Raffa kehilangan kesadaran. Seorang lelaki muda yang mengaku sebagai managernya bercerita bahwa Raffa sudah tampak lemas sejak mereka sampai di bandara. Raffa baru saja selesai tour keliling Eropa. Kemungkinan besar, kondisi tubuhnya yang terlalu lelah dan tidak prima membuatnya sampai seperti ini.
"Kesehatannya udah menurun sejak kemarin, tapi hari ini dia tetep maksa buat pulang," terang Glenn, manager Raffa.
Snow mengangguk dan mulai memposisikan tubuh Raffa agar berbaring sempurna. Wajah lelaki itu tampak pucat dengan sedikit titik keringat dingin. Setelah melonggarkan pakaian yang Raffa kenakan, Snow lantas mengganjal kedua kakinya supaya letaknya sedikit lebih tinggi.
"Maaf, tolong beri space," ucap Snow.
Ada beberapa orang yang sejak tadi berkerumun di sekitar Raffa. Tanpa segan, Snow segera meminta mereka mundur dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Hanya Glenn dan salah seorang pramugari yang Snow perbolehkan untuk tetap berdiri di seputar kursi.
"Punya sakit bawaan?" tanya Snow kepada Glenn.
"Nggak ada."
Snow mengangguk seraya terus berusaha menyadarkan Raffa. Tangannya menepuk pundak, dan mulutnya memanggil pelan nama Raffa. Pada kondisi normal, seseorang yang pingsan akan bangun dalam beberapa menit. Walau sedikit ada rasa panik, tapi Snow terus berusaha tenang. Beruntung, setelah hampir sepuluh menit, Raffa akhirnya membuka mata.
"Tetap berbaring," ucap Snow.
Raffa diam dengan dahi yang mengernyit. Sambil menahan pusing, dia juga tampak seperti orang yang sedang kebingungan. Namun, tak apa. Hal ini cukup wajar dialami oleh orang yang baru saja pingsan.
'Snow? Itu kamu?'
Snow seketika menoleh menatap mata Raffa yang masih tampak sayu. Suara itu terdengar ketika Snow sedang memegang pergelangan tangan Raffa untuk mengecek denyut jantung.
"Iya. Anda baru aja pingsan, tapi anda akan baik-baik aja," ucap Snow.
Kedua mata Raffa sedikit memicing. Dia tidak berucap satu kata pun. Namun, Snow bisa mendengar lelaki itu sedang bicara.
'Stop being too polite, Snow.'
Rasa janggal kembali terasa ketika Snow mendengar suara pikiran Raffa. Namun, Snow mencoba untuk tidak peduli. Mereka tidak saling kenal. Jadi, menurut Snow, sudah sebaiknya menggunakan bahasa resmi.
Tak lama setelah Raffa sadar, seorang pramugari datang membawakan oksigen. Kiranya ini diperlukan untuk membantu Raffa bernapas dengan lebih baik. Tekanan udara di dalam pesawat memang terbilang lebih rendah.
'Snow.'
Suara itu terdengar lagi ketika Snow memegang lengan Raffa. Kelopak mata Raffa terpejam selama beberapa detik. Bersamaan dengan itu, sebelah tangannya terangkat memegangi kepala.
"Pusing? You'll be okay," ucap Snow.
Raffa membuka mata. Dia mengangguk lemah seraya tersenyum tipis.
"Tekanan darah anda rendah. Tapi nggak papa, anda akan baik-baik saja," lanjut Snow.
Raffa menggerakkan tubuh hendak beranjak duduk. Namun, Snow segera menahannya agar tetap berbaring.
'Snow.'
Di kepala Raffa, dia memanggil nama Snow lagi. Sambil merebah, jemarinya sempat meremas baju Snow sebagai tanda kalau nyeri di kepalanya cukup menyiksa.
'Snow. Help!'
"Iya. Sandaran di sini dulu," ucap Snow.
Mungkin semua orang mengira kalau Snow sedang berbicara seorang diri. Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya Snow sedang menjawab ucapan yang ada di pikiran Raffa. Bahkan, Raffa sendiri pun tidak tahu. Raffa mengira, Snow hanya bicara layaknya seorang perawat yang sedang memberikan saran kepada pasiennya.
"Ini." Snow menyodorkan sebotol air. "Minum dulu."
Raffa tidak bicara, tapi tetap menuruti ucapan Snow. Rasanya malas dan sangat lemas. Namun, Raffa tetap berkenan menelan seteguk air.
Secara sengaja, Snow lantas menyentuh sebelah tangan Raffa. Di saat seperti ini, kemampuannya memang sangat bermanfaat. Snow bisa memahami dengan baik bagaimana kondisi Raffa tanpa harus banyak bertanya.
'Snow.'
'Pusing banget.'
'Snow.'
"It's okay. Sebentar lagi akan membaik." Snow lantas menoleh ke arah Glenn. "Bawa obat pribadi?"
"Enggak. Dia hampir nggak pernah sakit, jadi kami nggak punya apapun selain suplemen."
"Setelah ini, sebaiknya dibawa ke dokter."
Glenn mengangguk. "Terima kasih banyak."
Selama beberapa saat, Snow masih bertahan di sebelah Raffa. Dia harus memastikan kalau lelaki itu tidak pingsan berulang. Walau sudah sadar sepenuhnya, tapi Snow tetap memutuskan untuk mendampingi hingga kondisinya benar-benar membaik.
"Saya harus kembali ke kursi saya," ucap Snow setelah beberapa menit kemudian.
"Iya, sekali lagi, kami berterima kasih," balas Glenn.
Snow mengangguk, lalu beralih menatap Raffa. Perantara anggukan kepala yang sama, Snow memberikan isyarat bahwa dia akan ke kelas penumpang yang ada di area belakang.
Ekspresi wajah Raffa tampak datar. Dia tidak berucap satu kata pun. Namun, tepat sebelum Snow melangkahkan kakinya, tangan Raffa terulur meraih pergelangan tangan Snow.
'Snow, jangan pergi lagi.'
Snow langsung berbalik ketika suara itu muncul di kepalanya. Entah apa maksud Raffa, tapi Snow merasa gagal mengerti kata 'lagi' yang dia sematkan di akhir kalimat.
Tak hanya Snow yang memandang bingung ke arah Raffa. Seorang pramugari dan Glenn yang ada di samping Snow juga cukup terkejut dengan aksi yang Raffa tunjukkan. Memegang dan menggenggam erat pergelangan tangan orang asing adalah sesuatu yang tak biasa.
'Jangan pergi.'
Mulut Raffa terkatup. Namun, ucapan itu terdengar jelas di kepala Snow.
"Raff," panggil Glenn yang mencoba menyadarkan Raffa bahwa tingkah lakunya sedikit tidak sopan.
Raffa menoleh sebentar, lalu kembali mengunci pandang pada mata biru milik Snow. Selaras dengan apa yang ada di pikirannya, ekspresi wajah Raffa juga mengisyaratkan permohonan agar Snow tetap bersamanya.
"Ada keluhan lagi?" tanya Snow kemudian.
"Enggak."
"Sudah membaik?"
"Sudah."
'Tapi jangan pergi.'
Raffa melanjutkan ucapannya dalam benak yang berhasil Snow baca.
"Maaf, saya harus kembali ke belakang," ucap Snow.
Raffa mengangguk tapi tetap tidak juga melepaskan genggaman tangannya. Glenn sampai harus kembali menegur Raffa karena merasa tidak enak dengan Snow. Berkali-kali Glenn membulatkan mata ke arah Raffa, tapi lelaki itu memilih pura-pura tidak melihat.
'Snow.'
'Tetep di sini. '
'Snow, please.'
Raffa tidak henti membeberkan kalimat serupa dalam pikirannya. Sungguh, semakin Snow baca, jiwa Snow menjadi semakin berantakan. Ingin pergi sekarang juga, tapi ucapan yang ada di pikiran Raffa sangat mampu mempengaruhi Snow.
'Snow, aku pernah kehilangan kamu sekali. Sekarang, aku nggak mau kehilangan untuk yang ke dua kali.'
Ini membingungkan. Memahami isi kepala Raffa sungguh sulit. Setiap kata yang Snow tangkap sukses membuat rasa penasarannya meronta. Terang saja semua ini membuat benak Snow menjadi kacau. Namun, di sisi lain dia harus tetap bersikap profesional.
"Anda bisa beristirahat," ucap Snow.
Raffa tidak bergeming. Dia terus menyorot lurus ke arah bola mata Snow.
"Saya ada di belakang jika anda membutuhkan bantuan." Snow kembali berucap dengan tegas sambil mencoba menarik pelan tangannya agar terlepas.
