Panji akhirnya lega, terlukis senyuman lebar memamerkan barisan bagian atas giginya putih rapi, terlihat pula, merahnya gusi. Senyuman itu masih melebar memperlihatkan rongga gelap, diantara daging pipi bagian dalam.
Inilah senyuman andalan Panji, senyum lebar yang membentang. Selalu berhasil membuat seluruh umat manusia yang melihatnya ikut tersenyum seakan terhipnotis. Senyuman kali ini, bukan sebagai bentuk ramah tamah yang selama ini ia suguhkan. Melainkan senyum kemenangan tahap satu, tahap yang ia tak duga akan datang secepat ini.
Ia berhasil mengikat Sekar, walaupun hanya bersemayamkan atas dasar kepalsuan.
Ia tak mengapa akan keadaan tersebut. Baginya, cukup dapat berada dekat dengan Sekar sudah mengobati laranya. Ia takjub hatinya dengan mudah mengusir Anindya. Panji tak tahu daya Sekar begitu kuat menghipnotisnya. Ia sangsi, jika semua ini bukan karena kehadiran Sekar. Tidak sekali dua kali sahabat, teman dan rekan Sekar memperkenalkan seorang wanita padanya.
Bahkan, Anindya sendiri pun pernah suatu hari mengajaknya bertemu seminggu setelah Anindya mengusir Panji dari hatinya, ia pikir kala itu Anindya ingin membicarakan kondisi hati mereka. Namun nyatanya salah, gadis kecil dengan warna kulit coklat laksana perempuan Latin Amerika itu membawa gadis lain bersamanya, dengan terang-terangan ingin menjodohkannya dengan gadis yang ia sendiri tak tahu bagaimana Anindya mengenalnya. Hampir seluruh manusia yang mengenal Anindya pernah ditemuinya, namun tidak dengan gadis yang nampak malu sekaligus bersemangat saat tangan mereka saling berjabat. Semenit kemudian, Anindya meninggalkan mereka dan disusul gadis itu setelah mengetahui bahwa Anindya adalah mantan kekasih dari calon pacarnya.
Pasca kejadian itu, Panji tak ingin lagi bertemu dengan Anindya apapun alasannya jika gadis itu membawa seorang teman perempuan, ia menyimpulkan Anindya betul-betul tak lagi menginginkannya. Walaupun hubungan asmara mereka sudah berakhir, namun bukan berarti hubungan pertemanan dengan Anindya usai. Lagipula. Panji pun masih mencintai Anindya, setiap harinya masih memberikan perhatian dan juga kepedulian pada wanita itu walaupun ia harus menahan sakit bila Anindya tak memberi timbal balik yang sama.
Selain itu, ia juga berusaha untuk tidak terlalu sesering dahulu bertemu dengan mantan pacarnya, hanya sesekali bertemu dengan Anindya dikala diundang oleh keluarga Anindya atau bertemu di acara-acara yang diselenggarakan oleh ruang lingkup mereka, karena mereka masih berada pada lingkar yang sama. Ia sekali lagi takjub bahwa ia tak lagi merasa terhianati saat bayangan Anindya menghantuinya dalam waktu lama, senyumannya semakin mengembang. Langkahnya seketika terhenti saat kaki kirinya baru saja keluar dari ruangan kerjanya, sedangkan kaki lainnya masih terangkat tak sempurna hendak meninggalkan ruangan yang telah melahirkan beberapa konsep teknologi tinggi. Kaki kiri itu lalu diseretnya kembali sembari menarik gagang pintu yang terbuka membentuk sudut tiga puluh lima derajat. Tak ada niatan untuk kembali melabuhkan penopang organnya ke kursi empuk ergonomis berwarna putih yang mampu menopang tubuhnya hingga kepala.
“Aku jemput kamu ya….” setelah lama terdiam, hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan.
“Kamu nggak denger kataku tadi? Aku sampe harus tahan napas! Takutnya kamu menarik tawaranmu!” sanggah suara mezzo-sopran Sekar yang sengaja ia naikkan. Sekar sempat gelisah karena tak mendapatkan jawaban apapun dari Panji. Ia takut sudah melewatkan kesempatan untuk menggaet Arya.
