yang komen kemarin sedikit jadi aku rehat dulu hehehe
eh yang belum vote d instag story aku cus yaa mau pilih extra part mama tita atau bu cama keburu di hapus kalau udah 24 jam.
selamat membaca
...
Jian Li baru saja selesai mandi. Ketika ia hendak berjalan menuju kamarnya, ia mendengar suara ramai Maminya dan beberapa suara dari ruang depan. Perasaan sebelum ia mandi di rumah hanya ada dirinya dan Mami sementara Papi sedang ke Semarang. Apakah ada tamu? Di pagi-pagi seperti ini?
Semakin dekat, Jian Li mendengar suara pria yang familiar.
Jian Li terkesiap melihat pria tampang bertubuh tinggi yang sedang berada di rangkulan Maminya.
“Lili,”
“Ko Chris!!! Lili Kangen!” jian Li memeluk erat pria yang ia kenal sebagai sepupunya yang sudah 4 tahun ini tinggal di Inggris untuk kuliah.
“Apa kabar? Kamu kok makin pendek aja Li.” Ejek Christian mengamati adik sepupunya yang kini sudah beranjak dewasa.
“Enak aja, Koko tuh yang makin tinggi. Di sana nyemilin bambu ya?”
“Enak aja, emang gue panda!”
Jian Li nyengir, Mami yang melihat kedua bersaudara itu sedang bercengkrama mengelus rambut panjang Jian Li. “Kamu keringin dulu sana rambutnya, nanti masuk angin lagi.”
“Oke-oke. Ko, nginep kan?”
“Pulanglah, kasian Mimih kalau gue nginep di sini. Bisa diusir jadi anak,”
Begitu selesai mengeringkan rambutnya, Jian Li melihat Christian yang sedang bermain HP di sofa. Seingatnya terakhir mereka berkumpul 2 tahun yang lalu ketika natal dan Christian berambut gondrong serta badan yang kurus. Bahkan Mami sempat curiga Christian mengonsumsi n*****a karena badannya yang kurus.
Tapi sekarang, Christian berbadan berisi dan berpenampilan rapi. Apakah Kokonya mau menikah? Dengar-dengar, pria akan rapi jika ada moment berharga. Tapi Kahfi, enggak ada moment aja selalu rapi dan wangi.
“Dalam rangka apa Ko, pulang ke sini? Koko mau nikah ya?” tanya Jian Li duduk di sebelah Christian.
Christian tertawa. “Ngasal lo, calon istri aja enggak puny ague.”
“Bukannya lo udah punya pacar? Gue lihat seminggu yang lalu lo foto mesra sama bule seksi di pantai,”
“Itu cuma teman aja,”
“Teman kok mesra sih?”
Christian mencubit pipi Jian Li. “Anak kecil udah kepo ya kamu!! Eh, udah bukan anak kecil lagi deh. Gue dengar lo udah punya pacar ya?”
Wajah Jian Li merona. “Belum jadi pacar sih,”
“Mami bilang pacar.”
“Dia enggak pacaran, tapi kita saling suka gitu.”
“Ohh teman tapi mesra kayak lagu ya,” goda Christian.
“Ih Koko geli deh aku dengarnya.”
“Sebelum gue balik, lo harus kenalin cowo lo ya? Besok gimana?”
“Koko datang aja ke sekolah, nanti ketemu kok.”
“Oke-oke, sekalian gue jemput ya nanti gue traktir makan mau enggak?”
Jian Li mengangguk dan bergelayut manja pada Christian yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
…
Deeva baru saja selesai menyiram tanaman di depan kelas. Hari ini giliran ia piket, sehingga ia datang lebih pagi. Ketika ia menyimpan alat siram di pinggir taman depan kelas, ia melihat Sarah yang baru datang.
Baru saja Deeva ingin memanggilnya, Sarah malah berlari pelan ke arah belakang gedung sekolah. Merasa penasaran Deeva buru-buru mengikuti Sarah.