"Ok, terima kasih," jawab Raffa pada akhirnya.
Snow mengangguk sambil tersenyum sopan. Napas yang dia tarik dalam sudah berembus pelan menandakan sebuah kelegaan. Sebentar lagi, Snow akan terlepas dari situasi yang tidak enak ini. Sialnya, tepat satu detik sebelum tangan mereka terlepas, Snow mendengar satu kalimat terakhir dari Raffa.
'Liat aja. Aku nggak akan lepasin kamu lagi, Snow Estelle.'
Tubuh Snow seketika membeku. Sudah cukup Raffa membuat dirinya terkejut dengan sederet kalimat awal. Ini masih ditambah dengan sebuah panggilan berupa nama lengkap. Damn! Seharusnya, Raffa tidak tahu nama panjangnya.
Ini tak kalah aneh dengan apa yang Snow dengar saat di kamar mandi tadi. Semula, Snow masih berpikir kalau pasti ada yang salah dengan kemampuannya membaca pikiran. Namun, setelah mendengar lagi keanehan ini lagi, Snow akhirnya yakin kalau dia tidak salah mendengar.
Raffa memang mengatakan hal itu dalam pikirannya. Namun, mengapa? Apa maksudnya? Siapa dia? Bagaimana bisa Raffa tampak seperti sudah mengenal Snow sejak lama?
"Thank you." Ucapan seorang pramugari menginterupsi gaduhnya kepala Snow.
"My pleasure," jawab Snow seraya tersenyum.
Ingin rasanya berbalik dan menanyakan kepada Raffa tentang apa yang Snow baca dari pikirannya. Namun, Snow masih merasa ragu. Apalagi, pramugari di depannya sudah menuntun Snow untuk kembali ke kursinya.
Hingga pesawat mendarat di Roma, Snow tidak lagi melihat sosok Raffa. Snow pikir, dia tidak akan lagi bertemu dengan lelaki itu. Namun, tepat setelah dia mengambil koper, Raffa tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya.
"Hai."
Kedua mata Snow membelalak dengan tubuh yang sedikit tersentak mundur. "Hai."
Jantung Snow berdetak dua kali lebih cepat. Berbanding terbalik dengan napas yang seketika berhenti selama beberapa saat. Selain karena terkejut sebab melihat kemunculan Raffa yang tiba-tiba, Snow juga tak bisa menepis akan adanya rasa terpesona.
Pahatan wajah Raffa nyaris sempurna. Sorot tajamnya mampu memaku manik mata Snow agar tidak memandang ke arah lain. Senyumnya hanya singkat, tapi sudah cukup untuk menyulut api dalam hati Snow yang selama ini mati.
"Makasih soal tadi," ucap Raffa.
"Anytime. Sebaiknya anda segera menemui dokter."
"Nggak perlu," balas Raffa. "Udah baikan."
Snow mengangguk dan tersenyum canggung.
"Saya antar pulang? Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih dari saya," ucap Raffa.
Kepala Snow refleks menggeleng. "Tidak perlu, terima kasih."
Raffa tersenyum ramah. Namun, gerak geriknya menunjukkan kalau dia tak mau kalah. Sebelum Snow berucap kata penolakan kedua, jemarinya lantas menggenggam pergelangan tangan Snow dan menuntun untuk berjalan di sebelahnya.
'Percayalah, aku nggak akan nyakitin kamu, Snow.'
Sudah cukup terpaku dengan apa yang Raffa lakukan, Snow masih harus tercengang pada apa yang Raffa pikirkan. Ingin menepis, tapi anehnya, Snow seperti tersihir oleh lelaki yang baru dia temui dua jam yang lalu.
"Saya nggak akan ada niat jahat. Cuma mau mengantar sampai rumah. Itu aja," ucap Raffa.
"Nggak perlu. Saya mau mampir ke tempat lain."
"Kalo gitu, saya antar kemana pun itu."
'Jangan nolak. Aku masih pengen bareng sama kamu. Please.'
Itulah kelanjutan ucapan Raffa.
Snow terus menatap lelaki yang terlebih dulu melangkah di depannya. Tanpa melepas cekalan, Raffa berjalan sambil setengah menyeret tubuh Snow. Gerakannya lembut, tapi ada kesan memaksa.
Tadinya, Snow memang bersyukur dan berbangga diri karena bisa bertemu langsung dengan lelaki yang akun media sosialnya sudah dia ikuti sejak beberapa tahun lalu. Namun, jika interaksi mereka berubah menjadi aneh seperti ini, maka Snow harus berpikir ulang. Ada sesuatu dalam diri Raffa yang terasa janggal.
"Saya bisa pulang sendiri. Udah ada temen yang jemput," ucap Snow seraya mencoba menarik tangannya.
"Kalo gitu, saya temani sampai dia datang."
"Nggak perlu. Saya mau nunggu di cafe."
"Kalo gitu, saya bisa jadi teman minum kopi."
Snow mulai muak dengan tingkah laku aneh Raffa. Lelaki itu masih menarik tangannya sambil terus membantah setiap ucapan Snow. Sungguh, Snow tidak bisa diperlakukan seperti ini.
"Siapa kamu?" tanya Snow pada akhirnya. Sedikit segan, tapi Snow harus berani bertanya dengan suara yang lebih lantang.
Raffa langsung berhenti dan menoleh. Bibir yang semula kaku, kini tersenyum. Raffa tampak lebih suka saat melihat Snow yang mulai menunjukkan perlawanan. Apalagi ketika Raffa sadar kalau Snow sudah mulai mengubah gaya bicaranya.
"Saya? Raffaele. Saya udah memperkenalkan diri sejak tadi."
"Jawab aja. Siapa kamu?" tanya Snow sekali lagi.
Raffa lantas melangkah mendekat. Dia terus memandang kedua mata Snow. Senyumnya belum habis. Bahkan, kali ini lengkungan bibirnya tampak lebih lebar.
"Ikut aku, dan kamu bakal nemu jawabannya," jawab Raffa.
"Buat apa? Aku cuma tanya. Kalaupun kamu nggak mau jawab, ya udah." Snow mulai berucap dengan nada sinis. Sedikit risih saat ada seseorang yang terlalu mendekat dengan agresif.
Wajah Raffa tetap ramah dan tidak terpengaruh sama sekali. Walau sedikit was-was melihat Snow yang mulai membangun pertahanan diri, tapi Raffa tetap berusaha tampak tenang.
"Yuk, aku anterin. Beneran aku nggak ada niat apa-apa," ucap Raffa.
"Enggak, makasih."
Raffa mendesah lelah. Wajar saja kalau Snow menolak karena menganggapnya sebagai orang asing. Namun, ... bagi Raffa. Ah, sial! Raffa hanya mampu mengatakan dalam hatinya.
'I love you, trust me. Aku nggak akan nyakitin kamu.'
"Stop it! Apa maksudnya kamu ngomong gitu? Kamu siapa?" Snow buru-buru membombardir Raffa dengan pertanyaan berlapis.
"Ngomong apa? Aku nggak ngomong apa-apa."
Snow terdiam. Dia tidak mungkin menjawab kalau dirinya bisa membaca pikiran Raffa.
"Kamu siapa?" tanya Snow.
"Aku jelasin. Tapi nggak di sini," balas Raffa seraya mengedarkan pandangan.
Beberapa orang mulai menatap ke arahnya. Raffa termasuk orang yang ternama. Tidak heran jika banyak yang memperhatikannya ketika berada di tempat umum.
"Ikut ke mobilku," tegas Raffa.
"Enggak."
"Kita nggak mungkin ngobrol di sini."
Snow terdiam dengan gamang. Semakin lama mereka berhadapan, semakin banyak orang yang memperhatikan.
"Ayo," ajak Raffa.
Kepala Snow masih menggeleng. Terlalu sulit baginya untuk menurut kepada orang yang baru dia kenal.
"Buruan," ucap Raffa seraya menyambar lengan Snow dan menariknya ke arah pintu keluar.
"Kamu tau aku?"
Raffa menoleh. "Tau."
Mata Snow memicing. Kali ini, dia membiarkan Raffa tetap memegang tangannya. Snow akan berusaha menggali lebih dalam tentang apa yang ada di kepala lelaki satu ini.
"Seberapa tau?" tanya Snow.
"Snow. Perawat. Dan... ."
"Dan?"
"Seseorang yang nolong aku waktu tadi di pesawat."
Kedua kaki Snow seketika melemas. Bukan karena mendengar jawaban dari mulut Raffa. Melainkan karena tahu isi kepala Raffa yang sebenarnya.
Dalam benaknya, lelaki itu bicara...,
'Snow, kamu masih jadi wanita pemilik ciuman yang terbaik.'