“Iya… makanya selaku pacar yang baik, aku mau jemput kamu… Kamu berangkat jam berapa?” ucap Panji pelan dengan anda menggoda berhasil menggoreskan senyuman tipis di wajah Sekar.
Amarah yang sedari tadi menguasai emosi Sekar kini menjinak, seiring dengan hasratnya yang tetiba melonjak ingin bertemu Panji. Ia tak sabar melihat reaksi Arya saat mengetahui dirinya bermesraan dengan pria lain. Ia bahkan sudah memutuskan. Bila ada timbul rasa cemburu pada diri Arya, ia akan mempermainkan sedikit perannya lebih lama. Sekar ingin menambah durasi penderitaan Arya, sebelum akhirnya berterus terang bahwa semua yang ia lakukan dengan Panji hanyalah sandiwara belaka.
“Kamu dimana?”
“Masih di kantor, ini baru pulang, rencana hari mau nawarin jemput dan antar kamu ke polsek…”
“Yaudah, jemput aku sekarang ya, aku siap-siap!”
“OK! Kamu mau makan apa? Temen-temenmu berapa orang biar sekalian aku bawain jadi kamu bisa makan bareng sama mereka…” tawar Panji tulus, ia ingin Sekar dapat lebih dekat dengan orang banyak. Ia pikir, hanya dirinyalah yang mempunyai sedikit orang-orang terdekat dalam hidupnya, ternyata gadis itu lebih gawat.
Hanya Ronilah kini yang dipunyai Sekar, mengingat tak mungkin Sekar akan mengganggu Arya terlebih dahulu. Panji bersyukur, sejak keluarganya tak ada, ia dikelilingi sahabat-sahabat yang kini bekerja dengan dirinya, keluarga mantan pacarnya, Anindya, juga masih sering behubungan dengannya. Walau baru mengenal Sekar beberapa hari lalu, namun ia merasa bahwa hidup Sekar tak beraturan. Dan, iya meyakini ketidakteraturan itu dapat menjadi parasit yang akan menyerang Sekar di kemudian hari. Ia tak ingin hal itu terjadi, terutama bagi orang yang baru saja menghapus beban terberat dari hidupnya.
“Kita makan bareng aja, aku ke polseknya jam sepuluh kok, masih punya waktu empat jam buat ketemu kamu!” ucapnya setelah melihat angka lima dan tiga delapan yang tercetak besar pada mesin penunjuk yang tergantung di dinging tak jauh di atas televisinya. Teringat percakapan singkat lewat WhatsUp saat Panji bertanya pukul berapa Sekar harus sudah berada di Polsek, namun bukan Sekar namanya bila ada yang bertanya langsung dijawab olehnya.
“Terima kasih ya…” sepatah kata yang langsung membuat dahi Sekar mengernyit. Ia tak paham maksud ucapan terima kasih Panji. Bukankah dirinya yang harus berterima kasih karena Panji sudah mau menjeputnya, dan menawarkan untuk menjadi pacar imitasinya sebagai senjata supaya Arya menyadari bahwa selama ini ia menginginkan Sekar?
“Buat?”
“Karena sudah mengobati rasa rinduku padamu…” sepatah kata lainnya yang berhasil membuat Sekar tertawa terbahak-bahak, hanya dibalas senyuman lain oleh Panji.
“Share loc rumah kamu ya… aku jemput sekarang.” tuntasnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Panji sudah menyusuri jalan yang cukup lebar untuk lokasi rumah yang letaknya jauh dari jalan utama. Jalan itu bahkan cukup menampung tiga mobil besar yang lewat bersamaan. Mobil cabriolet Panji melaju perlahan, kepalanya sesekali menengok arah kanan-kiri mencocokkan posisinya dengan gambar peta yang tertera pada ponselnya. Hingga berhenti di depan rumah dengan nuansa putih gading.