Deeva kebingungan karena di belakang gedung tidak ada siapa-siapa, apakah ia salah melihat? Namun aneh juga Sarah sudah datang sepagi ini. Padahal biasanya Sarah akan datang beberapa menit sebelum masuk kelas.
Merasa yakin jika ia salah melihat, Deeva berniat kembali ke kelas. Namun ketika baru saja beberapa langkah pergi, ia mendengar sebuah suara yang membuatnya merasa merinding.
Suara desahan wanita.
Dan suara itu terdengar milik Sarah yang sedikit serak.
Merasa semakin penasaran, Deeva mengikuti arah suara yang mengarah ke sebuah gudang olahraga. Deeva sedikit berdebar melihat pintu yang terbuka sedikit dan mengintip.
Mata Deeva hampir saja terlepas karena terkejut dengan pemandangan yang ia intip sekilas. Ia melihat Sarah yang sedang berciuman dengan pria, bahkan pakaian Sarah sudah terlepas dan hanya memperlihatkan bra yang sudah hampir terlepas pula.
Astaga?! Apa yang dilakukan Sarah? Apa Sarah sedang membuat film p***o ala-ala jepang itu? siapa pria itu?
Mencoba menahan nafasnya yang kini menggebu dan merasa berdosa namun penasaran, Deeva kembali mengintip untuk melihat jelas dengan siapa Sarah beradu silat.
Deeva menganga melihat pasangan silat Sarah yang pernah ia lihat ketika upacara. Bukankah itu anak baru yang selalu menjadi petugas paskibra? Salah satu kandidat ketua osis?
Ya Allah.. Astagfirullah, Deeva merasa kegerahan dan bingung harus bagaimana. Ia ingin pergi, namun Sarah adalah sahabatnya. Sedih rasanya melihat Sarah seperti ini, lagipula jika ada yang melihat bagaimana?
Menggeram dan membenarkan jilbabnya yang mendadak berantakan, dengan keras Deeva membuka pintu membuat Sarah dan si adik kelas terkejut. Dengan cepat Deeva mengambil seragam Sarah dan memakaikannya lalu menarik Sarah untuk mengikutinya.
“Lo ngapain?” tanya Sarah masih terkejut karena kepergok oleh Deeva.
“Lo yang harusnya gue tanya, lo ngapain Nenek? Lo lagi bikin film di sekolah? Syukur-syukur gue yang mergok, kalau yang mergok guru gimana?”
Sarah hanya diam. Ia terlalu bingung bagaimana untuk menimpali omelan Deeva.
“Sebentar lagi bel, rapihin seragam lo jangan sampai bikin yang lain terutama Ainun curiga.” Tegas Deeva.
Sarah mengangguk dan merapikan pakaian serta penampilannya, setelahnya ia bersama Deeva berjalan menuju kelas tanpa berbicara.
Seharusnya ia tidak melakukannya di sekolah. Ia lupa jika Deeva hari ini piket kelas.
Begitu sampai kelas, Deeva dan Sarah sedikit terkejut melihat Ainun yang sudah duduk di kursinya. Ainun tersenyum kepada mereka yang sebisa mungkin Deeva dan Sarah membalasnya, walaupun mereka yakin bahwa senyuman mereka lebih mirip meringis.
“Baru datang, Nun?” tanya Deeva.
“Kamu darimana?”
“Da-dari toilet,”
Ainun mengangguk mengerti. Ia merasa ada yang disembunyikan Deeva dan Sarah, namun Ainun tidak ingin membuat kedua sahabatnya merasa tidak nyaman sehingga Ainun bersikap seperti biasa. Melihat Sarah yang sedari tadi menunduk membuat Ainun merasa cemas akan apa yang disembunyikan kedua sahabatnya.
….
“Ketemu sepupu kamu?” tanya Kahfi ketika ia baru selesai shalat dhuha dan Jian Li menunggunya di depan.
“Dia sepupu aku yang lagi kuliah di Inggris, lagi liburan terus balik deh ke sini. Dia entar jemput aku, mau ngajakin kita makan. Ikut ya Fi!”
Kahfi menggaruk tengkuknya, dia baru mengenal Mami Jian Li itu pun ia memberanikan diri masuk ke rumah Jian Li karena gadis itu memaksanya dan sekarang ia harus bertemu dengan sepupu Jian Li.
Berjalan menuju kelas, mereka berpapasan dengan Ainun yang sepertinya akan ke masjid. Gadis itu sendirian, entah ke mana kedua sahabat yang selalu menempel dengannya.
Jian Li yang melihat Ainun berjalan semakin merapat di sebelah Kahfi dan memasang senyum riang yang terlalu berlebihan. “Mau shalat ya, Nun?” tanya Jian Li.
Ainun menghentikan langkahnya dan mengangguk. Kahfi sedikit menggeser agar berjarak dengan Jian Li, namun tangan Jian Li memegang lengannya.
“Saya permisi,” ucap Ainun singkat tak lupa dengan senyum kecilnya.
Jian Li menatap Ainun yang sudah berjalan menuju pintu masuk masjid. Aneh, padahal Kahfi sudah jelas-jelas suka kepadanya namun mengapa ia merasa harus waspada pada Ainun. Sepengamatannya dari awal hingga sekarang tidak ada interaksi antara Ainun dan Kahfi, kalaupun ada mereka hanya bicara singkat dan menjauh. Tetapi kenapa ia masih merasa waswas?
“Kenapa?” tanya Kahfi bingung pada Jian Li yang masih menatap sosok Ainun yang sudah masuk ke dalam masjid.
“Enggak kenapa-napa, cuma bingung aja padahal Ainun ini cantik banget tapi kok dia enggak pernah dekat cowok ya? Padahal kan banyak perempuan yang berjilbab pacaran malah ada yang sobatan sama cowok. Tapi kenapa Ainun kesannya menutup diri banget? Kan kayak yang sombong.”
“Dalam Islam, bentuk hubungan teman antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram bukanlah terlarang sama sekali. Namanya orang hidup dan bergaul, wajar bila berteman. Namun kalau teman secara khusus, atau yang disebut dengan teman tapi mesra, jelas haram hukumnya. secara kaca mata syar'i, hubungan teman tapi mesra itu bentuk teknisnya yang paling minimal adalah berkhalwat yang diharamkan. Sedangkan khalwat berasal dari kata khala yakhlu yang artinya menyepi atau menjauh dari keramaian. Ainun hanya menjaga dirinya bukan berarti ia memusuhi laki-laki. Dia hanya menjaga interaksi intens karena itu Ainun lebih banyak berinteraksi dengan sesama perempuan dan dengan lelaki ia hanya berkomunikasi sekedarnya saja.” Jelas Kahfi dengan mata menerawang.
Jian Li mengernyitkan kening masih tidak memahami perkataan Kahfi. “Yah intinya Ainun ini jaga diri kan ya? Berteman dengan lelaki itu enggak haramkan? Cuma ya jujur Fi, aku baru lho nemu perempuan kayak dia, cantik tapi gitu. Kalau di sekolahku yang di semarang wajah kayak Ainun pasti popular banget dan selalu aja ada yang nemenin, enggak kayak dia kalau enggak ada Sarah dan Deeva seringnya sendiri.”
Kahfi ingin sekali menentang penilaian Jian Li pada Ainun, mungkin Ainun berbeda atau malah hanya satu-satunya, namun meski seperti itu Ainun…
“Btw, fix ya siang ikut ketemu Koko?” tanya Jian Li sambil menarik lengan Kahfi.
“Insya Allah,” ucap Kahfi dan sedikit menoleh ke arah jendela masjid yang terbuka lebar, pria itu menemukan Ainun yang sedang shalat dengan khusyu.
Kahfi teringat dengan sabda Rasulullah yang berkutip ‘Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri (khalwat) dengan wanita kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya". (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Tabrani, Baihaqi dll).
Lalu matanya menatap tangan Jian Li yang masih melingkar di lengannya dan wajah Jian Li yang sedang bersemangat menceritakan mengenai sepupunya.
Ada keresahan dalam diri Kahfi dan rasanya Kahfi ingin berlari jauh, menyendiri.