"Snow," panggil Ava dan Feyra yang kini sudah berdiri di dekat pintu keluar.
"Eh," balas Snow sambil meringis. "Kalian ngapain di sini?"
"Kamu ngapain di situ?"
"Ini tadi... aku... cari... cari angin."
"Cari angin apa cari yang anget-anget?" balas Ava.
Snow diam melipat bibir.
"Sama siapa barusan?" tanya Feyra.
"Iya, tadi aku liat ada cowok lewat sini." Ava ikut menimpali.
Snow mendesah pelan. "Ya udah sih kalo kalian udah pada tau."
Ava dan Feyra kompak tertawa. Sebenarnya, bukan mereka yang memergoki Snow bersama Raffa. Saat itu, justru Sascha yang tidak sengaja melihat mereka berdua sedang berada di balik pintu keluar. Jahilnya, wanita itu dengan semangat melapor kepada Ava dan Feyra.
"Siapa ya yang tadi bilang nggak mau ketemu?" goda Ava.
"Yang katanya liat mukanya doang udah takut," timpal Feyra.
Ava dan Feyra terus mengulum senyum, sementara Snow memilih menerobos jalan melewati mereka berdua begitu saja.
"Snow!"
Ketiganya lantas duduk di sebuah kursi panjang. Snow berada di tengah, Ava mengambil posisi sebelah kiri, dan Feyra ada di sisi kanan.
"Nggak nyangka kamu bisa labil kayak gini," ucap Ava. "Tadi pagi cowok yang deketin kamu dari setahun lalu tetep kamu tolak pas nawarin mau nganter kesini. Giliran Raffa, hitungan detik doang udah bisa bikin kamu berubah pikiran."
Snow mengembuskan napas panjang. "Aku nggak tau ya. Raffa itu ... ."
"Raffa itu beda," sambar Feyra yang sudah mampu menebak kelanjutan ucapan Snow.
Ava langsung tergelak, sementara Snow hanya bisa mengerucutkan bibir. "Jangan gitu dong, Dok."
"Ya emang gitu kan."
"Yaaa gimana ya," balas Snow.
"Ya udah sih. Kan aku udah bilang, jalani aja dulu." Ava kembali berpendapat.
Snow kembali diam. Masih sulit rasanya menerima fakta bahwa nyatanya Snow sudah sedikit mulai membuka diri. Namun, tetap jelas terlihat kalau Snow memang masih menyimpan keraguan dan ketakutan.
"It's ok, Snow. Jangan terlalu dipikirin," ucap Feyra. "Mau fokus sama Gio aja kan?"
Snow mengangguk.
"Ya udah, prioritasin Gio. Anggep aja Raffa cuma iklan lewat. Kalo terlalu dipikirin ntar malah bikin stres. Nikmati aja prosesnya. Ntar biar waktu yang menentukan gimana kedepannya."
Lagi-lagi Snow hanya bisa mengangguk. Apakah ini artinya dia memberikan Raffa kesempatan? Entahlah. Otak Snow terus berusaha menyangkal. Namun, sial. Entah godaan iblis dari mana, Snow sedikit merindukan Raffa.
Terdengar tidak masuk akal memang. Mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Walau begitu, ketidak beradaan lelaki itu serta merta membuat Snow bertanya-tanya, apakah Raffa sudah benar-benar pulang?
Ingin marah kepada hati. Cukup gegabah rasanya jika Snow semudah ini membiarkan Raffa menguasai dirinya. Bodohnya, kedua mata Snow dengan sembunyi-sembunyi sengaja mencari keberadaannya. Bodohnya lagi, hati Snow seperti sedikit merasa kecewa saat tidak menemukan Raffa hingga akhir acara.
Aku kena sihir kayaknya, batin Snow.
Sudahlah. Mau disangkal seperti apa, nyatanya nama Raffa memang sejak dulu masih bertahta. Lelaki yang dulu pernah membuat Snow menangis dan tertawa, lelaki yang hingga menikah tidak pernah Snow lupa, lelaki yang satu minggu yang lalu muncul dengan identitas baru, dan lelaki yang baru saja berhasil mengobrak-abrik benteng pertahanannya.
Mungkin... ini yang dinamakan dengan kesempatan kedua.
Raffa:
Strawberry.
Dering ponsel terdengar beberapa kali sejak Snow menginjakkan kaki di rumahnya. Ini sudah hampir tengah malam. Beruntung, pesta ulang tahun berakhir ketika malam belum terlalu larut. Jadi, masih banyak waktu untuk Snow pulang ke rumah tanpa perlu menginap di Napoli.
Raffa:
Angkat teleponnya.
Nada panggilan yang terus menyala membuat Snow mau tak mau harus membukanya. Raffa baru saja menelepon dan mengirimkan beberapa pesan. Namun, alih-alih membalas, Snow memilih untuk segera mengubah mode ponsel menjadi bisu. Gio sedang tidur, dan Snow enggan membuatnya terbangun.
Raffa:
Aku tau kamu udah di rumah. Angkat telepon.
Snow membaca sebuah pesan yang muncul lagi dan lagi. Sebelumnya, sudah ada empat notifikasi panggilan tak terjawab. Kini, Raffa masih terus mencoba menghubunginya lagi.
Snow:
Sebentar!
Snow mengusap kepala Gio beberapa kali. Anak lelakinya sempat membuka mata ketika Snow meletakkan tubuhnya di atas ranjang. Beruntung, kali ini Gio sudah mulai kembali terlelap.
Raffa:
Aku tau kamu punya Gio. Tapi mulai sekarang, kamu harus tau kalo kamu juga punya aku.
Snow berdecih membaca pesan terakhir dari Raffa. Sempat ada rasa kesal, karena Raffa seolah sedang ingin menunjukkan kalau dirinya penting. Namun, tak ayal, hati Snow juga tetap berdesir karena menyadari kalau ada lelaki baru yang ingin dianggap penting.
Raffa:
Gio udah tidur?
Snow:
Udah.
Tepat tiga detik setelah Snow mengirimkan jawaban, layar ponselnya langsung menyala menampakkan panggilan suara dari Raffa. Jujur saja, jantung Snow cukup berdebar. Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah lagi bertelepon dengan lelaki. Sungguh, ini jadi terasa seperti pengalaman yang pertama kali.
"Ciao."
"Ciao. Akhirnya diangkat juga."
Snow bergumam pelan. "Abis nidurin Gio dulu. Tadi sempet bangun bentar."
"It's ok. Aku nggak masalah kalo harus kalah dari Gio. Asal jangan sama cowok lain."
Tak ada jawaban. Snow hanya terkekeh pelan atas ucapan Raffa yang entah sedang melucu atau memang serius.
"Capek banget?"
"Lumayan," jawab Snow. "Mau ngobrol apa emang?"
Ini aneh. Dulu, Snow dan Raffa tak perlu mencari topik pembicaraan ketika mereka berada dalam panggilan. Keduanya akan saling mengobrolkan hal apa saja dan bisa mengalir begitu saja. Namun, saat ini memang keadaan sudah berbeda.
"Ngobrol banyak sih. Tapi mumpung lagi bahas Gio, aku mau tanya sesuatu soal dia. Boleh?"
"Apa?" tanya Snow.
"Kenapa kamu kayak nyembunyiin dia? Aku baru tau kalo kamu ternyata udah punya anak."
Snow seketika tertawa. Raffa bukan orang yang pertama menanyakan hal ini. Beberapa orang lain bahkan terang-terangan mengira kalau Snow sengaja menyembunyikan Gio agar Snow terlihat masih seperti wanita lajang. Padahal, tidak. Bukan itu alasannya. Jujur saja, Snow hanya merasa perlu menjaga privasi.
"Nggak semua hidup aku harus aku post di sosial media, Raff. I keep my privacy private."
"Ok, terus?"
"Terus apa? Ya udah. Aku nggak nyaman aja publish soal itu."
Ada jeda hening selama beberapa saat.
"Maaf, tapi dia ... anak kandung kamu?"
"Iya dong."
"Anak kalian? Maksud aku ... Leo?"
Senyum di bibir Snow tanpa sadar tercetak. Walau tidak mengatakan secara langsung, tapi Snow sudah bisa mengerti arah pembicaraan Raffa.
"Iya, Raff. Anak kami."
"Golongan darah dia apa?"
Snow tertawa. "Aku tau apa yang kamu pikirin."
"Jawab aja kenapa."
"O."
"Sama kayak Leo? Aku tau kamu B, sama kayak aku."
Snow masih tertawa. Sedikit tidak menyangka mendapati Raffa sekritis ini.
"Emang Gio umurnya berapa?"
"Akhir Desember ini, 3 tahun."
Pembicaraan mereka sempat terjeda cukup lama. Snow hanya mendengar suara desah panjang dan suara seperti Raffa sedang meraih botol dan meminum beberapa teguk air.
"Ok, aku akui kalo aku mikir terlalu jauh."
"Terlalu jauh, dan terlalu kelewatan," balas Snow.
"Forget it." Raffa sedikit tergelak. "Coba sekarang kamu buka tirai jendela depan."
"Hah?"
"Buka tirai jendela depan."
"Ngapain? Kamu... ."
"Udah, buruan."
Snow sedikit ragu untuk menuruti perintah Raffa kali ini. Rumahnya hanya bangunan satu lantai dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Snow hanya cukup melangkah beberapa kali untuk sampai di ruang depan. Namun, Snow dengan sengaja memperlambat gerak kakinya.
Awalnya, Snow hanya menyibak sedikit. Dia menelisik halaman rumahnya yang penuh tanaman hijau, dan tidak mendapati siapa-siapa. Gerbang depan masih dalam keadaan terkunci. Ketika Snow buka lebih lebar, barulah Snow melihat sebuah mobil putih terparkir di bahu jalan dan seorang lelaki tengah bersandar disana seraya menatap ke arah jendela.
Raffa langsung tersenyum. Tangan kanan memegang ponsel yang menempel pada telinga, sementara tangan kiri disembunyikan di dalam saku celana. Snow ingat betul, Raffa masih menggunakan baju yang sama dengan saat di rumah Elio tadi.
"Ngapain kesini?" tanya Snow.
"Kan aku udah bilang, kalo nggak angkat telepon, aku samperin."
"Kan ini udah diangkat."
"Kan tadi enggak."
Snow mendesah kalah. "Tau rumahku dari mana?"
Raffa tidak bersuara, tapi Snow bisa melihat mulutnya membetuk tawa dengan kedua mata yang menyipit.
"Sejak kapan tau rumahku?"
"Barusan. Aku jalan di belakang mobil kalian tadi."
Snow seketika mendelik. "Penguntit!"
"Harus. Kalo aku tanya, kamu juga nggak mungkin mau jawab."
Wajah Snow masih setia dengan ekspresi kekesalan. Berbanding terbalik dengan Raffa yang terus melebarkan bibir dan melemparkan sebuah kerlingan mata. Ah, sial. Apa-apaan ini. Jantung Snow mulai berulah.
"Snow."
"Hmm."
"Aku kangen."
Snow refleks menutup tirai dan bersembunyi di balik pintu. Pipinya menghangat dan darah di sekujur tubuhnya seolah mengalir dengan lebih cepat. Ini mungkin memang terlalu kekanakan, tapi Snow benar-benar sulit mengendalikan diri. Selama bertahun-tahun, dia sudah tidak pernah mengalami fase seperti ini. Terang saja ketika mendengarnya, tubuh Snow seperti tersengat arus listrik yang terlalu dahsyat.
"Kok malah ditutup. Dibilang kangen juga."
"Kan udah liat barusan." Snow mencoba tetap terdengar setenang mungkin.
"Belum cukup."
Snow diam. Entah harus bagaimana menghadapi Raffa yang bergerak terlalu cepat.
"Boleh masuk nggak?"
"Nggak," pungkas Snow.
"Kenapa?"
"Udah malem."
"Berarti kalo siang boleh?"
Snow mendengus kesal. "Ntar ketahuan orang, terus jadi headline lagi."
Tawa Raffa langsung terdengar mengudara. "Ya udah ntar aku cari cara biar nggak ketahuan."
"Udah ya, aku mau tidur. Besok masuk kerja."
"Aku jemput?"
"Raff," sanggah Snow. Seharusnya Raffa sudah tahu kalau idenya itu terlalu buruk.
"Ok ok, enggak."
"Dah sana pulang."
"I'm waiting for your good night kiss."
"Raff."
"Aku serius. Buka pintu, keluar sebentar."
Gigi Snow mengetat. Lelaki ini semakin lama semakin melunjak.
"Strawberry."
"Nggak usah telepon lagi aja lain kali."
Raffa terkekeh. "Ah, nggak asik. Mainnya ngancem-ngancem."
"Dah, sana."
"Ok. Buona notte, amore."
"Iya, selamat malam."
"Ciao. Ci vediamo domani."
"Jangan kesini lagi. Aku takut," ucap Snow penuh peringatan.
"Iya, ok. Tapi besok kita bakal ketemu lagi."
"Maksudnya."
"Liat aja besok."