Lima Belas

1355 Words
banyak yang galau sama cerita ini? mau cast baru? hohoho... kasih enggak ya? yang mau isi hati Ainun, nih baca yo bab ini. jangan lupa komen yaaa ... “Jadi kalian udah pacaran?” tanya Ruth ketika mereka sedang mengunjungi Jian Li di restorannya. Jian Li mengikat rambutnya ke atas, gadis itu memakai celemek karena membantu para pegawai Maminya di dapur restoran. “Enggak pacaran soalnya Kahfi enggak mau pacaran. Tapi katanya ya semacam saling mengenal dekat dulu. Intinya gue sama Kahfi saling suka,” jawab Jian Li riang. “Seriusan kan Kahfi pak ketu? Kahfi si ganteng kelas kita yang selalu jaga jarak sama perempuan?” tanya Deera masih tidak percaya. Jian Li mengangguk. “Karena sudah faktanya kalau Kahfi suka sama gue, gue enggak mau ada lagi kalian suka jodoh-jodohin dia sama Ainun.” Deera dan Ruth saling melirik. “Kan yang suka jodohin mereka, bukan cuma gue aja.” Bela Ruth tak mau disalahkan. Jian mengangkat bahunya tidak peduli. Ia teringat ketika ia bertemu dengan Ainun di pos satpam. Meskipun gadis berjilbab itu terlihat tidak peduli, namun Jian Li yakin jika Ainun memiliki perasaan kepada Kahfi. Dan rasanya Jian Li ingin tertawa keras menyombongkan diri ketika ia berjalan rapat bersama Kahfi. Yah meskipun status mereka masih teman dekat, tetapi mereka memiliki perasaan yang sama. “Jadi lo yakin untuk mualaf?” Jian Li terdiam, tanpa sadar tangannya kembali mengelus salib gelang yang sejak SMP selalu ia gunakan. Gelang itu pemberian dari Opungnya yang sudah meninggal. “Gue mau belajar dulu,” “Yaaah gue ikut senang sih akhirnya Kahfi membuka hatinya walaupun gue merasa ditikung sama lo, secara gue juga udah naksir dia dari awal SMA hahaha,” ujar Ruth.   ….             “Nun, lo udah denger berita terbaru?” tanya Sarah ketika Ainun baru saja datang.             “Berita apa?”             “Si Kahfi sama Jian Li pacaran! Anjir, enggak nyangkalah gue kalau mereka jadian?” ucap Sarah dramatis.             “Sarah, jaga ucapan.” Tegur Ainun lalu memandang Deeva yang baru juga datang sambil terengah-engah.             “Eh kalian udah tahu,”             “Jian Li pacaran sama Kahfi?” potong Sarah membuat Deeva cemberut karena sudah keduluan untuk menyebarkan berita yang sedang heboh.             “Enggak nyangka banget ya Kahfi, aku pikir dia tipe-tipe taaruf nikah gitu.” Ucap Deeva.             “Memangnya kalian tahu darimana soal Kahfi dan Jian Li?” tanya Ainun yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.             “Dari LambeNyonyah, lo enggak follow emangnya Nun? Itu kan biang gosipnya sekolah kita. Semalam dia upload foto Jian Li sama Kahfi yang lagi gandengan ya walau tepatnya Jian Li yang gandeng lengan Kahfi. Tapi kan tetap aja.. ini kita bicara soal Kahfi lho, bukan si Bobby!!”             “Kenapa jadi bahas Bobby sih?” Bingung Deeva.             “Ya kan gue cuma ngebuat perbandingan doang.” Sarah menatap Ainun yang sejak tadi hanya diam. “Menurut lo Kahfi emang fix pacaran sama Jian Li?”             Ainun hanya menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng. “Aku enggak tahu, lagipula itu enggak ada hubungannya sama kita.”             “Tapi Nun, si Jian Li ini kan Kristen. Apa menurut kamu Kahfi mau jadi murtad atau Jian Li yang bakalan mualaf?”             “Wallahualam, biarkan itu menjadi urusan mereka. Masalah iman adalah urusan individu denga Allah, lebih baik kita urusi urusan kita masing-masing daripada membahas ini yang nantinya menjadi ghibah.”’ Ainun berdiri. “Aku mau ke toilet dulu ya,”             Ketika Ainun hendak keluar kelas, ia hampir saja bertabrakan dengan Kahfi yang akan masuk ke dalam kelas. Mereka sempat bertatapan walau hanya beberapa detik dan Ainun segera keluar kelas.             Kahfi sendiri entah mengapa merasakan sesuatu yang tidak nyaman ketika melihat Ainun. Mencoba mengenyahkan rasa tidak nyaman, Kahfi masuk ke dalam kelas. Ia sempat bingung karena teman-temannya terang-terangan menatapnya. Ah, mungkin itu karena postingan LambeNyonyah semalam yang dikirim Ario.             Padahal dirinya tidaklah berpacaran dengan Jian Li, namun ia juga tidak merasa wajib untuk klarifikasi toh ia bukan artis.             Tidak lama kedatangannya, Jian Li pun baru saja datang. Gadis yang kini menggelung rambutnya dan membiarkan beberapa helai rambut terjatuh itu dengan semangat menghampiri bangku Kahfi.             “Pagi, Kahfi!” sapa Jian Li dengan senyum cerahnya.             “Pagi Jian Li, simpan dulu tas kamu.”             Jian Li terkekeh dan memberikan sebungkus roti kepada Kahfi. “Ini dimakan dulu, aku tadi beli di ibu-ibu yang jualan emper di depan. kasian masih banyak dagangan rotinya,”             “Makasih ya,” ucap Kahfi.             Sementara Olive dan Litta yang sejak tadi mengamati interaksi Kahfi dan Jian Li, memandang dengan wajah kecewa. “Udah pupus beneran, pupus deh ship kita.” Bisik Olive.             Litta menghela nafas. “Iya, gue juga duh kecewa bangetlah sama Kahfi, ternyata dia enggak sekuat prinsip yang kita bayangin ya. Ternyata Kahfi sama aja kayak cowok lain, lihat cewek lain langsung luluh.”             “Udah kita bubarin aja ship Kahfi Ainun, eh bukannya kemarin grup kita udah pada leave ya?”             “Iya gara-gara postingan LambeNyonyah pada leave,”             Olive menatap Ainun yang baru saja masuk. Gadis cantik berjilbab itu dengan santai kembali ke tempat duduknya dan kembali mengobrol dengan kedua sahabatnya, lalu pada Kahfi yang kini sedang asyik berbicara dengan Jian Li.             Mungkin dirinya memang halu mengharapkan hal yang tidak ada.             Kahfi dan Ainun sebenarnya hanyalah sebuah angan.             Ketika Olive yang masih mengamati Kahfi dan Ainun, ia hampir saja tersentak menyadari sesuatu.             Meskipun Kahfi sejak tadi sedang tertawa bersama Jian Li, namun pria itu tanpa sadar sesekali melirik ke belakang yang mana tujuannya Olive yakin itu adalah Ainun,             Dan Ainun…             Olive bersumpah jika ia sempat melihat Ainun sempat memadang Kahfi.             Kahfi dan Ainun bukanlah sebuah angan.             Mereka hanya perlu waktu untuk jujur dan mengakui. ….             Ainun menyeka air matanya di sujudnya. Memohon ampun kepada Allah karena hatinya masih begitu rapuh akan cinta.             Biarlah ia terlihat rapuh di hadapan Tuhan-Nya, tidak perlu orang lain yang tahu cukup dirinya dan Allah yang mengetahui kejujuran hatinya.               Jatuh cinta tidak dosa, namun yang berdosa adalah memperjuangkannya ketika kamu belum siap untuk menghalalkannya.             Bagi Ainun, ketika ia merasakan cinta kepada pria maka yang terbaik semakin mendekat kepada Allah. Meminta perlindungan akan rasanya.             Hanya Allah yang mengetahui hatinya. Bahkan tidak ada satu pun yang tahu bagaimana perasaannya, termasuk kedua orangtuanya.             Selesai menjalankan shalat, Ainun membuka laptopnya dan kembali membuka tutorial memasak yang gemar ia tonton. Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk bisa ia lakukan meskipun perasaannya terasa campur aduk.             Ainun bisa mendengar pintu pagar rumahnya berbunyi, menengok melalui jendela ia melihat Umi dan Abi yang baru saja pulang dari pasar menggunakan motor.             Ainun menyukai bagaimana harmonisnya rumah tangga Umi dan Abi. Abi begitu melindungi dan menyayangi Umi. Selalu menemani Umi berbelanja walaupun hanya ke warung, membantu Umi dalam pekerjaan rumah tangga dan selalu memuji Umi sehingga Umi begitu percaya diri bersama Abi.             Melihat keromantisan kedua orangtuanya setiap hari membuat Ainun menginginkan pernikahan seperti kedua orangtuanya. Tidaklah penting bagaimana paras, namun yang terpenting bagaimana hubungannya kepada Tuhan-Nya dan bagaimana ia memperlakukan ibunya.             Umi pernah bilang jika ingin melihat bagaimana suami kita kelak memperlakukan istrinya, coba lihat bagaimana interaksinya kepada Ibunya. Apakah ia memuliakan Ibunya ataukah acuh. Maka hal itu yang selalu menjadi perhatian Ainun untuk menilai bagaimana lelaki itu setelah bagaimana menunaikan kewajibannya kepada Allah.             “Kamu belum makan, Nun?” tanya Umi melihat lauk makanan masih utuh di atas meja.             Ainun menggeleng dan memeluk Umi dari belakang. Harum Umi selalu menenangkan hatinya. “Umi, kenapa lama belanjanya tadi?”             “Tadi Umi makan baso dulu sama Abi. Buat kamu udah dibungkusin Abi, Umi siapin ya?”             Ainun tersenyum dan menggandeng tangan Umi menuju sofa. “Umi duduk dulu, cape kan belanja tadi.”             Umi tersenyum dan mengelus helai rambut Ainun yang panjang dan lebat. Putri satu-satunya itu memiliki rambut pirang coklat seperti dirinya dan mata biru yang diwarisi keluarga Umi yang blasteran.             “Sudah belajar untuk ujian kenaikan?”             “Sudah Umi,”             Umi tahu walaupun Ainun tidak mengatakan apa-apa. Putrinya sedang resah dan Umi pun tidak mengatakan apa-apa karena ia menghormati privasi putrinya. Tidak henti doa yang terbaik Umi panjatkan untuk Ainun. Apapun masalah yang dihadapi Ainun, Umi yakin jika putrinya dapat melewatinya karena Ainun memiliki Allah yang selalu melindungi putrinya.             
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD