Kini, di saat sore menjelang malam. Sekar yang sedang jenuh tak karuan di kamar kosnya yang tak selebar kamar mandi sekaligus toitlet pribadi ruang kerja Arya dan Panji, semakin tak dapat mengalihkan pikirannya dari Arya. Laporan-laporan dari timnya untuk melengkapi data program Lacak belum juga ia sentuh. Hanya berserakan di tempat tidur dan beberapa tertumpuk bak gedung pencakar langit, di meja kerja Sekar yang bersading dengan berdirinya televisi.
Alat media komunikasi gambar bergerak berukuran tiga puluh dua inch, yang sedang menayangkan program favorit Sekar, dari kanal ITube mengenai hal-hal misteri dan pembunuhan pun tak dapat mengalihkan perhatian Sekar akan Arya. Tangannya sesekali memencet remote control untuk menjeda tayangan sang Ituber mengenai kasus seorang gadis berumur 24 tahun, yang hidup di kurung oleh Ayahnya selama ia hidup. Serta, diperlakukan layaknya seekor hewan yang mempunyai nama ilmiah canis lupus familiaris, sehingga membuatnya bertingkah serta berpikir layaknya hewan tersebut pun tak mampu menarik perhatiannya.
Padahal, ia sudah lama menantikan sang Ituber untuk membahas kisah gadis tersebut. Walaupun sebenarnya, Sekar sendiri sudah hapal diluar kepala mengenai penderitaan yang dialami gadis malang itu. Ia sengaja menjeda tanyangan itu, untuk mengambil ponselnya, lalu mencari kontak Arya saat terbesit keinginanya untuk menghubungi Arya terlebih dahulu. Sudah hampir sepuluh kali ia melakukan hol bodoh itu selama satu jam. Hingga ia memutuskan untuk tidak akan menghubunginya terlebih dahulu.
Ia sudah memutuskan, bila hingga seminggu Arya tak lagi menghubunginya, ia akan menghilangkan Arya jauh-jauh dari pikirannya. Sekar pun juga akan mengakhiri hubungannya dengan Panji. Sempat, Sekar menyayangkan keputusannya. Namun itu yang harus ia lakukan, agar dapat bangkit dari kekacauan hati. Saat Sekar akhirnya memutuskan untuk kembali menyimak program favoritnya, matanya langsung terbuka lebar.
Ponsel yang baru saja ia letakkan, tiba-tiba layarnya menyala. Tertera nama Arya di sana, yang berhasil membuat jantung Sekar pun menyala terang. Dengan gerakan menyeruduk, Sekar memungut ponselnya yang tak jauh dari tangan kirinya, sambil memencet tombol jeda pada remote control agar tayangan tersebut tak menganggu percakapannya dengan Arya. Setelah itu, ia berusaha mengatur napasnya, bahkan ia sempat melakukan simulasi panggilan telepon agar suaranya terdengar natural. Di saat ia sudah siap, dengan sigap Sekar menjawab panggilan Arya.
“Hwarooo…” terdengar suara Sekar yang aneh mirip seperti orang yang sedang tersedak.
“Are you okay?” tanya Arya di seberang sana. Arya yang baru saja menyelesaikan rapat virtual dengan pihak dari Jerman, memutuskan untuk menghubungi Sekar. Karena selain rindu akan gadis itu, ia juga ingin mengetahui penilaian Sekar terhadap Panji. Tak banyak yang Panji ceritakan padanya, mengenai perjumpaan mereka malam itu. Bahkan saat Arya berusaha menggoda Panji, pemuda itu tak bergeming. Malah di balas canda olehnya, membuat Arya semakin penasaran mengenai rencananya untuk menjadikan orang paling tampan dan paling cantik yang ia kenal saat ini, untuk menjadi sepasang kekasih.
“Sori… Tadi abis minum rada keselek!” jawab Sekar berbohong.
“Kenapa?” lanjutnya kemudian.
“Enggak, kangen aja… Mentang-mentang punya gebetan baru, teman lama dilupakan….” ejek Arya berhasil membangkitkan emosi Sekar. Dalam hati Sekar justru memaki Arya. Batinnya berucap, justru dirinya yang rindu akan pemuda itu. Justru dirinya yang merasa bahwa Arya tak lagi membutuhkannya. Justru Aryalah gebetannya kini.
“Kamu nelpon buat ngajak ribut ya?” Sekar tak dapat menahan amarahnya.
“Kok gitu? Aku beneran kangen lho… Sekalian mau tau gimana pendapat kamu tentang Panji.”
“Begini mister Arya, kamu nggak merasa bersalah?” Sekar tak tahan lagi, ia betul-betul tak habis pikir mengapa Arya sama sekali tak paham dengan nadanya yang dari awal saja sudah tak bersahabat.
Ia pikir Arya menghubunginya karena menyesal telah berbuat seenaknya, tanpa berdiskusi dulu dengannya. Sekar pun berpikir, bahwa Arya benar-benar merindukannya dan menyesal telah mengenalkannya pada Panji. Ia pula berpikir, bahwa Arya merindukannya karena hatinya ternyata menginginkan dirinya. Menginginkan Sekar menjadi kekasih hatinya. Hal sama yang dinginkan hatinya.
“Atas?” Arya benar-benar tak mengetahui bahwa perbuatannya malam lalu merupakan kesalahan yang harusnya ia bayar, bukan ia lupakan.
“Kamu ninggalin aku gitu aja! Terus abis itu nggak ada kabar sama sekali! Sekalinya ngubungin aku tiba-tiba ngajak perang!” ungkap Sekar berusaha menahan emosinya. Ia tak mau hubungannya dengan Arya berakhir dengan cara yang buruk.
“Oh itu, aku akui aku salah. Please maafin aku… Tapi, tolong dengerin dulu penjelasanku…” pinta Arya diikuti nada menyesal. Ia benar-benar tak tahu bahwa Sekar semarah itu, ia pikir justru Sekar akan senang karena telah membantunya mencarikan pacar yang ideal untuknya.
Siapa yang tidak akan suka dengan pengusaha kaya. Bertampang bak pemain film, dengan sifat seperti malaikat. Panji sangat sempurna untuk Sekar. Harusnya, gadis itu berterima kasih padanya, namun penilaiannya ternyata salah. Ia menyimpulkan bahwa ia belum terlalu mengenal Sekar. Ataukah Sekar sudah mempunyai pacar? Namun pikiran itu langsung hilang di besit Arya. Ia tahu betul, bahwa Sekar tidak mempunyai hubungan asmara dengan lelaki manapun. Juga setahu Arya pula, Sekar sedang tidak menyukai seseorang.
“Kamu yang harus dengerin aku! Kamu nggak sopan tau nggak! Tau-tau ninggalin aku trus jodohin aku sama temenmu. Tanpa minta pendapatku, apakah aku mau dijodohin atau nggak. Lagian, emangnya aku seperti orang yang butuh pacar?!”
“Iya… Iya aku minta maaf, aku punya alasanku sendiri…” Arya berusaha menenangkan kemurkaan Sekar padanya. Ia sampai harus berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir. Hal yang sering ia lakukan jika sedang panik, gelisah, bersemangat hingga takut. Sesekali ia menjulurkan lidahnya seperti ular, akibat respon sistem saraf ketika adrenalin memompa. Kebiasannya menjulurkan lidahnya tersebut tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun, termasuk Sekar.
“Apa?”
“Pertama, kamu pasti bakalan langsung nolak kalo aku bilang mau jodohin kamu sama Panji. Kedua, aku tau kalo kamu nggak butuh pacar, tapi hidupmu yang berantakan makin nggak terarah Dani!” Arya berusaha menahan napas, agar lidahnya tidak semakin tak karuan terulur.
“Karena aku peduli sama kamu, jadinya aku mau hidupmu lebih seimbang. Paling nggak, disaat kamu lagi sakit. Atau kamu lagi nggak bisa urus hidupmu, ada yang ngebantu kamu dengan iklas tanpa pamrih dan juga tanpa merasa terbebani!” tanpa sadar nada Arya ikut meninggi, ia ingin Sekar tahu bahwa apa yang ia lakukan demi Sekar sendiri bukan untuknya.
“Cowok kaya gitu hanya bisa aku temukan di Panji!” nada suaranya menurun, terdengar seperti mengiba.
“Makanya, sejak kenal kamu aku ngerasa kalian berdua bisa saling melengkapi dan saling menolong satu sama lain… Dan, kamu butuh orang seperti Panji agar hidupmu lebih teratur!” kata-kata Arya sama sekali tak direspon Sekar.
Padahal, ingin rasanya Sekar menimpali, “Yang dibutuhkan oleh hidupku itu kamu! Bukan Panji! Nggak bisa ya kamu yang menjadi orang seperti itu dalam hidupku?” namun kata-kata tersebut tak mampu ia ucapkan.
Sekar hanya bergeming dalam kelu.
“Dan… Dani…?” ucap Arya setelah tak mendengar sahutan dari Sekar. Ia sempat mengira sambungan mereka terputus. Namun saat di layar masih tertulis kata connected, ia kembali meletakkan ponselnya ke telinga kanannya sambil berjalan kembali ke mejanya yang sudah berjarak tujuh meter dari tempatnya berdiri.
“Jadi, selama ini kamu udah mempersiapkan aku sebagai obat buat temenmu gitu?”
“Bukaan! Aku nggak tahu kalo ternyata kita bisa sedeket ini. Dan, seiring berjalannya waktu kita bersama… Aku juga megetahui bahwa kamu butuh orang agar hidupmu lebih bisa teratur.” Arya sangat berusaha agar Sekar mampu memahami maksud dan niat baiknya untuk gadis tersebut.
“Buktinya kata Roni pas aku telepon kamu waktu itu, dia sempet teriak kaan? Katanya sejak kamu kenal aku, makanmu jadi lebih teratur. Begitu juga dengan tidurmu. Jadi, aku pikir kamu butuh orang sebagai pengingat bahwa kamu manusia bukan mesin!”
“Kenapa nggak kamu aja?” Sekar keceplosan. Jantungnya seketika serasa berhenti. Ingin rasanya ia menghentikan waktu, atau megembalikan waktu. Agar isi hatinya tak terlontar begitu saja tanpa sengaja.
“Maksudnya aku aja gimana?” Arya mengerutkan alis hingga tercetak gelombang otot pada dahinya karena tak paham pertanyaan Sekar.
“Kenapa nggak kamu aja! Yaa… kayak kemarin-kemarin! Kan, kamu sendiri yang bilang kalo hidupku lebih teratur kan sejak kenal kamu!” Sekar berhenti sesaat untuk mengatur napasnya kembali. Ia lega, Arya tidak memahami maksudnya.
“Kalo emang benar itu tujuan kamu ngenalin aku ke Panji!” tambahnya dengan nada setenang mungkin. Sekar takut, isi hati yang sebenarnya dapat terdengar oleh Arya di seberang sana.
“Aku nggak bisa terus-terusan ngingetin kamu Dani…. Aku juga nggak bisa terus-terusan perhatian ke kamu…. Kamu tau? Aku ngerasa bersalah banget minggu lalu pas aku cuman ngubungin kamu sekedarnya aja… Aku juga ngerasa bersalah pas lupa nawarin buat jemput kamu… Aku juga ngerasa bersalah saat membalas pesanmu kelamaan….” beber Arya membuat perut Sekar mual.
“Aku percaya Panji bisa lebih dari yang kamu butuhkan. Please… Jangan marah lagi ya… Kalau emang kamu nggak suka Panji… Ya gak masalah! Tapi paling nggak jangan menutup diri dari Panji ya…” bujuk Arya terdengar rasa cemas di dalamnya.
“Apa maksudnya dengan kamu nggak bisa terus-terusan ngingetin aku dan perhatian ke aku?” Sekar semakin memojokkan Arya. Ia ingin mengulik kemana arah pembicaraan Arya. Apakah maksudnya ia tak ingin kenal Sekar lagi, atau Arya tak ingin lagi direpotkan olehnya. Sesaat ia pun tersadar bahwa selama ini Arya sendiri yang mau direpotkan olehnya, ia tak memaksa maupun meminta.
“Aku juga punya urusanku sendiri Dan… Tolong mengertilah…!”
“Pacar maksudmu?” ketus Sekar. Sungguh ia ingin tahu, apakah Arya sudah mempunyai kekasih atau belum. Apakah karena alasan tersebut Arya menolaknya dengan cara menjodohkannya pada Panji? Namun Sekar langsung menggelengkan kepalanya, saat menyadari bahwa Arya sama sekali tak mengetahui perasaannya pada pemuda itu.
“Bukan! Kamu tau sendiri aku nggak punya pacar! Aku harus ngurusin kerjaanku Dan…!”
“Oh iya, aku lupa kamu kan bos besar… Mana punya waktu buat pacaran!” ucap Sekar sinis. Ia sendiri tak tahu mengapa ia bisa bersikap ke kanak-kanakan seperti ini. Sekar sama sekali tak merespos Arya hingga terdengar helaan napas panjang dari Arya sebelum pemuda itu kembali berbicara.
“Seperti yang aku bilang! Aku merasa bersalah karena urusan pekerjaan, aku jadi sering nyuekin kamu… Aku nggak mau kamu jadi balik ke Sekar yang dulu… Yang makannya seadanya, trus nggak ada yang bantu kamu ini-itu, dan yang terparah, saat kamu sakit Dan…! Inget ‘kan pas kamu sakit aku nggak bisa bantuin kamu beliin obat dan makan? Dan kamu tau sendiri ‘kan gimana rasa bersalahnya aku ke kamu sampe aku mohon-mohon? Trus ngelakuin ini-itu biar bisa dimaafin kamu. Padahal kamunya aja nggak marah dan malah ngetawain aku! Mana bilang aku lebay lagi!” seketika, ingatan lima bulan lalu terlintas di benak Sekar. Saat itu Sekar yang sama sekali belum jatuh hati pada Arya justru mengutuk Arya karena tingkahnya yang berlebihan.
“Please… jangan marah lagi ya…!” mohon Arya memelas.
“Hem…” jawab Sekar seadanya.
“Ya… Ya… Ya….?” Arya memohon, sempat Sekar membayangkan tampang Arya yang sengaja diimut-imutkan ketika ia sedang memohon. Seperti yang sudah sering terjadi ketika Sekar mulai memasang wajah tak bersahabat.
“Iyaa…” ucap Sekar sedikit melunak, ia sempat tersentuh perkataan Arya mengenai pola hidupnya dan bagaimana Arya telah sedikit mengubah hidupnya.
“Nah gitu doong… Jadi gimana Panji?” belum reda emosi Sekar secara sempurna, Arya kembali menyentuh perasaannya. Hatinya yang sudah mulai sejuk berkat perkataan Arya tadi, hilang seketika. Kini gemuruh itu kembali menyerang bagian tubuh bagian depan diantara perut dan lehernya. Membuatya kembali sesak.
“Apanya?” kembalilah Sekar yang ketus. Sia-sia sudah usaha Arya berusaha menenangkan Sekar sedari tadi. Sekar sempat berpikir, apakah semua yang baru saja Arya katakana tulus, atau sekedar agar bisa berbicara mengenai Panji dengan suasana hati yang riang?
“Orangnya laah… ganteng kan? Aku yakin, kalian bakalan membuat seluruh cewek dan cowok yang melihat kalian iri. Karena kalian cantik dan ganteng!”
“Termasuk kamu?”
“Ya enggak laah, kan aku yang ngenalin kalian. Justru aku bakalan senang kalo kalian akhirnya bisa jadian…” ucapan Arya berhasil membuat sakit hati Seka terhadap pemuda itu bertambah.
Ia sungguh tidak menyukai sikap Arya yang tak peka. Apakah ia harus bertindak lebih jauh lagi, agar pemuda tersebut mengetahui isi hatinya? Sekar menggeleng tegas, ia takut Arya akan menjauhinya jika Sekar mengatakan cinta padanya.
“Arya, aku harus siap-siap nih! Hari ini giliranku buat muterin polsek!” sela Sekar ketika tak lagi dapat membendung emosinya. Ia sudah memutuskan langkah apa yang harus ia ambil untuk menyelamatkan hatinya.
“Oh? Yaudah… Kamu jaga diri ya… Jangan lupa makan malam dulu, trus….”
“Iya bawel… daah…” tutupnya tak memberikan kesempatan Arya untuk berpamitan. Kemudian, jarinya langsung bekerja mencari nama Panji di kontaknya.
Setelah ia temukan, dengan emosi menggebu-gebu ia langsung menghubungi Panji. Terdengar beberapa kali nada sambung, hingga menggantikan nada tersebut menjadi suara rendah Panji.
“Halo Sekar… Kamu udah mau berangkat….” belum selesai Panji menyelesaikan kalimatnya Sekar langsung menyelanya dengan tegas.
“Ayok kita jadian!”