clue… Kalo aku tuh ada rasa ke dia, tapi dianya nggak peka-peka!” kini giliran Panji yang menaik-turunkan kepalanya. Ia menepiskan segala macam rasa cemburu, iri hati, sakit hati, amarah, dengki dan apapun perasaan negatif terhadap Arya yang telah mengontaminasi perasaannya yang tulus kepada Sekar. Harusnya, ia tahu satu-satunya alasan Sekar ingin menjalin hubungan asmara dengannya semata-mata karena hati gadis itu hanya menginginkan Arya. Ia pikir ia tak mengapa bila itu terjadi, namun kenyataannya hati tak dapat menipu perasaan.  “OK! kamu siap bikin Arya cemburu?” kata Panji mantap. Ia harus tahu posisinya. Berkali-kali ia menanamkan pada diri bahwa ini adalah hal yang harus ia lakukan, sebagai hutang budi karena Sekar berhasil mengangkat beban terberat dalam hidupnya. Memang inilah satu-satunya cara untuk melunasi hutangnya. Lagipula, bukankah ini yang hatinya inginkan? Menjadi pasangan Sekar walau hanya berdasarkan ilusi. “Siap, tapi gimana? Rencananya gimana? Kasih tau dia gitu kita jadian, trus tiba-tiba dia menyesal dan nembak aku gitu?” “Hmmm… Nggak tau sih… Tapi yang pasti kita harus sering muncul di hadapan Arya. Untuk pertemuan pertama… Sabtu ini ada acara di kantorku, perayaan karena berhasil launching dan juga produk kita dipesan ribuan perusahaan. Nah… aku harap kamu bisa dateng! Sekalian mau aku tunjukkin kamu ke temen-temenku, mereka pasti pada melongo nanti!” kata Panji bersemangat. Ia tak sabar melihat reaksi sahabat-sahabatnya yang merupakan penggeram garis keras Sekar.   “Apaan sih, ngaco! ‘Kan misinya buat Arya cemburu bukan buat pamerin aku ke temen-temen kamu!” protes Sekar. “Iya maaf, tapi kamu mau dateng?” bujuknya, ia benar-benar berharap Sekar akan datang dalam pesta yang diadakan perusahaannya Benang Teknologi. Pesta itu diadakan sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh karyawan karena kantor Panji berhasil meraup keuntungan hingga triliunan rupiah. Pesta itu juga diadakan untuk mengumumkan mengenai anak perusahaan mereka yang lain. Panji dan Arya sudah merencanakan hal ini sejak lima bulan lalu. Di mana, ia akan membagi perusahaannya dalam beberapa bidang agar dapat fokus dengan apa yang mereka lakukan. Karena selama ini hanya dipisah melalui departemen dan divisi tertentu. Perusahaan ini pun dibagi menjadi empat perusahaan, yaitu perusahaan yang fokus terhadap perangkat lunak akan diberi nama GudApps Tech. Lalu, perusahaan yang bergerak di perangkat keras akan tetap berada di Benang Teknologi. Kemudian, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi kesahatan akan berada dibawah bendera BioMed Insdustri, dan perusahaan lainnya akan bergerak di bidang perkembangan elektronik yang terafiliasi dengan teknologi internet akan berada pada persahaan bernama ArPan Corp. Merupakan induk dari seluruh perusahaan Panji dan Arya. Melalui ArPan ini, mereka berencana untuk menciptakan kendaraan cerdas seperti Mobil Pintar, Sepeda Motor Pintar, hingga Transportasi Umum Pintar. Selain itu mereka juga akan mengembangkan Perangkat Elektronik Pintar. Hingga ingin mewujudkan mimpi mereka, dengan membuat lingkungan perumahan berdasarkan teknologi. Selain sebagai pesta perayaan dan pengumuman rencana anak perusahaan, mereka juga akan mengumumkan agenda jadwal peresmian pembukaan dari masing-masing perusahaan tersebut. Yang diharapkan, dapat terwujud dalam waktu enam bulan. Mengingat, mereka perlu mempersiapkan banyak hal terutama di bidang infrastruktur dan juga hal-hal pendukung lainnya. Dan Pada pesta itu pula, Panji dan Arya akan menunjuk siapa saja yang akan menjadi pemimpin dari masing-masing perusahaan. Mereka juga mengundang beberapa media, untuk meliput mengenai pengumuman anak perusahaan mereka. Alsannya, media selalu mengikuti perkembangan serta menyoroti perusahaan Panji. Sebab sejak kehadiran perusahaan ini, segala terobosannya telah memancing perhatian seluruh rakyat Indonesia. Banyak masyarakat berharap melakui Benang Teknologi, Indonesia dapat maju dan mengalahkan negara-negara lainnya yang sudah terlebih dahulu menciptakan teknologi yang berjasa pada kehidupan mereka. “Iyalah aku harus dateng, itu acara yang pas banget buat ngumumin hubungan kita. Kesannya juga nggak tertuju langsung ke Arya kan?” Sekar tak ingin membuang kesempatan, menurutnya pesta itu waktu yang sempurna. Arya pasti tak akan menyangka, bahwa Panji dapat meresmikan hubungannya dengan Sekar secepat itu. “Tapi, sebelumnya kita harus buat kesepakatan terlebih dahulu!” lanjutnya kemudian. “Kesepakatan apa?” “Pertama, jangan pernah berani-beraninya kamu nyentuh aku!” aturan yang selalu dijunjung tinggi oleh Sekar. Ia tak ingin tubuhnya disentuh oleh pria mana pun, mungkin termasuk Arya. Bagi Sekar, mereka mahluk Adam dapat bebas menyentuhnya jika sudah ada ikatan resmi dari negara. Berupa catatan pernikahan atas namanya dan juga nama suaminya di dokumen kependudukan. Menurutnya, sebelum dua sejoli anak manusia resmi diakui menikah oleh hukum, maka mereka masih merupakan individu yang merdeka. Di mana tak dapat dijerat hukum atas pelecehan seksual apapun, bila didasari hubungan saling menyukai. Ia pun sempat heran, mengapa degan mudahnya pasangan muda-mudi dapat melakukan hal yang harus dilakukan setelah mereka menikah? Hubungan yang terikat kuat oleh hukum negara manapun. Karena baginya, paling tidak bila terjadi apa-apa, perbuatan mereka dapat dipertanggung jawabkan. Begitu banyak resiko yang harus diambil bila dua pasang manusia bersatu dalam badai asmara. Bukan hanya resiko kehamilan yang menghantui. Namun segudang penyakit yang siap menggerogoti. Ia tak yakin, pria mana pun akan bertanggung jawab pada gadis yang menjadi kekasihnya bila dua hal tersebut terjadi pada mereka. Maka dari itu, ia sangat menyetujui bahwa hubungan pra nikah tidak boleh didasari nafsu dan tidak boleh adanya kontak fisik yang dapat memancing ke arah yang lebih lanjut. “OK!” tanpa ragu Panji menyetujuinya. “Kedua, jangan mengusik kehidupan privasi!” “OK!” “Ketiga, jangan menuntut apapun!” “Siap!” “Dan yang terakhir, jangan sampe kamu menyukaiku!” persyaratan terakhir Sekar yang sesungguhnya sangat telat diajukan kepada pemuda itu. Panji sudah terlanjut menyukainya, bahkan percik api cinta mulai membara di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD