setiap aku ngetik cerita ini, lagu 'cinta seperti aku' by Aurel dan 'Selamanya cinta' dari BCL pasti wajib diputer.
karena kedua lagu itu jadi gambaran aku untuk cerita ini.
dengerin deh, menurut kalian lagunya tentang apa??
..
selamat membaca
Waktu berlalu begitu cepat bagi Ainun yang kini sudah menginjak kelas XII. Beruntung system pemilihan kelas tidak berlaku di kelas XII sehingga Ainun tidak harus berpisah dengan kedua sahabatnya.
Banyak hal yang terasa berubah. Yang awalnya sepulang sekolah, ia akan langsung pulang ke rumah atau teman-teman lainnya lebih suka nongkrong di café berjam-jam, ada juga yang memilih main di sanggar eskul.
Namun kini, setiap hari sepulang sekolah mereka akan disibukkan kegiatan pemantapan sebagai persiapan ujian kelulusan negara.
Bahkan Deeva kini mengikuti les seminggu tiga kali bersama Ario karena mereka berencana ingin kuliah di universitas yang sama dan jurusan yang sama yaitu keguruan.
Hal yang terbaru tentu saja mengenai Kahfi yang kini terang-terangan dekat dengan Jian Li. Memang tidak ada pernyataan langsung dari Kahfi jika dirinya berpacaran dengan Jian Li, namun melihat mereka yang kemana-mana selalu berdua serta Kahfi yang selalu mengantar Jian Li pulang, apalagi Jian Li kerap membagikan momen bersama melalui i********: tentu membuat semua orang bisa menyimpulkan bahwa mereka berdua berpacaran.
Bagaimana dengan Ainun? Hatinya cukup dirinya dan Allah yang tahu, kesedihannya ia tutup rapat sebaik mungkin. Ainun lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan belajar dan praktik memasak. Mungkin prosesnya sangat lambat, namun gadis bermata biru itu kini sudah bisa membuat telur mata sapi dan nasi goreng. Ia juga tengah mempersiapkan untuk memilih universitas walaupun hingga sekarang ini Ainun belum memutuskan untuk mengambil kuliah apa.
….
Kahfi menemukan Jian Li yang sedang bermain HP. Di sabtu yang libur ini mereka memutuskan untuk bertemu, Kahfi sudah menyiapkan sesuatu untuk Jian Li dan meminta gadis itu untuk janjian di café yang tidak terlalu jauh dari rumah Jian Li.
“Sudah lama nunggu?” Kahfi duduk di depan Jian Li yang kini mengangkat HPnya, sepertinya gadis itu sedang merekam dirinya.
“Baru sepuluh menit kok.” Jawab Jian Li mengetik sesuatu di HPnya lalu menyimpannya di atas meja. “Aku udah pesenin kamu jus avocado kesukaan kamu,”
“Makasih ya.”
Jian Li menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga dan tersenyum menatap Kahfi. “Jadi, kamu mau kasih apa ke aku? Perasaan aku enggak ulangtahun lho!”
Kahfi terkekeh dan mengambil goodie bag yang ia bawa. “Kemarin aku beli buku ini khusus buat kamu. Kamu bisa baca kalau lagi senggang,”
“Fiqih Islam? The story of qur’an?”
“Di sini semua pertanyaan kamu tentang islam Insya Allah akan terjawab lebih jelas. Mengenai kewajiban shalat, puasa, zakat, tentang perempuan yang diwajibkan berhijab, disitu ada kok.”
Jian Li hanya diam dan sekilas membuka isi buku itu. “Makasih ya, aku pasti baca.”
Kahfi mengangguk senang. Sebenarnya ia berharap Jian Li mulai membacanya sekarang bersamanya, namun sepertinya gadis itu tipe yang suka membaca saat sendiri dan Kahfi tidak keberatan.
“Kahfi, habis ini kamu ada acara?”
“Saya mau langsung pulang karena Umi sedang tidak enak badan dan Abi lagi mengajar.”
“Oh, aku belum bisa ke rumah kamu ya? Aku tuh pengen banget kenal sama Umi kamu!”
Kahfi bingung harus menjawab apa, setidaknya jawabannya dapat diterima Jian Li tanpa gadis itu merasa tersinggung. Dirinya tidak pernah membawa teman ke rumah kecuali Bobby dan Ario. “Umi lagi butuh istirahat, jadi…”
“Oh aku ngerti,” ujar Jian Li sedikit lesu.
“Mungkin lain kali ya Jian Li, kalau waktunya cocok.” Kahfi mencoba menghibur namun Jian Li hanya tersenyum masam.
5 bulan mengenal dekat Jian Li membuat Kahfi mengetahui sifat gadis itu yang cepat berubah mood. Senang, sedih Jian Li sangat mudah terbaca oleh Kahfi.
Namun, walaupun seperti itu Jian Li akan kembali riang dengan sendirinya dan tersenyum lebar seperti biasanya. Gadis itu akan kembali merengek jika Kahfi cuek kepadanya dan akan cemberut jika Kahfi tidak mengikuti keinginannya.
Entah mengapa sifat Jian Li membuatnya merasa memiliki adik yang sejak dulu ia inginkan.
Apakah Kahfi sudah resmi menjadi kekasih Jian Li?
Tentu saja tidak. Kahfi masih tetap berkomitmen dengan prinsipnya untuk tidak berpacaran. Ia dan Jian Li memang semakin dekat dan Kahfi tidak mengelaknya meskipun terkadang Jian Li menggandeng tangannya, namun Kahfi seringkali menepisnya selembut mungkin.
Ia menyerahkan urusan jodohnya kepada Allah, jika memang Jian Li adalah takdirnya maka Allah akan mempermudah segalanya.
Sejauh ini, ia sering mengajak Jian Li untuk mengikuti kajian atau diskusi mengenai Islam. Gadis itu pun selalu mengikutinya dan cukup antusias untuk bertanya mengenai Islam dan itu membuat Kahfi merasa bersemangat.
“Besok kalau kita ketemu mau enggak?” tanya Jian Li begitu Kahfi akan pamit untuk pulang.
Kahfi mengangkat sebelah alisnya.
“Besok aku ibadah dulu sampai siang, pulangnya gimana kalau kita janjian?”
“Ke mana?”
“Ke toko buku gimana? Atau nonton?”
“Tapi senin kan kita ada ulangan fisika,”
Jian Li mendengus. “Ih.. ya biarin aja, bosen juga ulangan terus.”
“Yah namanya juga udah kelas XII.”
“Jadi gimana? Mau enggak?”
“Lihat nanti ya, entar aku kabarin lagi. Oke?”
Jian Li hanya diam, dia sedikit kesal dengan Kahfi. Tidak sadarkan Kahfi jika Jian Li ingin menghabiskan waktu bersama Kahfi? Mereka hanya pernah sekali menonton, itu pun Kahfi mengajak Bobby.
Kahfi baru saja turun dari angkot dan berjalan kaki menuju rumahnya. Abi pernah menawarkannya sepeda motor karena ia juga sudah memiliki sim C kemarin setelah berusia 17 tahun. Namun Kahfi masih menyukai berjalan kaki dan melihat pemandangan dari jendela angkot yang entah mengapa membuatnya merasa tenang.
Rumah yang dihuninya hanya memiliki sedikit tetangga. Total hanya ada 20 unit sehingga ia mengenal tetangganya termasuk Bobby, Ario dan Ainun yang kini menjadi teman sekelasnya. Ia mengenal Bobby dan Ario sejak SMP, sementara dengan Ainun ketika ia kelas 3 SMP di mana Ainun menjadi penghuni baru di tempat tinggalnya.
Kahfi selalu ingat pertama kali ia bertemu Ainun ketika Umi datang ke rumah gadis itu untuk bersilaturahmi. Ainun tipikal gadis pemalu dan selalu bersama Abinya ketika ia mengunjungi rumahnya. Gadis itu tidak pernah berbicara langsung dengannya dan begitu pun Kahfi yang memang memiliki sifat pendiam.
Mereka pernah sama-sama menemani Umi mereka arisan. Kahfi dan Ainun yang duduk berjarak sama sekali tidak saling mengobrol atau menyapa. Mereka hanya saling mengangguk sebagai salam dan sibuk dengan buku yang berada di tangan mereka.
Namun anehnya, Kahfi tidak merasa tidak nyaman. Ia juga tidak merasa tidak enak pada Ainun, yang mana jika gadis lain mungkin akan merasa marah berpikir Kahfi acuh.
Kahfi menghela nafas dan beristighfar kala lebih dari seharusnya ia memikirkan Ainun. Selalu saja jika berkaitan dengan gadis itu, ia terkadang sulit mengontrolnya. Seperti sekarang, ia melihat Ainun sedang membeli sayur di depan rumahnya. Kahfi rasanya ingin tertawa melihat Ainun yang kini bersama para ibu-ibu mengelilingi gerobak sayur.
Ainun yang tiba-tiba mengangkat wajahnya, bertemu tatapan dengan Kahfi. Gadis itu mengangguk begitu pun Kahfi.
“Darimana Kahfi?” tanya Bu Yanti, Mama Bobby yang sedang memilih sayur.
“Baru pulang Bu, tadi ketemu teman.”
“Oh dikira sama Bobby, tadi bilangnya mau main sama Kahfi. Benar-benar anak itu, banyak bohongnya sekarang.” Kesal Bu Yanti.
“Saya duluan Bu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Ibu-ibu serentak.
“Calon mantu idaman itu Kahfi, ganteng, anak rumahan, pintar lagi.” Komentar Bu Susan.
“Oh iya Kahfi satu sekolah sama kamu kan Ainun?” tanya Bu Arini.
Ainun yang sedang asyik memilih wortel, terhenti karena pertanyaan Bu Arini. “Iya Bu,”
“Waaah… Ibu lihat kalian cocok lho! Adem gitu lihatnya, Ainun cantik banget, Kahfi juga ganteng!” ucap Bu Rika antusias.
Ainun hanya tersenyum. Buru-buru membayar belajaannya pada mang sayur yang sedang duduk santai di kursi plastik. “Saya duluan ya Bu, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,”
“Ainun itu mau saya jodohin sama Bobby, siapa tahu dapatin Ainun si Bobby jadi agak kaleman.” Gerutu Bu Yanti begitu Ainun pergi.
Masuk ke dalam rumah, Ainun membawa sayur ke dapur dan mencucinya lalu menyiapkan wadah kosong. Sudah satu bulan ini ia mengikuti grup food prep dan setelah berdiskusi dengan Umi, Ainun diizinkan menjadi penanggung jawab bahan makanan.
Ainun melihat kertas yang berisi daftar masakan yang akan di masak Umi selama seminggu. Ini pun ide Ainun, selain menghemat hal ini pun menjadi fleksibel karena tidak perlu berbelanja setiap hari.
Ainun tersenyum begitu kulkas sudah rapi dan teratur. Ia lalu menempelkan kertas itu di depan pintu kulkas, agar memudahkan Umi untuk melihat apa yang harus dimasak hari itu.