Ia berusaha menelisik bangunan rumah yang bagi siapapun yang lewat, pasti tahu bahwa rumah berpagar besi warna putih dengan lapisan catnya yang sudah mengelupas memamerkan logam yang digerogoti oleh butiran coklat tua hasil dari oksidasi yang terjadi malalui proses elektro kimia tersebut, merupakan sebuah rumah kos. Panji sekali lagi mencocokkan dengan yang ada di ponselnya. Setelah dirasa yakin ia menghentikan mobilnya di tempat yang tepat, ia segera mengeluarkan aplikasi peta digital dan berpindah pada kontak untuk menghubungi Sekar.
“Udah nyampe ya?” suara Sekar langsung terdengar menggantikan nada sambung.
“Kalo kamu belum siap ngga papa, eh tapi bener kan ini? Rumah nomor 18? Kos Camelia?” tanyanya sekali lagi. Ia tak yakin seorang Sekar tinggal di rumah kos. Menurutnya, Sekar sudah cukup mapan mengingat posisi dan karirnya yang bagus. Ia juga sempat tidak percaya, bahwa gadis itu mengendarai sepeda motor roda dua sebagai alat transportasinya.
Sempat terbesit untuk menanyakan persoalaan tersebut, ketika di perjalanan menuju tempat makan tak jauh dari lokasi Polsek. Namun saat ia menyadari bahwa Sekar bukanlah tipikal orang yang mudah terbuka, ia langsung urungkan niatnya jauh-jauh. Cukup baginya untuk menjaga Sekar agar tetap berada di sampingnya tanpa harus meminta dan tanpa harus menuntut.
“Iya bener kok, bentar yaa… Aku bentar lagi kelar kok!” ucap Sekar yang sedang kesusah mencari ikat rambutnya.
“Gapapa santai…” ucap Panji kemudian yang langsung ditutup panggilannya oleh Sekar. Gadis itu cukup susah mencari ikat rambutnya yang entah berada di mana. Beberapa barang sudah berpindah dari tempat asalnya, kamar Sekar yang awalnya sudah berantakan semakin berantakan. Akhirnya, ia menemukan ikat rambutnya setelah berhasil memindahkan beberapa tumpukan kotak makanan yang berserakan di meja kecil samping tempat tidurnya. Setelah itu, ia langsung mengikat rambutya tanpa memedulikan sisa minyak sayur bekas makanan yang kemarin Panji kirimkan untuknya.
Dengan langkah kecil, ia keluar dari kamarnya setelah kaki kirinya harus menggeser beberapa helai pakaian kotornya yang tergeletak di depan pintu. Begitu sosok Sekar terlihat mata Panji, ia bergegas turun dari mobilnya kemudian berlari kecil menuju pagar sambil melambaikan tangan pada Sekar. Setelah itu, langsung menarik pagar tersebut karena jaraknya yang lebih dekat dengan pagar rumah itu dibandingkan dengan jarak Sekar. Gadis itu masih berdiri di depan kamarnya seraya berusaha memasukkan sepatu sneakers berwarna putih kecoklatan karena luntur termakan usia.
“Dinaikkin dikit ampe rodanya udah di tempatnya baru tarik!” Sekar mengarahkan saat melihat Panji kesulitan membuka pagar tua itu. Dan nyatanya arahannya berhasil, kini Panji berjalan menghampiri Sekar yang mulai melangkah menjauhi kamarnya.
“Kamu cantik banget hari ini…” kata yang begitu saja terlontar saat matanya sudah dapat melihat lanskap raga Sekar dengan jelas.
“Nyindir? Rambut berantakan, mata bengkak gini dibilang cantik?” ketusnya sambil berjalan melewati Panji mengarah keluar dari rumah kosnya.
“Enggak! Seriusan…” ia berusaha meyakinkan Sekar bahwa apa yang ia katakana adalah kebenaran. Bahkan ia menganggap bahwa gaya Sekar seperti ini lebih menarik dan cantik dibanding saat ia melihat Sekar untuk pertama kalinya tiga hari lalu di restoran hotel mewah itu.
“Lagian matamu nggak bengkak kok! Kok kamu bilang matamu bengkak?” tambahnya kemudian menyusul Sekar yang sudah berjarak tiga langkah dengannya.
“Kurang tidur nih! Tadi pulang cuman tidur bentar, trus kebangun ‘kan gara-gara makanan yang kamu kirim dateng. Abis itu nggak bisa tidur lagi!” jelasnya yang kini sudah berhenti di mobil mungil Panji yang kemudian langsung dibukakan pintunya oleh Panji, ketika Sekar ingin menyentuh gagang pintu mobil itu.
“Gentleman sekali…” sindir Sekar sambil menatap Panji dengan tatapan mengejek.
“Emang Arya nggak pernah bukain kamu pintu?” tanya Panji sambil menutup kembali pintu itu, setelah Sekar berhasil bersanda pada kursi yang dilapisi sarung kulit mewah berwarna abu-abu porpoise yang tak menyangsikan kemewahan mobilnya.
“Enggak pernah tuh…” jawabnya saat Arya sudah berada disampingnya, siap melajukan mobilnya menuju tempat makan yang sudah ia bayangkan Sekar akan menyukainya.
“Kirain…. Jujur itu pertama kali juga sih aku bukain pintu buat orang!”
“Masa? Kok udah kaya professional gitu? Keyakinanku kalo kamu itu playboy tadi menambah lho!” hanya di jawab senyuman lebar oleh Panji, sambil memandang Sekar dengan tatapan yang melekat.
Sekar sempat menangkap ketulusan dari sorotan mata Panji, yang dihiasi iris berwarna hezel dengan campuran hijau dan oranye. Sekilas, mirip mata kucing milik salah satu tetangga kosnya.
“Aku baru ngeh, matamu warnanya unik ya?” walaupun dalam remang, Sekar dapat melihat jelas rona mata Panji.
“Oh, ini mata Ayahku. Katanya orang-orang Spanyol matanya kaya gini!” jelas Panji sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Jadi Ayahmu orang Spanyol? Pantes mukamu rada bule gitu…!”
“Enggak sih, Neneknya nya Ayah yang keturunan Spanyol. Aku juga bingung, kenapa darah Spanyol kental banget di aku. Padahal, Ayahku mukanya lokal banget lho. Ibuku nggak ada keturunan Eropa. Jadinya ya, bingung juga!” jelas Panji yang ikut bingung dengan bentuk fisiknya yang masih mendapatkan gen Eropa setelah enam generasi.
“Tapi kalo matanya Ayah kayak aku. Adek dan Abang-abangku juga matanya kaya gini. Kayaknya, hampir seluruh keluarga Ayahku matanya juga gini deh. Kamu inget tanteku yang aku ceritain?” Sekar hanya mengangguk cepat.
“Nah matanya juga sama! Jadi bisa dibilang ini warisan gitu deh…” lanjutnya
“Emang kamu anak ke berapa dari berapa saudara?” sidik Sekar kembali.
“Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Aku sama adekku terpaut cuman setahun, sedangkan aku sama abangku di atasku terpaut Enam tahun. Jadi, aku nggak begitu dekat sama abang-abangku, aku cuman deket sama Ibu, Ayah dan Adekku!” Abangku yang pertama malah udah menikah pas aku kelas tiga SMA! Jadinya bikin kita semakin nggak deket…” ungkap Panji menceritakan tentang keluarganya, ia pun heran tak ada lagi rasa sedih saat menceritakan keluarga yang seluruhnya sudah tiada.
“Jadi pas kecelakaan itu…” Sekar sempat menghentikan ucapannya, ia tak ingin Panji mengingat kejadian yang ia pun tahu bagaimana rasanya saat seseorang menanyakan tentang kematian keluargnya.
“Sori…” ucapnya menyesal
“Nggak papa… Iya, mereka semua ikut karena sekalian mau pada liburan. Makanya sewa bis pariwisata. Bahkan, beberapa keluarga kakak iparku juga ada yang ikut…!”
“Semuanya nggak ada yang selamat?” hanya dijawab dengan gelengan lembut oleh Panji, kemudian mereka terdiam dalam pikiran mereka masing-masing.
“Betewe, kenapa kamu kaya heran gitu pas jemput aku?” Sekar yang tak ingin berlama-lama membisu berusaha mencairkan suasana.
“Maaf ya, aku nggak tahu kamu ngekos. Soalnya aku pikir kamu tinggal di rumah…”
“Dari kecil keluargaku tinggal di rumah kontrakan, jadi emang dari awal aku nggak punya rumah…”
“Tapi bukannya….” Panji menyudahi rasa keinginan tahuannya akan Sekar. Pemuda itu rasa pertanyaannya akan membuat Sekar tersinggung, ia tak ingin hari pertamanya berstatus pacar dengan Sekar merupakan hari putusnya hubungannya dengan gadis yang kini sudah menguasi seluruh hatinya.
“Bukannya apa?”
“Nggak… nggak papa…”
“Aku nggak suka kalo ada yang mau tanya ke aku tapi dibatalin.” Ucap Sekar ketus, Panji langsung salah tingkah.
“Nggak papa, aku nggak bakalan marah. Kalo aku mau, aku bakalan jawab, kalo enggak aku nggak akan jawab!” lanjut gadis itu yang langsung diingat. Syarat pertama yang harus ia tepati jika ingin Sekar tetap berada di sisinya.
“Bukannya penghasilamu besar ya? Posisimu kan bagus! Kamu juga masih naik motor ke mana-mana…” ucap Panji mengeluarkan seluruh benak tanya.
“Oooh... Itu, iya gajiku emang cukup untuk beli unit apartemen atau rumah kalo aku tabung. Minimal setahunlah aku tabung, udah bisa kebeli lunas… Mobil juga begitu.”
“Tapi…?” Panji memancing.
“Tapi masalahnya… Sebagian gajiku, aku sumbangin ke beberapa korban dan keluarga korban pada setiap kasus yang aku liput. Lagipula, kehidupanku udah cukup kok. Selama aku nggak pusing cari makan dan kebutuhan pokok lainnya. Ya, aku nggak masalah.” satu lagi daya tarik Sekar yang berhasil membuat Panji tersentuh.
“Kamu keren Sekar!”
“Yaelah semua orang biasa kali nyumbang! Aku tau kok, perusahaanmu punya yayasan panti asuhan, rumah singgah dan panti jompo kan?”
“Ya, itu kan bentuk CSR, bukan uang pribadi juga ‘kaaan… Kalo kamu ‘kan uang pribadi!”
“Ya apapun itu… Tapi niatnya sama aj buat membantu sesama. Aku bersukur sih dengan pekerjaan ku ini, aku jadi bisa lebih hati-hati terhadap manusia. Sekaligus bisa simpati ke mereka!”
“Betul….”
“Eh ini kita mo makan dimana sih?” Sekar akhirnya menyadari saat beberapa kali mengamati bahwa Panji membawanya tidak menuju arah Polsek yang ia tuju.
“Kita makan sushi di Tokyo Mini Resto, kamu suka sushi kan?” ucap Panji menyebutkan salah satu restoran sushi termewah. Tempatnya berada di lantai tujuh puluh dua pada hotel tertinggi di Indonesia. Hotel itu memiliki beberapa restoran, salah satunya Tokyo Mini Resto.
“Hoaah… Itu kan tempat sushi terenak dan termahal… Aku aja belum pernah lho makan di sana, tapi kamu tau dari mana aku suka sushi?” Panji hanya hanya tersenyum membiarkan Sekar bertanya-tanya.
“Halah, paling juga Arya…!”
“Bukan…”
“Trus?”
“Temenmu, Roni…”
“Heh? Kok kamu bisa kenal Roni?” Sekar harus menyerong untuk dapat berhadapan dengan Panji dan melihatnya dengan jelas.
“Bisa doong…!”
“Kok bisa…!”
“Hmmm… Aku akan ceritain kalo kamu jawab pertanyaanku, boleh?”
“Apaan?”
“Kenapa kamu tiba-tiba terima tawaranku buat jadian?”