sayangku... tenang ya, di sini pemeran utamanya Ainun.
kenapa sampai chapter ini porsi Jian Li besar, karenaa... kalau enggak ada Jian Li ga akan ada jembatan antara Ainun sama...
ibarat Hinata dan Naruto ga bisa bersatu kalau Neiji masih ada
ajegileee... apaan sih gue? wkwkwk
...
met baca yeeee!!
“Ayo makan-makan, mumpung gue traktir ade-ade semua boleh makan banyak,” ucap Christian begitu pramusaji membawa makanan pesanan ke atas meja mereka.
“Makasih Mas,” ucap Kahfi malu.
Jian Li memberikan nasi ke piring Kahfi dan beberapa lauk ke atas piring pemuda pendiam itu. “Kita bikin bangkrut si Koko ya, tenang aja Koko banyak uang kok Fi.” Bisik Jian Li.
“Gue dengar Lili,” gerutu Christian gemas pada adik sepupunya yang hanya nyengir.
Christian mengamati Kahfi yang kini sedang berdoa dan di sebelahnya Jian Li pun sedang berdoa dengan mengepalkan kedua tangan di depan d**a. Sudah ia duga, kekasih adik sepupunya ternyata berbeda keyakinan.
“Udah pacaran berapa lama kalian?” tanya Christian membuka obrolan.
“Kami tidak pacaran, Mas.” elak Kahfi dan Jian Li yang duduk di sebelah memasang wajah lesu.
“Lho? Gue pikir kalian pacaran, secara di kamar Lili dia masang foto kalian berdua di samping kasurnya,”
“Ih Koko jangan comel deh!” gerutu Jian Li.
Kahfi tersenyum kecil, ia juga memasang foto Jian Li di kamarnya atau lebih tepatnya di bawah laci samping tempat tidur. Jian Li memang sengaja mencetak foto mereka katanya biar selalu ingat sebelum tidur.
Christian tertawa. “Gue pikir kalian pacaran. Jadi, kalian ini apa? Sahabat? Atau teman tapi mesra?”
Jian Li melirik Kahfi yang sepertinya tidak berniat menjawab. “Koko kepo banget sih? Makan yang tenang deh, enggak usah banyak ngomong entar keselek.”
“Oke-oke gue makan,”
Kahfi diam-diam menghela nafas pelan dan melirik Christian yang ternyata sedang menatap dirinya.
Begitu selesai makan dan kini mereka tengah mencicipi dessert, Jian Li izin untuk ke toilet sehingga menyisakan Christian berdua dengan Kahfi.
Kahfi merasa tidak nyaman karena Christian secara terang-terangan menatapnya. Merasa jengah, Kahfi memberanikan diri untuk bertanya. “Ada apa Mas?”
“Kamu enggak mempermainkan adik saya kan?” tanya Christian tanpa basa-basi.
“Astagfirullah, tentu saja tidak.” Jawab Kahfi sedikit terkejut dengan tudingan Christian kepadanya.
“Oke, gue cuma ngerasa kalau Lili bertepuk sebelah tangan atau itu hanya perasaan gue aja?”
“Saya juga menyukai Jian Li,”
“Jadi lo serius sama Lili?”
Kahfi mengangguk. “Jika kami berjodoh, insya Allah.”
Christian mengendikkan bahu. “Yah gue sih asalkan Lili happy gue dukung aja, cuma kalian sadar kan kalau kalian berbeda?”
“Saya sangat sadar dan kami juga sudah membicarakannya.”
“Dan dia setuju?”
“Dia akan mencoba.”
Christian sedikit terkejut, bagaimana bisa Lilinya yang rajin ibadah bisa semudah itu mengambil keputusan meskipun itu hanya untuk belajar? Lilinya yang sejak kecil hingga SD pernah bermimpi ingin menjadi biarawati seperti tante mereka yang tinggal di NTB.
Yah dia juga tidak bisa apa-apa, dirinya sangat anti ikut campur terhadap hubungan orang lain. Namun, ia berharap jika memang Jian Li ingin bersama dengan Kahfi, semoga keputusannya memang karena ia mencintai Tuhan bukan karena orangnya.
“Ngomongin apa sih? Kok kayaknya serius banget sih!” tanya Jian Li yang baru saja datang.
“Biasalah obrolan cowo, oh Iya Li, lo langsung ikut pulang kan sama gue?”
Jian Li menatap Kahfi. “Aku mau pulang sama Kahfi,”
“Kamu lebih baik pulang sama Mas Christian, saya ada perlu hari ini.”
“Ke mana? Aku ikut ya?”
“Saya ada kajian setelah ashar di masjid agung dan khusus ikhwan,”
Jian Li cemberut. “ Tapi nanti aku chat aku ya,”
“Insya Allah kalau sudah selesai ya.”
Christian kembali mengamati remaja beranjak dewasa itu dengan tenang. Sepertinya dugaannya cukup benar jika Jian Li terlalu berlebihan terhadap Kahfi. Ia khawatir jika perasaan menggebut adik sepupunya malah akan membuat adiknya itu terluka.
…
Selepas Kajian, Kahfi memutuskan untuk shalat maghrib di masjid. Maka sambil menunggu adzan, Kahfi memilih untuk mendengarkan murotal qur’an di HPnya dan membuka catatan yang selalu ia bawa ketika kajian untuk menulis materi agar tidak lupa.
Pernikahan adalah materi kajian yang baru saja ia ikuti.
Tidak dipungkiri hal ini yang membuat Kahfi bersemangat karena ia berencana untuk menikah muda seperti Umi dan Abinya yang memutuskan menikah ketika berumur 19 tahun.
Abi selalu bilang jika ingin mendapatkan pahala yang begitu banyak tanpa harus keluar rumah adalah dengan menikah. Membantu istri, menyentuh istri adalah pahala untuk pria.
Melihat keharmonisan Umi dan Abi serta bagaimana Abi selalu ada untuk Umi ketika beliau sedang ada di rumah tentu membuat Kahfi merasa ikut bahagia dan mendamba.
Ia menginginkan setelah lulus SMA untuk menikah, berjuang dengan istri untuk saling melengkapi, beribadah dan bersama hingga Allah memisahkannya dengan kematian.
Pernah tanpa sengaja Bobby melihat plan hidupnya dan tertawa mengejeknya begitu melihat tulisan ‘Menikah’ berada di daftar hidup terdekatnya. Pria kurus itu berkata, “Fi, lo yakin mau nikah? Lo ganteng begini, puas-puasin dulu lah deketin mahasiswi cantik pas kuliah daripada kudu nikah yang itu berarti lo harus siap sama satu cewek.”
Kahfi tidak membalas perkataan Bobby, karena setiap orang memiliki pendapat tersendiri mengenai pernikahan. Kahfi sendiri merasa ‘bermain’ dengan perempuan bukanlah sesuatu yang menyenangkan, sebaliknya ia sama sekali tidak tertarik. Jika bisa bersama satu orang yang kita inginkan untuk menemani kita mengapa harus bermain dengan perempuan-perempuan yang malah membuat kita kehilangan arah?
Tetapi… apa sekarang ia tengah bermain-main? Karena Kahfi merasa dirinya ada yang hilang.
Kahfi mencoba mengingat-ingat mengenai Jian Li. Jian Li adalah gadis yang cantik, periang dan bersemangat. Gadis itu selalu mudah terbaca dengan ekspresinya yang seakan memperlihatkan pemikirannya. Ia juga kekanak-kanakan dan mudah marah. Rambut panjang hitam lurusnya mengingatkan pada karakter tokoh film yang pernah ia tonton bersama Bobby yang berjudul “Meteor garden”.
Namun akhir-akhir ini, ada yang salah dengan Jian Li. Tidak, bukan soal perasaannya. Kahfi yakin jika Jian Li masih menyukainya, hanya yang aneh adalah ketika ia mempertanyakan bagaimana proses Jian Li belajar islam. Gadis itu selalu mengalihkan pembicaraan dan terkadang enggan.
Apakah Kahfi memaksa Jian Li?
…
“Gue tahu kalau lo ini berjiwa bebas. Tapi gue enggak nyangka lo sebebas ini.” Ujar Deeva pada Sarah.
“Lo kalau enggak mau temenan sama gue enggak apa-apa kok.” Ucap Sarah sambil menatap kolam renang yang luas di depannya. Hari ini Deeva memaksa untuk ke rumahnya agar bisa bicara dengan leluasa.
“Kata siapa gue enggak mau temenin sama lo? Lo tuh kebiasaan tahu, suudzon mulu sama gue,” cetus Deeva kesal.
Sarah menghela nafas. “Gue tahu kok kalau gue berbeda sama kalian. Gue suka dugem, making love sama sembarang cowo, gue juga ngerokok..”
“Lo ngerokok juga?” potong Deeva.
“Gue pikir lo tahu,”
“Kagaklah bibir lo merah begitu. Perawatan bibir lo mahal kayaknya,”
Sarah mendengus, sejujurnya ia merasa bingung harus seperti apa kepada Deeva, karena gadis manis berjilbab itu terkesan biasa-biasa saja, memang awalnya Deeva terlihat kecewa namun gadis itu kini kembali mengeluarkan kata pedas kepadanya.
“Gue di sini lo kagak nyuguhin apa-apa buat gue? Pizza boleh kebetulan gue pengen.”
Sarah mengambil HPnya dan memesan pizza melalui applikasi. Sementara Deeva mengamati rumah besar Deeva yang kosong dan sepi. Setahu Deeva orangtua Sarah selalu bepergian dan Sarah ditinggalkan di rumah bersama tiga orang pembantu.
Deeva membayangkan dirinya dan Sarah. Ia terkadang menginginkan keadaan tenang sepi seperti ini, namun nasib memiliki 3 saudara membuat rumah selalu ramai apalagi adiknya masih 1 tahun tentu saja rumah jarang terlihat rapi.
Tapi melihat keadaan rumah ini dan Sarah, Deeva bersyukur dengan keluarganya yang ramai dan Saling pengertian. Bahkan mereka memilih chat grup yang jarang sepi padahal mereka satu rumah.
“Lo mau kasih tahu soal ini ke Ainun?” tanya Sarah setelah mereka berdiam cukup lama.
Deeva menghela nafas dan merangkul bahu Sarah. “Ngapain? Kalaupun Ainun tahu soal ini, itu harus dari mulut lo bukan gue. Rah, lo sahabat gue. Senyebelin apapun lo, lo adalah sahabat gue begitu pun Ainun. Gue sayang sama lo dan gue khawatir sama lo.”
Deeva menggenggam tangan Sarah sementara mata Sarah sudah memerah dan berkaca-kaca.
“Ketika lo lagi kesepian, sedih dan marah… lo harus ingat lo punya gue dan Ainun sebagai sahabat yang benar-benar sayang sama lo.”